NovelToon NovelToon
Mrs. Only His

Mrs. Only His

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Cinta Terlarang / Saling selingkuh
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah gemerlap penthouse mewah Chicago, Suzanne Klatten terjebak dalam neraka pernikahan tanpa cinta.

Enam bulan menyandang status istri sah Willem Daendels, dia hanya menerima penolakan, dihina, dan dikhianati demi wanita simpanan.

Namun, sebuah pelarian di koridor privat mengubah segalanya.

Dalam rapuhnya batin yang hancur, Suzanne menyerahkan kesuciannya kepada Aiden Luther Stone—bocah SMA berusia 18 tahun yang kehilangan kendali akibat pengaruh obat perangsang.

Saat fajar menyingsing, kepolosan runtuh dan takdir baru terajut.

Aiden yang didera rasa bersalah bersumpah akan bertanggung jawab dan menikahinya, tanpa tahu wanita misterius itu seorang istri Tetangga Apartemennya.

Di balik balutan hoodie kebesaran dan cincin pernikahan yang disembunyikan, Suzanne melangkah kembali ke neraka rumah tangganya dengan rahasia paling berdosa.

Sebuah romansa terlarang yang penuh manipulasi, dan ego yang siap membakar batas moralitas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#15

Embusan angin dari Danau Michigan menerpa wajah Suzanne begitu SUV mewah yang dikemudikan Aiden berhenti di area parkir luar yang berbatasan langsung dengan hamparan pasir putih.

Langit Chicago siang itu sangat cerah, memantulkan warna biru muda yang jernih di atas permukaan air danau yang bergulung tenang.

Bagi Suzanne, aroma udara pantai yang khas ini terasa seperti pasokan oksigen murni pertama yang berhasil ia hirup setelah berbulan-bulan lamanya merasa tercekik di dalam sangkar emas Daendels Group.

Begitu pintu mobil terbuka, Suzanne seolah melupakan semua beban berat, ancaman Willem, hingga status pernikahan yang mengikat kakinya.

Seperti seorang gadis remaja yang baru pertama kali mencicipi kebebasan, ia melepaskan flat shoes-nya, melemparkannya begitu saja ke dalam mobil, lalu berlari bertelanjang kaki menuju hamparan pasir yang hangat.

"Anne, pelan-pelan!" teriak Aiden dari belakang, suaranya dipenuhi nada tawa yang renyah.

Remaja delapan belas tahun itu kini tampil sangat santai dan memikat.

Aiden telah mengganti pakaiannya dengan kaus putih polos yang melekat pas di tubuh tegapnya serta celana pendek pantai berwarna krem.

Sinar matahari siang itu mengekspos garis rahangnya yang tegas dan otot lengannya yang kokoh, membuat beberapa pengunjung pantai wanita sempat menoleh ke arahnya.

Namun, fokus sepasang mata elang Aiden hanya terkunci pada satu objek: Suzanne yang sedang berlari gembira di depannya.

Karena terlalu bersemangat menatap riak air, kaki Suzanne mendadak tersangkut pada gundukan pasir yang agak tinggi.

"Ah!" Suzanne memekik kecil saat tubuh rampingnya kehilangan keseimbangan.

Bruk.

Ia terjatuh, mendarat dengan posisi terduduk di atas pasir yang empuk.

Bukannya merintih kesakitan, Suzanne justru tertawa lepas, sebuah tawa renyah yang sudah sangat lama tidak pernah terdengar dari bibirnya.

Aiden yang mengejarnya dari belakang langsung mempercepat langkah kaki panjangnya.

Dalam beberapa detik, ia sudah sampai di samping Suzanne, berlutut di atas pasir dengan napas yang sedikit memburu akibat berlari.

"Sudah kubilang hati-hati, Kak," goda Aiden, sengaja menekankan panggilan 'Kak' dengan nada berbisik di dekat telinga Suzanne, membuat wanita itu langsung mendelik tajam ke arahnya.

Aiden mengulurkan tangannya yang besar, membantu membersihkan sisa-sisa pasir yang menempel di lutut dan lengan Suzanne dengan sentuhan yang teramat lembut dan penuh perhatian.

Saat Aiden membantu Suzanne berdiri, sepasang paruh baya yang merupakan pengunjung pantai di dekat sana melangkah melintasi mereka.

Wanita paruh baya itu tersenyum hangat, menatap kagum pada interaksi manis di antara kedua muda-mudi tersebut.

Penampilan Suzanne yang ramping, dengan blus biru pucat yang berkibar ditiup angin serta rambut yang digelung asal, sama sekali tidak memperlihatkan bahwa usianya sudah menginjak dua puluh empat tahun.

Di bawah terik matahari pantai, Suzanne tampak begitu muda, segar, dan sangat serasi bersanding dengan fisik atletis Aiden.

Mereka benar-benar tampak seperti sepasang kekasih remaja yang sedang dimabuk asmara.

"Istrimu cantik sekali, Anak Muda," ucap wanita paruh baya itu dengan ramah, mengira mereka adalah pasangan pengantin baru yang sedang berlibur.

Aiden menoleh ke arah wanita tersebut, lalu mengangguk sopan dengan senyum tampan yang mengembang sempurna.

Tanpa ada rasa canggung sedikit pun, ia merangkul pinggang ramping Suzanne secara posesif.

"Terima kasih, Nyonya. Doakan anak kami nanti juga secantik dirinya," jawab Aiden lantang, penuh percaya diri, sengaja memanfaatkan situasi untuk menggoda wanita di sampingnya.

Suzanne yang mendengar kalimat super narsis dan nekat dari mulut berondongnya seketika membelalakkan mata.

Wajahnya merona merah karena malu sekaligus kesal.

Begitu pasangan paruh baya itu menjauh sambil terkekeh, Suzanne langsung membungkuk, mengambil segenggam pasir pantai, lalu membentuknya menjadi beberapa bulatan kecil.

Puk! Puk!

Suzanne melemparkan bulatan-bulatan pasir itu tepat ke arah dada bidang Aiden yang terbalut kaus putih.

"Kau benar-benar gila, Aiden! Siapa yang bersedia melahirkan anak yang mirip denganku untukmu, hah?!" ketus Suzanne, meskipun ia tidak bisa menyembunyikan binar kebahagiaan yang meluap dari matanya.

Aiden hanya tertawa terbahak-bahak, membiarkan dadanya terkena lemparan pasir tanpa niat untuk menghindar.

Ia justru merogoh saku celana pendeknya, mengeluarkan ponsel pintarnya, lalu mulai mengarahkan kamera ke arah Suzanne.

Cekrek. Cekrek.

Aiden mulai mendokumentasikan setiap momen berharga siang itu.

Ia mengambil foto Anne yang sedang tersenyum menantang angin, Anne yang berlari kecil menghindari ombak danau, hingga foto candid saat Suzanne sedang merapikan anak rambutnya yang berantakan dengan latar belakang langit biru yang luas.

...** **...

Bagi Aiden, senyum lepas dari bibir Suzanne siang ini adalah pemandangan paling mahal yang harus ia simpan selamanya.

Hingga seorang wanita muda, yang tampaknya sesama pengunjung pantai yang membawa kamera polaroid, berjalan mendekati mereka.

Melihat bagaimana indahnya visual kedua orang ini, ia menawarkan diri dengan ramah.

"Hei, kalian tampak sangat menggemaskan. Mau kuambilkan foto berdua?"

Aiden langsung mengangguk tanpa berpikir dua kali.

"Tentu, terima kasih banyak." Ia menyerahkan ponselnya kepada wanita tersebut, lalu menarik tubuh Suzanne mendekat ke dalam kuasanya.

"Aiden, apa yang kau—"

"Hitungan satu, dua..." suara wanita muda itu mulai menghitung.

Aiden tidak menyia-nyiakan kesempatan. Pada hitungan kedua, ia menundukkan kepalanya sedikit, lalu mencium pelipis Anne dengan penuh perasaan, membiarkan kamera ponselnya menangkap basah aksi penuh kasih sayang tersebut.

Suzanne sempat terkesiap, merasakan kecupan hangat yang kembali mendarat di kulitnya. Wajahnya kembali memerah sempurna di bawah terik matahari.

"Gaya kedua, bersiap... satu, dua, tiga!"

Pada hitungan ketiga, alih-alih menghindar atau memalingkan wajahnya ke arah kamera, Suzanne justru membalikkan tubuhnya sedikit.

Ia menatap tepat ke dalam sepasang netra elang milik Aiden yang sedang memandangnya dengan binar pemujaan yang amat dalam.

Detik itu, Suzanne sudah masa bodoh kalau dirinya adalah seorang istri dari pria lain di unit nomor 202.

Di bawah langit Michigan yang luas ini, ia hanya ingin menjadi dirinya sendiri—seorang wanita yang dihargai dan diinginkan seutuhnya.

"Wah, kalian hebat sekali! Sekarang gaya bebas, silakan!" seru wanita muda itu dari balik lensa kamera, merasa gemas dengan chemistry alami yang dipancarkan keduanya.

Mendengar kata 'gaya bebas', Aiden menyeringai tipis.

Sebelum Suzanne sempat memproses apa yang akan terjadi, tangan besar Aiden sudah berpindah ke tengkuk Suzanne, menarik wajah wanita itu dengan sentuhan yang tegas namun lembut.

Aiden memiringkan kepalanya, lalu langsung mencium bibir Suzanne tepat di depan lensa kamera.

Sebuah ciuman yang manis, hangat, dan sarat akan penegasan kepemilikan yang mutlak.

Suzanne memejamkan matanya, membiarkan dirinya tenggelam dalam kelembutan bibir Aiden yang memabukkan selama beberapa detik, mengabaikan dunia luar yang terus berputar di sekitar mereka.

Cekrek.

"Dan foto terakhir, silakan!"

Aiden segera merubah posisinya, melingkarkan kedua lengan kokohnya dari belakang tubuh Suzanne, memeluk wanita itu dengan erat dalam dekapan dadanya yang hangat.

Suzanne bersandar nyaman pada dada bidang Aiden, meletakkan kedua tangannya di atas lengan Aiden yang mengunci pinggangnya.

Mereka berdua tersenyum lebar ke arah kamera, dan pada detik itulah, mereka benar-benar tampak seperti sepasang remaja yang sedang kasmaran, memamerkan kebahagiaan murni tanpa ada bayang-bayang dosa yang mengintai.

"Ini hasilnya. Kalian benar-benar pasangan yang sangat serasi. Semoga hari kalian menyenangkan!" ucap wanita muda itu sembari mengembalikan ponsel Aiden dan memberikan satu lembar cetakan polaroid instan bonus untuk mereka, sebelum akhirnya melangkah pergi.

Suzanne menerima kertas foto polaroid tersebut, menatap gambaran dirinya dan Aiden yang sedang berpelukan erat dengan senyum lepas.

Sudut matanya mendadak terasa hangat oleh air mata haru yang hampir menetes.

"Terima kasih..." ucap Anne dengan suara yang sangat tulus, matanya masih menatap lembaran foto di tangannya.

Terima kasih karena telah memberikannya satu hari pelarian yang begitu indah di tengah kehancuran hidupnya.

Aiden mengangguk, ia menundukkan kepalanya, mengusap puncak kepala Suzanne dengan lembut.

"Mau ke mana lagi? Hm?" tanya Aiden dengan nada suara yang teramat memanjakan.

Mendengar pertanyaan itu, kebahagiaan di wajah Suzanne perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi kedewasaan yang kembali kaku dan dipenuhi oleh realita medis yang harus segera diselesaikan.

Ia mendongak, menatap Aiden dengan pandangan mata yang serius.

"Setelah ini... bisakah kau antarkan aku untuk membeli obat kontrasepsi?" tanya Suzanne, suaranya merendah, kembali membawa topik sensitif yang sempat mereka tunda di apartemen tadi pagi.

Aiden cukup terdiam mendengar permintaan itu. Langkah kakinya yang hendak menuntun Suzanne kembali ke mobil mendadak terhenti di atas pasir.

Binar hangat di matanya meredup seketika, digantikan oleh kilat kekecewaan yang coba ia tahan dengan sekuat tenaga.

"Kenapa?" tanya Aiden, suaranya beralih menjadi sangat dalam dan serak.

"Apa kau benar-benar tidak bisa hamil anakku, Anne? Apa kau begitu membenci ide bahwa darah dagingku akan tumbuh di dalam dirimu?"

"Bukan seperti itu, Aiden," jawab Anne cepat, suaranya melembut demi melihat gurat luka di wajah remaja di hadapannya.

Ia menggenggam lengan Aiden dengan tatapan memohon yang amat sangat.

"Kau tahu bagaimana situasinya sekarang. Apa kau mau anak kita... anak kita nantinya hadir dan lahir saat aku masih berstatus sebagai istri sah dari orang lain? Apa kau mau anak kita memegang nama belakang pria brengsek itu secara hukum? Aku tidak ingin darah dagingmu ternoda oleh kekacauan rumah tanggaku, Aiden. Ini demi kebaikan kita semua."

Aiden menatap dalam-dalam ke sepasang mata Suzanne yang berkaca-kaca.

Setiap kata yang keluar dari mulut wanita itu laksana hantaman logika yang dingin namun tak terbantahkan.

Aiden mengangguk perlahan.

Dia mengerti sekarang. Ini bukan karena Anne membenci dirinya atau menolak bertanggung jawab, melainkan karena situasi hukum dan sosial yang terlalu sulit dan berbahaya bagi keselamatan bayi itu sendiri jika benar-benar hadir di dalam rahim seorang Nyonya Daendels saat ini.

Mungkin bila posisi Aiden digantikan oleh orang lain atau remaja seusianya, mereka akan langsung mundur, merasa ketakutan, dan meninggalkan wanita bersuami ini demi menghindari masalah besar.

Namun, hal itu tidak berlaku untuk seorang Aiden Luther Stone. Di dalam kamus hidup dinasti Stone, sekali mereka memilih, maka itu adalah untuk satu dan selamanya.

Anne telah menjadi miliknya sejak malam badai itu terjadi.

Wanita ini telah ditakdirkan untuk mendampinginya, dan jika jalannya memang harus serumit dan seberdarah ini, Aiden tidak akan pernah gentar untuk melangkah maju.

"Baiklah," ucap Aiden pendek, mengalah pada keputusan Anne. "Kita cari apotek terdekat sekarang."

... * * * ...

Mereka berdua berjalan kembali menuju area parkir. Namun, baik Aiden maupun Suzanne sama sekali tidak menyadari bahwa sejak mereka melangkah keluar dari SUV mewah tadi, beberapa pasang mata dengan lensa kamera jarak jauh telah mengintai pergerakan mereka dari balik rerimbunan pohon di tepi pantai.

Kilatan lampu blitz yang sengaja dimatikan berulang kali menangkap siluet kebersamaan mereka.

Seseorang yang mengenakan pakaian serba hitam sedang mengambil foto mereka dengan sangat intens di area parkiran.

Menariknya, fokus bidikan sang fotografer tersembunyi itu bukan karena Suzanne adalah istri dari Willem Daendels—karena bagi dunia media gosip, wajah Suzanne belum terlalu terekspos secara masif.

Alasan utama foto-foto itu diambil adalah karena sosok remaja yang bersamanya: Aiden Luther Stone.

Sebagai pewaris tunggal dari salah satu dinasti terkaya dan paling berpengaruh di seantero Amerika, setiap pergerakan Aiden yang kedapatan bolos sekolah dan bermesraan ekstrem dengan seorang wanita misterius di pantai adalah sebuah berita bernilai jutaan dolar bagi media.

Paparazi itu bergerak dengan sangat lihai. Begitu SUV mewah Aiden melesat meninggalkan kawasan pantai, mobil sedan hitam milik paparazi tersebut segera membuntuti dari jarak aman, mengikuti ke mana pun kendaraan sang pewaris Stone itu bergerak.

...ooOoo...

Hingga akhirnya, SUV milik Aiden berbelok dan berhenti di pelataran sebuah apotek internasional yang cukup besar di distrik komersial Chicago.

Mobil paparazi itu berhenti beberapa meter di belakang, lensanya kembali membidik ke arah pintu mobil.

Di dalam kabin SUV, Aiden menoleh ke arah Suzanne yang tampak lelah.

"Kau tunggu di sini saja. Biar aku yang turun membelinya," ucap Aiden protektif.

Aiden melangkah keluar dari mobil, berjalan tegap memasuki bangunan apotek berkedok kaca tersebut.

Di dalam hatinya, Aiden dilanda kecemasan yang aneh.

Sebagai anak dari seorang dokter kandungan, dia tidak yakin apakah obat kontrasepsi darurat ini masih bisa bekerja secara efektif setelah melewati hari kedua pasca-hubungan intim mereka semalam.

Namun, ia tetap harus mencobanya demi ketenangan pikiran Anne.

Aiden mendekati meja kasir privat, menyebutkan jenis obat dosis tinggi yang dibutuhkan dengan ekspresi wajah yang diusahakan sedatar mungkin, membayar dengan kartu debit privatnya, lalu menerima kantong obat kecil berlapis plastik hitam dari petugas apotek.

Tanpa membuang waktu, Aiden segera berbalik dan kembali masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesin, lalu melesat pergi meninggalkan pelataran untuk mengantar Suzanne pulang ke unit penthouse.

Namun, drama di apotek itu belum berakhir.

Begitu mobil SUV mewah Aiden menghilang di balik tikungan jalan raya, salah satu paparazi yang sejak tadi membuntuti mereka segera keluar dari sedan hitamnya.

Pria dengan jaket bertopi itu melangkah cepat masuk ke dalam apotek, menghampiri meja kasir yang sama yang baru saja melayani Aiden beberapa menit lalu.

Pria itu mengeluarkan selembar uang seratus dolar, menyebarkannya di atas konter di hadapan sang kasir wanita yang tampak terkejut.

"Pria jangkung berpakaian kasual yang baru saja keluar dari sini..." bisik sang paparazi dengan nada menyelidiki yang tajam.

"Bisa beri tahu aku, obat apa yang baru saja dia beli dengan kartu privatnya?"

Sang kasir wanita melirik uang seratus dolar di depannya, lalu menelan ludah.

Melanggar privasi pelanggan adalah kesalahan, namun nominal uang di hadapannya terlalu menggiurkan untuk ditolak oleh seorang pekerja paruh waktu.

Ia menarik uang tersebut ke dalam laci konternya dengan cepat, lalu menatap sang paparazi.

"Kontrasepsi," jawab sang kasir dengan suara berbisik. "Pria muda tadi membeli obat kontrasepsi darurat dosis tinggi."

Mendengar jawaban itu, sebuah senyum kemenangan yang sangat lebar terukir di wajah sang paparazi.

Ia segera berbalik dan keluar dari apotek dengan langkah terburu-buru, mengetikkan sesuatu pada ponselnya untuk dikirimkan kepada agensi berita utama.

Rahasia besar seorang Aiden Luther Stone yang membeli obat pencegah kehamilan untuk seorang wanita misterius kini telah berada di dalam genggamannya, siap memicu badai skandal terbesar yang akan mengguncang pondasi kehormatan keluarga Luther-Stone dalam waktu dekat.

1
nayla tsaqif
"duaarrr!!! Nya knp pke tanda baca sih thor,, berasa di kagetin sama bang eiden
😌
Rosdianah: huhuhu Maafkan typo author 🫶🙏🏻
total 1 replies
Ainun Mahya
lanjutkan karyamu kakak author💪💪💪
Rosdianah: Ma'aciww kak reader 🫶🥰
total 1 replies
Shankara Senja
Kadang suka kasihan sama anak yg menikah karena perjodohan atau hutang budi..dan lebih kasihan lg bertahan dng menyakiti hatinya demi ortu yg kek gini ini ..
Rosdianah: huhuhu iya banget kak🥲
total 1 replies
Mia Camelia
yah nora jadi jahat gitu ya, kasian anne terpojok terus🤣🤣🤣
Rosdianah: wkwkwk😅🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ulat bulu licik udah mulai keluar nih, aduh semoga aiden gk kena jebakan lgi😔🤔
Rosdianah: huhuhu🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayo ngaku aja sih aiden klo cewe itu anne 🤣🤣🤣
Rosdianah: Dicoret dari KK kaaa🤣 bini orang soalnya 🤣🤣🤣
total 1 replies
Debu Nakal
thor... tlng kasih tahu suzzy, suruh nongol tuh anak. ni ku dh nungguin ampe berjamur tp dianya ka gak nongol2 😅🤣
Rosdianah: huhuhu seminggu ini author sibuk Di dunia nyata🙏🏻
total 1 replies
nayla tsaqif
Gk bpk gk anak,, sikapnya dewsa sebelum waktunya,,, 😌😌😌 good boy!
Rosdianah: kesayangan author dan kak reader 🥰🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayo thor bikin wiliiam cemburu🤔
Rosdianah: siap kak🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ih gemes deh aiden so sweet banget🥰😄
Rosdianah: hihi biar jadi kesayangan kak reader 😅
total 1 replies
Mia Camelia
waduh siapa lagi nih🤔
Rosdianah: Paparazi kak🤭😅
total 1 replies
Mia Camelia
ngebayangiin nih kalo mereka beneran udh jadian, pasti romantic banget🤔😂
Rosdianah: author juga suka ngebayangin kak🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
😄😄😄
Rosdianah: ma'aciww sekali Komentar nya adalah semangat author 🤭😅🥰
total 1 replies
Mia Camelia
omg 🥰🥰🥰 aiden gentlemen bangat sih😄😄😄
sukaaak thor sama tokoh pria yg begini👍
Rosdianah: brondongnya kak Reader 🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayo aiden lindungiin anne, 🥰😄
Rosdianah: Author Jabanin 🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayoooo berontak anne, kejar tuh berondong👍🤣
Mia Camelia
wah aiden udh mulai panas nih sisi obsesif nya, pingin liat klo brondong ngejar2🥰🥰🥰
Rosdianah: hahah author Jabanin kak🥰🤭
total 1 replies
Mia Camelia
wiliam kaya nya udh mulai kepoo sm suzanne🤔🤔
nayla tsaqif
Ceritanya brondong terus, thorr,?? , ada cerita sugar duda gk...?? 🤭
Rosdianah: Nanti Author buatkan kak reader 🤭🥰
total 1 replies
nayla tsaqif
Vexana istri bang landon,, 😌
Rosdianah: sorry typo ya Kak Reader 🙏🏻 syukur diingatin 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!