Menggambarkan kemegahan hidup Doni Salman di usia 46 tahun, puncak kekuasaan Salman Group, hingga tragedi malam berdarah saat racun melumpuhkan sarafnya.
Konfrontasi kejam Amanda dan Andreas, pengakuan mengejutkan tentang anak gelap mereka, serta fakta mengerikan bahwa Zahra diperkosa dan dibunuh atas perintah Amanda.
Doni mati dalam murka, memicu keajaiban langit yang melempar jiwanya kembali ke tahun saat ia berusia 26 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4: Dosa Masa Lalu yang Terungkap
Andreas melirik jam tangan Rolex emas di pergelangan tangan kirinya.
Kilatan logam mulia dari jam mewah itu memantulkan cahaya lampu kristal, seolah mengejek Doni yang kini terkunci dalam tubuhnya sendiri.
Jam tangan itu adalah hadiah ulang tahun dari Doni setahun yang lalu, sebuah simbol penghargaan atas 'kesetiaan' yang ternyata hanyalah investasi menuju maut.
"Dua menit lagi, Amanda,"
ucap Andreas dengan nada suara yang sangat dingin dan presisi, layaknya seorang algojo yang sedang menghitung mundur waktu eksekusi.
"Racun saraf itu sudah mulai menghentikan fungsi batang otaknya."
"Jika kau masih punya sesuatu untuk dikatakan pada suamimu yang malang ini, lakukan sekarang sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya."
Amanda tersenyum tipis.
Ia melepaskan pelukan Andreas, lalu bangkit dari duduknya.
Dengan langkah yang sengaja diperlambat, ia memutari sofa leather marun itu, membiarkan ujung gaun sutranya bergeser di atas lantai marmer dengan suara desiran yang samar.
Amanda membungkuk perlahan di samping kepala Doni.
Bau parfum melatinya yang menyengat kini terasa bagaikan aroma bunga pemakaman di indra penciuman Doni yang kian melemah.
"Sebenarnya, aku hampir merasa kasihan melihatmu seperti ini, Doni,"
bisik Amanda, suaranya begitu rendah, namun bergetar dengan kepuasan keji yang amat dalam.
"Kau mati dalam kebodohan yang mutlak. Tapi, sebagai istrimu yang baik selama dua puluh lima tahun ini, aku tidak ingin kau pergi ke liang kubur dengan membawa misteri."
"Aku punya satu hadiah perpisahan yang sangat spesial untukmu."
Doni tidak bisa menjawab.
Hanya bola matanya yang memerah, dipenuhi guratan pembuluh darah yang pecah, yang menatap Amanda dengan kilatan kebencian yang menyala-nyala.
Di dalam dadanya, paru-parunya terasa seperti diremas oleh cakar besi, menolak setiap jengkal udara yang coba ia hirup.
"Kau tahu, Doni... selama dua puluh lima tahun kita menikah, ada satu hal yang paling aku benci darimu,"
Amanda menjeda kalimatnya, jemarinya yang lentik bergerak mencengkeram rahang kaku Doni, memaksa pria itu untuk menatapnya lebih dekat.
"Aku benci setiap kali kau menatap foto lama di dalam laci kerjamu."
"Aku benci setiap kali kau melamun di malam hari sambil menggenggam sebuah kalung perak murah."
"Kau pikir aku tidak tahu? Kau masih menyimpan nama wanita jalang itu di dalam hatimu. Zahra."
Zahra.
Mendengar nama itu gaung di rongga telinganya, sebuah sentangan listrik yang dahsyat seolah menghantam sisa-sisa kesadaran Doni yang mulai meredup. Jiwanya yang tadinya pasrah mendadak tersentak hebat.
Zahra. Cinta sejati dalam hidupnya.
Wanita sederhana, lemah lembut, dan bermata teduh yang menemani hari-hari paling sulit Doni ketika ia masih merintis usaha logistik dua puluh tahun lalu.
Wanita yang selalu memasakkannya makanan sederhana saat ia kelaparan, dan wanita yang mati secara tragis dalam sebuah kasus perampokan berdarah tepat beberapa minggu sebelum Doni resmi mendirikan Salman Group.
Kematian Zahra adalah lubang hitam di dalam jiwa Doni yang tidak pernah bisa disembuhkan oleh kemewahan apa pun.
"Kenapa? Kau terkejut aku mengetahui namanya?"
Amanda tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat dingin hingga mampu membekukan darah di dalam nadi.
"Oh, Doni yang malang."
"Kau menghabiskan waktu puluhan tahun untuk mencari pembunuh kekasih tercintamu itu, bukan?"
"Kau menyewa detektif swasta, kau mengerahkan jaringan perbankanmu, bahkan kau mendanai kepolisian untuk membuka kembali kasus perampokan sialan dua puluh tahun lalu itu."
Amanda mendekatkan bibirnya tepat di lubang telinga Doni, membisikkan kata-kata yang seketika menghancurkan sisa-sisa kewarasan sang raja korporat.
"Zahra tidak mati karena perampokan, Doni."
"Aku yang menyewa para berandalan itu."
"Aku yang membayar mereka dengan uang tunai yang banyak untuk mencegatnya di gang gelap, memperkosanya bergiliran, lalu menyembelih lehernya seperti binatang."
DEG!
Dunia di sekitar Doni seolah runtuh menjadi puing-puing abu.
Udara di dalam paru-parunya mendadak lenyap.
Jika ada rasa sakit yang lebih mengerikan daripada organ tubuh yang dicairkan oleh racun saraf, maka itu adalah kenyataan yang baru saja ia dengar.
Zahra-nya yang suci, wanita yang tidak pernah menyakiti sebutir semut pun, harus mengalami penderitaan yang begitu jahanam di akhir hidupnya.
"Kau mau tahu kenapa aku melakukannya?"
Amanda kembali menegakkan tubuhnya, menatap Doni dengan pandangan mata yang penuh dengan kemenangan mutlak.
"Karena selama wanita jalang miskin itu masih bernapas di sampingmu, kau tidak akan pernah menoleh padaku."
"Kau terlalu setia, terlalu lurus."
'Dan jika kau tidak menikahiku, maka ayahku, Devan Santoso, tidak akan pernah bisa menyusupkan pengaruhnya ke dalam usahamu."
"Zahra harus dilenyapkan secara brutal agar aku bisa masuk ke dalam hidupmu sebagai 'penghibur' di masa-masamu yang hancur."
"Dan lihat hasilnya? Rencana kami berjalan dengan sangat sempurna."
"Aaaaghh... ughh..."
Sebuah lolongan murka mencoba mendobrak keluar dari tenggorokan Doni, namun yang berhasil keluar hanyalah gumpalan darah hitam yang kental.
Darah itu mengalir deras dari mulutnya, membasahi dagu dan merembes ke dada setelan jas mahalnya.
Pembuluh darah di dahi dan leher Doni menegang hebat, menonjol keluar hingga hampir pecah.
Kemarahan yang belum pernah dirasakan oleh manusia mana pun di dunia ini meledak di dalam dada Doni.
Ia ingin bangkit.
Demi Tuhan, ia ingin bangkit dan menggunakan sisa tenaganya untuk mencengkeram leher Amanda, mencabik-cabik daging wanita iblis itu dengan tangan kosong, dan menghancurkan kepala Andreas ke lantai marmer.
Namun, tubuhnya mengkhianatinya. Racun VX telah mengunci setiap sendi dan ototnya dengan kejam, mengutuknya untuk hanya bisa mendengar dan melihat kehancurannya sendiri tanpa bisa membalas.
Andreas berjalan mendekati Amanda, kembali merangkul pundak wanita itu dari belakang sambil menatap Doni yang kini sedang kejang-kejang kecil akibat gagal napas.
"Sudahlah, Amanda."
"Tidak ada gunanya berbicara lebih banyak pada mayat berjalan."
"Mari kita tinggalkan ruangan ini. Di bawah, Robby sudah menunggu kita untuk merayakan 'kemenangan' yang sesungguhnya."
Doni menatap kedua sosok di depannya dengan pandangan yang kian buram dipenuhi warna merah darah.
Di dalam hatinya yang hancur berkeping-keping, di antara rasa sakit yang tak terperikan dan kegelapan maut yang kian mendekat, sebuah sumpah yang terlahir dari dasar neraka mulai mengkristal di dalam jiwanya.