"Demi menyelamatkan ayahnya, Alya setuju menggantikan kakaknya untuk memenuhi janji pernikahan dengan Mayor Damar. Namun, pada akhirnya semua hanyalah status dan diikat surat perjanjian yang berlaku selama tiga tahun. Di samping itu, Alya dan Damar menjalani kehidupan mereka masing-masing.
Namun, dua tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di medan perang. Alya sebagai dokter ditugaskan ke perbatasan NTT, tempat Damar bertugas. Kontrak yang awalnya dianggap sebagai garis aman perlahan-lahan berubah menjadi bom waktu ketika cinta mengetuk hati Mayor Damar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 02 - Hanya Status
Akad berlangsung lima hari kemudian.
Terlalu cepat untuk sebuah pernikahan.
Terlalu rapi untuk sesuatu yang nyaris hancur sehari sebelumnya.
Alya duduk di ruang tamu rumah keluarga Wiratama, memakai kebaya putih sederhana. Mama duduk di sampingnya sambil menggenggam tasbih. Papa tidak bisa hadir lama karena baru menjalani prosedur awal sebelum operasi besar, tapi beliau sempat datang dengan kursi roda rumah sakit.
Laras tidak datang.
Alasannya sakit.
Semua orang tahu itu bukan alasan sebenarnya, tapi tidak ada yang membahasnya.
Kepala KUA, wali, dua saksi, dan keluarga inti berkumpul. Damar datang tepat waktu, memakai baju koko putih dan peci hitam. Wajahnya tidak menunjukkan apa pun.
Tidak gugup.
Tidak bahagia.
Seperti menghadiri rapat dinas.
Saat ijab kabul selesai dalam satu tarikan napas, beberapa orang mengucap hamdalah. Mama menangis pelan. Tante Nadia memeluk Alya. Eyang Wiratama menutup mata seperti beban di dadanya berkurang.
Damar hanya menandatangani buku nikah.
Cepat.
Rapi.
Tanpa menoleh ke arah Alya.
Setelah acara kecil itu selesai, keluarga Wiratama mengadakan syukuran singkat. Tidak ada pesta besar. Tidak ada pelaminan mewah. Tidak ada musik.
Hanya makanan, doa, dan senyum yang dipaksakan.
"Maaf, Nak," bisik Mama ketika mereka sempat berdua di kamar tamu. Mata Mama bengkak. "Mama tidak tahu harus bilang apa."
Alya menggenggam tangan ibunya.
"Jangan minta maaf terus, Ma."
"Ini hidupmu."
"Papa harus sembuh."
Mama menangis lagi.
Alya memeluknya. Di balik bahu Mama, dia melihat pantulan dirinya di kaca lemari. Kebaya putih, riasan tipis, mata yang tampak lebih dewasa dari pagi tadi.
Dia sudah menikah.
Tapi rasanya seperti baru saja menandatangani surat penyerahan diri.
Malamnya, Alya dibawa ke rumah dinas sementara milik keluarga Wiratama di kompleks TNI Jakarta. Rumah itu tidak terlalu besar, tapi bersih dan rapi. Tante Nadia mengatakan rumah utama terlalu ramai, sementara Damar hanya punya dua malam sebelum kembali ke satuannya.
"Kalian istirahat dulu," kata Tante Nadia dengan suara lembut. "Apa pun yang terjadi, bicarakan baik-baik."
Alya hanya mengangguk.
Baik-baik.
Dia ingin tertawa.
Bagaimana mungkin bicara baik-baik dengan pria yang sejak akad bahkan tidak memandangnya?
Setelah semua orang pergi, rumah itu hening.
Alya duduk di tepi ranjang kamar utama. Kebaya sudah dia ganti dengan piyama panjang yang Mama masukkan ke koper. Rambutnya masih disanggul setengah karena dia tidak sempat melepas semuanya.
Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam.
Damar belum masuk.
Alya mendengar suara air dari kamar mandi luar, lalu langkah kaki. Pintu kamar terbuka tanpa ketukan.
Damar masuk dengan kaus hitam dan celana tidur panjang. Rambutnya masih basah. Aroma sabun bercampur sesuatu yang maskulin memenuhi ruangan.
Alya refleks berdiri.
Damar menatapnya dari ujung kepala sampai kaki.
"Duduk."
Alya tidak bergerak.
"Saya bilang duduk."
Dia duduk kembali.
Damar berjalan ke meja kecil, melepas jam tangan, lalu membuka laci. Dari sana dia mengeluarkan sebuah amplop cokelat dan melemparkannya ke atas ranjang.
Alya menatap amplop itu.
"Apa ini?"
"Salinan kesepakatan."
Tangannya membeku.
Damar menyandarkan tubuh ke meja, melipat tangan di dada.
"Tidak tercatat di buku nikah. Tidak perlu. Saya tidak sebodoh itu. Tapi kamu perlu menyimpan ini."
Alya membuka amplop dengan jari kaku.
Isinya beberapa lembar kertas.
Pernikahan berlangsung sebagai pemenuhan janji keluarga. Masing-masing pihak tidak menuntut hubungan emosional. Setelah tiga tahun, kedua pihak dapat berpisah berdasarkan kesepakatan.
Alya membaca sampai akhir.
Tidak ada kalimat tentang anak, tapi maknanya terasa jelas.
Dia menarik napas.
"Anda sudah menyiapkan ini sebelum akad?"
"Tadi sore."
"Cepat sekali."
"Saya terbiasa menyiapkan jalan keluar."
Alya mengangkat wajah. "Termasuk dari istri sendiri?"
Untuk pertama kalinya malam itu, Damar tersenyum.
Senyum yang membuat dada Alya dingin.
"Jangan menyebut dirimu seperti itu dengan nada seolah kita pasangan normal."
Alya menahan napas.
Damar berjalan mendekat.
Langkahnya tidak cepat, tapi setiap langkah membuat Alya merasa ruang kamar mengecil. Dia berhenti tepat di depannya. Alya tetap duduk di tepi ranjang, sehingga dia harus mendongak.
"Kamu berhasil masuk ke keluarga Wiratama," katanya pelan. "Kamu mendapatkan nama, perlindungan, dan uang untuk keluargamu."
Wajah Alya memucat.
"Saya tidak pernah meminta uang untuk diri saya."
"Tapi keluargamu mendapatkannya."
Itu benar.
Dan karena benar, kalimat itu lebih menyakitkan.
Damar menunduk. Jarak mereka terlalu dekat.
"Aku tidak tahu apa yang Laras janjikan padamu. Aku tidak tahu apa yang keluargamu rencanakan. Tapi dengarkan ini baik-baik, Alya Prameswari."
Dia menyebut namanya seperti membaca nama tersangka.
"Di depan keluargaku, kamu boleh memainkan peran istri yang sopan. Di depan KUA, kamu memang istriku. Tapi di antara kita, pernikahan ini hanya status."
Alya menggenggam ujung piyamanya.
"Saya mengerti."
"Belum."
Damar mengangkat tangan.
Alya menegang.
Jari Damar berhenti di dekat telinganya, menyentuh sisa jarum kecil yang menahan rambut. Dia menariknya pelan. Beberapa helai rambut Alya jatuh ke bahu.
Alya mundur sedikit.
Damar melihat gerakan itu.
"Takut?"
"Tidak."
"Bohong."
Alya diam.
Damar mencondongkan tubuh lebih dekat. "Aneh. Di depan Eyang kamu bilang bersedia menikah denganku. Tapi disentuh sedikit saja kamu seperti mau lari."
Panas naik ke wajah Alya.
"Tolong jaga jarak."
"Kenapa? Kamu istriku, bukan?"
Kata itu terdengar seperti perangkap.
Alya mengangkat wajah. "Istri yang baru Anda sebut hanya status."
Damar terdiam sesaat.
Alya berdiri. Kali ini dia tidak mundur.
"Mayor Damar, saya datang ke pernikahan ini karena keluarga saya terdesak. Saya tidak akan menyangkal itu. Tapi jangan samakan saya dengan orang yang menjual diri demi nama keluarga Anda."
Rahang Damar mengeras.
"Berani sekali."
"Saya hanya sedang menjelaskan batas."
"Batas?"
"Ya. Anda boleh membenci saya. Anda boleh menganggap saya beban. Tapi Anda tidak boleh merendahkan saya sesuka hati."
Mata Damar berubah gelap.
Dia meraih pergelangan tangan Alya.
Cengkeramannya kuat, tapi tidak sampai menyakiti. Alya tetap terkejut. Tubuhnya menegang.
"Dengar," katanya rendah. "Aku tidak suka dipermainkan."
"Saya juga."
"Kalau kamu membuat masalah di keluargaku atau satuanku..."
"Saya tidak akan."
"Kalau kamu mencoba menggunakan statusku..."
"Saya tidak butuh status Anda."
"Lalu apa yang kamu butuhkan?"
Alya menatapnya.
Untuk sesaat, jawaban yang jujur hampir keluar.
Saya butuh Papa hidup.
Saya butuh Mama berhenti menangis.
Saya butuh seseorang percaya bahwa saya tidak seburuk yang Anda pikirkan.
Tapi dia hanya berkata, "Waktu."
Damar menyipitkan mata.
"Waktu untuk apa?"
"Untuk menyelesaikan kewajiban saya sebagai dokter. Untuk memastikan keluarga saya aman. Setelah itu, kalau Anda ingin berpisah, saya tidak akan menahan."
Pegangan Damar mengendur.
Mungkin dia tidak menyangka Alya menjawab setenang itu.
Alya menarik tangannya.
"Anda bisa tidur di mana pun Anda mau. Saya akan tidur di sofa."
Dia mengambil bantal dari ranjang.
Belum sempat melangkah, Damar berkata, "Tidak perlu."
Alya berhenti.
"Aku tidur di ruang kerja."
Dia mengambil amplop cokelat dari ranjang, lalu meletakkannya kembali di tangan Alya.
"Simpan itu. Supaya kamu ingat tempatmu."
Alya menerima amplop itu tanpa bicara.
Damar berjalan ke pintu.
Sebelum keluar, dia berhenti.
"Besok pagi, aku berangkat."
Alya menatap punggungnya.
"Ke mana?"
"Perbatasan Nusa Tenggara Timur. Tugas."
"Kapan pulang?"
Damar menoleh sedikit.
"Kenapa? Sudah mulai menghitung hari sebagai istri komandan?"
Alya menggigit bibir.
"Saya hanya bertanya."
"Jangan tunggu."
Pintu tertutup.
Alya berdiri sendirian di kamar itu, masih memegang amplop cokelat.
Beberapa menit kemudian, dia duduk di lantai.
Tidak ada tangis.
Tangis terasa terlalu mewah malam itu.
Dia hanya membuka buku nikah kecil berwarna hijau di meja, melihat namanya dan nama Damar tertulis berdampingan.
Nama itu sah.
Pernikahan itu sah.
Tapi hatinya tahu, mulai malam ini dia tidak sedang menjadi istri siapa pun.
Dia hanya menjadi seseorang yang harus bertahan.
Di ruang kerja, Damar duduk tanpa menyalakan lampu. Amplop kesepakatan masih terasa seperti benda panas di pikirannya.
Dia berkata pada diri sendiri bahwa batas itu perlu. Perempuan itu datang terlalu tiba-tiba, terlalu siap, terlalu rapi dengan berkas dan alasan.
Tapi ketika mengingat mata Alya saat berkata dia hanya butuh waktu, Damar tidak menemukan keserakahan di sana.
Yang ada hanya lelah.
Dan lelah bukan sesuatu yang mudah dia benci.