NovelToon NovelToon
Hasrat Berbahaya Sang Komandan Posesif

Hasrat Berbahaya Sang Komandan Posesif

Status: tamat
Genre:Preman / Dark Romance / Tamat
Popularitas:174
Nilai: 5
Nama Author: Husni

Livia Prameswari, gadis lembut berusia delapan belas tahun, tanpa sengaja menyaksikan pembuangan mayat. Orang yang memergokinya adalah Keenan Adiprana—pewaris keluarga konglomerat nomor satu di Asia Tenggara sekaligus komandan tertinggi pasukan khusus yang ditakuti semua orang.
Keenan berusia dua puluh tiga tahun, tampan, berkuasa, arogan, dan berbahaya. Malam itu, pistolnya mengarah tepat ke kepala Livia. Seharusnya ia membunuh satu-satunya saksi tersebut, tetapi pelarian Livia justru membangkitkan obsesi yang tak pernah bisa ia kendalikan.
Livia takut, melawan, berbohong, mengkhianati, dan berkali-kali mencoba kabur. Namun semakin jauh ia melarikan diri, semakin kuat Keenan menariknya kembali ke dalam dekapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14

Satu Ciuman

Tidak ada lagi jalan untuk berpura-pura damai.

Anak buah Codet saling pandang, kemudian kembali meraih senjata di pinggang.

Namun kali ini, Tegar dan Reza tidak memberi mereka kesempatan.

Keduanya melangkah maju pada saat bersamaan. Sebelum lawan sempat mengeluarkan pistol, kaki mereka sudah terangkat.

Dua tendangan samping menyapu bagaikan angin kencang. Dalam waktu sangat singkat, enam orang jatuh ke lantai sambil mengerang kesakitan.

Detik berikutnya, sebuah pistol tambahan muncul di tangan kiri Tegar dan Reza. Empat moncong senjata diarahkan serempak ke kepala para pria tersebut.

Semuanya terjadi terlalu cepat.

Walaupun kelompok Codet unggul dalam jumlah, perbedaan kemampuan mereka ternyata sangat besar.

Baru sekarang Codet memahami mengapa Bos Wendra memilih menelan penghinaan dan tidak mau menyinggung Keenan.

Orang-orang Geng Kayu Hijau terbiasa bertindak sesuka hati di Kota Kayan, tetapi mereka tetap tak berani membunuh terang-terangan tanpa pertimbangan.

Sementara Keenan benar-benar seperti orang gila yang tidak mengenal rasa takut.

Codet mengerang sambil terus menatap pria yang bersandar santai di sofa. Di pupil hitamnya terpantul wajah Keenan yang dingin dan tanpa emosi.

Ia sama sekali tidak meragukan satu hal: jika Keenan memberi perintah sekarang, kedua pengawalnya akan langsung menarik pelatuk dan mengubah mereka menjadi mayat.

Di hadapan kematian, naluri bertahan hidup menumbuhkan ketakutan yang tak terkendali.

Kesombongan pada wajah Codet lenyap.

Keringat bercampur darah mengalir dari ujung jarinya dan menetes ke lantai. Setiap tetes seolah menghancurkan harga dirinya sedikit demi sedikit.

Karena ia yang menimbulkan masalah, ia pula yang harus menyelesaikannya.

Bibir Codet bergetar. Suaranya kecil dan pecah.

"Tu-Tuan Keenan, saya buta dan tidak mengenali orang besar. Saya telah menyinggung Tuan dan mengganggu perempuan Tuan. Tangan ini sudah Tuan ambil. Mohon bermurah hati dan biarkan saya serta saudara-saudara saya tetap hidup."

Ia perlahan berlutut dan membungkuk sampai hampir menempel ke lantai. Suara lutut menghantam permukaan keras terdengar jelas di ruangan luas tersebut.

Dengan tangan kiri, Codet menarik pistol dari pinggang. Ia menguatkan hati dan mengarahkan moncongnya pada telapak tangan kanan sendiri.

Dor!

Suara tembakan mengguncang ruangan.

Ditambah peluru Tegar sebelumnya, tulang tangan kanan Codet kini benar-benar remuk. Bunyi itu seperti pertanda runtuhnya martabat yang baru saja ia injak sendiri.

Keenan menyaksikannya dalam diam selama beberapa detik.

Sosok kecil dalam pelukannya mulai gemetar.

Ia menurunkan kepala dan melihat Livia tanpa sadar melingkarkan kedua tangan ke pinggangnya. Wajah gadis itu tersembunyi di dadanya, tak berani mendongak. Pemandangan berdarah tadi jelas membuatnya ketakutan.

Sesuatu bergerak di hati Keenan. Tangan kirinya melambai ringan.

"Pergi."

Codet dan kelompoknya langsung bangkit dengan kacau, lalu melarikan diri dari ruang VIP.

Tegar serta Reza menyimpan pistol. Keduanya menoleh pada dua orang yang masih menempel erat di sofa, kemudian berjalan keluar dengan pengertian yang sama.

Pintu ditutup dari luar.

"Sudah puas menciumku?"

Keenan tiba-tiba berbicara. Ujung jarinya mengusap telinga Livia yang lembut.

Rasa geli menjalar dari tulang telinga. Untuk sesaat, Livia melupakan ketakutannya dan mendongak cepat.

"Siapa yang menciummu?"

Pandangan Keenan bergerak turun, mengisyaratkan agar ia melihat dada kiri pria itu.

Ada dua noda lipstik merah di kulitnya, lengkap dengan bekas tipis alas bedak putih.

"Ma-maaf. Aku akan membersihkannya."

Pipi Livia memerah. Ia mengambil tisu dari meja dan mengusap noda itu dengan hati-hati.

Di bawah cahaya redup, garis otot dada Keenan terlihat tegas. Tubuhnya menyimpan kekuatan liar yang mengingatkan Livia betapa mudah pria ini mengendalikan keadaan.

Saat tisu bergerak, ujung jemarinya sesekali menyentuh kulit hangat tersebut.

Livia mengerucutkan bibir dengan tidak nyaman. Wajahnya semakin panas dan jantungnya berdetak lebih cepat.

Ia berusaha mengabaikan perasaan aneh itu, tetapi tatapannya beberapa kali tertarik kembali tanpa sadar.

Telinganya ikut memerah.

Keenan memainkan daun telinga itu dengan santai, seolah sedang menyentuh buah kecil yang matang.

Menggemaskan.

Ia tertawa pelan. Suaranya yang dalam menjadi sedikit serak dan menggelitik telinga Livia.

Gadis itu langsung berhenti bergerak.

Keenan menggunakan kesempatan tersebut untuk merangkul pinggangnya dan menarik tubuh bagian atas Livia menempel kepadanya.

Tangannya meninggalkan telinga yang panas, kemudian mengangkat dagu Livia. Tatapan malu dan gemetar gadis itu bertemu dengan mata Keenan yang dalam.

Senyum pria tersebut semakin lebar.

"Wajahmu merah."

Livia menelan ludah.

Siapa yang tidak akan memerah jika dipaksa berada sedekat ini dengan pria asing?

Ia memalingkan wajah untuk menghindari tatapan panas Keenan dan tidak mau menjawab.

Namun Keenan jelas belum berniat melepaskannya.

"Aku menyelamatkanmu, sementara kau merusak perundinganku."

Pikiran Livia yang kacau langsung kembali jernih.

Ia teringat tangan Codet yang hancur. Dalam keadaan seperti ini, berpura-pura bodoh pun tidak mungkin.

"Aku... terima kasih sudah menolongku, Tuan Keenan. Aku akan membalas kebaikanmu suatu hari nanti."

"Jangan nanti."

Mata Keenan tertuju pada bibirnya.

"Balas sekarang."

"Bagaimana caranya?"

Livia bertanya lemah.

Tatapan pria itu dipenuhi keinginan yang berat dan sama sekali tidak disembunyikan. Firasat buruk langsung muncul di hati Livia.

Jangan-jangan ia diminta menyerahkan tubuh?

Bukankah itu berarti baru keluar dari sarang serigala dan langsung masuk ke sarang harimau?

Tanpa menunggu jawaban Keenan, Livia segera memejamkan mata dan menggeleng sekuat tenaga.

"Tidak! Tidak boleh! Sama sekali tidak!"

"Begitu tak tahu terima kasih?"

Keenan tidak senang ditolak sebelum sempat menjelaskan. Ia mencengkeram dagu Livia untuk menghentikan gerakannya. Rasa sakit membuat gadis itu menarik napas tajam.

"Satu ciuman pun tidak boleh?"

"Ci-ciuman?"

Hanya itu?

Livia membuka mata dengan tak percaya. Bulu matanya yang panjang berkedip cepat, membuatnya terlihat semakin kebingungan.

"Ya." Keenan mengangguk. "Biarkan aku menciummu sekali, lalu utang kita lunas."

"Di bibir?"

"Tentu saja."

Keenan membungkuk dan berbisik di telinganya, "Tapi aku menginginkan ciuman sungguhan."

Jantung Livia mencelos.

Ia menatap wajah Keenan yang terlalu rupawan. Dari alis hingga sudut matanya terpancar sikap yang tak menerima penolakan.

Udara seakan membeku. Hanya napas mereka yang terdengar sedikit tergesa.

Ketika Livia tak juga menjawab, alis Keenan mengerut. Suaranya turun menjadi ancaman.

"Codet belum pergi jauh. Kalau sekarang kau jatuh ke tangannya, menurutmu bagaimana pria pendendam itu akan membayar kehilangan satu tangan dari tubuhmu?"

Livia tahu kesabaran Keenan sangat tipis.

Jika ia terus ragu, pria ini mungkin benar-benar menyerahkannya kepada Codet.

Itu bukan pilihan yang bebas. Namun di antara kehilangan ciuman dan kehilangan nyawa, Livia merasa dirinya tak memiliki jalan lain.

Ia menarik napas, lalu mengangguk dengan suara gemetar.

"Baik. Cium saja."

Kelinci penakut.

Keenan tertawa serak. Ia memiringkan wajah dan menempelkan bibirnya pada bibir Livia.

Tubuh gadis itu langsung bergetar.

Mata Keenan terpejam. Tangan yang sebelumnya mencengkeram dagu bergeser dan menggenggam tengkuknya, menahan agar ia tidak menjauh.

Ciuman itu semakin dalam tanpa memberi Livia kesempatan mengatur napas.

Kepanikan melintas di matanya. Perasaan asing menyerbu bersamaan—malu, takut, dan sensasi yang tidak ia pahami.

Livia tidak berani melawan. Ia memejamkan mata dan mengangkat tangan ke bahu Keenan untuk mempertahankan keseimbangan, terpaksa mengikuti ciuman yang sepenuhnya dikendalikan pria itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!