Malam pesta pertunangan yang seharusnya jadi malam paling membahagiakan, **Laras Wirasena**—pianis muda dari keluarga terpandang—malah memergoki tunangannya sendiri, **Radithya Adiwangsa**, pewaris Grup Adiwangsa, sedang bermain api dengan asistennya di balik pintu yang terbuka sedikit.
Belum sempat Laras mengamankan bukti, ponselnya direbut dan videonya dihapus—oleh **Bramantya**, adik kandung Radit yang terkenal nakal, urakan, dan tak kenal aturan. Bukannya membela, cowok itu malah menyeringai menantang:
> *"Menggodaku buat balas dendam ke abangku?"*
Laras cuma menginginkan satu hal: membatalkan tunangan dan lepas dari keluarga yang menjualnya demi sebuah proyek bisnis raksasa. Tapi malam itu mengubah segalanya. Sekali, dua kali... lalu malam-malam rahasia yang tak terhitung lagi jumlahnya.
Yang tak Laras sadari: di balik topeng *bad boy* itu, Bram menyimpan sebuah bekas luka di pinggang, sebuah tato Latin di jarinya, dan satu rahasia yang telah ia pendam bertahun-tahun. Pria yang katanya cuma cari senang ini ternyata pernah menahan sebuah peluru demi menyelamatkan nyawanya di sebuah gedung konser di luar negeri—dan telah mencintainya diam-diam, jauh sebelum takdir "mempertemukan" mereka.
Ketika perselingkuhan sang tunangan meledak di depan seluruh undangan, ketika kembang api pecah di atas panggung juaranya, ketika satu ciuman viral mengguncang seluruh negeri—Laras akhirnya harus memilih: terus berpura-pura, atau mengakui bahwa satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya justru adik dari pria yang mengkhianatinya.
Tapi Bram tak datang hanya untuk mencintainya. Ia datang untuk merebut kembali segalanya—dan menjatuhkan abangnya sendiri, sampai ke titik terdalam.
> *"Sekarang dia mantan tunanganmu, pacarku, dan calon adik iparmu. Kenapa, Mas?"*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16
Umpan Bernama Tiara
Beberapa hari kemudian, Laras menemani Kirana menjenguk seorang penata kostum yang dirawat di rumah sakit umum.
Mereka baru keluar dari lift ketika Kirana tiba-tiba berhenti. Laras hampir menabrak punggungnya.
"Kenapa?"
Kirana tidak menjawab. Ia hanya menggeser tubuh sedikit dan menunjuk dengan dagu ke ujung koridor.
Seorang perempuan berambut panjang sedang berjalan pelan dengan pakaian pasien. Satu tangan memegang tiang infus, tangan lain melindungi bagian bawah perut. Laras mengenali profil itu bahkan sebelum perempuan tersebut menoleh ke meja perawat.
Tiara.
Papan petunjuk di atas koridor bertuliskan Kebidanan dan Kandungan.
Laras menarik Kirana mundur ke balik pintu lift. Mereka turun satu lantai tanpa bicara.
"Mungkin cuma periksa rutin," kata Kirana ketika pintu menutup.
"Dengan pakaian pasien dan infus?"
"Atau operasi kista."
"Dia memegang perut seperti sedang menjaga sesuatu."
Mereka saling pandang. Kemungkinan yang sama muncul di wajah keduanya.
Di lantai bawah, Laras menyerahkan bunga dan kunci mobil kepada Kirana. "Kamu masuk ke kamar staf kita. Tanya perawat tanpa terlihat bertanya. Saya tunggu di mobil."
"Kenapa aku?"
"Karena kalau Tiara melihat saya, dia akan langsung curiga."
"Kalau dia melihat aku?"
"Kamu bisa bilang sedang menjenguk orang. Itu bahkan bukan bohong."
Empat puluh menit kemudian, Kirana membuka pintu mobil dan menjatuhkan diri ke kursi penumpang. Ia menyerahkan ponselnya kepada Laras.
"Aku masuk ke kamar staf kita dulu, jadi alibinya aman," jelas Kirana. "Perawat jaga mengenal Tiara karena dia beberapa kali minta kamar tanpa nama perusahaan di berkas penjamin. Aku cuma perlu pura-pura salah mencari nomor kamar. Foto ini diambil dari lembar yang ditinggalkan di meja administrasi saat petugas mengambil obat."
"Kamu tidak menyentuh berkas aslinya?"
"Tidak. Aku juga tidak bertanya kepada dokternya."
Laras mengangguk. Mereka membutuhkan informasi untuk melindungi diri, bukan membuat catatan rumah sakit hilang atau menekan tenaga medis. Satu foto sudah cukup untuk menentukan langkah berikutnya.
"Selamat," katanya masam. "Kamu bakal jadi ibu tiri."
Di layar tampak foto lembar ringkasan medis. Nama Tiara Lestari tercetak jelas. Usia kehamilan diperkirakan enam minggu. Kadar progesteron rendah, perdarahan ringan, observasi untuk ancaman keguguran. Rencana pulang keesokan hari jika kondisi stabil.
Laras memperbesar tanggal pemeriksaan.
Enam minggu.
Saat itu Radit masih berkali-kali membatalkan makan malam dengannya dengan alasan rapat. Hotel-hotel dalam bukti yang ia simpan juga mencakup rentang waktu tersebut.
"Hampir pasti anak Radit," ujar Kirana. "Kamu baik-baik saja?"
"Saya sedang berpikir betapa dekatnya saya dengan pernikahan tanpa mengetahui apa pun."
Ada dingin yang menjalar di punggung Laras. Kalau ia tidak kembali mencari anting malam itu, ia mungkin sedang memilih undangan akad sambil calon suaminya menunggu perempuan lain melahirkan.
"Radit tahu?" tanya Kirana.
"Kalau tahu, kemungkinan dia menaruh orang di depan kamar. Tiara sendirian."
"Jadi dia menyembunyikannya."
"Untuk sementara."
Mereka meninggalkan rumah sakit dan masuk ke sebuah mal agar tidak diikuti. Di kedai kopi lantai atas, Kirana menelepon Yudha, kakak keduanya, dengan alasan membutuhkan pemeriksaan latar belakang calon mitra. Ia tidak menyebut kehamilan atau Radit. Yudha hanya mengomel tentang permintaan mendadak, lalu mengirim nomor penyelidik swasta yang biasa dipakai kelompok usahanya.
Tiga hari kemudian, sebuah amplop tebal tiba di rumah Laras melalui Mbak Ranti. Laras belum kembali tinggal di sana, tetapi ia menggunakan ruang musik keluarga pada siang hari agar staf melihatnya bekerja. Kirana membawakan amplop tersebut tanpa memasukkannya ke sistem pesan rumah.
Isi laporan itu tidak indah.
Tiara adalah anak keempat dari lima anak perempuan sebelum keluarganya akhirnya memiliki seorang putra. Sejak remaja, penghasilannya dikirim ke rumah. Setelah masuk Jakarta, ia berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, lalu membangun hubungan dengan laki-laki yang bisa membayar sewa apartemen, tas, dan akses ke lingkungan lebih tinggi. Rekeningnya menunjukkan transfer rutin dari beberapa nama sebelum seluruh aliran lama berhenti dan digantikan pembayaran tak langsung yang terkait dengan Radit.
"Jadi dia korban keluarga, lalu belajar menjadikan orang lain tangga," kata Kirana.
"Menjadi korban tidak memberi izin menyakiti orang lain. Tapi itu menjelaskan kenapa dia begitu putus asa naik."
Laporan komunikasi memperlihatkan Tiara mengatakan kepada kantor bahwa ia pulang ke kampung halaman. Sejak pemeriksaan kehamilan, tidak ada panggilan panjang kepada Radit. Ia masuk rumah sakit pada hari yang sama dan membayar deposit sendiri.
"Dia takut Radit menyuruhnya menggugurkan?" Kirana merendahkan suara.
"Atau dia ingin menunggu sampai kandungannya lebih kuat sebelum menawar posisi."
Laras menaruh foto bukti hotel di samping ringkasan medis. Tiara menginginkan Radit. Ia menginginkan status. Dan selama Laras masih menjadi calon pengantin yang disetujui dua keluarga, Tiara akan selalu melihatnya sebagai penghalang terbesar.
"Kita kirim semua ke orang tua kamu sekarang," usul Kirana. "Kehamilan itu seharusnya cukup."
"Belum. Mereka akan menutupinya seperti menutup perselingkuhan. Radit bisa membayar Tiara, memindahkannya ke luar kota, lalu mengatakan anak itu bukan miliknya."
"Tes DNA nanti bisa membuktikan."
"Nanti terlalu lambat. Saya butuh sesuatu yang terjadi di depan cukup banyak mata sehingga keluarga tidak bisa menghapusnya."
Laras sudah melihat cara kedua keluarga bekerja. Sebuah foto disebut hasil kecerdasan buatan. Kesaksian langsung disebut emosi sesaat. Jika hanya empat orang duduk di ruang tertutup, setiap kebenaran dapat dibungkus menjadi urusan privat lalu dikubur demi proyek. Karena itu, yang ia perlukan bukan bukti yang lebih keras, melainkan keadaan yang membuat semua orang terpaksa mengakui bukti yang sudah ada.
Kirana menyilangkan tangan. "Kamu mau melakukan apa?"
Laras menatap jadwal digital di laptop. Konser malam tahun baru tinggal beberapa hari lagi. Seluruh keluarga Adiwangsa akan hadir, sponsor dan media juga. Akses belakang panggung terbatas, tetapi satu undangan dari orang yang tepat dapat melewati daftar tamu.
"Tiara mengira saya musuhnya," kata Laras. "Padahal untuk satu tujuan, kepentingan kami sama. Dia ingin saya pergi. Saya juga ingin pergi."
"Kamu mau membantu dia naik?"
"Saya mau memberinya panggung untuk melakukan apa yang sejak awal dia inginkan."
Kirana menatapnya, lalu perlahan tersenyum. "Kita umpan dia dengan Radit?"
"Dengan rasa takut kehilangan Radit."
Laras memasukkan laporan bank, riwayat komunikasi, dan salinan ringkasan medis ke dalam satu map. Berkas asli digital tetap tersimpan dalam folder terenkripsi. Ia tidak akan menyentuh kesehatan Tiara, memalsukan bukti, atau mengancam kandungannya. Ia hanya akan memastikan perempuan itu melihat pintu yang selama ini tertutup dan memilih sendiri apakah ingin menendangnya.
Jari Laras berhenti pada tulisan enam minggu.
"Selamat, calon ibu tiri," katanya dingin sambil menutup map. "Di belakang panggung malam tahun baru, saya sisakan satu tempat untukmu."