NovelToon NovelToon
Warisan Darah Sang Mafia

Warisan Darah Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Balas Dendam / CEO / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Mereka pikir semuanya telah berakhir sejak kematian Leonardo Valerio. Namun dunia gelap tidak pernah benar-benar melupakan darah yang pernah berkuasa.

Leonardo Valerio memang telah mati, tapi warisan darahnya belum berakhir. Saat ancaman mulai mengincar Alessandro, Nadira dipaksa kembali ke dunia gelap yang pernah menghancurkan hidupnya.

Di balik bayangan, musuh lama bangkit, rahasia lama terbuka, dan sifat dingin Leonardo perlahan muncul dalam diri putranya.

Karena darah mafia tidak pernah benar-benar hilang, dan sang pewaris akhirnya mulai bangkit.

**RED ASHES SEASON II**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Viktor yang Membuka Masa Lalu

Alessandro berdiri di tengah ruangan yang dulu pernah menjadi kantor utama Leonardo Valerio. Ruangan ini sudah lama ditinggalkan, namun aroma khas bercampur tembakau mahal, kulit tua, dan aroma masa lalu dan juga darah.

Di hadapannya, Viktor Karev bersandar santai di meja kerja besar yang kini sudah kosong dan tertutup lapisan debu.

Pria itu tampak tenang, wajahnya yang keras dan berkerut tampak lebih tua dari usianya. Namun matanya yang abu-abu itu masih setajam pisau bedah, menatap Alessandro dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kamu tahu, Alessandro," Viktor memecah keheningan, suaranya rendah namun jelas.

Ia mengangkat satu botol kaca tua, mengamati isinya yang berwarna cokelat gelap. Lalu menuangkan cairan itu ke dalam dua gelas kristal yang sudah kusam.

"Dulu ruangan ini adalah jantung dari segalanya. Di sini ayahmu memutuskan siapa yang hidup, siapa yang mati, siapa yang kaya, dan siapa yang hancur. Di sini dia bermain dengan dunia seperti anak kecil bermain dengan mainan tanah liat."

Viktor mengulurkan satu gelas ke arah Alessandro.

Alessandro tidak bergerak, tangannya masih mengepal erat di sisi tubuh. Rahangnya mengeras, matanya menatap tajam ke arah pria yang dulunya adalah tangan kanan paling setia ayahnya, namun kini menjadi musuh terbesarnya.

Di dada Alessandro, ada rasa marah yang membara, tapi juga ada rasa ingin tahu yang menyakitkan. Selama bertahun-tahun dia hanya tahu apa yang dia lihat, apa yang dia rasakan, dan apa yang dikatakan ibunya. Tapi Viktor ada di sana, Viktor melihat segalanya.

"Jangan berpikir aku datang ke sini untuk minum bersamamu," jawab Alessandro dingin, nadanya berat dan penuh peringatan. "Kamu meminta bertemu, kamu bilang kamu punya sesuatu yang harus aku dengarkan. Sekarang bicaralah, atau aku akan pastikan kamu tidak lagi punya kesempatan untuk bicara selamanya."

Viktor tersenyum tipis, ia menarik kembali tangannya lalu meneguk isi gelasnya sendiri. Menikmati rasa cairan itu seolah itu adalah rasa kekalahan dan sekaligus kemenangan.

"Persis seperti dia," gumam Viktor pelan sambil menggelengkan kepalanya. "Cara kamu bicara, menatap, memegang dirimu seolah kamu adalah satu-satunya hukum yang berlaku di dunia ini. Kamu benar-benar salinan sempurna Leonardo Valerio. Kadang aku bertanya-tanya, apakah kamu lahir seperti ini? Atau... apakah darah itu benar-benar punya kekuatan sihir, mengubah anak yang polos menjadi monster hanya dengan mengalir di pembuluh darahmu?"

"Jangan bandingkan aku dengannya!" bentak Alessandro, suaranya menggelegar di ruangan kosong itu. "Aku bukan dia! Aku tidak akan pernah menjadi dia! Dia pembunuh, pengkhianat, dia pria yang menghancurkan keluarganya sendiri, dan membunuh siapa saja yang menghalangi jalannya. Aku berbeda, aku melakukan ini untuk melindungi orang yang aku sayang. Agar tidak ada lagi yang terluka karena nama Valerio!"

Viktor tertawa, ia meletakkan gelasnya ke meja dengan bunyi yang keras.

"Kamu benar-benar bodoh, Nak," ucap Viktor tajam, matanya menatap lurus ke manik mata Alessandro. "Kamu benar-benar tidak tahu apa-apa, bukan? Kamu hidup dalam cerita dongeng yang kamu buat sendiri, di mana ayahmu adalah penjahat utama, dan kamu adalah pahlawan yang akan memperbaiki semuanya. Tapi kamu salah besar, kebenaran itu jauh lebih kotor, dan jauh lebih menyakitkan."

Viktor berjalan melewati meja, mendekat perlahan ke Arah Alessandro. Aura keduanya bertabrakan, kekuatan muda yang penuh amarah, melawan kekuatan tua yang penuh luka dan kebijaksanaan pahit.

"Kamu bilang Leonardo pembunuh?" tanya Viktor dengan suara yang berat. "Ya, dia memang membunuh banyak orang. Tapi kamu tahu tidak, siapa orang pertama yang dia bunuh demi menyelamatkan keluarganya? Kamu tahu tidak, kenapa dia menjadi sekejam itu? Kamu pikir dia terlahir dingin? Kamu pikir dia terlihat suka melihat darah?"

Viktor menggeleng, matanya menatap kosong ke arah jendela yang berembun bekas air hujan.

"Dulu... Leonardo Valerio adalah pria yang paling berani, paling cerdas, dan paling manusiawi yang pernah aku kenal. Dia tidak menginginkan kekuasaan, tidak menginginkan uang sebanyak ini, dia hanya menginginkan satu hal: keamanan untuk istrinya, dan juga keamanan untukmu."

Alessandro terdiam sejenak, keningnya berkerut bingung. Kata-kata itu bertentangan dengan semua yang pernah ia dengar.

"Kamu bohong," potong Alessandro cepat. "Semua orang tahu dia haus kekuasaan, dia membunuh mitra bisnisnya sendiri. Dia menipu, mencuri, bahkan dia menghancurkan nyawa orang lain demi ambisinya."

"Ambisi?" Viktor berbalik tajam, matanya menyala penuh emosi yang terpendam puluhan tahun. "Kamu menyebut itu sebagai ambisi? Kamu menyebut pertahanan diri sebagai ambisi? Dengarkan aku baik-baik, Alessandro. Lima belas tahun yang lalu, jauh sebelum kamu ingat wajahmu sendiri, ada kelompok lain yang jauh lebih kejam, lebih kotor, dan jauh lebih kuat daripada apa yang kamu lihat sekarang. Mereka mengatur hukum, dan mereka tidak suka ada orang pintar seperti ayahmu yang berdiri tegak dan tidak mau tunduk."

Viktor melangkah maju lagi, jaraknya semakin dekat.

"Mereka datang padanya, mereka memberi pilihan: bekerja untuk kami, atau lihat keluargamu mati satu per satu. Leonardo menolak, dia pikir hukum masih berlaku. Tapi hukum dibeli oleh mereka, bisnisnya hancur, namanya dicemari, dan saat dia hampir menyerah... saat dia hampir kehilangan segalanya, mereka menemui ibumu. Mereka menemui kamu yang saat itu masih bayi."

Napas Alessandro serasa tercekat, jantungnya berdegup kecang. Bukan takut pada Viktor, tapi karena rasa takut akan kebenaran yang mulai teringat.

"Apa maksudmu?" tanyanya pelan, suaranya sedikit bergetar.

Viktor tersenyum miris, "Mereka menyergap ibumu di jalan, mereka ingin menculikmu, dan menjadikanmu sandera supaya Leonardo melakukan apa saja yang mereka minta. Saat itu, Leonardo baru saja pulang, dia melihat mereka, melihat pisau du leher ibumu, dan saat itulah sesuatu di dalam dirinya mati."

Viktor menunuk dadanya sendiri, "Dia tidak punya pilihan, dia membunuh tiga orang itu dengan tangannya sendiri. Dan saat darah itu membasahi wajahnya, dia sadar bahwa di dunia ini kebaikan hanya akan membuatmu mati. Kelemahan hanya akan membuat orang yang kamu cintai disakiti. Dan sejak hari itu, dia mulai berubah. Dia bukan lagi Leonardo yang lembut, tapi dia berubah menjadi monster. Bukan karena dia menginginkannya, tapi karena dia sadar, hanya monster yang bisa melindungi apa yang dimilikinya dari monster lain."

"Kamu..." suara Alessandro serak, tenggorokannya terasa kering dan pahit. "Kamu bilang... dia melakukan semua itu demi kami?"

"Semua itu. Setiap pembunuhan, pengkhianatan, keputusan kejam yang dia ambil, itu semua demi menjaga kalian agar tetap hidup. Dia membangun kekaisaran ini bukan untuk dirinya sendiri, dia membangunnya supaya tidak ada satu pun makhluk hidup yang berani menyentuh rambut ibumu atau rambutmu. Dia menciptakan jaringan mata-mata, sistem HELL SIGMA, menguasai pasar gelap, semuanya supaya dia punya kendali penuh. Supaya dia bisa memegang kendali, bukan orang lain."

Viktor tertawa getir, ia mencoba menjelaskan semuanya pada Alessandro.

"Tapi kamu tahu apa ironi terbesarnya? Semakin dia berusaha melindungi kalian dengan menjadi jahat, semakin kalian membencinya. Ibumu membencinya karena dia membawa darah ke dalam rumah, kamu membencinya karena dia dingin dan menakutkan. Dia hidup sendirian di puncak kekuasaan, dikelilingi musuh, dikelilingi orang yang takut padanya, sementara satu-satunya orang yang dia cintai justru melihatnya sebagai iblis. Kamu tahu betapa menyakitkannya itu, Alessandro? Kamu tahu betapa berat beban yang dia pikul sendirian, tanpa pernah sekalipun mengeluh atau menjelaskan apa pun?"

Alessandro mundur satu langkah, kakinya terasa lemas. Dinding pertahanan yang dia bangun selama bertahun-tahun, kebencian, kemarahan, keinginan untuk membalas dendam atas penderitaan ibunya, semuanya mulai retak satu per satu.

Selama ini ia berpikir ayahnya adalah penjahat, selama ini ia berpikir semua kekejaman itu hanya karena nafsu kekuasaan.

Tapi sekarang... gambaran itu berubah total. Leonardo Valerio bukan sekedar penjahat, tapi Leonardo adalah korban dari dunianya sendiri. Seorang pria yang rela dikutuk menjadi iblis, asalkan orang yang dicintainya tetap hidup di surga.

"Kalau selama itu benar..." bisik Alessandro, matanya memanas, rasa sakit yang luar biasa menyergap dadanya, sesak dan berat. "Kenapa dia tidak pernah bilang? Kenapa dia bersikap seolah dia tidak peduli?"

"Karena dia Leonardo Valerio," jawab Viktor lembut, seolah dia sedang berbicara pada anaknya sendiri. "Dia tidak tahu caranya mencintai selain dengan melindungi, dia tidak tahu cara berkomunikasi selain dengan perintah. Dia pikir, kalau dia menjauhkan diri, kalau dia membiarkan kalian membencinya, maka kalian akan aman. Kalian tidak akan menjadi sasaran musuh-musuhnya. Dia rela menjadi orang yang paling dibenci di matamu, asalkan kamu tumbuh besar dengan aman, sehat, dan jauh dari darah ini."

Viktor melangkah mendekat, kali ini suaranya rendah dan penuh penekanan.

"Dan lihatlah dirimu sekarang, Alessandro. Kamu marah padanya karena dia menjadi monster, tapi lihat apa yang kamu lakukan sekarang. Kamu mengendalikan, membiarkan orang takut padamu, membangun kekuatan demi melindungi ibumu, demi melindungi orang yang kamu sayang. Kamu membenci nama Valerio, tapi kamu melakukan peris seperti apa yang dia lalukan. Kamu mengutuk jejaknya, tapi kamu berjalan di jalan yang sama."

Viktor menatap lurus ke dalam mata Alessandro, menusuk hingga ke dalam jiwa.

"Kamu tidak berbeda darinya, Nak. Kamu sama persis. Kamu menyebut dia monster? Kamu juga sedang berubah menjadi satu. Dan kamu tahu apa perbedaan terbesarnya? Leonardo tahu dia menjadi monster demi sesuatu. Tapi kamu? Kamu menjadi monster karena kamu mencoba melawannya. Kamu membenci warisan ini, tapi kamu tidak bisa melepaskannya. Karema darah Valerio tidak pernah bisa dicuci bersih, darah Valerio adalah kutukan sekaligus kekuatan kita."

Selama ini dia berpikir dia melawan masa lalu, selama ini dia berpikir dia berbeda. Tapi kata-kata Viktor, kebenaran yang pahit ini, menghancurkan segala keyakinan yang ia miliki.

Alessandro menatap pantulannya sendiri di kaca jendela yang gelap, di sana dia tidak lagi melihat anak laki-laki yang ingin menyelamatkan dunia. Dia melihat Leonardo Valerio, melihat raja yang sendiri, dikelilingi kekuasaan, namun terpenjara oleh kewajiban dan rasa sakit yang tidak terucapkan.

"Kenapa kamu memberitahu aku semua ini?" tanya Alessandro, ia menatap Viktor dengan pandangan yang berubah. "Kamu membenci ayahmu, kamu ingin menghancurkan segalanya. Kenapa kamu memberitahu kebenaran ini sekarang?"

Viktor tersenyum pahit, ia berbalik dan berjalan menuju pintu, meninggalkan Alessandro yang berdiri kaku di tengah ruangan penuh debu itu.

"Karena aku ingin kamu tahu..." jawab Viktor tanpa menoleh lagi. "Bahwa musuh terbesarmu bukan aku, bukan organisasi manapun, dan bukan masa lalu ayahmu."

Viktor berhenti sejenak di ambang pintu, lalu ia tersenyum pahit, dan tatapannya berubah tajam.

"Musuh terbesarmu adalah dirimu sendiri, Alessandro. Dan sampai kamu menerima siapa dirimu sebenarnya, sampai kamu menerima bahwa kamu adalah pewaris takdir itu. Kamu tidak akan pernah menang, kamu hanya akan terus menderita, sama seperti ayahmu menderita seumur hidupnya."

Pintu tua itu tertutup perlahan, meninggalkan Alessandro sendirian dalam kegelapan yang diterangi cahaya kilat dari luar.

Dan di tengah kenyataan yang baru saja ia dengar, Alessandro Valerio berdiri diam. Dirinya terasa hancur lebur oleh kebenaran masa lalu yang akhirnya terbuka.

Dan Alessandro menyadari bahwa dirinya tidak lagi tahu siapa yang ia lawan, dan siapa yang ia bela.

1
☕︎⃝❥virgo93
si ale msih pnya sisi baik🥰 jgn jdikan dia mnster thor aku gk relaa😫
Lorenzo: kayaknya akaaa, deh🤔
total 3 replies
Vie
ga apa2 setengah2 juga ale, karena kalau 100% km jadi monster maka kamu akan kehilangan dirimu seperti ayahmu, dan itu adalah hal yang paling ditakuti oleh ibumu....
Vie
duh.... jadi ikutan tegang 😱😱😱😱😱
Vie
duh.... jadi ikutan tegang 😱😱😱😱😱
Vie
iiihhh makin seru dn penasaran aja..... lanjut kak.... 👍👍👍👍
Vie
lanjut thor.. 👍👍👍
☕︎⃝❥virgo93
keren banget thor🥰
Vie
dan kamu bodoh baru menyadari semua itu setelah apa yang terjadi disekitar kamu dan ibumu
Vie
aku agak bingung deh.... bukanya viktor ini yang selalu mengincar ale dan juga semua peninggalan ayahnya dan yang menghancurkan beberapa gudang kemarin, tapi kenapa masih ada disisi alesandro? apa aku yang salah ini viktor yang lain
Vie
dan akan keluar kemana... sedangkan kalian selama ini bersembunyi pun teta saja ketahuan, apalagi sekarang.. tidak ada cara lain selain melawan dira... kamu kalau takut ale menjadi seperti ayahnya, itu tidak bisa dihindari karena memang dia adalah anaknya, tapi kamu setidaknya bisa terus menemaninya disisinya agar dia tidak kehilangan dirinya sendiri seperti ayahnya, karena kamu adalah ibunya...
Vie
tau rasa kan. disuruh pindah gak mau, dan sekarang kamu jadi target seseorang yang sudah pasti kamu tau akan seperti apa, kamu hanya ketakutan... dasar keras kepala.... dan justru kamulah yang menjadi kelemahan dan juga ketakutan terbesar bagi ale tau.... dongkol deh sama si nadira .
Vie
bagi ale tidak ada jala lain... dia harus bersembunyi seumur hidupnya dan selalu dalam ketakutan karena dia sedang menjadi mangsa para mafia, atau dia menerima dan menjadi kuat, lalu membasmi semua ketakutan itu agar hidup tidak lagi menjadi mangsa.. setelah semua usai dan menjadi kuat baru dia bisa memutuskan apakah dia akan terus melanjutkan hal itu atau mau berhenti....
Vie
kamu itu seorang ibu yang takut pada kenyataan yang tidak pernah bisa dipungkiri, tapi selalu saja mengatakan ale mirip dengan ayahnya.... bagaimana gak mirip karena dia adalah anaknya, dan semua tidak bisa ditutupi oleh apapun, karena darahnya asa dalam tubuhnya... dan kamu selalu mengatakan hal itu seperti mengingatkan ale bahwa dia benar2 anaknya Aleandro bukan untuk menjauhkanya dari semua itu....
Vie
lanjut kak.... 👍👍👍👍
☕︎⃝❥virgo93
semngat dek comelku..🥰
Lorenzo: mkasih akaa😚😚
total 1 replies
☕︎⃝❥virgo93
ahhh nanggung banget upx thor.🤭lgi seru2 baca eh udah abis aj ayuk semagat untk up selanjutx🥰
Vie
aahhh.... akhirnya nongol juga lanjutanya.... 🥰🥰🥰🥰
Vie
lanjut kak.... makin seru aja... penasaran aku.... 👍👍👍
viandranovel
saling mampir bg 🙏
☕︎⃝❥virgo93
lnjut dek🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!