NovelToon NovelToon
Saat Takdir Menautkan Hati

Saat Takdir Menautkan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Sejak bangku taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga ruang kuliah, mereka selalu dipertemukan, seolah takdir tak ingin memisahkan langkah keduanya. Namun perbedaan watak dan sifat menjadikan mereka dua kutub yang selalu berlawanan, sering berselisih paham atas hal-hal kecil, dan saling memandang dengan dingin. Kini, dua jiwa yang dulu saling menjauh dan penuh pertikaian, terpaksa disatukan dalam satu ikatan pernikahan. Di atas janji yang tertulis di atas kertas, tersembunyi sebuah tanya besar: mungkinkah benci yang lama terjalin perlahan meleleh, berubah menjadi rasa cinta yang tumbuh diam-diam di tengah perbedaan dan perselisihan yang selama ini ada di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di Balik Pintu yang Tertutup

Udara pagi di dalam rumah terasa sejuk dan tenang, namun ada suasana canggung yang masih menggantung di setiap sudut ruangan, sisa dari kejadian manis sekaligus memalukan kemarin pagi. Cahaya matahari masuk lembut lewat celah jendela, menerangi debu-debu halus yang menari pelan di udara, seolah ikut merasakan ketegangan yang ada di antara dua penghuni rumah itu.

Efek dari kejadian di sofa kemarin ternyata sangat berkepanjangan dan terasa nyata. Vira seolah-olah secara sengaja mengaktifkan mode diam dan tidak terlihat.

Sejak hari itu, gadis itu menjadi sangat jarang sekali keluar dari kamarnya. Kalau pun ia melangkah keluar, itu pasti saat Farzhan sudah pergi bekerja ke kantor, atau saat malam sudah larut dan suasana rumah sepi hening. Jika tidak sengaja berpapasan di koridor yang luas sekalipun, Vira akan langsung menundukkan kepala dalam-dalam, mempercepat langkah kakinya seolah ada urusan sangat penting, atau bahkan berbalik arah dan berlari kecil kembali masuk ke dalam kamarnya, bersembunyi di balik pintu tertutupnya.

Mereka berdua saat ini persis seperti sedang bermain petak umpet.

Farzhan adalah pihak yang terus mencari, sementara Vira adalah pihak yang terus bersembunyi dan menjauh.

"Benar-benar aneh tingkah orang ini..." gumam Farzhan pelan sambil berjalan mondar-mandir dengan langkah tenang namun terlihat gelisah di depan pintu kamar Vira. Wajahnya tampak datar dan dingin seperti biasa, namun di dalam hatinya ada rasa bingung yang mendalam.

"Dulu kan dia sangat berani, sering mengomel, meledek, dan berbicara apa saja tanpa ragu. Sekarang kok berubah menjadi penakut begini? Padahal kejadiannya cuma gara-gara sentuhan kecil di bibir saja, bukan hal besar apa pun. Padahal kami ini suami istri, sudah halal satu sama lain..."

Namun, di balik sikap dingin dan bingungnya itu, rasa khawatir perlahan mulai merayap masuk ke hatinya. Jangan-jangan Vira marah kepadanya? Atau dia merasa tersinggung dengan tingkah laku Farzhan? Atau yang paling Farzhan takutkan: jangan-jangan Vira malah menjadi hilang rasa suka atau ilfeel kepadanya gara-gara kejadian itu?

Rasa penasaran dan kekhawatiran itu akhirnya mengalahkan rasa gengsi yang selama ini ia pertahankan. Dengan langkah pelan, hati-hati, dan tetap berusaha terlihat tenang, Farzhan mengulurkan tangan memutar gagang pintu kamar Vira.

Pintu itu ternyata tidak dikunci. Terbuka sedikit, menampakkan celah kegelapan yang samar.

"Vira? Kamu ada di dalam?" panggilnya pelan, suaranya rendah dan tenang, tidak berniat mengejutkan. Ia mendorong pintu itu perlahan hingga terbuka lebar, lalu melangkah masuk.

Kamar Vira terasa sejuk, rapi, dan beraroma wangi khas wanita yang lembut — perpaduan aroma bunga sakura dan kesegaran yang selalu menenangkan hati Farzhan. Seprai tempat tidur tersusun rapi, bantal-bantal tertata lurus, namun tidak ada orang di sana. Ternyata Vira sedang berada di balkon kecil yang menyambung dengan kamar itu, sibuk menjemur beberapa helai pakaian, sehingga sama sekali tidak menyadari kedatangan suaminya.

Farzhan berjalan masuk lebih dalam dengan langkah pelan dan ringan. Matanya yang tajam dan jeli mengelilingi seluruh ruangan, melihat setiap sudut dan barang yang ada di sana. Namun, saat pandangannya tertuju pada meja rias besar yang berada di sudut kamar...

Farzhan tiba-tiba terpaku diam di tempat. Keningnya berkerut bingung, lalu perlahan matanya membelalak lebar tak percaya.

Di atas meja rias itu, tertata rapi dan berbaris indah beberapa bingkai foto berukuran sedang hingga kecil.

Dan apa isi dari foto-foto itu?

Bukan foto Vira sendiri yang sedang tersenyum cantik.

Bukan foto keluarga besar mereka.

Bukan foto artis atau idola yang biasa dikagumi wanita.

Semua itu adalah foto Farzhan Ibrahim!

Ada foto Farzhan yang sedang duduk serius di ruang kerja, wajahnya kaku dan dingin, entah kapan dan dari mana Vira memotretnya diam-diam.

Ada foto Farzhan yang sedang makan siang, wajahnya terlihat fokus menatap makanan, tidak sadar ada lensa yang mengarah padanya.

Ada foto Farzhan yang sedang tertawa lepas saat sedang bercanda dengan Meisya dan Haikal, momen langka yang jarang dilihat orang lain.

Bahkan ada foto close-up wajah Farzhan saat dia sedang tidur pulas di sofa ruang tamu beberapa hari yang lalu!

Semua foto itu dicetak dengan kualitas bagus, dibingkai dengan bingkai-bingkai cantik dan lucu dengan hiasan pita kecil, lalu dipajang dengan sangat bangga dan penuh hati-hati di atas meja rias Vira. Seolah-olah meja itu adalah ruang pameran seni paling berharga dan mahal sedunia.

Farzhan mendekat perlahan, langkahnya berat seolah ada gaya magnet yang menariknya ke sana. Jari-jarinya yang besar dan kekar terulur, menyentuh pelan permukaan kaca bingkai foto itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

"Gila... ini benar-benar aku?" gumamnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar. Jantungnya berdegup kencang sekali, campuran antara rasa kaget luar biasa, rasa malu yang menyelinap, dan rasa bahagia yang meledak-ledak memenuhi dadanya.

"Jadi selama ini... setiap kali dia berdandan, setiap kali dia bersiap-siap, atau setiap kali dia ada di kamar sendirian... dia terus-menerus melihat wajahku ini?"

Ia teringat ucapan Zikri beberapa waktu lalu. "Wanita kalau sudah menyukai atau mencintai seseorang, dia akan mengoleksi apa saja yang berhubungan dengan orang itu, sekecil apa pun bendanya, sekecil apa pun halnya."

Ternyata itu benar adanya! Vira benar-benar mengoleksi wajahnya, setiap ekspresi, setiap momen, dan menatapnya setiap hari!

Farzhan menahan tawanya supaya tidak pecah saat itu juga. Wajahnya yang biasanya dingin dan kaku kini perlahan memerah padam, terasa panas merambat naik ke telinga. Rasanya bangga sekali, puas sekali, dan bahagia sekali! Ternyata dirinya begitu berharga dan begitu tampan di mata istrinya sampai-sampai dipajang di tempat paling istimewa seperti ini!

"Dasar wanita yang aneh... tapi kelakuanmu ini sangat manis sekali," bisiknya pelan, matanya tidak lepas menatap satu per satu foto itu dengan pandangan lembut yang sangat dalam.

"Aku sama sekali tidak menyangka ada hal seperti ini. Aku kira hanya aku saja yang suka melihat-lihat dia diam-diam saat dia tidak sadar. Ternyata dia juga melakukan hal yang sama, bahkan lebih hebat lagi."

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat dan gesekan kain pakaian dari arah balkon.

"Zhan? Kapan kamu masuk ke sini?!"

Vira berteriak kaget setengah mati saat berbalik badan dan melihat suaminya sudah berdiri diam di tengah kamar, menatap lurus ke arah meja rias miliknya!

Wajah Vira seketika berubah menjadi pucat pasi, lalu sekejap mata berubah merah padam persis seperti buah tomat matang. Otaknya seolah berhenti bekerja, buntu total!

"AAAAA JANGAN DILIHAT!!!"

Vira berlari menerjang maju dengan cepat, berusaha menutupi seluruh permukaan meja rias itu dengan tubuhnya sendiri, seolah bisa menghapus jejak yang sudah terlihat. Tapi sudah terlambat! Semuanya sudah terlihat jelas, terpampang nyata di mata Farzhan.

Farzhan buru-buru menarik diri, memasang kembali wajah datar dan dinginnya yang biasa, berpura-pura santai, acuh tak acuh, dan seolah tidak melihat ada hal aneh atau istimewa apa pun.

"Ehm... aku tadi masuk untuk mencarimu," ucapnya tenang, nada bicaranya biasa saja dan rendah.

"Kamu kemana saja sih? Kenapa sangat jarang sekali keluar kamar belakangan ini?" tanyanya sok tenang, padahal di dalam dada jantungnya berdebar sangat kencang karena rasa bahagia yang meluap.

"Aku... aku... aku sedang sibuk! Banyak sekali pekerjaan rumah yang harus diselesaikan!" jawab Vira terbata-bata, napasnya sedikit tidak beraturan karena panik, badannya masih tetap berdiri tegak menghalangi meja rias itu. "Terus... terus kamu kenapa melihat-lihat ke sana ke mari?! Itu... itu barang pribadi dan privasi lhooo!"

Farzhan menyeringai tipis di sudut bibirnya, senyum yang sulit ditebak maknanya. Namun, ia sadar betul betapa malunya wanita itu saat ini. Ia tidak berniat mempermalukan Vira lebih jauh atau menggodanya habis-habisan. Ia tahu, di balik rasa malu itu ada rasa sayang yang besar yang disembunyikan istrinya.

"Oalah begitu ya? Maaf, maaf," kata Farzhan santai, lalu berjalan mundur perlahan menuju pintu keluar dengan langkah tegap dan tenang.

"Aku cuma mau bilang, makanan sudah siap disajikan di bawah. Ayo makan bersama, nanti dingin."

Namun, sebelum benar-benar melangkah keluar pintu, Farzhan berhenti sebentar. Ia menoleh sedikit ke belakang, menatap Vira dengan pandangan yang dingin namun berbinar hangat, lalu tersenyum sangat manis dan penuh makna yang nakal.

"Kamar kamu rapi sekali. Wangi juga, sangat nyaman rasanya berada di sini. Dan... hiasan-hiasan serta bingkai foto di meja riasmu itu... bagus-bagus sekali. Selera kamu memang tidak pernah salah. Sama persis seperti selera kamu saat memilih suami."

BLAAFK!

Farzhan keluar dari kamar itu, lalu menutup pintu pelan-pelan hingga tertutup rapat, meninggalkan Vira yang terpaku kaku di tempatnya.

Di dalam kamar, Vira langsung jatuh terduduk lemas di pinggir kasur, menutup seluruh wajahnya dengan kedua tangan yang gemetar karena rasa malu yang luar biasa.

"AAAAAA MALUUUUUUUUU! DIA LIHAT SEMUANYA! DIA SUDAH TAHU KALO AKU MEMOTRET DIA BERKALI-KALI DAN MEMAJANGNYA! YA AMPUN MAU MATI AJA RASANYA AKU HARI INI!" serunya tertahan di antara jari-jarinya, wajahnya terasa panas membara.

Sementara itu, di luar pintu kamar, Farzhan bersandar santai di dinding koridor yang dingin dan sejuk. Ia menepuk-nepuk dadanya sendiri pelan, berusaha menenangkan jantungnya yang masih berdebar kencang dan bergemuruh karena rasa bahagia. Senyum lebar tidak pernah lepas dari wajahnya.

"Gila... rasanya sangat bahagia sekali. Ternyata istriku sebucin itu sama aku," gumamnya pelan dengan nada bangga dan gemas. "Rahasia besar akhirnya terungkap! Tapi tenang saja, Vi... rahasia kamu aman sepenuhnya bersamaku. Aku akan berpura-pura tidak tahu apa-apa, tidak akan menyinggung hal ini lagi. Biarkan kamu tetap menyimpan dan memajang foto-foto wajahku itu di sana sesuka hatimu."

Farzhan berjalan pergi meninggalkan koridor itu dengan langkah ringan dan hati yang berbunga-bunga, seolah baru saja mendapatkan harta karun paling berharga di dunia.

Benteng pertahanan mereka berdua yang tadinya tinggi, dingin, dan kokoh itu sudah runtuh total. Yang tersisa sekarang hanyalah rasa sayang yang tulus, dalam, dan tumbuh subur, serta rasa malu yang manis yang justru membuat hubungan pernikahan mereka makin terasa hidup, berwarna, dan semakin indah setiap harinya.

1
Pich
kenapa ga di cium sekalian haeh🥱
Rocean: masih kicik🤣
total 1 replies
Sheer
asikkk ada yg cemburu🤣🤭
Sheer
boleh juga vira . diam diam 🤭
Rocean: diam diam menghanyutkan ya
total 1 replies
Sheer
demen bnget kalo cerita yang sangai gini.
Rosella
lucu bangets yaampun🤣
Pich
ihh gemas deh sama mereka🤭
Pich
dia pikir mau ngapain🤣
Rocean: 🤣🤣🤣🤣
entahlah
total 1 replies
Seai
🥴
Rosella
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!