Terperangkap dalam sangkar emas Aethelgard, Putri Aurelia mendambakan dunia di balik dinding istana yang megah. Beruntung, ada Lucas, seorang pemuda logistik istana yang tampak biasa namun menjadi satu-satunya orang yang berani membuka jalan bagi sang putri untuk menggapai kebebasan yang ia impikan. Namun, perjalanan mereka tak semudah yang dibayangkan. Reruntuhan dunia luar menyimpan kejutan dan bahaya tak terduga. Bersama Lucas, Aurelia harus mengungkap misteri yang telah lama terkubur di Aethelgard. Salah satunya adalah rahasia di balik kematian ibunda tercinta yang ternyata menyisakan plot twist mengejutkan. Akankah ia berhasil menemukan kebenaran yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Layang-Layang dan Janji Kelingking
Hari-hari setelah pertemuan di semak mawar itu membuat Princess Aurelia punya hobi baru: mengintip dari jendela kamarnya yang tinggi. Setiap kali ia melihat kereta kuda besar bermuatan peti-peti kayu memasuki gerbang samping Kerajaan Aethelgard, ia akan langsung bersiap. Baginya, kedatangan kereta logistik itu berarti satu hal: teman baru.
Aurelia berhasil menyelinap keluar saat para pelayan sibuk menghitung stok kain sutra di gudang. Dengan langkah berjinjit agar sepatu kulitnya tidak berisik di atas lantai batu, ia menuju ke area belakang gudang yang penuh dengan tumpukan jerami.
"Pssst! Lucas!" bisik Aurelia sambil melongokkan kepalanya di balik pintu kayu yang besar.
Lucas, yang sedang duduk santai sambil mengayun-ayunkan kakinya di atas peti gandum, menoleh dan menyeringai. "Eh, kamu beneran datang! Kirain cuma bercanda."
Lucas melompat turun. "Lihat, aku bawa mainan baru. Ini namanya layang-layang. Ayahku yang buatkan dari sisa kayu di bengkel. Ini bisa terbang seperti burung! Kita yang kendalikan."
Mata Aurelia berbinar. Ia menyentuh kertas tipis yang ditempelkan pada rangka kayu itu. "Ini bisa terbang? Seperti burung?"
"Lebih keren dari burung! Kita yang kendalikan," jawab Lucas bangga. "Ayo, mumpung anginnya lagi kencang. Tapi kita harus ke lapangan rumput di dekat kandang kuda, di sana tidak banyak penjaga."
Mereka berdua berlari kecil, sesekali bersembunyi di balik tong-tong besar saat melihat pengawal lewat. Setelah beberapa kali gagal dan jatuh ke tanah—yang membuat mereka berdua tertawa terpingkal-pingkal karena wajah Lucas jadi belepotan rumput—akhirnya benda itu membubung tinggi.
"Wah! Tinggi sekali!" seru Aurelia kegirangan. Ia melompat-lompat kecil sambil memegang gulungan benangnya.
"Lucas, kenapa kamu mau main sama aku? Kata guru etikaku, putri raja tidak boleh main kotor-koran begini," tanya Aurelia polos sambil mencoba menahan tarikan angin pada layang-layangnya.
Lucas menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya... karena main sendirian itu membosankan. Di pasar, aku punya banyak teman, tapi di sini cuma ada kamu yang kelihatannya tidak punya teman main. Lagian, main layang-layang lebih asyik daripada cuma duduk diam jadi patung, kan?"
Aurelia mengangguk setuju, tapi kemudian wajahnya sedikit meredup. "Iya! Di sini sepi sekali. Sebenarnya aku punya teman, mereka itu sepupuku, tapi mereka terlalu kaku. Mereka tidak berani keluar dari zona mereka karena takut sekali dimarahi ibunya. Mereka itu definisi 'tuan putri sesungguhnya', Lucas. Kalau kami bertemu, mereka cuma mau main boneka porselen, belajar terus, atau latihan menyeduh teh khas tuan putri. Tidak ada yang asyik seperti ini."
Lucas tertawa mendengar cerita itu. "Wah, kedengarannya membosankan sekali. Masa cuma main minum teh, emangnya itu permainan?"
"Iya! Makanya aku lebih suka ke sini," jawab Aurelia jujur.
Lucas mengambil sepotong biskuit keras dari kantongnya dan membaginya menjadi dua. "Nih, makan. Biar kuat lari lagi. Jangan sedih terus soal ayahmu atau sepupumu yang kaku itu. Nanti kalau aku sudah besar dan jadi pengantar barang yang hebat, aku bakal bawakan mainan paling banyak buat kamu supaya kamu nggak perlu bosen sendirian di dalam sana."
Aurelia tersenyum lebar, menunjukkan giginya yang baru tumbuh. "Janji?"
"Janji!" Lucas menyodorkan jari kelingkingnya yang sedikit dekil.
Aurelia menautkan jari kelingkingnya yang bersih ke jari Lucas. "Janji kelingking!"
Mereka menghabiskan sisa sore itu dengan tertawa lepas. Namun, di gerbang utama istana Aethelgard, sebuah kereta kencana mewah dengan lambang singa emas dari Kerajaan Valeront baru saja tiba.
Di dalamnya, Pangeran Theo yang berusia dua belas tahun menatap keluar jendela dengan bosan. Ia tidak tahu bahwa seorang tuan putri yang akan dia temui sedang tertawa bebas bersama seorang anak tukang angkut barang.
---