NovelToon NovelToon
Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zenaaa

Di siang hari, Renata adalah seorang gadis biasa yang bekerja sebagai pustakawati polos berkacamata tebal. Namun, saat malam tiba dan lampu kota Jakarta mulai menyala, ia berubah menjadi "Papillon" (Kupu-Kupu)—gadis hostess paling misterius dan mahal di Kupu-Kupu Bar, sebuah kelab malam eksklusif rahasia para konglomerat.
​Renata tidak mencari uang demi kemewahan. Ia menjebak dirinya di dunia malam demi mengungkap misteri kematian kakak perempuannya yang tewas mengenaskan setelah melayani seorang pria berkuasa dari Dirgantara Group.
​Rencananya berjalan mulus hingga malam itu tiba. Adrian Dirgantara, CEO dingin dan pewaris tunggal Dirgantara Group, masuk ke bar dan langsung memilih Papillon. Adrian tidak mencari hiburan, melainkan seorang "istri sewaan" untuk memenuhi wasiat kakeknya demi mempertahankan takhta perusahaan.
​Satu kesepakatan di bawah lampu remang-remang bar mengubah segalanya. Renata melangkah masuk ke sarang musuh sebagai istri Adrian, sementara Adrian tidak pernah t

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zenaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Rahasia Darah Mahardika

Kata-kata Elena bergema di dinding ruang tunggu VIP lantai 49, meninggalkan keheningan yang begitu pekat hingga detak jarum jam dinding terdengar seperti dentuman gada yang menghantam dada.

​Renata melangkah mundur satu tapak. Cengkeraman tangan Adrian di pinggangnya mendadak terasa begitu panas, hampir membakar. Sepasang matanya menatap Elena dengan tatapan tidak percaya, dipenuhi oleh badai emosi yang berkecamuk hebat di dalam kepalanya.

​"Mahardika Group...?" bisik Renata, suaranya bergetar hebat. "Jadi selama ini... Kak Maya dan aku memiliki keluarga? Dan Anda... Anda membiarkan kami kelaparan di panti asuhan, membiarkan Kak Maya bekerja di tempat noda itu hingga ia meregang nyawa, hanya karena ketakutan masa lalu Anda?!"

​Elena menangis tersedu-sedu, ia jatuh berlutut di atas karpet beludru, tidak lagi memedulikan martabat gaun mahalnya. "Maafkan Ibu, Renata! Albert Dirgantara sepuluh tahun lalu menyewa pembunuh bayaran untuk melenyapkan seluruh silsilah darah Mahardika agar akuisisi paksa perusahaannya berjalan mulus. Ibu terpaksa menyembunyikan kalian dengan identitas palsu di panti asuhan terkecil di pinggiran kota sebelum Ibu diselundupkan ke London oleh beberapa rekan setia mendiang ayahmu. Ibu tidak pernah melupakan kalian, tidak satu hari pun!"

​Adrian berdiri mematung di samping Renata. Rahangnya mengatup begitu rapat hingga otot-otot di pipinya menonjol kaku. Informasi ini seperti belati yang menghujam langsung ke jantung aliansi pernikahannya. Kakek Albert—pria tua yang selama ini ia hormati sebagai pilar tunggal keluarga Dirgantara—ternyata menyimpan dosa masa lalu yang jauh lebih biadab daripada apa yang dilakukan oleh Bram dan Arsen.

​"Nyonya Elena," suara Adrian berdentum rendah, sarat akan tekanan psikologis yang mengintimidasi. "Jika apa yang Anda katakan tentang kakek saya adalah kebohongan untuk memecah belah pernikahan kami, aku bersumpah Anda tidak akan pernah bisa keluar dari gedung ini hidup-hidup."

​Elena mendongak, menatap Adrian dengan sisa keberaniannya. Ia membuka tas jinjingnya dan mengeluarkan sebuah map kulit berwarna cokelat yang tampak usang namun terawat.

​"Aku tidak bodoh untuk datang ke sarang singa tanpa persiapan, Adrian Dirgantara," ucap Elena dengan nada suara yang perlahan kembali tegas. "Di dalam map ini ada dokumen asli audit forensik sepuluh tahun lalu, lengkap dengan surat ancaman bertanda tangan Albert Dirgantara dan bukti transfer dana gelap untuk membungkam saksi kunci Mahardika Group. Periksa sendiri jika kamu tidak percaya."

​Adrian merebut map tersebut, membukanya dengan kasar bersama Renata. Di lembaran-lembaran kertas yang sudah sedikit menguning itu, tertera dengan jelas skema kelicikan Albert Dirgantara yang menjebak Mahardika Group ke dalam kebangkrutan fiktif, lalu memburu keluarga pemiliknya.

​Air mata Renata akhirnya luruh, membasahi pipinya yang pias. Ia menoleh menatap Adrian—pria yang semalam baru saja memeluknya dengan penuh gairah dan cinta di atas ranjang yang sama, kini berdiri di depannya sebagai cucu kandung dari pria yang telah menghancurkan seluruh hidup dan keluarganya.

​"Adrian..." suara Renata nyaris tak terdengar, dipenuhi keraguan yang menyiksa.

​Adrian langsung menangkup kedua tangan Renata yang terasa sedingin es. "Dengarkan aku, Renata. Aku tidak tahu apa-apa tentang masa lalu ini. Tapi aku bersumpah demi nyawaku... masa lalu kakekku tidak akan pernah mengubah statusmu sebagai istriku. Aku tidak akan membiarkan sejarah kelam ini menghancurkan kita."

......................

​Konferensi pers internasional yang dijadwalkan pukul satu siang terpaksa ditunda oleh Baskara dengan alasan teknis, memicu desas-desus baru di kalangan wartawan lobi. Di dalam ruang kerja CEO lantai 50, suasana terasa sepi dan menekan. Elena telah dipindahkan ke sebuah apartemen rahasia milik Adrian di bawah pengawasan ketat Baskara untuk menjaga keselamatannya.

​Renata duduk di kursi kerjanya, menatap kosong ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan kota Jakarta. Dokumen Mahardika Group terhampar di atas mejanya.

​Adrian berjalan mendekat, berlutut di hadapan Renata, lalu menggenggam kedua lutut istrinya dengan tatapan mata yang dipenuhi kecemasan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya kepada siapa pun. "Renata, bicaralah padaku. Jangan mendiamkanku seperti ini."

​Renata menarik napas panjang, menatap mata elang Adrian yang kini tampak begitu rapuh. "Aku tidak membencimu, Adrian. Aku tahu kamu tidak bersalah dalam hal ini. Tapi... setiap kali aku melihat logo Dirgantara Group di ruangan ini, aku teringat bahwa darah keluargaku diperas untuk membangun fondasi gedung tempat kita berdiri sekarang. Bagaimana kita bisa melanjutkan pernikahan ini jika kakekmu adalah iblis yang sesungguhnya?"

​Adrian terdiam, mencerna setiap kata yang keluar dari bibir istrinya. Rasa bersalah yang besar merayap di dadanya. Pria tua yang memberinya saham sepuluh persen tempo hari ternyata adalah seorang pembunuh berdarah dingin di masa lalu.

​"Jika begitu..." Adrian berdiri, merapikan jasnya dengan tatapan mata yang mendadak berubah menjadi sangat dingin dan penuh determinasi. "...maka kita akan menjatuhkan singa tua itu bersama-sama, Renata."

​Renata tersentak, mendongak menatap suaminya. "Apa maksudmu, Adrian? Dia kakekmu. Dia yang memberikanmu takhta CEO ini."

​"Takhta yang dibangun di atas tumpukan mayat dan penderitaan orang lain tidak layak untuk kupertahankan," sahut Adrian mutlak. "Kakek Albert memanfaatkan kita untuk membersihkan nama perusahaan dari ulah Bram dan Arsen, sementara dia sendiri duduk dengan tenang di atas dosa masa lalunya. Aku adalah suamimu, Renata. Aliansiku bersamamu melampaui ikatan darah Dirgantara. Jika kamu ingin menuntut keadilan untuk Mahardika Group, maka aku yang akan memimpin pergerakan ini untukmu."

​Mendengar pernyataan sang suami, ketakutan di hati Renata seketika menguap, digantikan oleh gelombang kehangatan dan rasa kagum yang luar biasa. Pria ini bersedia mengkhianati keluarganya sendiri demi berdiri di sisinya.

​Renata berdiri, melangkah masuk ke dalam pelukan tegap Adrian, memeluk leher suaminya dengan erat. "Terima kasih, Adrian... Terima kasih karena tidak pernah melepaskan tanganku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!