NovelToon NovelToon
Cinta Zaenab

Cinta Zaenab

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Romantis / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: ANGWARUL MUJAHADAH

Sebuah kisah wanita cantik yang rela di ajak sang suami hidup di negeri perantauan, yaitu ke negeri Arab Saudi di Makkah dan ingin meninggal dunia disana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di balik alas Sri Rondo

Di bawah langit Makkah yang bertabur bintang, Zaenab masih terpaku melihat debu serabut kelapa yang menghilang. Ia menatap suaminya dengan tatapan penuh tanya, namun juga penuh rasa takjub. Selama bertahun-tahun menikah, ia tahu Sidik adalah pria yang tekun beribadah, namun ia tak pernah menyangka suaminya menyimpan rahasia sebesar ini.

"Kang... bagaimana Akang bisa melakukannya?" tanya Zaenab lirih.

Sidik menarik napas panjang, aroma padang pasir meresap ke dalam dadanya. Ia duduk di atas sebuah batu karang hitam, matanya menerawang jauh, melintasi ribuan mil kembali ke masa lalu, ke sebuah hutan angker di Jawa Timur bernama Alas Sri Rondo.

"Zae, ini adalah rahasia yang terkubur bersama seragam veteran yang kusimpan di peti," Sidik memulai ceritanya dengan suara berat.

"Dulu, saat aku masih muda dan menjadi prajurit, aku terjebak dalam pengepungan hebat oleh gerombolan PKI. Teman-temanku gugur satu per satu. Aku berlari menembus rimbunnya Alas Sri Rondo dengan napas yang hampir putus. Di belakangku, teriakan-teriakan penuh kebencian itu semakin mendekat. Aku sudah pasrah, siap jika hari itu menjadi akhir hayatku."

Sidik terdiam sejenak, tangannya sedikit bergetar mengenang peristiwa itu.

"Tiba-tiba, saat aku tersudut di bawah pohon raksasa, udara di sekitarku mendingin. Sebuah bayangan tinggi besar muncul dari balik kabut. Itu adalah Mbah Pupos, buyutku yang sudah lama tiada. Wajahnya tenang, memancarkan cahaya redup."

"Beliau tidak berkata apa-apa. Beliau hanya mendekat dan merangkulku dari belakang. Rasanya seperti dibungkus oleh kain yang sangat dingin. Anehnya, para pengejar itu lewat tepat di depanku. Mereka menatap ke arahku, tapi mata mereka kosong, seolah-olah aku hanyalah udara kosong. Mbah Pupos menyembunyikanku dari pandangan mata manusia yang penuh angkara murka."

Zaenab mendengarkan dengan napas tertahan. Ia tidak menyangka suaminya pernah melewati maut sedekat itu.

"Semenjak rangkulan itu, Zae," lanjut Sidik, "ada sesuatu yang tertinggal di dalam diriku. Mbah Pupus menitipkan jubah kepadaku. Bukan untuk pamer kekuatan, tapi untuk digunakan saat keadaan benar-benar terjepit. Dan hari ini, niat suci kita untuk beribadah dan menetap di sini adalah alasan yang cukup bagi ilmu itu untuk keluar."

Sidik menatap Zaenab dengan lembut. "Itulah mengapa aku tidak takut membawamu ke mari tanpa bekal yang banyak. Aku punya 'tabungan' dari masa lalu yang akan menjagamu."

Zaenab mendekat, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Sidik. Rasa takutnya hilang, berganti dengan rasa aman yang luar biasa. Baginya, Sidik bukan hanya seorang veteran perang yang gagah berani, tapi juga penjaga spiritual yang dikirim Tuhan untuk mendampinginya hingga akhir hayat di tanah suci ini.

"Kang," bisik Zaenab, "kalau begitu, aku semakin yakin. Aku ingin rumah terakhirku adalah tanah ini. Tolong bimbing aku sampai saat itu tiba."

Sidik hanya mengangguk pelan, sementara di kejauhan, suara azan Subuh pertama dari Masjidil Haram mulai berkumandang, memanggil jiwa-jiwa yang rindu pada Sang Pencipta.

****

Di tengah keheningan malam Makkah, Sidik kembali teringat kejadian beberapa bulan sebelum mereka berangkat. Kenangan pahit itu masih membekas, lebih perih daripada luka tembak yang pernah ia terima di medan perang.

Kala itu, Sidik mengenakan seragam veteran kesayangannya yang sudah agak kusam, namun tanda jasanya tersemat rapi di dada. Ia menempuh perjalanan jauh dari desa ke Jakarta, mendatangi kantor pemerintahan dengan harapan besar. Ia hanya meminta satu hal: paspor dan izin untuk memboyong Zaenab ke tanah suci sebagai bentuk penghargaan atas darah yang ia tumpahkan demi kemerdekaan.

"Maaf, Pak Sidik," ucap seorang petugas muda di balik meja kaca yang dingin. Matanya bahkan tidak menatap tanda jasa di dada Sidik. "Prosedur tetap prosedur. Tidak ada anggaran untuk paspor gratis, apalagi untuk istri Bapak. Veteran atau bukan, semua harus antre dan bayar sesuai aturan."

Sidik mencoba menjelaskan bagaimana ia dulu bertaruh nyawa di Alas Sri Rondo, bagaimana ia merayap di antara desing peluru untuk memastikan bendera merah putih tetap berkibar. Namun, kata-katanya menguap begitu saja di ruangan ber-AC yang beku itu. Baginya, mereka bukan menolak Sidik, tapi menolak menghargai sejarah.

Ia pulang dengan tangan hampa dan hati yang remuk. Di stasiun, ia melihat banyak pejabat turun dari mobil mewah, sementara ia, sang pembela bangsa, bahkan tak mampu membelikan istrinya sebuah tiket legal menuju rumah Allah.

"Saat itulah, Zae," Sidik berbisik pada istrinya di bawah langit Makkah, "aku sadar bahwa negaraku mungkin melupakanku, tapi Gusti Allah tidak. Aku menyimpan seragam itu di dasar peti. Aku berhenti meminta pada manusia."

Zaenab mengusap lengan suaminya. Ia tahu betapa hancurnya hati seorang pejuang ketika pengabdiannya dianggap tidak ada.

"Kertas paspor itu mungkin tidak mereka berikan, Kang. Tapi Mbah Pupos datang membukakan jalan yang tidak butuh stempel manusia," sahut Zaenab menenangkan.

Sidik tersenyum getir. "Benar. Itulah mengapa kita sampai di sini hanya dengan serabut kelapa. Biarlah pemerintah menganggap aku sudah hilang atau mati di desa. Di sini, aku hanya ingin menjadi hamba-Nya yang sederhana, menjagamu sampai akhir napasmu."

Kekecewaan pada pemerintah itulah yang membuat Sidik bertekad untuk tidak akan pernah kembali lagi ke tanah air. Baginya, Makkah adalah tempat pelarian sekaligus tempat pengabdian terakhir, jauh dari birokrasi yang lupa akan jasa para pahlawannya.

1
Ariasa Sinta
q yakin ini cerita asli, begitupun mbah sidik, iya kan thor ?
SANTRI MBELING: makasih kak
total 1 replies
Ariasa Sinta
ya Allah ...
thor q merinding sekaligus ke inget sama mbah mansyur (Kh.Tubagus Mansyur) yg d ceritain sama guru aku
Ariasa Sinta
loh loh loh ....
q berasa kaya lagi ngaji thor

siapa kah sebenarnya kang sidik ?
SANTRI MBELING: hehe he. makasih mampir disini juga
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!