"Dulu aku adalah debu di bawah kakimu, kini aku adalah badai yang akan menghancurkan istanamu!"
Arka Nirwana hanyalah menantu "sampah" yang dihina dan dipaksa mencuci sepatu keluarga Adiningrat. Kehilangan anak, dikhianati istri, dan dianggap gila adalah makanan sehari-harinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa selama empat tahun, Arka sedang melakukan tirakat suci untuk membuka Segel Nusantara.
Saat guntur menyambar dan Jenderal tertinggi bersujud di kakinya, dunia sadar bahwa Sang Satria Piningit telah bangkit. Masa perbudakan telah usai, kini saatnya Arka menjemput kembali miliknya dan meratakan siapa pun yang menghalanginya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: RUANG DI ANTARA BAYANGAN
Lampu sorot dari kapal patroli The Grand Inquisitor membelah kabut. WUUUUT! Cahaya itu mengunci sekoci Arka dalam lingkaran maut.
Di atas dek, puluhan laras senapan dikokang serentak. KLAK-KLIK-KLAK! Di atas dek kapal hitam itu, puluhan moncong senapan otomatis sudah siap memicu kematian.
"Turunkan kerismu, Arka! Jangan paksa aku mengotori laut suci ini dengan darah pecundang sepertimu!" teriak The Grand Inquisitor dari balik topeng Naganya.
WREEEEEEE... (Suara frekuensi tinggi yang menggetarkan tulang).
Suaranya berat, bergema dengan frekuensi yang menggetarkan sukma, sebuah teknik aji-ajian kuno yang disebut Gelap Ngampar.
Arka berlutut di dasar sekoci, napasnya tersengal. HAAH... HAAH... Luka dalamnya parah.
Tapi di dalam kepalanya, suara Eyang Jugo berbisik, mengingatkan pada satu teknik yang belum pernah ia coba karena risikonya adalah kehilangan kewarasan.
"Mampirlah ke alam antara, Arka. Di sana, raga hanyalah debu, dan niat adalah segalanya."
"Siska... tutup matamu. Apapun yang kau dengar, jangan dibuka sampai aku bilang boleh," bisik Arka.
Tangannya yang gemetar menggenggam tangan Siska, lalu menusukkan Keris Kyai Sangga Buwana tepat ke arah bayangan mereka sendiri di dasar kayu sekoci. JLEB!
"Arka, apa yang..."
"Ssst... Suwung," gumam Arka.
DENGGG... (Suara dengungan sunyi yang mematikan).
Seketika, suara mesin kapal patroli menghilang. Suara deburan ombak Selat Malaka lenyap. Cahaya lampu sorot yang tadinya menyilaukan berubah menjadi redup, berwarna abu-abu pucat.
Mereka masuk ke dalam Alam Sunyaruri, ruang hampa di antara dunia nyata dan dunia ghaib.
Di dunia nyata, The Grand Inquisitor tertegun. Di bawah lampu sorot kapalnya, sekoci itu masih ada. Arka dan Siska masih duduk di sana.
Tapi, mereka tampak seperti patung garam yang tidak bergerak. Bahkan detak jantung mereka tidak terdeteksi oleh sensor termal paling canggih sekalipun.
"Tembak!" perintah si Inquisitor.
RATATATATAT!
Ratusan peluru menghujam sekoci. DAR! DER! DOR! Kayu sekoci hancur berkeping-keping, meledak menjadi serpihan.
Kayu sekoci hancur meledak. BOOM! Tapi peluru itu hanya menembus tubuh Arka seperti asap. WUSH... WUSH...
"Sial! Dia menggunakan Ilmu Panglimunan tingkat tinggi!" umpat si Inquisitor. Ia segera melepas jubah hitamnya, memperlihatkan rajah naga yang melilit seluruh lengannya.
Ia menggigit ujung jarinya hingga berdarah, lalu menempelkan darah itu ke matanya. SREET! "Buka mata batin! Jangan biarkan sukma mereka lepas!"
***
Di dalam Alam Sunyaruri, Arka merasakan tubuhnya seperti ditarik dari segala arah. FIIIIUUUU... Di sini, tidak ada gravitasi. Hanya ada hamparan padang abu-abu tak berujung.
Siska pingsan di pelukannya, sukmanya terlalu lemah untuk menahan tekanan dimensi ini.
Tiba-tiba... GROAAAARRRR!
Muncul sesosok makhluk raksasa setinggi pohon kelapa, dengan mata satu yang merah membara di tengah dahi.
Makhluk itu adalah Buto Ijo penjaga gerbang dimensi, yang terbangun karena kehadiran benda asing di wilayahnya.
ZING!
“Manusia lancang... berani membawa pusaka udara ke sini?”suara makhluk itu menggetarkan batin Arka.
Arka berdiri tegak, meski kakinya terasa lemas. Ia mengangkat Keris Kyai Sangga Buwana tinggi-tinggi. "Aku hanya menumpang lewat, Penjaga. Jangan paksa aku menggunakan bilah ini untuk membelah dimensimu!"
“Sombong! Terimalah gada kematianku!”
Makhluk itu mengayunkan tinjunya yang sebesar mobil. WREUUUMMM!
Arka tidak menghindar dengan otot. Ia menggunakan 15% Elemen Udara-nya bukan untuk terbang, melainkan untuk mengubah massa tubuh sukmanya menjadi sekecil debu agar tidak terkena hantaman.
ZLAP! BOOM!
Hantaman Buto Ijo menciptakan riak di alam abu-abu tersebut.
Di dunia nyata, air laut di titik sekoci tadi mendadak meledak ke atas setinggi dua puluh meter tanpa sebab, hampir menjungkirbalikkan kapal patroli Black Order. BYUUUURRRRR!
"Arka! Di sana!" teriak Inquisitor dari kapal, ia bisa melihat "bayangan" Arka yang berkelebat di permukaan air. Ia melemparkan sebuah tombak pendek yang ujungnya diikat dengan kain kafan berajah.
"Hantam rohnya! Aji Brajamusti!" SYUUUUT! Tombak itu melesat, menembus batas dimensi.
Arka merasakan serangan itu datang dari "luar". Sebuah tombak hitam meluncur ke arah punggungnya di dalam alam Sunyaruri. Jika kena, sukma Arka akan tercerai-berai sebelum sempat kembali ke raga.
Dalam hitungan milidetik, Arka memutar tubuhnya. Ia tidak menangkis tombak itu. Ia justru menangkapnya dengan tangan kosong. PLAK!
Darah ghaib berwarna biru menetes dari telapak tangan Arka. TES... TES...
“Berani sekali kau mengirim kiriman (santet) di depanku, Inquisitor?”batin Arka menggeram.
Arka membalikkan arah tombak itu. Ia menyalurkan 20% Segel Bumi yang di alam ini bermanifestasi menjadi berat yang tak terhingga ke dalam mata tombak tersebut.
"Kembali ke tuanmu!"
WUSH!
Tombak itu melesat keluar dari dimensi Sunyaruri, kembali ke dunia nyata dengan kecepatan sepuluh kali lipat.
Si Inquisitor terbelalak. Ia mencoba menangkis dengan tangannya, tapi tombak itu meledak tepat di depan wajahnya.
DHUAAARRR!
Kapal patroli itu bergetar hebat. Topeng naga si Inquisitor hancur sebelah, memperlihatkan mata yang hancur terkena serpihan. PYARRRR!Topeng naganya hancur sebelah.
ARRGGHH! "Arka Nirwana... kau akan membusuk di dasar laut ini!"
Arka merasa kesadarannya mulai menipis. Menggunakan Sunyaruri terlalu lama akan membuat sukmanya tersesat selamanya. Ia harus segera keluar, tapi di mana pintu keluarnya?
Tiba-tiba... SREEE...
Dari kegelapan padang abu-abu, muncul sesosok wanita tua mengenakan kebaya hijau lumut yang sangat anggun. Wajahnya cantik namun sangat pucat, dengan tusuk konde emas berbentuk ular naga.
"Terlalu dini bagimu untuk ke sini, Cah Bagus,"ucap wanita itu lembut.
Arka tertegun. Aura wanita ini sangat agung, jauh melampaui Eyang Jugo atau siapapun yang pernah ia temui. "Nyi... Nyi Roro...?"
Wanita itu tersenyum tipis, tidak membenarkan tapi juga tidak membantah. "Simpan tenaga mu. Muaro Jambi menunggumu. Di sana, kau akan menemukan jawaban kenapa kau terpilih."
Wanita itu melambaikan tangannya. WUUUUUNGGGGG! Seketika, Arka dan Siska tersedot ke dalam pusaran cahaya putih yang menyilaukan.
ZAAAPPP!
***
GASPPPP! (Arka tersedak air garam). Arka terbangun dengan napas memburu. Ia tersedak air garam.
Ia terbangun di atas hamparan pasir putih yang lembut. Matahari pagi menyengat kulitnya. Di sampingnya, Siska masih terbaring pingsan, tapi napasnya stabil.
Arka melihat ke sekeliling. Ini bukan lagi Selat Malaka yang ganas. Ini adalah sebuah pesisir pantai yang tenang dengan hutan bakau yang lebat di belakangnya.
Di kejauhan, tampak siluet menara bata merah kuno yang menjulang tinggi di antara pepohonan.
Candi Muaro Jambi.
Arka melihat ke tangannya. Keris Kyai Sangga Buwana masih ada di sana, tapi bilahnya kini terbungkus oleh lilitan akar pohon yang entah datang dari mana.
Dan yang paling mengejutkan, di lengan kanan Arka, kini muncul sebuah rajah baru berbentuk Ular Naga Hijau yang melingkar hingga ke pergelangan tangan. DZZZT...(Rajah itu berdenyut hangat).
"Terima kasih... Kanjeng Ratu," bisik Arka sambil menundukkan kepala ke arah laut lepas.
Namun, ketenangan itu hanya sesaat. Dari arah hutan bakau, terdengar suara gesekan daun dan langkah kaki yang sangat banyak.
Bukan langkah kaki militer, tapi suara desisan ribuan ular yang merayap di atas tanah. SSSSSST... SSSSSST...
Seorang pria dengan pakaian serba hitam, memegang seruling bambu, keluar dari balik pohon besar. TAP... TAP... Matanya buta, tertutup kain putih, tapi ia tersenyum ke arah Arka.
"Selamat datang di tanah Jambi, Satria Piningit. Sang Naga sudah lama menunggu makan siangnya."
***
Dukung perjalanan Arka Nirwana dengan Like & Komen. Update setiap hari. Terima kasih.