Ziva kembali ke keluarga kandungnya setelah dua puluh tahun terpisah, namun ia harus menyembunyikan identitas aslinya sebagai bos mafia yang kejam.
Di sana, ia bertemu Arsen—pria yang dikenal sebagai pengusaha sukses, tapi ada aura bahaya yang tak bisa dibohongi oleh naluri Ziva.
Mereka saling tertarik, tapi sama-sama memakai topeng.
Saat rahasia terbongkar, akankah cinta mereka bertahan... atau justru menjadi alasan untuk saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyanathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Tak Diundang & Badai di Ruang Keluarga
Malam semakin larut. Angin malam berhembus dingin menyapu halaman luas kediaman keluarga Sterling.
Di balik kegelapan, sebuah bayangan hitam bergerak lincah memanjat tembok tinggi pembatas halaman. Dengan lompatan presisi dan pendaratan yang sangat senyap, sosok itu mendarat sempurna di taman belakang.
Itu adalah Ziva.
Gadis itu menghela napas lega setelah berhasil kembali tanpa ketahuan siapa pun. Ia melepas topi dan maskernya, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Fuh... untung lancar. Dan untung juga ada orang lain yang lebih dulu menghancurkan mental Viona tadi," gumamnya pelan sambil tersenyum miring. Ia masih penasaran siapa sosok misterius di rumah Viona tadi, tapi urusan itu bisa ditunda.
Dengan hati-hati, Ziva membuka pintu kaca balkon kamarnya yang sengaja ia kunci dari dalam tadi menggunakan cara khusus. Ia melangkah masuk dengan langkah pelan, berharap tidak ada siapa-siapa di dalam.
Namun...
"Kira-kira jam berapa ini, Nona Ziva?"
Suara berat dan dingin itu terdengar jelas di tengah keheningan kamar, membuat jantung Ziva seakan berhenti berdetak selama satu detik.
Ziva menegang. Perlahan ia menoleh ke arah ranjangnya.
Dan benar saja, di tengah kasur empuk itu, Kevin duduk bersila dengan sangat santai seolah itu adalah kamarnya sendiri. Wajahnya diterangi cahaya remang lampu tidur, matanya menyipit tajam menatap Ziva. Aura intimidasi yang dipancarkannya begitu kuat, seolah sedang menginterogasi penjahat.
"K-Kak Kevin...?!" Ziva terbelalak, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. "Sejak kapan Kakak ada di sini...?"
"Dari tadi setelah kamu diam-diam memanjat pagar," jawab Kevin datar. Ia berdiri dan berjalan mendekat langkah demi langkah, membuat Ziva spontan mundur ke belakang hingga punggungnya menabrak dinding. "Jawab jujur. Dari mana saja kau malam-malam begini? Kenapa harus keluar diam-diam seperti pencuri? Apa yang kau sembunyikan dari kami?"
Gawat! batin Ziva panik. Otaknya bekerja keras mencari alibi yang masuk akal. "Aku... aku cuma ingin cari udara segar! Soalnya tadi liat Zea jadi kepikiran terus nggak bisa tidur, jadi aku jalan-jalan sebentar di sekitar komplek!"
"Jalan-jalan pakai baju hitam ketat dan topeng? Atau kau mau bilang itu piyama tidur model terbaru?" tanya Kevin sinis, tidak percaya sedikitpun. Ia semakin mendekat, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Ziva. "Jangan meremehkan penglihatanku, Ziva. Aku tahu ada sesuatu yang aneh dari dirimu."
Ziva semakin bingung. Ia tidak bisa bohong terlalu jauh, tapi ia juga tidak bisa mengaku bahwa ia adalah bos mafia. Situasinya semakin genting.
TAPI...
Brak!
Tiba-tiba pintu balkon yang ada di belakang Ziva terbuka lebar!
Sebuah tangan kuat menarik pintu itu, dan masuklah sesosok pria tampan dengan setelan rapi namun terlihat sedikit berantakan.
"Ziva, maaf aku mengikutimu dari tadi, aku cuma ingin pastikan kau—"
Pria itu berhenti berbicara di tengah jalan saat menyadari ada orang lain di dalam kamar. Matanya terbelalak melihat Kevin yang sedang 'menjepit' Ziva ke dinding.
Itu adalah Arsen.
Waktu seakan berhenti selama tiga detik.
Kevin menatap pria asing itu dengan tatapan tak percaya, lalu berubah menjadi api kemarahan besar yang meledak seketika.
"KAU SIAPA?!!" teriak Kevin.
Tanpa pikir panjang, refleks overprotektif Kevin mengambil alih. Ia tidak mau tahu siapa orang ini, yang jelas ada pria asing masuk ke kamar adik perempuannya malam-malam buta!
Bugh!
Dengan satu gerakan cepat, Kevin mencengkeram kerah baju Arsen dan menyeretnya keluar kamar dengan kasar.
"HEH! KAU BERANI BERANI NYA MASUK KAMAR ADIKKU MALAM-MALAM?!!"
"LEPAS! AKU BUKAN ORANG JAHAT! AKU TEMANNYA ZIVA!" teriak Arsen kewalahan mencoba melepaskan diri tapi tenaga Kevin luar biasa.
Ziva di belakang mereka hanya bisa memegang kepala, panik setengah mati. "Ya Ampun... kenapa jadi begini sih..."
Di Ruang Keluarga Utama...
Suara keributan membangunkan seluruh penghuni rumah. James, Victoria, Daniel, dan bahkan Zio yang baru datang dari kamarnya semua berkumpul dengan wajah mengantuk namun kaget.
Mereka melihat pemandangan yang cukup heboh: Kevin sedang mencengkeram leher baju seorang pria tampan, sementara Ziva berlari mengejar dengan wajah panik.
"ADA APA INI?! KEVIN LEPASKAN DIA!" teriak Victoria kaget.
Kevin melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga Arsen tersandar di sofa. Wajah Kevin merah padam menahan amarah.
"Tanya dia, Pa! Ini siapa?! Aku temukan dia baru saja keluar dari kamar Ziva! Dia masuk lewat balkon! Gila apa dia?!" serang Kevin penuh tuduhan.
Semua mata kini tertuju pada Arsen.
James menatap Arsen dari ujung kaki sampai ke kepala. "Siapa kau, anak muda? Berani-beraninya kau menginjakkan kaki di rumah kami dan mengganggu putriku?"
Arsen mencoba merapikan bajunya yang berantakan, tersenyum sopan namun sedikit kaku. "Selamat malam, Tuan, Nyonya. Perkenalkan nama saya Arsen. Saya..."
"Arsen?" potong Victoria tiba-tiba, matanya meneliti wajah Arsen. Ia lalu menoleh ke James dengan wajah khawatir. "Pa, lihat deh... dia kelihatannya sudah dewasa banget ya? Seumuran sama Daniel kan?"
Daniel yang berdiri di samping pun mengangguk setuju. "Iya Ma, benar. Kelihatannya dia sudah matang banget, beda jauh sama Ziva yang masih muda dan polos."
Wajah Victoria berubah cemas dan sedikit marah. "Oh jadi ini yang namanya hubungan beda usia?! Ziva baru pulang, baru mau menikmati masa muda, eh sudah diincar sama 'om-om'?! Kamu ini mau menipu anak saya yang polos ya?!"
"MAMA BUKAN GITU!" Ziva mencoba membela tapi tidak didengar.
Arsen terlihat syok dan bingung. "Ehh? Om-om? Tante, saya ini baru 25 tahun lho! Masih muda kok! Dan saya tidak menipu siapa-siapa, saya tulus sama Ziva!"
"Alasan klasik!" celetuk Zio yang tiba-tiba berdiri di depan Ziva, memasang wajah protektif dan melindungi adik kembarnya di belakang punggungnya. "Jangan kira kami gampang dibohongi, Bro. Muka lo kelihatan tajam dan misterius gitu, siapa tahu lo punya niat jahat atau mau manfaatin Ziva karena dia anak orang kaya!"
"Iya benar! Lihat matanya! Seperti orang yang banyak rahasia!" tambah Kevin yang masih berdiri dengan tangan disilang di dada, siap melompat menyerang kapan saja.
Arsen benar-benar kewalahan. Ia dikeroyok secara verbal oleh tiga pria tampan dan garang itu. James juga menatapnya dengan tatapan menilai yang tajam.
"Sekali lagi aku tanya, apa tujuanmu mendekati putriku?" tanya James tegas.
Di sisi lain, Daniel masih terus menatap wajah Arsen dengan kening berkerut. Ada rasa familiar yang kuat.
"Wajah ini... aku yakin pernah lihat di mana..." gumam Daniel pelan. "Tapi di mana ya? Kenapa aku lupa siapa dia sebenarnya..."
Daniel tidak tahu, bahwa pria yang sedang diinterogasi itu adalah sosok yang sering ia temui di meja-meja rapat bisnis tingkat tinggi, sosok yang sangat dihormati dan ditakuti di dunia korporat.
Sementara itu, suasana semakin ricuh. Kevin dan Zio saling bersautan menuduh, Victoria mengomel karena takut Ziva tertipu, dan Arsen hanya bisa pasrah menjelaskan tapi suaranya tenggelam.
Ziva di sudut ruangan hanya bisa memijat pelipisnya yang pusing.
'Ya Tuhan... malam ini benar-benar malam terpanjang dalam hidupku.'