Song Jiao, di kehidupan pertamanya dia adalah Jenderal Wanita terkuat yang berhasil menguasai Dunia, tapi hidupnya berakhir begitu cepat karena sebuah penyakit bawaan yang belum ada obatnya.
Tetapi jiwa berdarah-darah Song Jiao tidak diterima di Surga maupun Neraka, hingga pada akhirnya dia harus menjalani kehidupan kedua sebagai Song Jiao yang lain, yaitu putri Raja yang kehilangan statusnya setelah gagal mengkudeta Kekuasaan Kaisar yang tidak lain adalah Kakaknya sendiri.
Terbangun di tubuh gadis muda kurus yang lemah di akhir musim dingin, ingatan asing diterima Song Jiao begitu membuka mata, dan dari dalam ingatan itu dia tau hidupnya tinggal sebatang kara, dimana orangtuanya meninggal sebelum datangnya musim dingin, lalu para pelayan yang tersisa pergi setelah mengambil seluruh harta milik keluarga Song Jiao.
Tanpa harta, tanpa kekuatan, juga tanpa orang yang bisa diandalkan. Sanggupkah Song Jiao menjalani kehidupan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SiPemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menguji Senjata Baru
Qin Haoran, Qin Tianyu, dan Qin Zixuan. Ketiganya terus memutari senjata baru yang tampak asing bagi mereka.
Sementara Song Jiao yang berada tidak jauh dari ketiganya, dia puas dengan hasil pekerjaan para ahli pembuat senjata di Kota Beixuan.
Meski permukaan meriam tampak masih kasar, tapi dia memiliki keyakinan bahwa meriam bisa berfungsi seperti seharusnya, dan satu meriam cukup untuk meruntuhkan semangat juang musuh.
Tetapi sekarang ini sudah terselesaikan dua meriam yang dilengkapi roda, membuat senjata itu bisa dipindahkan dengan kereta khusus yang ditarik menggunakan empat sampai enam ekor kuda.
Bobot meriam cukup berat, jadi dibutuhkan tenaga ekstra untuk menariknya menuju medan perang.
"Cucuku, kapan kita menguji senjata ini? Orang tua ini sudah tidak sabar melihat daya hancur yang dihasilkan senjata ini!"
Qin Haoran bertanya pada Song Jiao dengan nada suara yang dipenuhi oleh rasa ketidaksabaran.
"Kakek, pagi hari ini cuaca sangat cerah. Bagaimana kalau kita segera membawa kedua meriam ini ke tempat yang lapang dan luas untuk menguji daya hancurnya?"
Qin Haoran cepat menganggukkan kepalanya usai mendengar ucapan Song Jiao, dan dia tau tempat yang cocok digunakan untuk melihat sesuatu yang membuatnya penasaran.
"Kita pergi ke sisi selatan kota! Disana ada tempat yang luas untuk melihat apa yang ingin kita lihat!"
Semua orang menganggukkan kepalanya, termasuk Song Jiao yang penasaran dengan daya hancur meriam yang masih belum 100 persen sempurna.
Melihat empat ekor kuda sudah cukup untuk menarik kereta meriam, Song Jiao menganggukkan kepalanya, yakin timbangan meriam yang dia lihat tidak berbeda jauh dengan meriam di kehidupan pertamanya.
Tidak lama kemudian rombongan orang yang dipimpin Qin Haoran akhirnya tiba di sebuah tempat yang sangat luas, sama sekali tidak terdapat tanda-tanda kehidupan manusia di tempat itu.
Song Jiao yang melihat sekeliling, dia lebih dulu memastikan keamanan sekitar, sebelum akhirnya ujicoba daya hancur meriam dimulai.
"Kakek, kita bisa melakukannya di tempat ini!"
Begitu yakin tidak ada manusia lain juga mata-mata musuh di sekeliling tempat pengujian senjata baru, Song Jiao tidak ragu menyampaikan ke Kakeknya untuk segera melakukan ujicoba meriam.
Qin Haoran yang sudah penasaran dengan daya hancur meriam, cepat dia memberi perintah pada para prajurit untuk mempersiapkan senjata, juga bola besi yang menjadi amunisi meriam.
Begitu semua perlengkapan sebelum bola besi ditembakkan selesai dilakukan, kini waktunya memilih target, dan cepat saja target acak dipilih, yaitu area perbukitan di kejauhan.
Jarak tempat meriam berasa dengan perbukitan kurang lebih 700 meter, jarak yang tidak jauh, tapi juga tidak terlampau dekat.
Sebenarnya Song Jiao yakin jarak tembak masih bisa ditingkatkan, tapi karena luasnya tempat ujicoba sangat terbatas, jadilah hanya didapatkan jarak sejauh ratusan meter.
"Kakek, bersiap nyalakan api!"
Sama sekali tidak ragu, Qin Haoran segera menyalakan api, dan begitu perintah membakar sumbu diberikan oleh Song Jiao, dia cepat melakukannya, sampai sumbu mulai terbakar, hingga akhirnya terdengar suara ledakan...
"Booomm..."
Ledakan pertama tanda jika tembakan sukses dilakukan, lalu disusul oleh ledakan kedua...
"Booomm..."
Bola besi benar-benar menghancurkan bebatuan di perbukitan, membuat semua orang yang menyaksikan daya hancur bola besi tercengang dengan mulut dan sepasang mata terbuka sangat lebar.
Mereka benar-benar melihat senjata jenis baru yang saya hancurkan sangat merusak, dan jika bebatuan keras saja hancur, mereka membayangkan bagaimana kalau peluru besi itu menghantam benteng sebuah kota, pastinya benteng itu akan hancur berkeping-keping, tidak sanggup menahan saya hancur yang terlalu besar dan kuat untuk ditahan.
Ujicoba terus dilanjutkan sampai akhirnya kedua meriam memuntahkan masing-masing lima peluru besi, membuat semua orang sangat-sangat puas dengan hasil ujicoba meriam.
Begitu ujicoba senjata baru hari ini dianggap sukses, Qin Haoran tidak lama untuk mengambil sebuah keputusan, yaitu keputusan menyerang Kota Langya dalam dua hari ke depan.
Dikarenakan sebagian besar pasukan sudah berada di perkemahan yang cukup dekat dengan Kota Langya, besok mereka yang masih ada di Kota Beixuan akan menyusul ke tempat perkemahan sambil membawa dia meriam, serta puluhan bola besi yang akan digunakan untuk menghancurkan benteng Kota Langya, sebuah Kota yang terkenal dengan kokohnya benteng pertahanannya, bahkan konon katanya benteng Kota Langya lebih kokoh dari benteng ibu kota Kekaisaran Xue Long.
"Apa kakak besok akan ikut pergi ke medan perang?"
Begitu kembali ke kediaman keluarga Qin, Song Jiao langsung ditempeli oleh adik-adiknya, dan Qin Liangyi baru saja menanyakan sebuah pertanyaan padanya.
"Tentu saja besok kakak kalian ini akan ikut ke medan perang, mengalahkan musuh dan membawa pulang kemenangan sebagai hadiah untuk kalian semua!"
Dengan semangat yang membara Song Jiao memberikan jawaban, membuat adik-adiknya menatapnya penuh kekaguman, dan bisa jadi mereka akan memujanya sebagai sosok kakak yang luar biasa.
"Uh, rasanya aku ingin cepat tumbuh dewasa supaya bisa berperang di sisi Kakak!"
Ucapan itu keluar dari mulut Qin Chen, keberadaan generasi muda keluarga Qin yang sudah sangat langka, tapi sedikitpun Qin Chen tidak mendapatkan perlakuan istimewa, melainkan keluarga Qin memperlakukan seluruh anak-anak sama rata, tidak membeda-bedakan mau itu pria ataupun wanita.
Dengan perlakuan sama tanpa dibeda-bedakan, kerukunan tetap terjaga di setiap generasi keluarga Qin, dan kalau saja tidak ada para pengkhianat, mungkin saat ini keluarga Qin sudah menjadi sebuah keluarga besar yang sangat kuat.
'Sayangnya keluarga ini terlambat menyadari keberadaan pengkhianat, tapi itu sepenuhnya bukan kesalahan keluarga Qin, melainkan seluruhnya ini kesalahan para pengkhianat yang melakukan segala cara demi menghancurkan keluarga ini!'
Seketika pikiran Song Jiao tertuju pada satu sosok, Raja Beiliang, Song Yanzhe, sosok yang bukan hanya menjadi penyebab kehancuran keluarganya, tapi hampir saja orang itu menyeret keluarga Qin ke jurang kehancuran.
'Orang itu, rasanya aku baru benar-benar bisa merasa puas jika dia mati di tanganku, tapi itu haruslah sebuah kematian perlahan dan penuh penderitaan!'
Song Jiao menyeringai tanpa disadari oleh adik-adiknya yang sedang heboh membicarakan tentang suara meriam yang menggelegar bagaikan guntur, dan karena terlalu asik, mereka tidak sadar kalau sudah waktunya makan siang, hingga akhirnya para ibu datang memanggil mereka juga Song Jiao untuk makan siang bersama-sama.
Tiba di ruang makan yang luas, seluruh anggota keluarga Qin telah berkumpul di tempat itu, menjdikan Song Jiao dan anak-anak menjadi yang terakhir tiba, tapi tidak ada yang menyalahkan mereka yang datang terlambat, sebab sebenarnya para orangtua saja yang lebih cepat berkumpul di ruang makan, padahal waktu makan siang masih sebentar lagi.
'Kebersamaan seperti inilah yang aku idam-idamkan sejak di kehidupan pertamaku!'
Song Jiao bicara dalam hati, dan dalam diam dia bertekad menjaga keutuhan keluarga Qin, sebelum kelak di masa depan setelah dia menyelesaikan urusan balas dendam pemilik asli tubuhnya, dia bisa berkeliling dunia dengan tenang, tidak lagi khawatir dengan keselamatan keluarga Qin.