NovelToon NovelToon
25 VS 50 Mertua Sang Don Juan

25 VS 50 Mertua Sang Don Juan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Beda Usia
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa."
Dikhianati Fauzan di hari pernikahan demi wanita lain membuat Luna hancur di hadapan semua tamu. Namun, saat dunianya runtuh, sang calon ayah mertua Mahendra justru mengulurkan tangan dan mengambil alih posisi mempelai pria. Mampukah pernikahan beda usia 25 vs 50 tahun ini menyembuhkan luka Luna, atau justru menjadi awal dari konflik baru yang lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Sementara itu, di sebuah kafe yang terletak tak jauh dari kawasan perumahan elit keluarga Dirgantara, atmosfer terasa begitu mencekam. Fauzan, Emma, dan Mila duduk mengitari meja dengan napas yang masih memburu.

Ketiganya sama sekali tidak terima diperlakukan oleh Mahendra dengan cara sekejam itu di depan para pelayan tadi.

Harga diri mereka hancur, dan yang paling mengerikan, sumber kekayaan mereka mendadak diputus total.

Fauzan mencengkeram gelas di hadapannya hingga jemarinya memutih, menahan gejolak amarah yang membakar dadanya.

Kepalanya berputar hebat memikirkan nasib kartu kredit dan jabatan direkturnya yang dibekukan.

"Kita harus kembali pulang ke rumah, Tante. Mila. Kita tidak bisa membiarkan wanita jalang itu menguasai Papa dan seluruh aset Dirgantara Group!" ucap Fauzan.

"Kita hancurkan pernikahan mereka. Luna tidak boleh bahagia di atas penderitaan kita!"

Emma menggebrak meja kafe dengan wajah kesal.

"Tante setuju, Fauzan! Mas Mahendra itu sudah dibutakan oleh pelet perempuan ingusan itu. Kita harus kembali ke rumah dan pura-pura tunduk sampai kita bisa menendang Luna keluar dari istana Dirgantara!"

Mila yang sejak tadi dirundung ketakutan akan kemiskinan, seketika melihat secercah harapan. Wajah menornya langsung berubah licik.

Ia menggenggam lengan kekar Fauzan dengan erat, mencoba menyalurkan dukungannya.

"Aku setuju, Mas," ucap Mila dengan nada penuh intrik.

"Kita harus merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milik kita. Biarkan wanita itu merasa di atas angin untuk sementara waktu."

Fauzan menganggukkan kepalanya dengan mantap.

Dengan sisa-sisa keberanian dan rencana licik yang mulai tersusun di kepala mereka, Fauzan mengajak mereka kembali ke rumah sekarang juga.

Mereka harus menurunkan ego untuk sementara demi tujuan yang lebih besar.

Beberapa saat kemudian, sedan hitam mewah milik Mahendra bergerak anggun memasuki halaman depan kediaman utama Dirgantara. Namun, belum juga mobil itu berhenti sempurna di depan teras, Mahendra menghentikan mobilnya secara mendadak begitu melihat keberadaan mobil sport Fauzan yang terparkir serong di sudut halaman.

Mahendra menatap lurus ke depan, sepasang matanya menajam melihat tiga sosok yang sangat familier tengah berdiri berjejer di dekat pintu utama.

Luna yang duduk di samping kemudi ikut menorehkan pandangannya ke luar jendela, jantungnya kembali berdegup cemas melihat kepulangan mereka yang begitu cepat.

Mahendra dan Luna langsung dikejutkan dengan pemandangan yang bertolak belakang dari kejadian sarapan pagi tadi.

Fauzan, Mila, dan Emma adiknya yang semula angkuh, kini berdiri dengan kepala tertunduk dalam. Tidak ada lagi guratan cemoohan, melainkan raut wajah penyesalan yang dibuat-buat.

Emma melangkah maju mendekati kakaknya dengan tatapan mata yang memelas, sebuah akting yang sangat rapi untuk melunakkan hati sang kepala keluarga..

"Mas, tolong berikan satu kesempatan lagi untuk mereka, untuk Fauzan dan Mila. Fauzan masih muda dan emosinya belum stabil. Tolong jangan cabut fasilitas dan jabatannya, Mas. Kasihan mereka."

Fauzan dan Mila ikut maju satu langkah, menundukkan kepala mereka di hadapan Mahendra dan Luna, berpura-pura mengakui kesalahan mereka demi menyelamatkan dompet mereka yang kini kosong.

Mahendra menatap tajam ketiga orang di hadapannya selama beberapa saat.

Sebagai pria paruh baya yang sarat akan pengalaman hidup, ia tentu tahu ada udang di balik batu dari permintaan maaf yang mendadak ini. Namun, demi menjaga wibawa di dalam rumahnya dan memberikan kesempatan untuk menjerat mereka dalam permainan yang lebih besar, Mahendra menghela napas pendek.

"Baiklah, kalian boleh masuk ke dalam," ucap Mahendra, suaranya berat, dingin, dan penuh dengan penekanan yang mutlak.

Ia melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Fauzan dan Mila hingga bayangan tubuh tegapnya mengurung mereka. "Dan ingat, jangan buat istriku menangis atau yang lainnya. Jika aku mendengar ada satu kata kasar lagi yang keluar dari mulut kalian untuk Luna, aku bersumpah tidak akan ada kesempatan ketiga. Kalian akan keluar dari rumah ini hanya dengan pakaian yang melekat di tubuh."

Fauzan dan Mila menelan saliva mereka dengan susah payah, terpaksa menganggukkan kepala menyetujui syarat kejam tersebut.

"I-iya, Papa. Kami mengerti," jawab Fauzan lirih.

Kemudian, tanpa membuang waktu untuk ramah tamah yang tidak berguna, Mahendra berbalik badan dan merangkul posesif pinggang ramping Luna.

Ia mengajak Luna ke kamarnya di lantai atas, menuntun istri kecilnya menjauh dari atmosfer beracun di ruang tengah tersebut.

Di bawah tangga mewah, Fauzan berdiri mematung menatap punggung Mahendra yang merangkul mesra pinggang Luna—wanita yang seharusnya menjadi miliknya, namun kini telah resmi menjadi ibu tirinya.

Rasa cemburu, kalah, dan benci bercampur menjadi satu di dalam dada pemuda itu.

Fauzan mencengkeram erat kedua tangannya hingga kuku-kukunya memutih dan urat-urat di lengannya menonjol tegang.

Di dalam hatinya, ia bersumpah akan merebut kembali takhta Dirgantara Group dan membuat Luna memohon ampun di bawah kakinya suatu hari nanti.

Pintu kayu jati berukir mewah itu tertutup rapat, mengunci seluruh ketegangan dan drama keluarga yang baru saja mereka lalui di lantai bawah.

Begitu berada di dalam kamar, atmosfer mendadak berubah drastis menjadi begitu tenang dan intim.

Aroma lavender yang menenangkan menyeruak di seluruh penjuru ruangan, mengusir sisa-sisa rasa cemas yang sempat menggelayuti dada Luna.

Mahendra melepaskan jam tangan mewahnya, meletakkannya di atas meja nakas bersama kunci mobil, lalu menoleh ke arah Luna.

Istri kecilnya itu masih berdiri kaku di dekat sofa, tampak bingung harus melakukan apa di dalam kamar luas yang kini menjadi milik mereka bersama.

Melihat kecanggungan Luna, seulas senyum tipis yang penuh pesona maskulin terukir di wajah matangnya.

Di dalam kamar, Mahendra melangkah mendekati televisi layar datar berukuran besar yang terpasang di dinding, lalu menyalakannya.

Pria berusia setengah abad itu kemudian berbalik, menatap lekat-lekat netra bening istrinya.

"Daripada kamu terus melamun memikirkan anak nakal itu, lebih baik kita bersantai," ucap Mahendra, suaranya baritonnya yang berat terdengar begitu hangat.

Ia mendudukkan tubuh tegapnya di tepi ranjang king size, lalu menepuk ruang kosong di sampingnya, mengisyaratkan Luna untuk mendekat.

Luna melangkah ragu, lalu mendudukkan dirinya di tempat yang ditunjuk Mahendra dengan jarak yang sedikit aman.

Mahendra mengambil remote televisi, membuka aplikasi penyedia film digital, lalu menoleh ke samping.

"Suka film apa? Horor? Action? Romantis?" tanya Mahendra.

Luna terdiam sejenak, menimang-nimang pilihan di dalam kepalanya.

Menonton film romantis dengan pria yang usianya terpaut seperempat abad dengannya pasti akan terasa sangat canggung. Sementara horor, ia terlalu penakut untuk itu.

"Action saja, Mas," jawab Luna singkat

"Action?" Mahendra menaikkan sebelah alisnya yang tebal, sedikit tidak menyangka jika wanita selembut Luna lebih memilih film yang penuh dengan adu jotos dan ledakan daripada film romantis yang biasanya disukai wanita seusianya.

Luna menganggukkan kepalanya dengan mantap, mencoba meyakinkan suaminya dari balik raut wajahnya yang mulai merona kemerahan karena ditatap terlalu intens.

Mahendra terkekeh rendah—sebuah suara tawa seksi yang menggetarkan dada Luna.

"Baiklah, pilihan yang menarik, Nyonya Mahendra," sahut Mahendra santai.

Pria itu segera mencari film laga Hollywood terbaru, lalu mematikan lampu utama kamar dan hanya menyisakan lampu tidur yang temaram.

Di bawah pencahayaan yang minim itu, Mahendra menggeser duduknya, memangkas jarak di antara mereka, lalu dengan gerakan alami seorang pelindung, ia menarik pundak Luna agar bersandar di dada bidangnya yang kokoh.

Luna sempat tersentak dan menahan napasnya, namun pelukan hangat Mahendra yang begitu protektif perlahan membuatnya rileks, membiarkan dirinya tenggelam dalam dekapan sang Don Juan sembari menatap layar televisi yang mulai menampilkan adegan pembuka film.

1
tiara
semoga tuan Mahendra dapat diselamatkan,
Mundri Astuti
tendang sekalian duo ular itu Mahendra
Mundri Astuti
tuh kannn mang dah ada rasa si Mahendra..tapi gpp lun, daripada dpt cere, mending yg ini y lun kakap sekalian 😄
my name is pho: 🤭🤭heheh iya kak
total 1 replies
Mundri Astuti
modus aki" 😄

terimakasih thor dah double up 🙏❤️
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Mundri Astuti
lah si Mahendra...itu yg dikirim ke tim IT kau video asli istrimu loh, kamu ga risih...napa bukan byr perempuan lain aja si yg mirip gitu lantas di edit
Mundri Astuti
coba kaya apa y pembalasan mahendra🤔
Mundri Astuti
Alhamdulillah....
tiara
Semoga Mahendra selamat,dan cepat mencari yang menyebabkan dirinya pingsan
Mundri Astuti
mudah"an selamat Mahendra...
bener" y si Kunti mil", beuh gertakkan doang ga kena, liat aja ntar klo Mahendra sehat ....abis kau.
Fitra Sari
lanjut KK
Mundri Astuti
wayolohhh lunaa
Ita Putri
dih....amnesia anda ya
kan sudah buang Azura anda faizan
Mundri Astuti
ayo Luna tunjukkan klo kamu tuh bisa Badas...
biar duo Kunti, satu kuyang tdk meremehkan mu lagi
Mundri Astuti
ya ampun Mahendra ...tua" keladi ni mah 😄, bucin abis romannya😛
tiara
terlambat pa Dika,kalah cepat sama ayahnya Fauzan
tiara
Luna sudah mulai merasa nyaman tuh dengan pa suami
Mundri Astuti
Luna dah mulai da rasa ni
Ros 🍂
lanjut Thor 💪🏼
Ros 🍂
pengen getok Mila Thor 🤭
Ros 🍂
Hadirrr Thor, Semangat 💪🏻💪🏻
Ros 🍂: sama-sama kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!