NovelToon NovelToon
HUSH, LITTLE BIRD

HUSH, LITTLE BIRD

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dark Romance / Konflik etika
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

"Sepuluh tahun tanpanya adalah sunyi yang menyiksa. Tapi kepulangannya adalah badai yang tak terduga."

Dulu, Alea hanyalah gadis kecil yang menangis tersedu-sedu saat Uncle Bima—sahabat termuda ayahnya—memilih pergi ke luar negeri. Janji untuk memberi kabar ternyata menjadi kebohongan besar selama satu dekade penuh.

Kini, di usia 18 tahun, Alea bukan lagi "burung kecil" yang lemah. Namun, tepat saat ia akan memulai lembaran baru di bangku kuliah, pria yang pernah menghancurkan hatinya itu kembali muncul. Bima kembali bukan sebagai paman yang lembut, melainkan sosok pria dewasa yang posesif, penuh teka-teki, dan gemar melontarkan godaan yang membuat jantung Alea berpacu tidak keruan.

Terpaut usia 15 tahun, Bima tahu ia seharusnya menjaga jarak. Namun, melihat Alea yang kini begitu memesona, "paman" nakal ini tidak ingin lagi sekadar menjadi sahabat ayahnya.

"Sst, little bird... kau sudah cukup bersinar. Sekarang, waktunya pulang ke sangkarmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28. Retakan dalam Sangkar

Matahari baru saja terbit, memancarkan semburat jingga keemasan yang menembus kaca-kaca besar kediaman baru Bima. Namun bagi Alea, fajar tidak lagi membawa kesegaran. Setiap pagi kini dimulai dengan ritual yang sama: berdiri di depan cermin, memeriksa setiap jengkal kulitnya, dan memastikan tidak ada satu pun tanda merah yang tertinggal di area yang bisa terlihat oleh orang luar.

Hari ini adalah hari di mana Daddy dijadwalkan pulang dari Surabaya.

Alea mengancingkan kemeja flanel longgarnya dengan jemari yang sedikit kaku. Di atas tempat tidur berseprai satin abu-abu, Bima masih bersandar tenang pada tumpukan bantal. Matanya yang tajam mengawasi setiap gerak-gerik Alea, menikmati bagaimana kepanikan kecil mulai merayapi wanita mudanya itu. Ada kepuasan tersendiri bagi Bima melihat bagaimana Alea terbagi antara rasa bersalah pada ayahnya dan ketundukan mutlak padanya.

"Kau tampak gelisah, *Little Bird*," suara berat Bima memecah keheningan kamar.

Alea berbalik, menatap Bima yang kini tersenyum miring. "Daddy pulang sore ini, Bima. Aku harus memastikan rumah sudah rapi dan aku sudah berada di sana sebelum jemputannya tiba dari bandara."

Bima terkekeh rendah, suara yang selalu berhasil menggetarkan akal sehat Alea. Pria itu bangkit, menuruni tempat tidur tanpa mengenakan atasan, memamerkan lekuk dada bidang dan tato gahar yang kemarin malam dicakar oleh jemari Alea dalam puncak gairah mereka. Ia melangkah mendekat, mengurung tubuh Alea di antara dirinya dan meja rias.

"Baskara tidak akan tahu apa-apa jika kau bersikap biasa saja," bisik Bima sembari menyelipkan jemari besarnya di antara rambut Alea, memaksa kepala gadis itu mendongak. "Kau adalah putri manisnya yang polos, bukan? Tetaplah menjadi putri kecilnya di depannya, dan jadilah wanitaku saat kau berada di sini."

Alea memejamkan mata, menikmati kecupan posesif yang mendarat di pelipisnya. Rasa berdosa itu ada, berdenyut pelan di sudut hatinya, namun pelukan Bima yang begitu mengunci seolah menjadi candu yang menghapus semua batas moralitasnya. "Aku harus pergi sekarang," rintih Alea pelan, meski tangannya justru meremas pinggang Bima, enggan dilepaskan.

"Pergilah. Sopirku sudah menunggu di bawah," ujar Bima akhirnya, memberikan tepukan pelan di pipi Alea sebelum melepaskan kungkungannya.

Perjalanan kembali ke rumah keluarga Baskara terasa begitu lambat. Alea menatap keluar jendela mobil, melihat jalanan Jakarta yang mulai padat. Pikirannya melayang pada Revan. Kata-kata kasar yang ia ucapkan di koridor kampus kemarin kembali terngiang. Ada sedikit rasa sesak saat mengingat wajah hancur pemuda itu, namun Alea segera menepisnya. Bagi Alea, keselamatan dan ketenangan dunianya bersama Bima adalah prioritas utama. Jika Revan harus hancur, itu adalah konsekuensi karena telah berani mengusik singa yang sedang tidur.

Setibanya di rumah, Alea langsung disambut oleh Bi Ijah yang sedang membersihkan ruang tengah.

"Eh, Non Alea baru pulang? Tadi pagi-pagi sekali sudah keluar, Bi Ijah cari di kamar tidak ada," ujar wanita paruh baya itu dengan tatapan menyelidik yang polos.

Jantung Alea berdesir, namun ia langsung memasang wajah tenang yang sudah ia latih berkali-kali. "Ah, iya, Bi. Tadi ada kelas pengganti pagi-pagi sekali di kampus, jadi Alea buru-buru dan lupa pamit."

"Oh, begitu. Tuan Baskara tadi telepon, katanya pesawatnya mendarat jam dua siang. Ini Bibi sedang menyiapkan makanan kesukaan Tuan," lanjut Bi Ijah sembari berlalu ke dapur.

Alea mengembuskan napas lega. Ia segera berlari ke kamarnya di lantai dua, melempar tasnya, dan langsung mandi untuk meluruhkan sisa aroma parfum *cedarwood* milik Bima yang masih menempel di tubuhnya. Ia mengganti pakaiannya dengan gaun rumahan yang paling kasual, menguncir rambutnya dengan rapi, berusaha mengembalikan citra Alea yang polos dan kekanak-kanakan di mata Daddy.

Tepat jam tiga sore, deru mobil terdengar di halaman depan. Daddy telah pulang.

Alea berlari turun dengan senyum lebar yang dipaksakan. Begitu pintu terbuka, ia langsung memeluk pria paruh baya yang tampak lelah namun tersenyum hangat itu.

"Daddy! Aku merindukanmu," ucap Alea, menyembunyikan wajahnya di dada Daddy. Rasa bersalah kembali menghantamnya seperti ombak besar, membuat matanya sedikit berkaca-kaca.

"Daddy juga merindukanmu, sayang," Baskara membalas pelukan putrinya dengan erat, lalu mengusap rambutnya. "Bagaimana rumah selama Daddy tinggal? Kau tidak kesepian, kan? Maaf ya, audit di Surabaya benar-benar menyita waktu."

"Tidak apa-apa, Dad. Aku sibuk dengan tugas kampus kok," jawab Alea sembari menuntun Daddy duduk di sofa ruang tengah.

Baskara melonggarkan dasinya, lalu bersandar pada sofa. "Oh ya, tadi di jalan dari bandara, Bima menelpon Daddy. Dia mengundang kita untuk makan malam di rumah barunya besok malam. Sekalian syukuran kecil-kecilan, katanya."

Alea berpura-pura terkejut, menahan gejolak aneh di perutnya. "Benarkah? Besok malam?"

"Iya. Daddy sangat bangga pada Uncle-mu itu. Di usia yang masih tergolong muda, dia sudah bisa membangun kerajaan bisnisnya sendiri dan memiliki rumah sekeren itu," puji Baskara tulus, matanya memancarkan rasa kagum pada sahabat yang paling ia percayai. "Kau harus ikut ya, Alea. Temani Daddy."

"Tentu, Dad. Aku pasti ikut," bisik Alea, hatinya berdegup kencang membayangkan bagaimana ia harus duduk di satu meja bersama Daddy dan pria yang tiap malam menjamah tubuhnya.

Keesokan harinya di kampus, atmosfer di sekitar Alea terasa sangat sunyi. Tidak ada lagi Revan yang tiba-tiba muncul dari balik pilar, tidak ada lagi pesan-pesan bernada panik yang memenuhi ponselnya. Revan benar-benar menghilang.

Rasa penasaran membawa langkah Alea ke arah kantin fakultas. Di sana, ia sengaja mendengarkan bisik-bisik dari teman-teman sekelas Revan yang sedang berkumpul di pojok ruangan.

"Kau sudah dengar kabar tentang Revan?" tanya salah satu mahasiswa dengan suara berbisik.

"Iya, parah sekali. Katanya ayahnya resmi ditahan kemarin sore karena kasus penyelundupan kakap di pelabuhan. Dan yang lebih mengejutkan, aset rumah mereka di Menteng kabarnya sudah disita untuk menutupi kerugian," sahut yang lain.

"Lalu Revannya bagaimana?"

"Dia tidak masuk kampus sejak kemarin. Ada rumor kalau dia juga ikut diperiksa karena aliran dana perusahaan masuk ke rekening pribadinya. Kasihan sekali, padahal dia anak tunggal dan sangat pintar. Masa depannya langsung hancur dalam satu malam."

Alea mematikan langkahnya, tangannya mencengkeram tali tasnya dengan kuat. Berita itu merayap masuk ke dalam benaknya sebagai bukti betapa mematikannya kekuasaan Bima. Pria itu tidak hanya menggertak; ia benar-benar mencabut fondasi hidup Revan hingga ke akar-akarnya. Ada rasa ngeri yang sempat terlintas, namun lenyap seketika digantikan oleh rasa aman yang egois. *Selama aku patuh pada Bima, aku akan selalu aman,* pikir Alea dalam hati, membenarkan segala kebiadaban yang terjadi.

Malam yang dinantikan pun tiba. Jakarta diguyur gerimis tipis saat mobil Baskara memasuki gerbang kediaman baru Bima. Rumah modern minimalis itu tampak berkilau di bawah lampu-lampu taman yang ditata estetis, memancarkan kemewahan yang tenang namun angkuh.

Bima menyambut mereka di pintu depan, mengenakan kemeja rajut abu-abu yang santai namun tetap menonjolkan kharismanya.

"Selamat datang, Baskara. Alea," sapa Bima dengan senyum ramah, topeng sempurnanya sebagai seorang paman dan sahabat yang hangat.

"Luar biasa, Bima. Rumah ini jauh lebih indah dari yang kau ceritakan di telepon," puji Baskara sembari menjabat tangan Bima dan menepuk lengannya.

Bima beralih menatap Alea. Matanya berkilat nakal, memperhatikan gaun malam berwarna biru tua dengan kerah tertutup yang dikenakan gadis itu, persis seperti perintah terselubungnya. "Terima kasih, Baskara. Silakan masuk, makanan sudah disiapkan di ruang makan belakang."

Makan malam itu berjalan dengan obrolan bisnis yang didominasi oleh suara Daddy dan Bima. Alea hanya duduk diam, memotong daging steak di piringnya dengan gerakan lambat. Ia berusaha keras untuk tidak menatap Bima, namun getaran di tubuhnya tidak bisa dibohongi.

Di paruh waktu makan malam, saat Daddy sedang asyik menjelaskan proyek barunya di Surabaya, Alea merasakan sesuatu bersentuhan dengan kakinya di bawah meja.

Itu adalah kaki Bima. Pria itu dengan berani melepas sepatunya, membiarkan jemari kakinya merayap naik ke betis Alea, memberikan tekanan-tekanan lembut yang posesif. Tubuh Alea menegang seketika. Garpu di tangannya hampir saja berdenting keras di atas piring porselen.

Alea mendongak, matanya menatap Bima dengan pandangan memohon sekaligus terengah, namun Bima justru tetap menatap Daddy dengan ekspresi mendengarkan yang sangat serius, seolah-olah kakinya tidak sedang melakukan hal gila di bawah sana.

"Jadi, Bima, bagaimana menurutmu tentang ekspansi pasar di area pelabuhan Timur?" tanya Baskara, sama sekali tidak menyadari perang saraf dan gairah yang sedang meledak tepat di hadapannya.

"Kurasa itu langkah yang sangat bagus, Baskara. Pelabuhan adalah kunci kekuasaan bisnis saat ini. Siapa yang mengontrol jalur itu, dia yang mendikte permainan," jawab Bima dengan nada datar, sementara kakinya kini bergerak semakin ke atas, menyentuh paha bagian dalam Alea.

Alea menggigit bibir bawahnya, meremas serbet di pangkuannya hingga kusut. Napasnya mulai memburu, wajahnya merona merah akibat sensasi panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia berada di ujung tanduk, antara rasa takut ketahuan oleh Daddy yang berada tepat di sampingnya, dan kepuasan masokis karena diapresiasi secara rahasia oleh pria yang menguasainya.

Makan malam itu adalah visualisasi nyata dari hidup Alea saat ini: sebuah kepolosan yang dipamerkan di atas meja, dan sebuah dosa pekat yang dinikmati dengan gairah liar di bawahnya. Dan di dalam sangkar emas yang penuh kebohongan ini, Alea tahu, retakan itu sudah mulai terbentuk, tinggal menunggu waktu sampai seluruh dindingnya runtuh menimpa mereka semua.

1
Lalat
anjr serius baskara bilang cinta ke cowo? /Sweat/
Senja_Puan: Kalau ga baca lanjutannya, aku yang buat juga geli kak🤣but, yang dicintai Baskara kan kepintarannya 🤭
total 1 replies
Lalat
sukaa sama ceritanya
Senja_Puan: jangan lupa di like kakak😍
total 1 replies
Anom
Tumpengan Bima
Anom
akhirnya pecah telor 🤭
Anom
kaya ABG anjir🤣
Anom
Good Alea
Yasa
Kak, aku jujur aja ya. kayanya kamu lebih cocok garap novel yang hot/dark gini deh😄 lebih ngena dari pada yang komedi🤣
Yasa
Bima, U bener2 ya. Ini masih hari pertama kah???
Yasa
Gila kak, baru episode pertama udah sat set.
Senja_Puan: thanks kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!