NovelToon NovelToon
Frekuensi Kematian

Frekuensi Kematian

Status: tamat
Genre:Action / Teen School/College / Tamat
Popularitas:120
Nilai: 5
Nama Author: Lovey Dovey

Di SMA Nambu, kelas 3-B adalah kelas paling viral-bukan karena prestasi, tapi karena jumlah problem child-nya. Malam itu, hukuman belajar tambahan untuk 30 siswa mereka berubah jadi mimpi buruk hidup-hari saat invasi makhluk asing berawal di sekolah mereka. Makhluk-makhluk fotofobia yang mengerikan, terluka oleh cahaya terang tapi memangsanya seperti ngengat, menjadikan sekolah sebagai arena berburu. Dipimpin oleh ketua kelas yang panik dan wakilnya yang berusaha tegar, mereka harus bertahan dengan satu aturan: JANGAN MENYALA.


Apakah mereka berhasil melawan makluk itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovey Dovey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rapat di ruang linen

Kegelapan di ruang linen terasa lebih pekat, lebih dingin, dan lebih sesak daripada sebelumnya. Udara pengap berdebu dipotong oleh sorotan senter darurat terakhir mereka, yang diletakkan menghadap langit-langit untuk memberikan cahaya ambient minimalis. Dalam cahaya remang itu, bayangan mereka terpantul besar dan mengerikan di dinding.

Waktunya bagi logistik yang menyedihkan. Mark dan Yeri membagikan sisa-sisa persediaan yang mereka rampas dari mini market dan rumah sakit: beberapa bungkus biskuit energi yang hancur, sebatang cokelat yang meleleh, dan segenggam permen. Air menjadi barang mewah; mereka hanya berani membagikan satu teguk kecil per orang dari botol-botol yang tersisa.

"Yang buat Ningning dan Eunseok lebih banyak," instruksi Jimin dengan suara parau. "Mereka butuh."

Tidak ada yang protes. Chenle dengan patuh menempatkan botol airnya di dekat bibir Ningning yang kering, meneteskan air pelan-pelan. Minjeong membantu Eunseok yang duduk bersandar di rak, menyuapinya biskuit yang direndam air.

Di sudut ruangan, Sohee dan A-na bergantian menjaga kedua pasien mereka. Keduanya tampak kelelahan melampaui usia mereka, tapi mata mereka masih waspada.

Sohee duduk bersila di samping Ningning, jari-jarinya dengan lembut memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan temannya itu. Di bawah cahaya senter, wajahnya terlihat serius, mengamati setiap tarikan napas pendek Ningning. Dia membersihkan keringat dingin di dahi Ningning dengan sehelai kain bersih.

"Denyutnya lumayan stabil," bisiknya pada A-na yang bergantian memeriksa perban di lengan Eunseok. "Tapi dia demam. Infeksi kyaknya"

A-na, dengan gaya perfeksionisnya yang masih tersisa, membuka perban di lengan Eunseok dengan hati-hati. Dia mengerutkan kening melihat jahitan darurat yang berantakan di luka Ningning dan luka robek di lengan Eunseok yang masih basah.

"Luka Eunseok perlu dibersihin lagi," gumam a-na, mengambil botol antiseptik terakhir. "Sohee, tolong nyalain senternya."

Eunseok mengatupkan gigi saat cairan antiseptik yang menyengat menyentuh lukanya. Suara desisannya memenuhi ruangan sunyi. Wajahnya pucat, tapi dia mengangguk pada A-na sebagai ucapan terima kasih.

"Gak... gak apa-apa," kata eunseok, suaranya serak. "Lanjutin aja."

Mereka bekerja dalam diam, hanya diselingi instruksi singkat dan erangan kesakitan. Drama remaja, pertengkaran sepele, rasa suka dan cemburu-semuanya telah lenyap, digantikan oleh sebuah ikatan yang lebih dalam dan lebih suram: ikatan sebagai sesama korban yang berusaha saling menjaga agar tidak terjerumus ke dalam kegelapan total.

Di luar ruangan mereka yang terkunci, rumah sakit yang sunyi sesekali bergema oleh suara-suara tak dikenal. Setiap kali suara itu terdengar, semua aktivitas berhenti. Semua mata tertuju ke arah pintu, jantung berdebar kencang menunggu apakah kali ini rak besi itu akan cukup kuat.

Malam itu, mereka tidak hanya berbagi makanan dan air. Mereka berbagi kehangatan tubuh, berbagi ketakutan yang tak terucap, dan berbagi tekad untuk melihat matahari terbit sekali lagi. Di tengah kepungan makhluk-makhluk yang haus cahaya dan suara, dalam ruang linen yang gelap dan pengap, nyala kecil kemanusiaan itu masih berusaha bertahan, dijaga oleh tangan-tangan gemetar dua calon dokter dan teman-teman mereka yang sama-sama terluka.

KEESOKAN HARINYA - PUKUL 06:17

Cahaya fajar yang pucat dan tak bersemangat menyelinap seperti pencuri melalui celah sempit di bawah pintu besi ruang linen. Ia tidak membawa kehangatan, hanya mengubah kegelapan pekat menjadi bayangan abu-abu yang menyedihkan, memperlihatkan debu yang berputar pelan di udara pengap. Satu per satu, mereka terbangun-bukan karena segar, tapi karena kedinginan yang menggerogoti tulang, rasa lapar yang menggeram di perut, dan kekakuan otot yang terasa seperti telah dipukuli.

Suara pertama yang memecah kesunyian adalah erangan panjang Eunseok, yang mencoba mengubah posisi tubuhnya tanpa mengganggu lengan yang dibalut perban kotor.

"Ah... sial," gumam eunseok, suara serak penuh penderitaan.

Suaranya seperti alarm bagi yang lain. Sunkyung langsung merintih pelan, memeluk tubuhnya sendiri. "Aku laper, Minjeong... laper banget..."

Minjeong yang duduk bersandar di rak, hanya bisa mengelus punggung Sunkyung dengan lemah. "Tahan dulu, Lam. Sebentar lagi kita cari makanan."

Tapi fokus utama semua orang perlahan bergeser ke sudut ruangan tempat Ningning masih terbaring tak bergerak. Dua puluh delapan pasang mata-kecuali yang masih terpejam lelah-seakan tersedot ke arahnya. Napasnya terlihat, pelan dan teratur, tapi ketidakbergerakannya itu menimbulkan kecemasan yang semakin membesar di ruangan sempit itu.

Renjun, yang duduk bersila sambil memijat pelipisnya yang berdenyut, akhirnya tak tahan. Suara sarkasme biasa kini tertutupi oleh nada khawatir yang nyata.

"Udah berapa jam ini? Sepuluh? Dua belas? Kok dia belum bangun juga?" Dia menatap langsung ke arah Sohee dan A-na yang sedang duduk lesu di samping kotak P3K kosong. "Jangan-jangan kalian kebanyakan ngasih obat biusnya kemarin, ya? Main tebak-tebakan dosis gitu?"

Tuduhan itu, meski diucapkan dengan nada kecut, mengguncang kedua gadis itu. Sohee mengangkat wajahnya, lingkaran hitam di bawah matanya seperti noda tinta. Tangannya, yang masih ada bekas darah kering, gemetar sedikit.

"Kita... kita cuma ngikutin apa yang kita baca, Ren. 'Lidocaine untuk anestesi lokal'. Berapa cc? Kita... kita bagi aja, kira-kira..."

"Kita bukan dokter sungguhan!" potong A-na, suaranya lebih tinggi, bergetar oleh tekanan dan tanggung jawab yang selama ini dipendam.

"Kita cuma anak SMA yang lagi coba nyetop temennya dari pendarahan! Lu pikir gue enak liat jarum masuk ke kulitnya? Liat darah terus keluar? Gue muntah tiga kali di pojokan sana, tau!" Tangis a-na mulai membasahi pipinya yang kotor.

Hina yang duduk tak jauh, ikut menyorong. "Tapi kalian yang ngambil inisiatif! Kalian yang bilang 'bisa'! Sekarang kalau ada apa-apa..."

"Hey, hey, cukup!" Jimin berdiri, tubuhnya goyah tapi suaranya tegas.

"Harusnya kalian terimakasih sama sohee a-na, kalau gak ada mereka, kita gak tau nasib ningning, udah udah jangan nyalahin mereka berdua,itu gak akan bikin Ningning bangun. Mereka udah lakuin yang terbaik dengan risiko sendiri."

Ketegangan yang sudah mengambang sejak semalam mulai mendidih. Isu lain, yang lebih primitif, menyulutnya.

Jisung membuka tas terakhir mereka dengan putus asa. "Makanan... cuma tinggal remah-remah biskuit. Satu bungkus chiki kecil ini," ujarnya, memegang bungkus yang nyaris kosong.

Chenle, yang perutnya keroncongan keras, langsung meraih. "Itu buat Ningning kalau dia bangun!"

"Tapi dia belum bangun! Kita yang masih sadar butuh tenaga!" balas Yuha, suaranya lemah tapi penuh kepentingan.

"Bagi aja! Bagi rata!" usul Shotaro.

"Gimana bagi rata? Sekecil ini?" tunjuk Carmen.

"Itu kan ada sisa sedikit, bagi dong!" desis sion, tangannya mencoba meraih.

"Ini gue yang nemuin duluan di bawah rak sion!" balas Haechan, menariknya.

"Udah, jangan ribut soal makanan!" teriak Mark, tapi suaranya tenggelam.

Haechan dan Sungchan nyaris berselisih secara fisik saat jari mereka menyentuh bungkus chiki yang sama.

"Lo kan kemaren dapat jatah lebih chan!" sungging Sungchan.

"Gue jaga pintu semalaman! Butuh energi!" balas Haechan.

"GUYS, DIAM! Kalian mau narik perhatian mereka lagi?!" hardik Jimin dengan suara parau, memisahkan mereka. Tapi kerusuhan kecil itu sudah menggambarkan keadaan mereka: sekelompok remaja yang terdesak, lapar, dan mulai kehilangan harapan.

Kekacauan kecil itu, remeh di dunia lama, terasa seperti pertanda kehancuran di dunia baru mereka. Teriakan berbisik, desisan marah, dan air mata frustrasi memenuhi ruangan. Mereka adalah 28 individu yang terperangkap, ketakutan, dan kelaparan-sebuah tekanan cooker yang siap meledak.

Dan di tengah pusaran keputusasaan kecil itulah, sebuah keajaiban kecil terjadi.

Sebuah tarikan napas yang lebih dalam, agak tersedak, terdengar dari sudut ruangan.

Lalu, sebuah erangan lemah, hampir seperti rintihan.

"Ugh..."

Semua suara langsung padam. Sepi yang tiba-tiba itu lebih menakutkan daripada keributan.

Semua kepala menoleh ke arah sumber suara.

Ningning. Matanya perlahan terbuka. Hanya setengah, seperti berat sekali. Dia berkedip beberapa kali, mencoba menyesuaikan pandangan dengan cahaya redup yang menyedihkan. Wajahnya tampak bingung, kosong.

"O-oi... dia bangun," bisik Anton, memecah keheningan yang menegangkan.

Sohee dan A-na seperti tersetrum. Dengan energi terakhir, mereka merangkak mendekat. Chenle nyaris menjerit kegirangan sebelum ditampar oleh Minjeong untuk diam.

"Ning? Ning, kamu dengar aku?" bisik Sohee, tangannya yang dingin dengan hati-hati menyentuh dahi Ningning. "demamnya udah turun dikit."

Ningning memalingkan kepalanya, sangat pelan. Matanya yang berkabut memindai wajah-wajah di sekelilingnya: Sohee, A-na, Chenle yang wajahnya basah, Minjeong, Jaemin... Semua memandangnya dengan ekspresi campuran aduk-lega yang luar biasa, harap, dan kecemasan yang mendalam.

"Di... mana ini?" suaranya parau, serak tak bersuara. "Apa... apa yang terjadi? Kenapa... bahu gue..." ningning mencoba mengangkat tangan kirinya, tapi rasa sakit yang tajam membuatnya mengerang. "Sakit... sakit banget."

Minjeong segera mendekat, berusaha menenangkan. Suaranya lembut tapi tegas.

"ning lu terluka parah. Di bahu dan punggung. Sohee dan A-na udah berusaha menjahitnya sebisanya. Kita lagi sembunyi di ruang linen sebuah rumah sakit."

"Rumah sakit?" Ningning mengulang, kebingungan semakin jelas. Ingatannya berkelabat: berlari, teriakan, gang gelap, cahaya biru yang berkedip... rasa panas dan sakit yang tiba-tiba di bahunya. "Klepek-Klepek... mereka nyerang kita..." gumamnya.

Lalu, instingnya bekerja. Matanya, yang mulai sedikit lebih fokus, mulai mencari. Melirik ke sekeliling ruangan, menyusuri setiap wajah yang lelah dan kotor. Dia mencari seseorang. Seseorang yang biasanya selalu ada di posisi tertentu-tidak terlalu dekat, tapi selalu dalam jarak pandangnya. Seseorang yang diam, tapi kehadirannya selalu terasa.

"Wonbin...?" suaranya masih lemah, tapi sudah ada nada tanya yang jelas.

"Dia... di mana? Biasanya... dia pasti nongkrong di deket situ," kata ningning, menunjuk ke sudut dekat pintu dengan lemah, tempat Sungchan sekarang duduk.

Sebutan nama itu seperti mantra yang mengeraskan seluruh ruangan. Suasana yang baru saja dipenuhi kelegaan langsung berubah menjadi sunyi yang muram dan berat. Wajah-wajah yang menatapnya berubah seketika. Beberapa menunduk dengan cepat, seperti ditampar. Stella memalingkan mukanya ke dinding, bahunya naik turun dengan cepat. Yuha menutup mulutnya dengan kedua tangan. Chenle yang paling dekat, menarik napas tersedak, air matanya yang belum kering meluap lagi.

Ningning melihat reaksi mereka. Kebingungan di matanya berubah jadi kecemasan, lalu jadi ketakutan yang membayang. "Kenapa? Kenapa pada diam? Wonbin kenapa?" tanyanya, suaranya sedikit lebih keras, terdengar panik.

"Dia... dia terluka juga? Parah? Di mana dia?"

Jaemin menghela napas dalam, suara berat. Dia melangkah maju, menatap langsung ke mata Ningning yang mulai membesar. "Ning..." Mulutnya terasa kering. "Wonbin... dia udah gak ada."

Dunia seolah berhenti berputar bagi Ningning. "Apa?" bisiknya, tak percaya. "Apa maksud lu 'gak ada'? Dia... dia kabur sendiri? Mustahil, Wonbin gak kayak gitu."

Chenle tidak tahan lagi. Tangisnya meledak. "Bukan kabur, Ning! Dia... dia nolongin lo!" teriaknya, suara penuh kesedihan. "Waktu lo jatuh di gang, dan Klepek-Klepek mau nyerang lo lagi... Wonbin... dia lari ke arah lain! Dia teriakin mereka, buang-buang barang, bikin berisik! Dia sengaja narik perhatian mereka semua ke dirinya... biar... biar kita bisa angkat lo dan kabur!"

Setiap kata dari Chenle seperti pukulan palu godam ke kepala Ningning. Dia membeku. Nafasnya tersengal. Matanya membelalak, mencoba memproses cerita yang tak masuk akal itu.

"Jadi... jadi dia..." Ningning tak bisa melanjutkan.

"Mereka kejar wonbin, Ning," lanjut Minjeong, suaranya bergetar.

"Kita... kita denger... tapi kita harus terus lari bawa kamu. Kita gak bisa balik."

Ningning terdiam. Selama beberapa detik, dia hanya menatap kosong. Lalu, badannya mulai bergetar. Getaran halus yang semakin kuat. Bibirnya bergetar, mencoba membentuk kata.

"Bodoh..." akhirnya keluar, sebuah bisikan yang penuh rasa sakit.

"Dasar Wonbin... bodoh banget!" teriaknya tiba-tiba, suaranya pecah dan melengking, memenuhi ruangan. Air mata yang telah menumpuk sejak tadi akhirnya meluap deras. "KENAPA DIA BERBUAT BEGITU?! UNTUK APA?! UNTUK ORANG KAYAK GUE?!"

ningning mencoba bangun, tapi Sohee dan A-na langsung menahannya. "Ning, jangan! Jahitannya bisa terbuka!"

"LEPASIN GUE!" jerit Ningning, histeris, berusaha melepaskan diri walau tubuhnya lemah. "GUE HARUS TAU! KENAPA DIA! DIA YANG PENDIAM ITU! DIA YANG GAK PERNAH BICARA ITU! KENAPA SEKARANG JADI PEMBERANI BODOH?!"

"KARENA DIA SUKA SAMA LO, NING!"

Suara itu datang dari Giselle. Dia berdiri, wajahnya basah oleh air mata. "Dari dulu! Semua pada tau! Cuma lo yang pura-pura gak tau atau emang beneran gak sadar! Dan waktu itu... waktu itu mungkin itu satu-satunya cara yang dia tahu buat... buat nunjukkin itu."

Ningning terdiam lagi, terengah-engah. Kenangan berkelebat. Wonbin yang diam-diam menaruh pembalut dan permen jahe di lokernya saat dia sakit perut. Wonbin yang selalu dapat nilai kimia tertinggi, dan satu-satunya contekan yang pernah dia berikan adalah untuknya.

Wonbin yang, sebulan yang lalu, di perpustakaan yang sunyi, dengan wajah merah padam dan tangan berkeringat, berkata, "Ning, kalo... kalo nanti lulus, gue boleh... ajak lo makan siang? Cuma berdua?" Dan ningning, karena bingung, kaget, dan belum tahu jawabannya, hanya bilang, "Eh... nanti gue pikirin dulu, ya."

Dan "nanti" itu kini tak akan pernah datang.

"Jadi... jadi karena itu?" bisik Ningning, suaranya hancur.

"Karena perasaan bodoh itu, dia... dia gantiin nyawa gue?" Rasa bersalah yang luar biasa menenggelamkannya.

"Ini salah gue... kalau aja gue gak jatuh, kalau aja gue lebih cepat, kalau aja gue waktu itu langsung jawab iya atau gak... mungkin... mungkin..." Dia tak bisa melanjutkan, digantikan oleh isakan yang dalam dan menyakitkan.

ningning menangis untuk Wonbin. Untuk keberanian bodohnya. Untuk perasaan yang tak tersampaikan. Untuk jawaban yang kini selamanya hilang. Untuk pengorbanan yang memberinya nyawa, namun sekaligus membebani nyawa itu dengan rasa bersalah yang mungkin tak akan pernah hilang.

Di ruang linen yang pengap itu, di antara 27 temannya yang juga berduka dengan cara mereka masing-masing, Ningning belajar arti kehilangan yang paling pahit: kehilangan seseorang yang memberinya segalanya, tepat sebelum dia sempat memberi sesuatu kembali. Tangisnya yang tersedu-sedu adalah nyanyian pemakaman untuk seorang anak laki-laki pendiam, dan menjadi pengingat bagi mereka semua bahwa di dunia yang kejam ini, setiap keputusan, setiap kata yang tak terucap, bisa berakhir dengan harga yang mahal sekali.

Tangis Ningning akhirnya mereda menjadi isakan terisak yang melelahkan. ningning tertidur lagi, bukan karena sadar, tapi karena kelelahan fisik, lemes dan emosinya yang habis-habisan. Namun, kesedihan yang menggelantung di udara ruang linen tidak ikut tidur. Ia menambah berat beban yang sudah ada di pundak setiap orang.

Jimin memandangi wajah-wajah yang lesu dan putus asa di sekelilingnya. Dia tahu, berdiam diri di sini menunggu keajaiban adalah bunuh diri lambat. Mereka butuh aksi. Butuh harapan baru, sekecil apa pun.

"Kita gak bisa terus-terusan di sini," ujar jimin, memecahkan keheningan yang muram. Suaranya, meski lelah, berusaha terdengar memimpin.

"Air hampir habis. Makanan udah gak ada. Ningning dan Eunseok butuh perawatan yang lebih baik. Kita perlu tahu situasi di luar, dan kita perlu cari sumber daya."

Mata yang tadinya kosong mulai menatapnya. Ada sedikit kilatan perhatian.

"Apa rencananya, Jimin?" tanya Mark, duduk tegak dengan susah payah.

"Kita bagi tim," jelas Jimin, berjalan pelan di tengah ruangan. "Tugas utama: cari makanan dan obat-obatan. Kantin rumah sakit biasanya ada di lantai dasar atau basement. Meskipun sudah diobrak-abrik, mungkin masih ada yang tersisa. Tim ini harus kecil, lincah, dan berani."

Jaemin mengangguk, menyambung. "Tim kedua bertugas mengintai. Kita perlu tahu posisi Klepek-Klepek di sekitar rumah sakit ini. Apakah mereka masih berkeliaran di koridor? Apakah ada jalan keluar lain yang aman? Intelijen adalah kunci."

"Tim ketiga , yang tidak masuk tim pencari atau intel, tetap di sini, menjaga Ningning, Eunseok, dan barang-barang kita, dan boleh juga bergiliran ke kamar mandi. Buat cuci muka, BAB, BAK, atau sekedar membersihkan diri sebentar. Tapi," tekanannya keras, "TIDAK BOLEH SENDIRIAN. Minimal dua orang, dan tetap waspada. Suara air pun bisa menarik perhatian."

Rencana itu logis, tapi menuai reaksi beragam.

"Keluar? Lagi? Setelah kejadian di gang? Gila lo?" A-na langsung protes, wajahnya pucat.

"Lebih gila kalau kita tinggal di sini sampe mati kelaparan atau infeksi," balas Minjeong dengan dingin.

"Siapa yang mau masuk tim pencari makanan?" tanya Jimin, mengabaikan debat.

Jeno mengangkat tangan pertama. "Gue. Gue butuh gerak."

Shotaro menyusul. "Gue ikut. Gue cepet dan bisa parkour kalo perlu hindari sesuatu."

Sungchan berdiri, menguatkan diri meski matanya masih merah. "Gue juga. Gue bawa senjata." Dia mengangkat rifle kosongnya, sekarang lebih berguna sebagai pentungan atau alat pengintim.

Haechan melihat sekeliling, lalu mengangkat tangan dengan malas. "Ah, bodo amat. Daripada di sini pada tangisan, mending gue cari chiki."

Sohee tiba-tiba angkat bicara. "Gue ikut. Gue tahu sedikit layout rumah sakit dari peta denah, dan gue bisa identifikasi obat-obatan yang kita butuhkan."

"Aneh-aneh aja lo, Sohee. Mau ikut nyari makan?" celetuk Renjun.

"Obat itu sama pentingnya dengan makanan sekarang," jawab Sohee tegas.

Tim pencari terbentuk: Jeno (pemimpin), Shotaro, Sungchan, Haechan, dan Sohee.

"Tim intel?" panggil Jaemin.

Giselle angkat tangan. "Gue bawa tablet, meski batre tinggal 3%. Bisa buat rekam atau catat rute."

Renjun mengangkat bahu. "Gue ikut. Mata gue lumayan tajem buat ngeliat detail."

Anton dan Oh Sion juga bergabung. Tim intel: Giselle (pemimpin), Renjun, Anton, Oh Sion.

"Yang jaga di sini," Jimin menunjuk dirinya, Mark, Yeri, Minjeong, Chenle (yang bersikeras tetap dekat Ningning), Hina, A-na, Stella, dan Yuha. Mereka akan menjaga Ningning, Eunseok, dan sisa barang.

"Sisanya," Jimin menatap Carmen, Jisung, Hina, Juun, Yeon, Ian, Yeon, Eunseok, Kim Sunkyung/Lami, dan Ko Eun.

"Kalian bisa bergiliran ke kamar mandi yang tadi kita lewati di lantai ini. Tapi ingat, jangan sendirian! Dan cepat!"

....

1
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
oalah👏👏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!