Zoya telah jatuh cinta kepada dosennya bernama Arlo. Arlo adalah sosok dosen yang dingin dan tidak ramah... dia kikuk dengan hal asmara.
lalu bagaimana zoya akan meluluhkan hati Mr. profesor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amabillis.13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 12
Zoya awalnya mengira proses meminta izin akan memakan waktu lama. Namun di luar dugaan, Rahengga langsung menyetujuinya begitu ia membuka suara. Dengan wajah cerah, Zoya segera mengucapkan terima kasih sebelum buru-buru membereskan barang-barangnya untuk pergi.
Sudah lebih dari sebulan ia berada di lokasi syuting, dan selama itu pula rasa rindunya pada Arlo semakin sulit ditahan.
Meskipun mereka sering berbicara lewat telepon, suara saja tetap terasa berbeda. Arlo adalah tipe pria yang selalu datar dan minim ekspresi. Mendengar suaranya yang tenang tanpa bisa melihat wajahnya membuat Zoya sama sekali tidak mampu menebak apa yang sedang dipikirkan pria itu. Komunikasi seperti ini terasa sangat tidak memuaskan baginya.
Setelah berpamitan kepada Rahengga, Zoya segera menaiki taksi dan menembus dinginnya malam menuju apartemennya.
Namun sesampainya di sana, sudut bibirnya langsung berkedut.
Di ruang tamu, Necki dan Beben tampak menikmati hidup dengan santai. Salah satunya sibuk melompat-lompat riang, sementara yang lain duduk sambil makan es krim dan menonton televisi.
Kontras itu langsung membuat Zoya kesal.
Saat dirinya hampir mati kelelahan karena syuting, orang-orang di rumah justru terlihat hidup begitu nyaman.
Selama berada di lokasi syuting, Zoya sebenarnya tetap menepati janjinya. Meski sibuk bekerja, ia tetap mengerjakan tugas kampus dan menitipkannya pada Necki. Bahkan, ia juga meminta Necki diam-diam mengawasi Arlo untuknya.
Begitu melihat ekspresi Zoya, Necki segera melaporkan hasil “penyelidikannya”.
“Oh iya, Zoy. Selama kamu pergi, ada seorang wanita yang mencoba mendekati Arlo. Kalau kamu tidak cepat bertindak, bisa-bisa Arlo berpaling ke orang lain.”
Mendengar ada wanita yang mencoba menggoda Arlo, wajah Zoya langsung menggelap. Ia segera menarik lengan Necki dan bertanya dengan nada tidak senang,
“Apa yang terjadi?”
“Aku juga belum terlalu tahu detailnya. Kalau mau, aku bisa selidiki lebih jauh.” Necki melirik reaksinya sebelum melanjutkan, “Katanya dia mahasiswi pindahan dari luar negeri. Pintar banget… baik soal sains maupun sosial. Belakangan ini dia mengejar Arlo cukup terang-terangan.”
Alis Zoya langsung berkerut rapat.
“Maksudmu dia baru pindah… lalu langsung mengejar Arlo-ku?”
Mendengar sebutan Arlo-ku, Necki memutar mata, tetapi tetap mengangguk.
“Wanita itu memang baru masuk Universitas SS. Sepertinya tujuan dia pindah ke sini memang demi Arlo.”
Zoya terdiam beberapa saat, lalu tiba-tiba bertanya dengan serius,
“Dia cantik?”
Necki berkedip bingung.
“Lebih cantik mana dibanding aku?”
Necki menatap wajah Zoya cukup lama.
Zoya memang tipe wanita yang sangat mudah disukai pria. Tubuhnya ramping, tetapi tetap memiliki lekuk lembut di tempat yang seharusnya. Saat sedang malas atau lengah, ia justru terlihat semakin menggoda. Wajahnya sendiri sangat cantik… mata besar yang jernih, lesung pipi manis, dan aura alami yang membuat kecantikannya terasa hidup.
Sementara wanita itu memang cantik, tetapi dalam pandangan Necki, ia tetap tidak bisa dibandingkan dengan Zoya.
Akhirnya Necki menyimpulkan dengan jujur,
“Dia tidak bisa dibandingkan denganmu dalam hal apa pun.”
Mata Zoya langsung berbinar.
“Benarkah…?”
Dengan malu-malu, ia menyentuh pipinya sendiri sambil tersenyum manis. Namun beberapa detik kemudian, senyuman itu langsung menghilang.
“Oh tidak… akhir-akhir ini aku terlalu lelah…” gumamnya panik. “Tidak, aku harus melakukan perawatan! Besok aku akan bertemu pelakor itu… aku harus tampil lebih cantik!”
Setelah mengatakan itu, Zoya langsung bergegas menuju kamarnya.
Sementara Necki hanya bisa berdiri mematung sambil menatap kosong ke arah punggungnya.
Keesokan harinya, Zoya bangun dengan tubuh yang terasa segar. Setelah menyantap sarapan yang disiapkan Necki, ia membawa lembar soal yang sudah disiapkannya semalam dan pergi menuju Universitas SS.
Kelas Arlo pagi itu hanya satu. Saat Zoya tiba, pelajaran baru saja dimulai. Ia memilih duduk di baris kedua. Begitu mendongak, pandangannya langsung tertuju pada Arlo yang berdiri di depan kelas.
Dan hampir di saat yang sama, Arlo juga langsung menyadari kehadirannya.
Setelah sebulan tidak bertemu, Zoya terlihat sedikit lebih kurus. Namun, rona wajahnya jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Sudut bibirnya yang sedikit terangkat memperlihatkan bahwa suasana hatinya sedang sangat baik. Di tangannya terdapat secarik kertas… jelas sekali ia datang untuk bertanya soal lagi.
Sebenarnya, bahkan Arlo sendiri tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya.
Selama sebulan terakhir, meskipun mereka tidak pernah bertemu langsung, keduanya tetap rutin menelepon. Hanya saja, Arlo memang bukan tipe orang yang pandai berbicara. Walaupun ia berkali-kali mencoba mencari topik obrolan, pada akhirnya percakapan mereka selalu berubah canggung dan berakhir dalam keheningan.
Dan setiap kali suasana menjadi sunyi karena dirinya, hati Arlo dipenuhi penyesalan.
Namun, dengan sifatnya yang kaku, ia sama sekali tidak tahu bagaimana cara meminta maaf. Jadi, ia hanya bisa ikut terdiam bersama Zoya di ujung telepon.
Sering kali, ketika ia akhirnya berhasil mengumpulkan keberanian untuk meminta maaf, sambungan telepon sudah lebih dulu ditutup. Pada akhirnya, penyesalan itu hanya bisa ia simpan sendiri di dalam hati.
Semakin sering mereka bertelepon, semakin banyak pula penyesalan yang menumpuk dalam diri Arlo. Emosinya perlahan menjadi semakin mudah terlihat, sampai-sampai rasa senang maupun kesalnya kini mulai tampak jelas di wajahnya… seperti saat ini.
Begitu melihat Zoya muncul secara langsung di depan matanya, semua penyesalan kecil itu seolah langsung menghilang. Bahkan bayangan suram di matanya pun ikut memudar.
Perubahan emosi Arlo begitu jelas hingga siapa pun di dalam kelas dapat merasakan bahwa suasana hati Profesor Arlo sedang sangat baik hari ini.
Adelia, yang selama ini terang-terangan mengejar Arlo, tentu saja menyadari perubahan itu.
Secara naluriah, ia mengikuti arah pandang Arlo dan mendapati bahwa pria itu berkali-kali melirik ke arah barisan kedua.
Adelia pun ikut menoleh.
Barisan kedua sebenarnya bukan tempat duduk favorit mahasiswa. Di sana hanya ada tiga orang yang duduk terpencar… seorang pria dan dua wanita.
Salah satu wanita terlihat biasa saja dan sejak tadi terus menunduk memainkan ponselnya. Mengingat Arlo sangat tidak menyukai mahasiswa yang tidak serius saat kuliah, sudah pasti bukan gadis itu yang sedang ia lihat.
Maka satu-satunya kemungkinan yang tersisa adalah wanita satunya lagi.
Kebetulan posisi duduk Adelia berada diagonal dari Zoya, sehingga ia bisa melihat wajah gadis itu dengan cukup jelas hanya dengan sedikit memiringkan tubuh.
Hari ini, Zoya mengenakan sweter rajut putih sederhana, celana jins biru langit, dan sepatu kanvas putih. Dengan wajah kecil yang masih menyisakan sedikit lemak bayi khas gadis muda, ia terlihat seperti mahasiswi biasa yang bersih dan manis.
Adelia sedikit mengernyit.
Begitu kelas selesai, sebelum sempat keluar, ia melihat Zoya langsung berjalan menghampiri Arlo.
Dan pemandangan berikutnya membuat langkah Adelia berhenti.
Arlo… pria yang selama ini selalu menjaga jarak dan bersikap kaku padanya… kini sedang menatap Zoya sambil tersenyum.
Meskipun lengkungan bibir itu sangat tipis, kegembiraan di matanya terlihat begitu jelas. Bahkan tubuhnya yang biasanya selalu tegang saat berbicara dengan orang lain kini tampak rileks sepenuhnya.
Semua itu menunjukkan satu hal: suasana hati Arlo sedang sangat baik.
Zoya menyerahkan secarik kertas kepada Arlo, lalu bertanya sambil tersenyum,
“Apakah Anda punya waktu luang siang ini?”