Di balik senyumnya yang tenang, Arumi menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Pernikahannya dengan Ardi hanya tinggal formalitas. Demi puteri kecilnya, Kayla, Arumi bertahan.
Segalanya berubah ketika ia bertemu seorang psikiater muda, Dimas, yang baru saja bekerja di klinik psikiatri Dokter Arisa langganannya.
Dimas yang tenang dan hangat selalu membuat Arumi merasa didengar. Di ruang konsultasi yang seharusnya penuh batas, justru tumbuh perasaan yang tak diundang.
Tanpa Arumi sadari Kayla, puteri kecilnya yang cerdas, melihat semuanya. Ia tahu ibunya tidak bahagia. Ia juga tahu, ada cahaya berbeda di mata ibunya setiap kali pulang dari pertemuan dengan Mas Dokter —panggilan akrab Kayla pada Dimas.
Apakah perasaan Arumi pada Dimas yang tumbuh di ruang konsultasi hanya sebatas pelarian? Ataukah rumah yang selama ini Arumi rindukan?
Simak kisah selengkapnya dalam Mengejar Cinta Mas Dokter untuk Mama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dokter Baru
Pagi itu, seperti biasa, Arumi menyiapkan keperluan kantor Ardi dan sekolah Kayla bersamaan. Hal yang menjadi rutinitas pagi Arumi. Menyiapkan sarapan dan bekal adalah hal wajib yang dilakukan Arumi di pagi hari.
Arumi sedang meletakkan sepiring nasi goreng spesial di atas meja makan saat Ardi berjalan menuju meja makan dengan memakai dasi.
Arumi dengan sigap membantu Ardi memakaikan dasi. Ardi menatap Arumi. Sepagi ini, meski direpotkan dengan urusan dapur, Arumi sudah terlihat cantik. Bahkan saat Ardi bangun tadi pagi, Arumi sudah terlihat segar dengan make up minimalis di wajahnya.
"Dah, rapi. Aku bangunin Kayla dulu ya, Mas. Sarapannya udah siap," kata Arumi sambil berlalu meninggalkan Ardi yang sebenarnya merasakan debaran kecil yang lama dia rindukan.
Ardi menghela nafas panjang lalu duduk dan mulai menyantap sarapannya. Nasi goreng Arumi selalu memiliki cita rasa yang khas. Sejak menikah dengan Arumi tujuh tahun yang lalu, Ardi tak pernah bosan dengan nasi goreng buatan Arumi.
Arumi terlihat menggendong Kayla keluar dari kamarnya menuju kamar mandi. Sejak Kayla sekolah, Arumi tak lagi sempat menemani Ardi sarapan. Ardi selesai menyantap nasi gorengnya ketika Arumi selesai memandikan Kayla.
"Oh! Papa udah mau berangkat," kata Arumi saat melihat Ardi meletakkan piring kotornya di wastafel tempat cuci piring. Ardi tersenyum tipis pada Kayla yang masih terlihat mengantuk bahkan setelah mandi.
"Papa berangkat dulu ya. Kayla sekolah yang rajin ya?" kata Ardi sambil mengelus kepala Kayla. Kayla mengangguk pelan.
"Aku berangkat dulu," kata Ardi pada Arumi. Arumi dengan cepat menyalami Ardi.
"Ati-ati, Pa,"
"Mama juga,"
Suasana rumah kembali sepi setelah Ardi menutup pintu.
"Okay. Sekarang giliran kita siap-siap, Kay," kata Arumi sambil mengecup kening Kayla. Kayla melingkarkan kedua tangannya ke leher Arumi. Ngantuk.
Ardi melajukan mobilnya perlahan menuju gedung perkantoran di tengah kota. Dia selalu berangkat pagi untuk menghindari drama kemacetan kota dan palang kereta yang tertutup di jam-jam rush hour. Ardi melihat ke arlojinya, sekali lagi memastikan dia tidak berangkat kesiangan.
Jalanan sudah cukup padat. Namun setidaknya mobil Ardi bergerak dengan kecepatan stabil tanpa harus sering-sering menginjak pedal rem karena jalanan yang macet. Ardi sudah tiba di persimpangan lampu merah, lima ratus meter sebelum kantornya, ketika dia melihat Dira, teman sekantornya berjalan menyusuri trotoar.
Ardi menepikan mobilnya mendekati Dira yang masih berjalan setelah lampu lalu lintas menyala hijau.
"Masuk, Dir," kata Ardi saat kaca jendela mobilnya sudah turun. Dira menoleh.
"Oh? Nggak apa-apa nih?" tanya Dira ragu.
"Yaelah, santai aja,"
Dira tersenyum lalu membuka pintu mobil Ardi dan duduk di sampingnya.
"Kok jalan?" tanya Ardi sambil kembali melajukan mobilnya.
"Iya, nih. Tadi pesen ojol. Nggak tau kenapa malah di cancel," jelas Dira.
"Makanya gue jalan ke lampu merah, biasanya ada ojek mangkal disitu. Ternyata... Keknya gue apes hari ini," kata Dira. Ardi tersenyum.
"Jadi, dapet tebengan dari gue tuh apes ya?" tanya Ardi sambil terkekeh.
"Eh. Bukan! Maksud gue, apes karena nggak dapet ojek," kata Dira sambil ikut terkekeh.
Ardi menatap Dira yang juga menatapnya. Sesaat, hanya sesaat, Ardi merasakan percikan seperti saat dia melihat Arumi pertama kali, dulu, dulu sekali.
'Sadar, Ar! Lo udah punya bini,'
***
Arumi mengendarai motor listriknya mengantarkan Kayla ke Taman Kanak-Kanak yang jaraknya tiga ratus meter dari rumah. Setelah memastikan Kayla masuk ke kelasnya, Arumi bergegas menuju klinik psikiatri yang terletak tak jauh dari sekolah Kayla.
Tiga minggu terakhir ini, Arumi rutin melakukan konsultasi dengan Dokter Arisa. Awalnya Arumi ragu untuk mendatangi klinik Dokter Arisa. Namun, demi bisa menjaga kewarasan hidupnya untuk puteri kecilnya, akhirnya dia memberanikan diri untuk berkonsultasi dengan Dokter Arisa.
Senyum Lia, perawat yang sekaligus merangkap sebagai resepsionis klinik, menyambut hangat saat Arumi memasuki klinik.
"Bu Arumi, selamat datang. Silakan tunggu sebentar," kata Lia ramah. Arumi mengangguk, lalu duduk di kursi ruang tunggu dengan sabar.
Jam masih menunjukkan pukul 07.37. Klinik baru saja buka tujuh menit yang lalu. Tentu saja Dokter Arisa masih mempersiapkan ruang pemeriksaan dan lain-lainnya.
"Silakan, Bu. Teh hangatnya," kata Lia sambil menyodorkan teh hangat dalam cup kertas yang biasanya untuk kopi.
"Makasih, Mbak Lia," ucap Arumi sambil tersenyum ramah. Lia membalas senyum Arumi, lalu kembali ke meja resepsionisnya.
Pintu klinik kembali dibuka saat Arumi tengah menyeruput teh hangat dari Lia. Seorang pria, sebaya dengan Arumi —atau mungkin lebih muda—, berperawakan tinggi dengan wajah yang terbilang cukup tampan, masuk ke dalam klinik.
"Pagi, Dok," sapa Lia ramah.
"Pagi," balas pria itu, ramah.
Pria itu sempat menoleh dan tersenyum ke arah Arumi saat berjalan masuk ke bagian dalam klinik. Arumi membalas dengan anggukan kepala karena dirinya sedang sibuk menyeruput teh hangat.
"Silakan masuk ke Ruang konsultasi, Bu. Hari ini, Dokter Dimas yang akan menjadi konsultan Bu Arumi," kata Lia. Arumi menurunkan cup tehnya sambil menaikkan kedua alisnya.
"Dokter Dimas?" tanya Arumi. Lia mengangguk ramah.
"Yang barusan lewat, Bu," kata Lia. Arumi mengerjapkan matanya, mencerna informasi yang baru saja dia terima.
"Dokter Arisa nggak ada ya, Mbak?" tanya Arumi, merasa canggung kalau harus berkonsultasi dengan psikiater pria. Lia tersenyum ramah.
"Dokter Arisa sedang ada seminar hari ini, Bu. Untuk konsultasi hari ini, semua dialihkan pada Dokter Dimas," jawab Lia ramah. Arumi terdiam. Dia ragu antara memilih tetap menjalani konsultasi rutin atau pulang dan kembali lagi saat Dokter Arisa ada.
"Silakan, Bu. Kami pastikan penanganan semua pasien secara profesional. Bu Arumi tak perlu khawatir," kata Lia mencoba menenangkan dan meyakinkan Arumi.
"Lia, pasien sudah boleh masuk," kata Dokter Dimas sambil melongokkan kepalanya keluar dari ruang konsultasi tak jauh dari resepsionis.
"Baik, Dok. Silakan, Bu Arumi," kata Lia mempersilakan Arumi. Arumi mengangguk sambil tersenyum kikuk kemudian melangkah ke ruang konsultasi dengan langkah yang masih ragu-ragu.
Arumi menempelkan tangannya ke handle pintu ruang konsultasi. Dirinya masih ragu untuk masuk. Tapi, Dokter Arisa sudah memintanya untuk rutin datang seminggu sekali, terlebih jika pikirannya mulai kacau.
Arumi menghela nafas panjang lalu memutar gagang pintu ruang konsultasi. Dokter Dimas, pria yang tadi lewat di dekat Arumi, mengangguk sambil tersenyum ramah. Tampilannya sedikit berbeda dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya.
"Silakan, Bu," kata Dimas mempersilakan Arumi yang ragu-ragu untuk masuk ruang konsultasi.
"Kemarin Dokter Arisa sudah memberikan sedikit penjelasan tentang pasien-pasien yang datang hari ini," kata Dimas saat Arumi sudah duduk di hadapannya.
"Saya harap, Bu Arumi, bisa rileks dan tak perlu sungkan untuk konsultasi dengan saya," lanjut Dimas.
Arumi masih tersenyum kikuk. Suara Dimas yang tenang dan ramah belum bisa menghilangkan rasa canggung Arumi. Wajah Arumi sedikit memerah saat dia teringat apa yang ingin dia konsultasikan pada Dokter Arisa.
'Aku nggak mungkin kan tanya masalah ranjang sama Dokter Dimas?'
***