NovelToon NovelToon
Istri Kecil Tuan Devano

Istri Kecil Tuan Devano

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: adawiya

Alana Wijaya tidak pernah menduga hidupnya akan berubah menjadi neraka dalam semalam. Demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang diambang kehancuran, ia dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Devano Adhitama—seorang CEO arogan yang dikenal sebagai monster berdarah dingin dan harus duduk di kursi roda akibat kecelakaan misterius.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 ancaman

Pagi berikutnya berjalan dengan ketegangan yang jauh lebih mencekam.

Alana berdiri di depan cermin besar kamar mandi, menatap pantulan dirinya sendiri. Pipi kirinya yang kemarin ditampar oleh Nyonya Sandra kini menyisakan lebam keunguan yang samar di bawah sapuan foundation tebal. Namun, bukan luka itu yang membuat jemari Alana gemetar saat menyentuh wajahnya sendiri.

Pandangannya turun ke arah leher jenjangnya. Di sana, tepat di atas tulang selangka, terdapat sepasang tanda kemerahan yang samar. Jejak ciuman panas dan kasar yang ditinggalkan Devano semalam.

Alana memejamkan mata rapat-rapat, mencengkeram tepi wastafel marmer hingga buku-buku jarinya memutih. Sentuhan Devano semalam masih terasa nyata di kulitnya. Rasa terbakar, dominasi yang menyesakkan, dan bibir pria itu yang bergerak menuntut seolah Alana adalah mangsa yang sudah sah menjadi miliknya.

Yang paling membuat Alana ngeri adalah kenyataan yang baru saja diketahuinya. Pria itu bisa berjalan.

“Jangan pernah bermimpi untuk keluar dari mansion ini hidup-hidup...”

Ancaman itu terus berdengung di kepala Alana seperti mantra terkutuk. Devano Adhitama bukan sekadar CEO lumpuh yang frustrasi. Dia adalah predator yang sedang memakai topeng domba, menunggu waktu yang tepat untuk menerkam semua musuhnya. Dan sekarang, Alana terjebak di dalam sangkar emas bersamanya, memegang rahasia yang bisa merenggut nyawanya kapan saja.

Dengan napas yang diatur seberat mungkin, Alana keluar dari kamar mandi.

Di dalam kamar utama, Devano sudah duduk rapi di atas kursi roda elektriknya. Pria itu mengenakan kemeja putih bersih dengan setelan jas abu-abu formal. Tidak ada lagi jejak pria kejam yang semalam menyudutkannya di balik pintu kerja. Wajahnya kembali datar, dingin, dan tak tersentuh. Tatapannya tertuju pada tablet di tangannya, mengabaikan kehadiran Alana sepenuhnya.

Suara putaran roda yang halus terdengar saat Devano menggerakkan kursi rodanya menuju pintu keluar. Namun, tepat sebelum melewati Alana, Devano menghentikan gerakannya.

Tanpa menoleh, Devano berbicara dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. "Ingat aturan main kita, Alana. Hari ini ada pertemuan keluarga besar di ruang makan utama. Jangan tunjukkan wajah bodohmu itu di depan ibuku."

Alana menunduk, meremas ujung gaun kasual yang dikenakannya. "Baik, Tuan Devano."

Devano mendengus pelan, seolah puas dengan kepatuhan Alana yang gemetar, sebelum akhirnya melesat keluar kamar. Begitu pintu tertutup, Alana baru bisa mengembuskan napas yang sejak tadi ditahannya di dada.

Baru saja Alana hendak merapikan tempat tidur, ponsel usang miliknya yang diletakkan di atas meja nakas tiba-tiba bergetar hebat. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Alana mengernyitkan dahi. Perasaan buruk mendadak menyergap hatinya. Dengan ragu, ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. "Halo?"

"Wah, wah... sepertinya adik tiriku yang malang sudah mulai menikmati perannya sebagai Nyonya Besar Adhitama."

Suara melengking yang sangat familier dan penuh nada ejekan terdengar dari seberang telepon. Tubuh Alana seketika menegang sempurna. Darah di dalam sialan nadinya seolah berhenti mengalir.

"Siska..." bisik Alana, suaranya tercekat.

Itu Siska Wijaya. Kakak tirinya yang egois, wanita yang seharusnya mengenakan gaun pengantin kemarin, wanita yang melarikan diri dan melemparkan seluruh kutukan ini ke pundak Alana.

"Ya, ini aku, Kakakmu yang cantik," sahut Siska dengan tawa renyah tanpa rasa bersalah sama sekali. "Bagaimana malam pertamamu, Alana? Apakah menyenangkan tidur di ranjang yang sama dengan pria cacat itu? Kudengar Devano Adhitama sangat tampan, sayang sekali kakinya tidak berguna. Menjijikkan."

Mendengar penghinaan Siska yang begitu enteng, kemarahan yang selama ini ditekan Alana mulai mendidih. "Di mana kau, Siska? Kau tahu apa yang terjadi karena ulahmu?! Ayah hampir terkena serangan jantung, dan keluarga Adhitama tahu kalau aku adalah pengantin pengganti! Kau melarikan diri dan membiarkan aku yang menanggung semuanya!"

Di seberang sana, Siska justru mendengus meremehkan. "Oh, ayolah, Alana. Jangan berlagak menjadi pahlawan suci di depanku. Kau seharusnya berterima kasih padaku! Jika aku tidak pergi, kau tidak akan pernah punya kesempatan untuk menginjakkan kaki di mansion mewah itu, bukan? Anak pembawa sial seperti dirimu akhirnya punya kegunaan bagi keluarga Wijaya."

"Siska, cukup!" bentak Alana, air mata kemarahan mulai menggenang di sudut matanya. "Kembalilah. Katakan pada mereka yang sebenarnya dan lepaskan aku dari kegilaan ini!"

"Kembali? Menikahi pria lumpuh itu? Jangan mimpi!" Nada suara Siska tiba-tiba berubah menjadi tajam dan penuh ancaman. "Dengar baik-baik, Alana. Aku menghubungimu bukan untuk mendengarkan keluhanmu. Aku butuh uang. Transfer lima ratus juta rupiah ke rekening rahasia yang akan kukirimkan setelah ini."

Alana terbelalak. "Lima ratus juta?! Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu, Siska?! Aku tidak punya uang!"

"Kau adalah istri dari CEO Adhitama Group sekarang, bodoh! Lima ratus juta hanya seperti uang receh bagi suamimu!" kata Siska kejam. "Jangan coba-coba menolak, Alana. Jika dalam waktu dua puluh empat jam uang itu belum masuk ke rekeningku, aku akan mengirimkan bukti rekaman suara dan dokumen ke media massa. Aku akan menyebarkan berita bahwa kau sejak awal bersekongkol dengan Ibu untuk menjebak Devano demi menguasai hartanya!"

"Kau gila, Siska! Itu fitnah!"

"Siapa yang peduli itu fitnah atau bukan? Publik akan lebih percaya padaku. Dan tebak apa yang akan dilakukan suami tiranimu itu jika tahu istrinya adalah seorang penipu yang haus harta? Dia akan menghancurkanmu sampai tidak bersisa, Alana," ancam Siska dengan tawa licik yang mematikan. "Pikirkan baik-baik. Lima ratus juta, atau hidupmu berakhir di tangan Devano. Aku akan menunggu."

Tut... Tut... Tut...

Panggilan diputus sepihak.

Alana perlahan menurunkan ponselnya dari telinga. Tubuhnya lemas, lututnya tidak lagi mampu menopang berat badannya hingga ia terduduk di lantai dingin di samping ranjang. Kepalanya berputar hebat.

Siska benar-benar iblis. Kakak tirinya itu tidak hanya melarikan diri, tetapi kini juga ingin memerasnya menggunakan ancaman yang bisa memicu kemarahan Devano. Alana tahu betul, jika Devano sampai mempercayai fitnah Siska, pria itu tidak akan segan-segan melaksanakan ancaman mengerikannya yang semalam.

Bagaimana cara ia mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu satu hari? Meminta pada Devano? Itu sama saja dengan menggali liang kuburnya sendiri.

Tanpa disadari Alana, di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, sesosok pria di atas kursi roda telah mendengarkan sebagian besar percakapan telepon tersebut.

Devano Adhitama mengepalkan tangan kanannya di atas sandaran kursi roda. Matanya berkilat tajam, memancarkan aura dingin yang mampu membuat ruangan di sekitarnya terasa membeku. Rahangnya mengeras menahan amarah yang bergejolak.

Dia sengaja kembali ke kamar karena melupakan berkas penting, namun yang ditemukannya justru air mata Alana dan percakapan telepon yang penuh dengan konspirasi busuk keluarga Wijaya.

Lima ratus juta? Memasok uang untuk pelarian Siska?

Devano menyeringai sinis. Otak bisnisnya yang jenius langsung bekerja, menyusun sebuah skenario baru. Ini adalah kesempatan emas baginya untuk menguji sampai di mana batas kesetiaan mempelai penggantinya ini. Apakah Alana akan mengkhianatinya demi menuruti perintah keluarganya, atau wanita itu akan memilih berlutut memohon bantuannya?

Dengan gerakan tenang, Devano mendorong kursi rodanya masuk ke dalam kamar, dengan sengaja menimbulkan suara putaran roda yang cukup keras untuk mengejutkan Alana.

Kreeek.

Alana tersentak hebat. Ia buru-buru menghapus air matanya dengan punggung tangan, lalu bangkit berdiri dengan panik, mencoba menyembunyikan ponselnya di balik saku gaunnya. "T-Tuan Devano? Anda... Anda kembali?"

Devano menghentikan kursi rodanya tepat di depan Alana. Jarak mereka begitu dekat hingga Alana bisa merasakan tekanan intimidasi yang luar biasa dari tatapan mata pria itu.

"Siapa yang meneleponmu pagi-pagi begini hingga membuat Nyonya Adhitama menangis seperti orang bodoh?" tanya Devano, suaranya datar namun terdengar begitu menusuk.

Alana menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya berdegup kencang, berpacu dengan rasa takut yang luar biasa. Jika ia jujur tentang Siska, Devano mungkin akan langsung menghancurkan ayahnya hari ini. Namun jika ia berbohong...

"Bukan siapa-siapa, Tuan. Hanya... hanya salah sambung," bohong Alana, suaranya bergetar kecil. Ia menundukkan kepala, tidak berani menatap langsung ke dalam manik mata hitam Devano yang seolah bisa membaca setiap helai kebohongannya.

Sudut bibir Devano terangkat, membentuk senyuman dingin yang sangat mengerikan. Pria itu tiba-tiba mengulurkan tangannya, mencengkeram dagu Alana dengan cengkeraman yang kuat, memaksa wajah wanita itu mendongak menatapnya.

"Salah sambung?" Devano mengulang kata-kata itu dengan nada mengejek.

Devano memajukan tubuhnya dari kursi roda, membuat wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Aroma tubuh Devano yang maskulin kembali menguasai indra penciuman Alana, menciptakan ketegangan sensual yang bercampur dengan rasa teror yang pekat.

"Kau tahu, Alana... aku paling benci dengan orang yang mencoba membodohiku," bisik Devano tepat di depan bibir Alana. Ibu jarinya menekan bibir bawah Alana yang bergetar, memaksa wanita itu membuka sedikit mulutnya. "Aku memberikanmu satu kesempatan lagi. Katakan padaku, siapa yang memerasmu?"

Alana memejamkan mata erat, setetes air mata murni lolos membasahi pipinya, jatuh tepat di atas jemari Devano. Sifat keras kepala Alana bergolak di dalam dadanya. Ia tidak ingin menjadi boneka Siska, tapi ia juga terlalu takut untuk memercayai monster di depannya ini.

"Saya... saya tidak berbohong, Tuan," bisik Alana lirih, suaranya nyaris hilang di udara.

Cengkeraman Devano di dagu Alana seketika mengerat hingga menimbulkan rasa sakit. Mata pria itu berkilat penuh amarah yang tertahan dan kepemilikan yang gelap.

"Baiklah kalau itu pilihanmu," kata Devano serak, wajahnya bergerak turun ke leher Alana, membisikkan kata-kata yang membuat seluruh tubuh Alana merinding hebat. "Mari kita lihat, seberapa lama kau bisa menyimpan rahasiamu dari suamimu ini, Alana. Jangan merangkak memohon pertolonganku saat keluargamu sendiri mulai mengulitimu hidup-hidup."

Devano melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar, membiarkan Alana terengah-engah menahan dada yang sesak. Pria itu memutar kursi rodanya dan berlalu pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Alana yang kini benar-benar berdiri di tepi jurang kehancuran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!