NovelToon NovelToon
WHISPERS OF THE HEART

WHISPERS OF THE HEART

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Duda / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Oviamarashiin

Davika Ovwua Mwohan adalah siswi kelas 3 SMA yang tidak hanya berpenampilan memikat layaknya boneka hidup dengan tubuh *gitar spanyol* yang seksi, tetapi juga memiliki kepribadian paling random dan kocak di antara teman-temannya. Di balik tingkah ajaibnya, Davika adalah koki andalan rumah yang jago menyulap segala jenis masakan mulai dari jajanan pasar hingga kuliner barat menjadi hidangan favorit keluarga, teman, hingga tetangga.

Keseharian Davika dipenuhi dinamika hubungan persaudaraan yang seru dan penuh warna. Ia terlibat hubungan ala "Tom and Jerry" dengan kakak pertamanya, Mas Gara, pria cuek dan berotot yang selalu bersedia menjadi ATM berjalan demi menuruti hobi makan dan tingkah acak Davika. Sementara itu, Mbak Nara, kakak keduanya yang cantik dan manis, turut melengkapi kehangatan dan keseruan lika-liku kehidupan masa muda Davika di dalam keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Labirin Cahaya Merah dan Biru

Raungan sirine yang melengking memecah keheningan malam yang basah. Di sisa kaca spion kiri yang retak, kilatan lampu strobo berwarna merah dan biru berputar-putar dengan agresif, memantulkan cahaya neon pada permukaan aspal yang tergenang air hujan. Sebuah mobil patroli polisi jenis sedan kabin ganda melaju kencang dari arah persimpangan jalan arteri, memotong jalur tepat setelah insiden kecelakaan komplotan berjas tadi.

Bagi pihak berwajib, pemandangan malam ini sangat tidak masuk akal: sebuah motor sport berkapasitas besar melaju tanpa spion kanan, dikendarai oleh seseorang bertubuh sangat mungil yang membonceng seorang pria berlumuran darah dengan kemeja robek.

"Motor sport hitam di depan! Pinggirkan kendaraan Anda sekarang juga!" Suara tegas dari pengeras suara mobil polisi menggema, terdistorsi oleh deru angin malam.

"Aduh, mampus! Davik belum punya SIM, Gus!" pekik Davika. Ketakutan terhadap hukum mendadak mengalahkan ketakutannya pada peluru. Sifatnya yang terkadang bertindak tanpa pikir panjang kembali mengambil alih kendali warasnya. Pikirannya benar-benar buntu dan terdesak.

Tanpa ragu, jemari mungil Davika kembali memutar tuas gas hingga mentok. Monster besi hitam itu melesat lagi, menderu garang membelah jalanan pinggiran kota yang makin sunyi dan gelap. Senter penerangan jalan di area ini sangat minim, meninggalkan lubang-lubang jalanan sedalam sepuluh sentimeter sisa kikisan air hujan sebagai jebakan maut yang tak terlihat.

Namun, Davika mengejutkan Gus Zayyad sekali lagi. Dengan mata green-gray yang fokus menembus kaca helm, ia membaca kontur jalan berlubang itu bagai membaca lembar musik. Tubuh mungilnya yang padat bergeser konstan, membuat motor meliuk-liuk dengan kecepatan tinggi di antara lubang - lubang tajam, tanpa kehilangan momentum traksi sedikit pun.

Di dalam mobil patroli, dua petugas polisi saling berpandangan dengan rahang yang hampir jatuh. Dari balik kaca depan yang tersapu wiper, mereka bisa melihat dengan jelas siluet pengendara di depan mereka adalah seorang gadis remaja bertubuh mungil yang mengenakan jaket oversized longgar.

"Sersan, lihat itu! Itu anak sekolah atau pembalap liar?" teriak petugas yang memegang kemudi, tangannya terpaksa memutar setir dengan kasar untuk menghindari lubang yang baru saja dilewati dengan mulus oleh Davika. "Manuvernya gila! Dia tahu persis titik mati suspensi motornya!"

Ketegangan makin memuncak ketika dari arah kegelapan lorong bypass, dua motor matik besar milik sisa komplotan berjas yang tersisa kembali muncul, mencoba menjepit posisi Davika dari sisi kanan. Davika terjebak di tengah-tengah: polisi di belakang, dan penjahat di sampingnya.

Dalam kondisi terdesak itulah, insting random Davika menelurkan keputusan paling gila sepanjang malam ini.

Tepat di sebuah pertigaan jalur terbuka yang luas, Davika menarik rem depan dengan sentakan bertenaga, dibarengi dengan injakan rem belakang yang membuat roda mengunci. Motor balap hitam itu melakukan stoppie pendek sebelum berputar balik arah seratus delapan puluh derajat di atas aspal yang licin.

Sreeeeett!

"Davika, apa yang kamu lakukan?!" bentak Zayyad, dadanya yang bidang menghantam punggung Davika akibat gaya inersia yang ekstrem.

Davika tidak menjawab. Ia justru memacu motornya langsung menuju ke arah mobil polisi yang sedang melaju kencang mengejarnya. Menghadapi balik arah secara frontal!

Petugas polisi di dalam mobil spontan menginjak rem dalam-dalam hingga ban mereka mengeluarkan suara decitan panjang yang memekakkan telinga. "Dia gila! Dia mau menabrak kita!"

Namun, tepat beberapa meter sebelum moncong mobil polisi menghantam mereka, Davika memiringkan setang ke kanan dengan sudut kemiringan tajam yang sangat rapi. Tubuh semok dan padatnya menjadi penyeimbang gravitasi yang sempurna. Motor itu menyelinap lewat celah super sempit antara bodi mobil polisi dan trotoar jalan, hanya menyisakan jarak beberapa milimeter dari pintu pengemudi.

Petugas polisi itu hanya bisa melongo menatap kaca samping, melihat poni see-through Davika yang sempat terlihat di balik helm saat motor itu melesat melintasi mereka menuju kegelapan kota yang sunyi, meninggalkan komplotan penjahat yang kini justru langsung berhadapan muka dengan moncong mobil patroli polisi yang kehilangan kendali.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Raungan sirine polisi dan deru mesin pengejar perlahan tenggelam, digantikan oleh keheningan malam kota yang kian larut. Davika menurunkan putaran mesin motor balap Mas Gara saat lampu neon putih terang dari sebuah minimarket swalayan 24 jam berukuran besar menyapa pandangannya. Tempat ini tampak kontras di tengah sepinya jalanan pinggiran kota; halaman parkirnya luas, menyediakan segala keperluan lengkap dari logistik hingga obat-obatan.

Begitu standar motor diturunkan dengan sentakan kakinya yang jenjang, Davika langsung melepas helm balapnya. Napasnya memburu halus, membuat poni see-through miliknya sedikit menempel di dahi yang berkeringat tipis.

"Gus kaku, turun. Duduk di kursi besi depan itu saja dulu," perintah Davika dengan nada ceriwisnya yang mulai kembali, menunjuk deretan kursi tunggu di teras swalayan. "Davik lapar tingkat dewa. Mau beli makanan sekeranjang dulu, sekalian urusan darurat.

" Jangan ke mana-mana, muka Gus sudah mirip zombi habis tawuran."

Tanpa menunggu jawaban dari Gus Zayyad yang masih memegangi rusuknya dengan wajah pucat, Davika melesat masuk menembus pintu kaca otomatis yang berdenting ramah. Namun, begitu kakinya menginjak ubin putih swalayan yang bersih, tujuan utamanya bukan lorong makanan. Instingnya yang genius tahu bahwa pelarian gila tadi pasti akan membuat pelat nomor motor Mas Gara dan ciri-ciri fisiknya tersebar cepat. Menyamar adalah satu-satunya cara untuk keluar dari radius pencarian polisi dan komplotan berjas.

Davika menyambar sebuah keranjang belanja, bergerak dengan kecepatan kilat mengambil beberapa potong pakaian kasual yang dipajang di sudut konveksi swalayan, lalu melesat masuk ke dalam toilet umum yang terletak di bagian belakang gedung.

Klik. Pintu toilet terkunci rapat.

Di dalam ruangan beralas keramik putih yang dingin dan berbau karbol segar, Davika melepas jaket oversized hitam dan seragam putih-abu-abu miliknya. Dari balik tas sekolahnya yang penuh gantungan capybara, ia mengeluarkan sebuah dompet kosmetik kecil yang selalu ia bawa—peralatan "estetika" yang biasanya ia gunakan untuk membuat konten modis di media sosialnya.

Metamorfosis dimulai.

Davika mengenakan pakaian baru yang dipilihnya dengan selera mode yang tajam: sebuah tweed jacket bersiluet tegas dengan potongan bahu yang terstruktur, dipadukan dengan celana kulot hitam berpinggang tinggi. Pilihan busana ini secara genius menyamarkan lekuk tubuh gitar spanyol miliknya yang padat dan berisi, sekaligus memberikan kesan tinggi dan elegan, jauh dari citra seorang siswi SMA.

Di depan cermin wastafel yang buram, tangan mungil Davika bergerak dengan presisi yang luar biasa rapi. Ia mengambil pelurus rambut mini portabel dari tasnya, mengubah tatanan rambut hitam lebatnya yang semula bergelombang alami menjadi lurus jatuh melewati bahu. Poni see-through yang menjadi ciri khas ke-remaja-annya disisir ke samping, disembunyikan dengan jepitan mutiara hitam yang anggun.

Selanjutnya adalah riasan wajah. Davika meninggalkan clean look ala remaja sekolah. Dengan sapuan kuas yang cekatan, ia mengaplikasikan foundation dengan hasil akhir matte yang sempurna, mempertegas tulang pipinya yang lembut dengan sentuhan contour tipis. Matanya yang berwarna green-gray langka kini dibingkai oleh garis eyeliner hitam pekat yang ditarik tajam ke atas—menciptakan kesan cat-eye yang intimidatif, misterius, dan sangat dewasa. Sebagai sentuhan akhir, bibir yang merah alami ditutup penuh dengan perona bibir berwarna cokelat plum gelap yang tegas.

Davika mundur satu langkah, menatap pantulan dirinya di cermin.

Dalam waktu kurang dari lima belas menit, sosok Davika si magnet komedi yang random dan kocak telah lenyap. Yang berdiri di dalam toilet itu kini adalah seorang wanita muda berusia pertengahan dua puluh tahun yang tampak matang, cerdas, berkelas, dan sangat berjarak—sebuah penyamaran visual yang begitu rapi hingga jika Mbak Nara atau Mas Gara melihatnya detik ini, mereka tidak akan pernah mengenali bahwa di balik riasan dewasa itu adalah adik bungsu mereka yang kedegilannya tiada tara.

Davika tersenyum tipis di depan cermin, sorot matanya yang seindah boneka kini memancarkan ketegangan yang dingin. "Permainan sesungguhnya baru dimulai, Om - Om baju hitam," bisiknya lirih sebelum membuka pintu toilet dengan langkah kaki yang konstan dan anggun.

...----------------...

Langkah kaki Davika yang kini dibalut sepatu bot kasual berbunyi konstan saat melangkah keluar menembus pintu kaca otomatis swalayan. Atmosfer udara malam yang dingin menyergap wajah dewasanya yang baru selesai dirias. Di kursi besi teras swalayan, Gus Zayyad tengah bersandar pasrah. Luka-lukanya terlihat makin kontras di bawah siraman lampu neon putih yang terang benderang—beberapa bagian kemeja hitam formalnya telah koyak, menampilkan gumpalan memar keunguan di atas kulitnya yang kokoh.

"Gus kaku, buka kemejamu setengah. Davik mau obati itu dulu sebelum lukanya berubah jadi infeksi," perintah Davika dengan nada suara yang ditekan agar terdengar lebih matang, selaras dengan penampilan barunya.

Zayyad mendongak, matanya yang hitam kelam menyipit tajam. Ia sempat tertegun selama beberapa detik, nyaris tidak mengenali gadis SMA yang beberapa menit lalu mengemudikan motor balap seperti orang kesurupan. Penampilan Davika yang kini tampak seperti wanita matang berbalut tweed jacket dengan riasan cat-eye misterius benar-benar membuat sang CEO kehilangan kata-kata.

"Jangan banyak protes. Anggap saja ini biaya sewa karena Davik sudah jadi pembalap pribadi Gus malam ini," cetus Davika ceriwis saat melihat keraguan di wajah kaku Zayyad.

Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, tangan mungil Davika yang super kecil bergerak dengan kecepatan dan kegesitan yang luar biasa rapi. Ia membuka botol cairan antiseptik yang baru dibelinya, lalu dengan telaten membersihkan sisa darah di pelipis dan sudut bibir tampan Zayyad. Meskipun tabiatnya random, sentuhan jemari Davika saat mengoleskan salep antibiotik di atas otot-otot dada dan rusuk kekar Zayyad terasa begitu lembut dan presisi.

Sebagai sentuhan akhir untuk membalut luka robek di bahu Zayyad, Davika menggunakan selembar perban kain putih yang panjang. Namun, dasar naluri komedinya tidak bisa hilang sepenuhnya; alih-alih membuat simpul medis yang standar, jemari mungil Davika justru mengikat ujung perban tersebut menjadi sebuah bentuk simpul pita imut yang sangat menggemaskan, bertengger kontras di atas bahu kekar sang CEO yang berotot.

Zayyad melirik pita tersebut dengan rahang yang mengeras menahan malu, namun ia memilih diam dan dengan sigap memakai kembali kemeja hitamnya, mengancingkannya hingga rapat untuk menyembunyikan mahakarya absurd adiknya Nara tersebut.

"Sekarang, giliran mukamu. Kita tidak bisa keluar ke jalan raya kalau wajah Gus masih kelihatan seperti buronan tampan dari pesantren," ujar Davika sembari membuka dompet kosmetiknya kembali.

Sebelum Zayyad sempat menghindar, Davika sudah menopang dagu kaku sang CEO dengan tangan kirinya. Jarak mereka menjadi begitu dekat hingga embusan napas hangat Davika yang beraroma samar buah beri dari permen karet yang dikunyahnya terasa di kulit wajah Zayyad. Davika mulai memoleskan cushion dengan warna setingkat lebih cerah di atas kulit sawo matang dominan milik Zayyad, menyamarkan lingkaran hitam di bawah mata serta bekas memar dengan teknik concealing yang sangat rapi. Ia juga menyisir rambut hitam tebal Zayyad yang semula berantakan menjadi gaya comma hair yang bervolume menggunakan sedikit gel rambut.

Benar saja, dalam hitungan menit, keajaiban tangan koki genius itu mengubah total impresi visual Gus Zayyad. Aura kaku dan dingin khas putra mahkota pesantren seketika melebur, digantikan oleh penampilan modis yang membuatnya tampak seperti oppa Korea dadakan yang baru saja keluar dari studio pemotretan drama televisi Shanghai.

"Nah, sentuhan terakhir supaya penyamaran ini mutlak," gumam Davika polos, tanpa beban pikiran apa pun di kepalanya yang buntu.

Jari kelingking super kecil milik Davika mengambil sedikit cairan liptint lembut berwarna peach-pink natural, lalu menempelkannya langsung ke atas permukaan bibir tebal Gus Zayyad yang semula pucat dan pecah-pecah. Dengan gerakan memutar yang sangat telaten, Davika meratakan warna tersebut, memastikan rona bibir sang CEO terlihat segar alami namun tidak berlebihan, sebuah trik visual yang sempurna untuk mengelabuhi musuh yang hanya mencari pria berwajah sangar khas dunia pesantren.

Gus Zayyad membeku total. Sentuhan kulit jari mungil Davika di atas bibirnya mengirimkan sensasi aneh yang membuatnya menahan napas sesaat. Matanya menatap lurus ke dalam mata green-gray langka milik Davika yang begitu jernih dan fokus melakukan tugasnya tanpa ada niat menggoda sedikit pun. Kepolosan ekstrem dari kedegilan Davika malam itu justru menjadi hal yang paling menegangkan bagi kewarasan seorang Gus Muhammad Zayyad Al-Ghifari di bawah pendar lampu neon kota yang sunyi.

1
Sriati Rahmawati
maaf Thor buku biologi bukan kitab
selalu bilangnya kitab😄😄😄
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Manman
it so good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!