"Papa tidak setuju!"
Terdengar suara tinggi Dion setelah mendengar keinginan anaknya, yang ingin menikah dengan pria yang berjarak 13 tahun dari sang putri.
"Aku ngga mau nikah, kalau bukan sama Om Alvin!" Sisil bersikeras.
"Tidak bisa!" tegas Dion. "Kamu itu masih muda, cantik, pintar. Jangan rendahkan diri kamu dengan menjadi PELAKOR!!"
***
Ingat, jangan nabung bab!
Follow IG : ichageul9563
Facebook : Khairunnisa (Ichageul)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Harmonis
Kepala Alvin semakin pusing saja setelah berbicara dengan Anyelir. Entah mengapa kelakuan istrinya tidak berubah sama sekali?
Pernikahan Alvin dan Anyelir sudah berjalan selama lima tahun. Dua tahun pertama, pernikahan mereka berlangsung harmonis.
Namun sejak Nenek dan Kakeknya meninggal dunia, Anyelir mulai berubah. Apalagi sejak wanita itu bekerja, Anyelir hampir sudah tidak mengurus dirinya. Semuanya Alvin kerjakan sendiri.
Awal mula Alvin mengijinkan Anyelir bekerja demi untuk mengalihkan perasaan sedih wanita itu pasca keguguran.
Tapi semenjak bekerja, Anyelir mulai berubah. Dia lebih sering membangkang dan sulit diatur. Apalagi keluarganya juga sering mengintervensi rumah tangga mereka.
Sempat Alvin berniat menceraikan Anyelir. Namun setelah berkonsultasi dengan ustadz tempatnya biasa berdiskusi, pria itu memutuskan untuk mempertahankan pernikahannya.
Dalam pikirannya, mungkin saja dirinya masih belum maksimal dalam mendidik istrinya.
Ditambah lagi dia pernah berjanji pada neneknya untuk tetap mempertahankan pernikahan sesulit apapun keadaannya.
Alvin kembali memberi kesempatan pada Anyelir dan dirinya. Pria itu mencoba lebih bersabar dan mengubah perangai istrinya secara perlahan. Tapi kejadian hari ini sukses menguji kesabarannya dan emosi Alvin tidak tertahan lagi.
TOK
TOK
TOK
Lamunan Alvin buyar ketika mendengar ketukan di pintu. Adi langsung masuk ke dalam setelah mendengar suara Alvin.
“Maaf Pak, Iwan belum bisa ke sini sekarang. Dia lagi nganter Ibunya kontrol ke rumah sakit.”
“Ya sudah, biar saya saja yang menjaga kasir hari ini.”
Alvin bangun dari duduknya kemudian keluar dari ruangannya. Walau sudah memiliki tiga cabang, namun Alvin tidak pernah segan menggantikan karyawannya jika ada yang berhalangan masuk.
***
Setelah panggilannya diputus sepihak oleh Alvin, Anyelir melampiaskan emosinya dengan mengacak-acak seisi kamar.
Kamar miliknya sudah seperti kapal pecah saja. Bantal, guling, selimut dan barang-barang lain sudah berpindah ke lantai. Bahkan ada vas bunga yang pecah berkeping-keping.
Setelah melampiaskan emosinya, Anyelir langsung bersiap. Wanita itu memilih untuk pergi untuk meringankan beban hatinya.
Lebih baik dia memanjakan diri di salon di hari liburnya. Selesai memoles wajahnya dengan make up tipis, Anyelir keluar dengan membawa clutch bag di tangannya.
“Bi Dian, bereskan kamarku,” titah Anyelir pada asisten rumah tangganya saat keluar dari kamar.
“Baik, Bu.”
Wanita berusia 52 tahun itu hanya bisa menghela nafas panjang saat melihat Anyelir melenggang keluar dari rumah.
Sikap Anyelir mulai berubah setelah kakek dan nenek Alvin meninggal dunia. Seakan wanita itu mulai memperlihatkan wajah aslinya. Entah sudah berapa banyak pertengkaran yang terjadi di antara Alvin dan Anyelir.
Dian merasa prihatin melihat kondisi rumah tangga Alvin yang jauh dari kata harmonis. Tidak ada yang bisa Dian lakukan karena dirinya hanyalah seorang asisten rumah tangga. Wanita itu hanya bisa mendoakan agar Alvin diberikan kebahagiaan dengan siapa pun itu.
***
Kesibukan di mini market cukup membuat Alvin bisa melupakan pertengkarannya tadi dengan Anyelir. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya ketika melayani pengunjung yang membayar belanjaan.
Alvin adalah orang yang ramah. Selain itu, dia juga pria yang peduli. Maka tak heran kalau dia bersedia mengantar Ayu ke rumah sakit ketika anak wanita itu sakit. Tapi hal tersebut malah disalah pahami oleh Anyelir.
Seorang remaja berseragam putih abu mendekati meja kasir seraya membawa sebuah es krim. Diletakkannya es krim dan uang di atas meja.
“Es krim ini sedang ada promo, buy one get one.”
“Yang benar, Om?”
“Iya.”
“Aku dapatnya es krim yang mana?”
“Yang sama.”
“Eh kirain gratisnya bisa dapet yang harganya lebih mahal, hihihi ….”
“Bisa aja, asal kamu mau nambah sesuai harga es krimnya.”
“Yeee … itu mah bukan gratis namanya.”
Alvin tertawa memperlihatkan deretan gigi putih. Untuk sejenak remaja bernama Mutia itu hanya terpaku melihat wajah tampan Alvin.
Ya ampun Om Alvin ganteng banget. Aku rela nunggu Om jadi duda deh, batin gadis itu.
Pria itu keluar dari meja kasir untuk mengambil es krim. Setelahnya dia kembali dan memproses transaksi.
“Ini kembaliannya,” Alvin menyodorkan uang kembalian ke dekat Mutia, membuyarkan lamunan gadis itu.
“Makasih, Om.”
“Sama-sama.”
Alvin melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang.
“Di, tolong jaga kasir. Saya mau pulang dulu.”
“Iya, Pak.”
“Kalian sudah makan?”
“Sudah, Pak.”
Alvin segera meninggalkan mini market. Seperti biasa, pria itu selalu menyempatkan untuk makan di rumah. Jarak rumahnya dengan mini market memang tidak terlalu, hanya sekitar lima ratus meter saja.
Begitu sampai di rumah, kepulangannya disambut oleh Dian. Di meja makan sudah tersedia masakan asisten rumah tangga tersebut.
“Anye mana, Bi?” tanya Alvin seraya menarik kursi makan.
“Bu Anye pergi dari pagi, Pak.”
Alvin hanya menghembuskan nafas panjang. Itulah Anyelir, ketika pertengkaran terjadi, dia lebih memilih pergi untuk menghindar. Karenanya masalah mereka tidak pernah tuntas.
“Lama-lama aku makin ngga nyaman dengan sikapnya Anye, Bi,” sambil menyendokkan makanan ke dalam piring.
“Maaf Mas Alvin kalau Bibi lancang. Tapi kalau keadaan seperti ini, apa masih bisa dibilang pernikahan? Bibi sudah mengasuh Mas Alvin dari kecil. Bibi ngga rela lihat sikap Bu Anye ke Mas Alvin. Bibi bukannya meminta Mas Alvin berpisah, tapi … Mas Alvin berhak bahagia.”
Mata Alvin memandangi wanita paruh baya di sampingnya penuh keharuan. Mungkin ini adalah upaya terakhirnya memperbaiki rumah tangganya.
***
Setelah tiga jam menghabiskan waktu di salon untuk mempercantik diri, Anyelir keluar dari salon kecantikan. Wanita itu masih enggan pulang ke rumah. Dia memutuskan jalan-jalan ke mal, mencari barang yang bisa membuat kejengkelannya tadi pagi menghilang.
Selama dirinya bekerja, Alvin tidak pernah memakai uang hasil keringat Anyelir walau hanya satu rupiah.
Semua uang gajinya digunakan sendiri olehnya untuk membeli barang-barang bermerk atau melakukan perawatan diri.
Wanita itu tidak perlu khawatir akan kehabisan uang, karena jatah uang bulanan dari Alvin masih tetap didapat. Suaminya itu tidak mengurangi uang bulanan Anyelir walau dia sudah memiliki gaji sendiri.
Tak terasa, satu jam sudah Anyelir menghabiskan waktu di mal. Sudah ada beberapa kantong belanjaan di tangannya. Wanita itu melihat jam di pergelangan tangannya. waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Dia segera mengambil ponselnya lalu menghubungi sahabat terdekatnya di kantor.
“Halo.”
“Kamu di mana? Sudah pulang kantor?”
“Sudah. Aku dalam perjalanan pulang ke apartemen.”
“Aku ke sana sekarang.”
Dengan wajah sumringah, Anyelir meninggalkan mal. Wanita itu segera memesan taksi online untuk menuju apartemen tempat sang sahabat tinggal. Tak sampai dua puluh menit, Anyelir sudah tiba di gedung apartemen Luxury.
Pintu unit apartemen langsung terbuka tak lama setelah Anyelir memijit bel. Seorang pria berwajah manis keluar dari dalamnya. Tanpa merasa canggung, pria bernama Sandi itu langsung menarik Anyelir ke dalam pelukannya.
***
Eh ... Siapa tuh?🙄
Untuk pemberitahuan aja, novel ini ngga akan aku buat panjang seperti novel² sebelumnya ya🤗
yg penting nti di Ending om Alvin ttp sma sisil🤭