NovelToon NovelToon
Loud Girl, Cold Engine

Loud Girl, Cold Engine

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:781
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Kirana, seorang maba cerewet dan nggak bisa diem, langsung membenci Bima—cowok teknik cuek dan dingin yang nggak mau minta maaf setelah menabraknya di pertemuan pertama mereka. Sejak itu, hidup Kirana dipenuhi omelan tentang si cowok teknik bau oli tersebut bersama gengnya yang hobi bergosip itu. Di tengah hari-hari kuliah yang penuh gebrakan, tingkah absurd teman-teman mereka, sampai pasangan bucin yang bikin geli satu kampus, hadir Danu—kakak tingkat sempurna yang mulai mendekati Kirana. Di sisi lain Bima justru diam-diam mulai jatuh hati dan terus mencuri pandang pada gadis cerewet itu. Lalu, akankah Kirana memilih Danu si pangeran kampus, atau Bima si cowok teknik acak-acakan yang selalu berhasil membuat harinya kacau?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sinyal Baru di Hari Selasa

Sisa udara sejuk pasca-hujan semalam kini telah berganti menjadi Selasa pagi yang sibuk. Koridor utama Universitas Wikerta kembali dipadati oleh mahasiswa yang terburu-buru mengejar kelas jam pertama. Kirana berjalan dengan langkah santai menuju mading besar Fakultas Sastra, berniat melihat pengumuman jadwal ujian tengah semester yang baru saja ditempel di sana.

Namun, baru saja ia berdiri di depan papan kayu tersebut, sebuah langkah kaki yang ritmis terdengar berhenti tepat di sampingnya. Wangi parfum maskulin yang sangat segar dan familier seketika menyergap indra penciuman Kirana.

"Pagi, Ra."

Kirana menoleh dan mendapati Danu sudah berdiri di sana, lengkap dengan kemeja flanel kotak-kotak biru yang rapi dan senyuman hangat andalannya. Di tangan kirinya, Danu membawa sebuah botol tumbler kecil berwarna pastel yang masih terasa hangat.

"Eh, Kak Danu. Pagi," balas Kirana dengan senyum canggung yang sopan. Mengingat obrolannya bersama Maya dan Sari kemarin sore, jantung Kirana mendadak memberikan reaksi yang sedikit canggung saat berhadapan langsung dengan cowok ini. "Baru mau ke kelas, Kak?"

"Iya, kelasku baru mulai jam sembilan nanti," jawab Danu lembut, matanya menatap Kirana dengan binar perhatian yang penuh. Ia kemudian menyodorkan botol tumbler itu ke hadapan Kirana. "Ini buat kamu, Ra. Aku tahu hari ini anak Sastra mulai padat jadwal kuliahnya. Ini isinya susu madu hangat, tadi aku sengaja buat sebelum berangkat ke kampus biar kondisi kamu tetap fit."

Kirana tertegun, menatap tumbler tersebut dengan perasaan yang campur aduk. "Kak... makasih banyak ya. Tapi repot-repot banget sampai buatin ginian."

"Sama sekali nggak repot kalau buat kamu, Ra," kata Danu dengan nada suara yang sedikit merendah, memberikan penekanan yang halus namun sarat akan perhatian. "Diminum ya, biar kamu nggak lemes."

Tepat saat Kirana perlahan mengulurkan tangannya untuk menerima tumbler dari Danu, sebuah suara dehaman yang sangat berat, dingin, dan terdengar sengaja dikeraskan tiba-tiba memecah atmosfer manis di antara mereka.

"Ekhem!"

Suara dehaman itu terdengar begitu ketus. Kirana dan Danu serentak menoleh ke arah sumber suara. Di sana, berjalan melewati mereka dengan langkah tegap dan lurus, adalah Bima. Cowok itu mengenakan jaket bomber hitam di atas kemeja Tekniknya, menatap lurus ke depan tanpa menoleh sedikit pun ke arah mading, seolah-olah menganggap koridor Fakultas Sastra ini hanyalah jalan pintas biasa yang harus ia lewati dengan cepat.

Raut wajahnya tertekuk seratus persen, memancarkan aura ketidakpedean yang pekat layaknya beruang kutub yang sedang terganggu wilayahnya.

Kirana melirik punggung tegap Bima yang perlahan mulai menjauh menembus kerumunan mahasiswa. Di dalam hatinya, Kirana mendadak menggerutu kesal. *“Apaan sih tuh anak? Aneh banget lewat deham-deham begitu kayak orang sakit tenggorokan, dasar manusia lab aneh,”* batin Kirana, merasa heran dengan tingkah laku Bima yang selalu sulit ditebak dengan logika sastra mana pun.

Setelah punggung Bima benar-benar menghilang di ujung koridor, Danu kembali membetulkan posisi berdirinya. Meskipun sempat terganggu oleh kehadiran teman seangkatannya itu, Danu tetap mampu mempertahankan senyum tenangnya dengan sangat baik.

"Oh iya, Ra," lanjut Danu, kembali memusatkan seluruh perhatiannya kepada Kirana. "Nanti sore setelah semua kelas kamu selesai, kamu ada agenda lagi nggak? Kebetulan aku dapet rekomendasi tempat pameran buku seni baru di pusat kota. Aku mau ngajak kamu ke sana."

Kirana tampak menimbang-nimbang sejenak, merasa agak sungkan jika harus terus-terusan merepotkan Danu. "Eh... nanti sore kayaknya aku mau langsung balik deh, Kak."

Mendengar penolakan halus dari Kirana, Danu tidak langsung menyerah. Ia justru melangkah satu kaki lebih dekat, menatap Kirana dengan pandangan mata yang lembut namun penuh dengan desakan yang gigih. Danu benar-benar memanfaatkan momentum ini untuk bisa berjalan berdua lagi dengan Kirana.

"Ayo dong, Ra. Sebentar aja kok, nggak bakal sampai malam," desak Danu lagi dengan suara yang sangat halus namun terdengar sedikit memaksa. "Pamerannya bagus banget buat referensi tulisan kamu nanti. Lagian setelah dari sana, aku janji bakal langsung anter kamu pulang sampai depan pagar rumah dengan aman. Kamu nggak usah mikirin transportasi lagi. Gimana? Mau ya?"

Kirana menatap mata Danu yang penuh harap. Karena pembawaan Danu yang tetap sangat sopan dan caranya mengajak yang begitu gigih namun lembut, Kirana akhirnya merasa tidak tega untuk menolak untuk yang kedua kalinya. Lagipula, apa yang dikatakan Danu tentang referensi tulisan memang ada benarnya.

Kirana akhirnya menghela napas pendek sambil tersenyum pasrah. "Ya udah deh, Kak. Nanti sore setelah kelas terakhirku selesai jam empat, aku kabari Kakak ya."

Mendengar jawaban itu, senyum kemenangan yang cerah langsung terukir di wajah Danu. "Oke, sepakat ya. Nanti sore aku tunggu di parkiran depan. Semangat ya kelasnya hari ini, Ra."

Danu mengangguk pamit lalu berjalan berlawanan arah menuju fakultasnya sendiri. Sementara Kirana, sambil memegangi botol tumbler hangat pemberian Danu, berjalan memasuki ruang kelasnya dengan perasaan yang mulai bergejolak tidak menentu.

Di satu sisi ia merasa senang karena perhatian Danu yang begitu manis, namun di sisi lain, suara dehaman ketus dari Bima tadi pagi entah kenapa masih terus terngiang di kepalanya, membuat fokus Kirana kembali terusik di hari Selasa yang panjang ini.

1
Taro
akhirnya up thor🥹
minttea_: huhu iya nihh kemaren author lagi sibuk, maaf yaa🥺
total 1 replies
Taro
teringat sama film pupus kalau baca novel ini. semangat thor
minttea_: wahhh iya kahhhh, makasihh banyak atas dukungannya🥰✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!