PENGUMUMAN PENTING!
Saya Acep Maulana memohon maaf kepada para pembaca. Karena satu dan novel ini akan saya Remake Total.
Saya sadar masih banyak belajar sebagai pemula, dan saya ingin memberikan karya yang lebih layak untuk kalian baca. Versi baru akan segera hadir dengan judul yang sama namun dengan kualitas tulisan yang jauh lebih baik.
Sampai jumpa di versi terbaru yang lebih bar-bar!
"Sial beneran! Erika, mantan agen rahasia yang energinya tak habis-habis, malah transmigrasi ke dalam novel tragis menjadi Rosalind von Astride, sang Putri Terbuang yang lemah dan sakit-sakitan!
Lebih parahnya lagi, keluarganya adalah kumpulan orang 'Tampan tapi Telmi (Telat Mikir)' yang ditakdirkan hancur total dalam dua tahun. Beruntung, Erika punya Sistem Makan Melon (Gosip) yang bisa membongkar semua rahasia musuh.
Sambil menikmati martabak diskon dari Ruang Sistem, Erika bertekad merombak takdir tragis keluarganya. Tapi masalahnya... radio batin Erika ternyata bocor ke seluruh keluarganya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 : Kebangunan yang Tidak Menyenangkan
Sensasi pertama yang merayap di kulit Erika bukanlah rasa sakit akibat hantaman porselen bathtub yang keras, melainkan dingin yang menggigit hingga ke sumsum tulang. Ini bukan dinginnya AC apartemen Orient Lavender yang suhunya bisa ia atur melalui perintah suara. Ini jenis dingin yang tidak wajar—seolah-olah ia sedang dibuang telanjang di tengah padang es Siberia tanpa perlengkapan termal sedikit pun.
Disusul oleh aroma kayu busuk, debu tebal yang sudah mengendap bertahun-tahun, dan bau apak yang menyesakkan paru-paru. Ini bukan wangi lavender atau udara murni dari filter kelas satu. Ini adalah aroma kemiskinan yang mematikan.
"Uh... kepalaku..."
Erika tersentak. Suaranya bukan lagi bariton tegas yang biasa memberi perintah lewat intercom di medan tempur. Suara itu berubah menjadi cicitan tipis, pecah, dan penuh keputusasaan. Saat ia memaksa kelopak matanya terbuka, lampu gantung kristal minimalis miliknya telah lenyap. Di atasnya, hanya ada langit-langit kayu melengkung yang dipenuhi jaring laba-laba dan lubang-lubang besar yang memperlihatkan langit kelabu yang suram.
Salju tipis mulai merembes masuk dari celah atap, jatuh tepat di atas dahi Erika yang panas.
Erika mencoba duduk, namun setiap ototnya menjerit protes. Sendi-sendinya berderak kaku, seolah engselnya sudah berkarat bertahun-tahun karena tidak pernah diberi asupan nutrisi yang layak.
Ia menunduk menatap tangannya, dan pupil matanya mengecil karena syok taktis. Tangan itu sangat kurus—hanya tulang yang dibungkus kulit pucat yang nyaris transparan hingga pembuluh darahnya terlihat jelas seperti aliran sungai biru yang layu. Jari-jarinya yang biasanya lincah merakit bom atau menari di atas keyboard komputer, kini bergetar hebat hanya untuk sekadar mengepal.
Erika mencoba menggerakkan jari telunjuk kanannya. Kosong. Tidak ada kekuatan motorik yang memadai. Ia menggaruk punggung tangannya sendiri, dan rasa perih yang timbul terasa begitu jauh, seolah sarafnya sedang tertidur lelap.
"Ini bukan tubuhku," batinnya tajam. "Ini tubuh mayat hidup yang sedang menunggu ajal."
Rasa lapar tiba-tiba menghantamnya seperti godam. Lambungnya yang kosong melilit hebat, menciptakan sensasi perih yang membakar hingga ke ulu hati. Erika meringis, memegangi perutnya yang rata—terlalu rata hingga ia bisa merasakan tulang rusuknya sendiri yang menonjol tajam di balik kain lusuh bajunya.
Berbicara tentang baju, pakaian yang melekat di tubuhnya sekarang adalah tumpukan kain kusam yang sudah kehilangan warna aslinya. Debu tebal mengepul setiap kali ia bergerak, memicu batuk kering yang menyakitkan di tenggorokannya yang kekurangan cairan. Ia mengendus kerah bajunya; bau keringat lama dan kelembapan ruangan bawah tanah menusuk indra penciumannya yang tajam.
Secara insting, Erika melakukan pemindaian 360 derajat. Otak agen rahasia miliknya bekerja otomatis, membedah zona perimeter dalam hitungan detik.
Zona : Kamar 4x5 meter.
Kondisi: Terbengkalai, lembap, dan tidak layak huni.
Furnitur : Satu meja kayu lapuk yang kakinya sudah goyah dan satu kursi tanpa sandaran.
Keamanan : Nol. Pintu kayu yang sudah lapuk tanpa kunci, jendela retak yang membiarkan angin utara masuk tanpa izin.
Ia menyeret tubuhnya yang seberat timah menuju cermin retak di sudut ruangan. Begitu melihat pantulan di sana, jantung Erika seolah berhenti berdetak. Wajah di cermin itu sangat cantik—kecantikan tragis yang tampak hampir mati. Kulit pucat seputih porselen, mata ungu redup berbentuk almond yang sempurna, dan rambut perak panjang yang kusut masai mirip tumpukan jerami.
"Rosalind? Rosalind Wiraatmadja?"
BUM!
Ledakan informasi menghantam otaknya, lebih menyakitkan daripada hulu ledak nuklir. Ingatan yang bukan miliknya membanjir deras—sensasi perih di perut karena mengunyah kerak roti keras selama tiga hari, isolasi di balik pintu terkunci saat musim dingin, hingga tatapan merendahkan dari para pelayan yang seharusnya melayaninya.
"Aku... masuk ke dalam novel itu?" Erika mencengkeram kepalanya yang berdenyut, tawanya terdengar getir dan tajam. "Novel sampah yang kuhujat habis-habisan semalam?!"
Erika mengepalkan tangannya yang gemetar.
Amarah mulai membakar rasa dingin di tubuhnya, sebuah mekanisme pertahanan yang ia pelajari di kamp pelatihan intelijen. Sebagai agen rahasia, ia terbiasa dengan infiltrasi wilayah musuh, tapi masuk ke dalam tubuh target yang nyaris mampus adalah misi yang paling konyol.
Ia mencoba bangkit berdiri. Erika menumpukan berat badannya pada kaki kiri yang kurus. Namun, baru saja ia mengangkat pinggulnya dari lantai, lututnya lemas seperti jeli.
BRAK!
Erika jatuh tersungkur. Wajahnya menghantam lantai kayu yang kotor, membuat hidungnya berdarah. Ia mengerang, mencengkeram lantai dengan kuku-kukunya yang pecah. "Sialan... bangkit, Erika! Jangan jadi pecundang!"
Ia mencoba lagi. Kali ini ia merangkak menuju kaki meja kayu yang goyah. Dengan napas tersengal-sengal, ia menarik dirinya naik. Keringat dingin membasahi punggungnya meski suhu ruangan di bawah nol derajat. Saat ia berhasil berdiri tegak untuk sesaat, dunianya berputar hebat.
Tekanan darahnya anjlok. Kegelapan menyergap pandangannya selama beberapa detik sebelum ia kembali bisa melihat.
"Tubuh ini benar-benar sampah," desisnya sambil mengatur napas.
Belum sempat ia membedah situasi lebih dalam, sebuah suara mekanis yang tajam meledak tepat di pusat saraf otaknya.
[DING! PROSES PENYATUAN JIWA: 10%... 50%... 100%.]
[SISTEM AKTIF. SELAMAT DATANG, INANG NOMOR 007.]
"Argh! Berhenti! Kau mau merusak sistem sarafku?!" Erika mengerang, tangannya mencengkeram kepala seolah ingin meredam ledakan suara dari dalam tengkoraknya.
Aura predator yang haus darah seketika bangkit. Meskipun kakinya gemetar, tatapan mata Erika berubah drastis—dingin, tajam, dan waspada. Ia tidak lagi tampak seperti putri yang sekarat, melainkan seekor pemangsa yang terdesak.
"Keluar kau, penyusup! Jangan bersembunyi di dalam kepalaku!" Erika mendesis. "Aku agen rahasia kelas atas. Aku bisa menghancurkan sumber suaramu bahkan sebelum kau sempat berkedip!"
Tiba-tiba, sebuah cahaya kecil muncul di depan hidungnya, memadat menjadi sesosok peri kecil bersayap transparan. Peri itu mengenakan pakaian yang terlalu mewah, tampak sombong dengan tangan bersedekap.
"{Aduh, Nona! Bisa pelan sedikit tidak?
Suara teriakanmu itu sangat tidak estetis!" }ucap makhluk itu cerewet.
Erika menyipitkan mata. Ia membedah eksistensi makhluk di depannya. Otak teknisnya mulai bekerja. Hologram? Bukan, tidak ada proyektor. Bio-luminesensi? Terlalu cerah. Komunikasi telepatik langsung ke korteks serebral? Erika merinding.
["Bahkan CIA atau agensi intelijen tercanggih di dunia tidak punya teknologi penyatuan jiwa sehalus ini. Tidak ada kabel, tidak ada chip saraf, tapi kau tersambung langsung ke kesadaranku..."]
{"CIA? Teknologi?"} Peri itu tertawa mengejek, sayapnya bergetar menghasilkan serbuk cahaya.
{"Nona, jangan bandingkan aku dengan alat-alat primitif dari duniamu. Saya ini adalah Sistem Peri Nana, asisten paling fenomenal di seluruh semesta! Berterima kasihlah, Nona Erika, karena aku telah memungut jiwamu yang hampir jadi arwah penasaran di lantai kamar mandi itu!"}
Erika terdiam sesaat, lalu tawa kering keluar dari bibirnya yang pecah-pecah. ["Terima kasih? Kau menyeret jiwaku ke dalam tubuh seorang gadis yang ditakdirkan mati kedinginan, di paviliun yang lebih buruk dari sel isolasi penjara bawah tanah, dan kau menyebutnya penyelamatan?"]
Nana terbang mendekat, menatap Erika dengan angkuh. {"Kau terpilih karena kau adalah orang yang paling berisik menghujat alur cerita ini. Karena kau merasa sangat pintar, maka 'Semesta' memberikanmu panggung untuk membuktikannya."}
Peri itu mengacungkan jari kecilnya. {"Dengar ya, Inang. Tubuh ini punya 'skor keberlangsungan hidup' yang hampir nol. Kalau kau tidak melakukan sesuatu dalam satu jam ke depan, kau akan mati kedinginan persis seperti di plot aslinya!"}
Erika menatap tangan kurusnya lagi. Ia mencoba melakukan gerakan bela diri dasar—sebuah pukulan lurus. Tapi tangannya hanya mengayun pelan tanpa tenaga, bahkan membuat keseimbangannya oleng lagi.
"Tanpa otot, tanpa energi. Aku tidak bisa bertarung dalam kondisi ini," gumamnya.
Ia beralih pada jendela yang retak. Di luar sana, ia tahu ada ribuan musuh—dari pelayan bermuka dua hingga anggota keluarga Wiraatmadja yang berhati dingin. Aku bisa melubangi kepala target dari jarak lima kilometer dengan senapan runduk. Di sini? Aku hanyalah sepotong daging yang menunggu busuk.
Namun, semangat bertahan hidupnya tidak padam. Justru, tantangan ini memicu adrenalinnya.
["Keluarga Wiraatmadja..." ]bisiknya dingin. ["Kalian harus bersiap. Karena putri yang kalian buang, kini sudah kembali dengan taring yang jauh lebih tajam. Aku tidak akan mati dua kali karena alasan yang bodoh.]
Erika mulai memaksakan diri berjalan selangkah demi selangkah menuju meja kayu. Ia mengambil pecahan kaca cermin yang jatuh di lantai. Tajam.
["Langkah pertama," Erika menyeringai kecil meski bibirnya berdarah. "Aku butuh nutrisi. Dan jika tidak ada yang memberi, aku akan mengambilnya dengan paksa."]
Ia menggenggam pecahan kaca itu erat-erat hingga telapak tangannya tergores. Rasa perih itu justru membuatnya tersenyum. Itu adalah bukti bahwa ia masih hidup, dan ia siap memulai perang.
"Nana," panggil Erika tanpa menoleh. "Tunjukkan padaku status tubuh ini. Mari kita lihat seberapa rusak 'aset' yang kau berikan padaku ini."