NovelToon NovelToon
Delusional Revenge

Delusional Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: ashbabyblue

Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.

Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.

Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara.

Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.

Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harapan di Tengah Kegelapan

Hari Selasa, pukul 15.30. Aku, Rasya, Sasha, dan Kayla berkumpul di depan gerbang sekolah.

Langit sore berwarna jingga keemasan. Awan-awan tipis bergerak lambat, seolah tidak terburu-buru—berbeda dengan detak jantungku yang terus berpacu seperti sedang maraton.

"Kita jalan kaki? Naik motor?" tanya Sasha.

"Jalan kaki aja. Kafenya dekat," jawab Kayla.

Kami berjalan berempat—Rasya di sampingku (tangannya menggenggam tanganku, seperti biasa), Sasha di sebelah kiriku (dengan ransel besar yang isinya entah apa), dan Kayla di depan (memandu jalan).

"Nay, kamu tegang banget," bisik Sasha.

"Biasa. Aku gugup."

"Gugup ketemu hacker?"

"Gugup kalau hacker itu ternyata temennya Rio yang jahat."

Kayla menoleh. "Dia baik, Nay. Aku jamin."

"Kamu yakin?"

"Aku yakin. Namanya Topan. Dia satu geng dengan Rio dulu, tapi dia keluar setelah Rio mulai terlibat kriminal. Topan nggak setuju."

"Terus kenapa dia mau bantu?"

"Karena dia punya utang budi sama aku. Dulu aku pernah bantu dia waktu dia di-bully."

Aku tidak bertanya lebih lanjut.

---

Pukul 16.00 — Di Kafe

Kafe itu kecil—hanya ada lima meja, satu etalase kue, dan satu mesin kopi yang bunyinya berisik. Dindingnya dicat biru muda, dihiasi poster-film-film lama. Suasananya cozy, cocok untuk bersembunyi dari dunia luar.

Kami duduk di meja pojok—dekat jendela, jauh dari pintu masuk.

"Hacker-nya mana?" tanya Sasha.

"Sebentar lagi. Dia bilang jam 4 tepat."

Jam menunjukkan 16.05. Belum ada siapa pun.

16.10. Masih belum ada.

"Kay, kamu yakin dia datang?" tanyaku.

"Iya. Dia orangnya tepat waktu. Mungkin macet."

Jam 16.15. Pintu kafe terbuka.

Seorang cowok masuk. Usianya mungkin 17 atau 18 tahun. Rambutnya gondrong—sebahu, tidak diikat. Wajahnya kurus, berkacamata tebal, dengan beberapa jerawat di pipi. Dia memakai jaket jeans lusuh dan celana cargo hitam.

"Kayla," sapanya.

"Topan." Kayla berdiri. "Makasih dateng."

"Ya." Topan duduk di kursi yang disediakan—di seberangku. Matanya menatapku. "Kamu Nayla?"

"Iya."

"Yang difitnah itu?"

Aku mengangguk.

Topan membuka laptopnya—laptop hitam penuh stiker (ada stiker anime, sticker band metal, stiker tengkorak). "Ceritakan."

Aku ceritakan semuanya. Tentang Dinda. Tentang postingan. Tentang fitnah.

Topan mendengarkan sambil jarinya menari di atas keyboard—bergerak cepat, seperti sedang memainkan piano.

"Akun Dinda Maharani," ulangnya. "Udah aku temuin."

"Bisa dilacak IP-nya?"

"Bisa. Tapi butuh waktu."

"Bayar berapa?"

Topan menatapku. "Gratis."

Aku mengerjap. "Gratis?"

"Kayla pernah bantu aku. Aku nggak lupa." Topan menggeser kacamatanya. "Tapi aku minta satu hal."

"Apa?"

"Jangan kasih nama aku ke polisi. Aku nggak mau terlibat."

"Janji."

Topan mengangguk. Jarinya mulai menari lagi di atas keyboard.

---

Pukul 17.30

"Aku dapet."

Kami semua mendekat—menatap layar laptop Topan.

"Ini IP akun Dinda Maharani." Topan menunjuk sederetan angka. "IP-nya berasal dari... Jakarta Selatan."

"Jakarta Selatan? Alamat rumah Dinda?"

Kayla menggeleng. "Rumah Dinda di Jakarta Timur."

Aku menatap Rasya. "Berarti dia nggak posting dari rumah."

"Bisa jadi dari kantor Dr. Hendra," kata Rasya.

Topan mengangguk. "Bisa. Atau dari apartemen. Tapi aku bisa lacak lebih detail. Butuh waktu semalam."

"Kita nggak punya banyak waktu," kataku. "Setiap hari postingan itu dishare ribuan kali. Reputasiku hancur."

"Aku akan coba selesaiin besok pagi." Topan menutup laptopnya. "Tapi aku nggak janji."

"Makasih, Topan."

"Ya."

---

Pukul 18.00 — Di Perjalanan Pulang

Kami berjalan berdua—aku dan Rasya. Sasha duluan diantar Kayla. Topan sudah pergi lebih awal.

"Rasya, kamu yakin Topan bisa dipercaya?"

"Belum yakin sepenuhnya. Tapi dia lebih bisa dipercaya daripada Dinda."

Aku tersenyum pahit. "Setiap orang bisa dipercaya dibanding Dinda."

Rasya menggenggam tanganku. "Besok kita akan punya bukti. Lalu kita lapor polisi. Lalu Dinda akan ditangkap."

"Apa semudah itu?"

"Tidak. Tapi setidaknya kita bergerak."

Aku menghela napas.

"Rasya, aku capek."

"Aku tahu."

"Bukan capek fisik. Capek... melawan terus."

Rasya berhenti berjalan. Menatapku. "Kamu mau berhenti?"

Aku menatap balik. "Tidak. Tapi aku capek."

Rasya tersenyum. "Kamu boleh capek. Aku yang akan kuat untuk kamu."

Aku memeluknya—di tengah trotoar, di bawah lampu jalan yang mulai menyala.

"Makasih, Ras."

"Tidak perlu makasih."

---

Hari Rabu, pukul 07.00. Topan mengirim pesan.

Topan (07.00): "Aku dapet lokasi IP akun Dinda Maharani. Kirim ke email kamu."

Aku segera membuka email—dari laptop sekolah, di ruang komputer.

Sebuah alamat muncul: Apartemen Permata Hijau, Lantai 12, Unit 1205.

Nayla (07.05): "Itu apartemen siapa?"

Topan (07.05): "Milik PT. Sumber Makmur. Perusahaan milik Dr. Hendra."

Darahku mendidih.

Topan (07.06): "Aku juga dapet ini."

Topan mengirim file. Sebuah rekaman.

Aku memutarnya—dengan headphone, di pojok ruang komputer, sendirian.

Suara Dinda. Dan suara Dr. Hendra.

Dinda: "Postingan sudah viral, Pak. Reputasi Nayla hancur."

Dr. Hendra: "Bagus. Tapi jangan berhenti di situ. Kirim postingan baru. Lebih kejam. Lebih pribadi."

Dinda: "Apa lagi yang bisa saya tulis, Pak?"

Dr. Hendra: "Tulis tentang ibunya. Tentang bagaimana ibunya seorang pelacur yang hamil di luar nikah. Hancurkan keluarganya."

Dinda: "Tapi, Pak—"

Dr. Hendra: "Tidak ada tapi. Lakukan, atau saya akan hancurkan keluargamu."

Dinda: "...Baik, Pak."

Rekaman berakhir.

Tanganku gemetar. Aku tidak tahu harus marah atau nangis.

Aku menelepon Rasya.

"Ras, kita punya bukti."

"Bukti apa?"

"Rekaman Dinda dan Dr. Hendra. Isinya... kejam."

"Kirim ke aku."

Aku kirim file itu.

Keheningan.

"Nay, ini besar."

"Aku tahu."

"Kita bawa ke Inspektur Widi. Sekarang."

---

Pukul 10.00 — Di Kantor Densus 88

Inspektur Widi mendengarkan rekaman itu dengan saksama. Wajahnya berubah—dari tenang menjadi marah.

"Ini cukup untuk menangkap mereka berdua."

"Tapi Dr. Hendra punya pengacara hebat, Bu," kataku.

"Pengacara tidak bisa melawan bukti." Inspektur Widi berdiri. "Saya akan koordinasi dengan tim. Hari ini juga, Dinda akan ditangkap."

"Dr. Hendra?"

"Dr. Hendra menyusul. Tapi butuh waktu. Dia lebih licik."

Aku mengangguk.

"Kamu hebat, Nayla." Inspektur Widi menepuk pundakku. "Kamu tidak menyerah."

"Saya tidak bisa menyerah, Bu. Terlalu banyak yang bergantung pada saya."

---

Pukul 14.00

Aku mendapat kabar dari Inspektur Widi: Dinda ditangkap di apartemen Dr. Hendra—sedang asyik membuat postingan fitnah baru.

Polisi juga menemukan bukti lain: foto-foto lama Bunda yang dicuri dari album keluarga. Foto-foto itu dicetak dan disimpan di dalam map.

Dinda tidak melawan. Dia hanya tersenyum saat digelandang ke mobil polisi.

Senyum yang sama—senyum yang dia berikan padaku saat pertama datang ke rumah Minggu lalu.

Senyum iblis.

---

Pukul 20.00

"Nay, Dinda... Dinda ditangkap?" suara Paman gemetar.

"Iya, Paman."

"Kamu... kamu yang lapor?"

"Saya hanya memberikan bukti, Paman. Bukti yang Dinda sendiri buat."

Paman diam. Lalu dia menangis—tangis pria paruh baya yang terdengar menyakitkan.

"Dinda anak saya. Tapi dia juga monster. Saya... saya malu."

"Paman tidak perlu malu. Paman tidak bersalah."

"Tapi—"

"Paman, fokus pada keluarga Paman yang lain. Dinda akan mendapatkan hukumannya."

Paman tidak menjawab. Telepon ditutup.

---

Pukul 21.00 — Chat dengan Rasya

Rasya (21.05): "Dinda sudah ditahan."

Nayla (21.06): "Aku tahu."

Rasya (21.06): "Kamu lega?"

Nayla (21.07): "Lega. Tapi belum sepenuhnya. Dr. Hendra masih bebas."

Rasya (21.07): "Dia akan menyusul."

Nayla (21.08): "Semoga cepat. Aku capek."

Rasya (21.08): "Kamu hebat, Nayla."

Nayla (21.09): "Kita hebat. Bersama."

Rasya (21.09): "Iya. Kita hebat bersama."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!