NovelToon NovelToon
Terikat Luka, Terlahir Cinta

Terikat Luka, Terlahir Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: M. ZENFOX

Erlangga Mahardika Pratama—seorang CEO muda yang dikenal dingin dan tak tersentuh—terbiasa mengendalikan segalanya dalam hidupnya. Hingga satu hari, sebuah kegagalan cinta menghancurkan pertahanannya, dan mempertemukannya dengan Zea Anindhita Kirana, gadis sederhana yang datang tanpa rencana… namun perlahan mengisi ruang kosong di hatinya.

Hubungan mereka tumbuh dalam diam—penuh tarik ulur, perbedaan dunia, dan luka yang belum sembuh. Di tengah kehangatan yang mulai tercipta, kebahagiaan itu justru direnggut oleh sebuah kebohongan kejam.

"Kadang, cinta datang bukan untuk dimulai... tapii untuk di perbaiki"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. ZENFOX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kontrak 3 Tahun

Zea baru saja menyapu sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan ketika Erlangga bersuara pelan, namun nadanya sedatar permukaan es.

"Baik," ucap Erlangga. "Sekarang, kita bisabuat kontraknya."

Zea mengernyitkan dahi. Rasa sedihnya seketika tersapu oleh gelombang kecurigaan yang baru. "Kontrak? Kontrak apa? Untuk apa?"

Erlangga menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa yang empuk, melipat kaki, dan menatap Zea seolah mereka sedang duduk di meja perundingan bisnis bernilai miliaran rupiah.

"Kontrak bahwa saya akan bertanggung jawab penuh atas hidupmu tetapi kita tidak menikah," jelas Erlangga. "Saya akan menanggung seluruh biaya pengobatan ibumu. Tanpa terkecuali."

Tatapan Zea goyah. Pertahanannya mulai retak mendengar nama ibunya disebut.

"Biaya pendidikanmu sampai lulus," lanjut Erlangga tanpa jeda. "Uang bulanan untuk kebutuhan pribadimu. Tempat tinggal yang layak. Sebutkan saja, Saya akan memenuhinya."

Mata Zea membulat. Namun, sebelum ia sempat memproses kemurahan hati itu, Erlangga melanjutkan dengan nada yang lebih berat. "Tentu saja, dengan syarat."

Seketika, ekspresi Zea berubah mengeras. "Syarat apa?"

"Pertama, kamu dilarang menceritakan kejadian malam itu kepada siapa pun. Satu kata bocor, kontrak batal. Kedua, kamu harus menurut kepada saya."

Zea mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Menuruti semua perintahmu? Kau pikir aku ini budakmu?"

"Bukan budak," koreksi Erlangga tenang. "Tapi kamu akan bekerja sebagai pelayanku di apartemen ini."

Keheningan menyergap ruangan itu sejenak sebelum akhirnya meledak.

"APAAA?!" Zea berdiri mendadak, wajahnya merah padam. "KAU SUNGGUH BAJINGAN, ERLANGGA! Kamu sudah menghancurkanku, dan sekarang kamu mau aku melayanimu? Mencuci bajumu? Menyiapkan makanmu? Di tempat ini?"

Pria itu tetap duduk tenang. "Saya tidak peduli, saya tidak mau rugi, Zea. Saya seorang pebisnis. Kalau hanya saya yang memberi dan kamu hanya menerima, itu bukan kesepakatan. Itu sedekah."

"Tapi ini penghinaan!" teriak Zea.

"Ini pertukaran," balas Erlangga dingin. "Saya memberikan nyawa untuk ibumu, dan kamu memberikan tenagamu. Adil, bukan? Kecuali jika menurutmu harga diri yang sudah 'cacat' itu lebih penting daripada nyawa ibumu."

Kalimat itu menghantam Zea telak. Ia membeku, bibirnya bergetar.

Lalu Erlangga menambahkan "Saya sudah menyelidiki semua tentangmu, kamu butuh uang, apakah kamu tidak khawatir biaya tambahan setelah pasca operasi ibumu?"

Setelah diam beberapa saat, Zea menjawab "Baiklah, kenapa harus di sini? Kenapa aku harus melihat wajahmu setiap hari?"

"Supaya aku bisa memantau investasiku," jawab Erlangga asal. "Dan supaya kamu tidak lari sebelum tugas dan kewajibanmu tuntas."

Zea tertawa getir, air mata kemarahan menggenang. "Investasi? Kau benar-benar tidak punya hati. Kau memperlakukan manusia seperti angka."

"Dunia ini memang tentang angka, Zea. Dan angka di tagihan rumah sakit ibumu tidak akan berhenti bertambah hanya karena kamu menangis." Erlangga menatapnya tajam. "Jadi, pilihannya ada padamu. Menjadi pelayan di sini selama beberapa jam sehari dengan jaminan masa depan, atau pergi dari sini sekarang juga dan biarkan ibumu menunggu keajaiban yang tidak akan datang."

Zea menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga terasa perih. Ia merasa terhina, namun sadar bahwa ia tidak memiliki pilihan lain.

"...Baik," ucap Zea pelan. "Aku setuju. Tapi aku punya syarat tambahan."

Erlangga mengangkat sebelah alisnya. "Katakan."

"Poin tentang aku harus menurut padaku... harus dibatasi secara wajar. Tidak boleh ada perintah aneh-aneh," tegas Zea.

Erlangga memiringkan kepalanya sedikit, sudut bibirnya terangkat tipis. "Hal aneh-aneh seperti apa yang kamu maksud? Saya tidak butuh pelayan untuk urusan ranjang, jika itu yang kamu khawatirkan."

Zea menggertakkan gigi. "Maksudku... kau tidak boleh menyentuhku lagi. Sedikit pun."

"Baik, aku setuju. Lagipula, saya tidak terlalu berselera dengan tubuhmu itu sedikitpun."

Mata Zea membelalak lebar. "Kalau tidak berselera, KENAPA MALAM ITU KAMU MELAKUKANNYA, DASAR MUNAFIK?!" Zea menunjuk wajah Erlangga dengan geram. "Semua laki-laki memang sama saja! Hanya tahu cara memuaskan nafsu lalu menghina korbannya setelah selesai!"

"Malam itu ada obat yang bekerja di tubuhku, Zea. Bukan selera," jawab Erlangga datar tanpa emosi. "Sudah cukup bicaranya? Aku tidak punya banyak waktu."

Zea menarik napas panjang, menahan emosi yang meluap. "Baik, aku setuju. Anggap saja sekalian aku bekerja sebagai cleaning service di gedung ini, lalu sekalian membersihkan apartemenmu ini."

"Bagus. Durasi kontrak: tiga tahun."

"Tiga tahun...?"

"Setelah tiga tahun, kamu bebas pergi. Aku tidak akan mengganggumu lagi, aku juga tidak mau berlama-lama denganmu Zea."

Erlangga melangkah masuk ke kamarnya, lalu kembali dengan sebuah laptop. Bunyi ketikan keyboard yang ritmis menjadi satu-satunya suara di ruangan itu selama dua puluh menit berikutnya. Tak lama, printer kecil di sudut meja mulai berderit.

Erlangga merapikan kertas-kertas itu dan menaruhnya di depan Zea. "Baca. Jangan sampai nanti kamu bilang saya menipumu."

Zea membacanya dengan sangat teliti. Setelah merasa semuanya sesuai dengan kesepakatan pahit mereka, ia meraih pulpen. Tangannya gemetar, namun jarinya mencengkeram pulpen itu dengan kuat.

Ia menggoreskan tanda tangannya: Zea Anindhita Prameswari.

Erlangga menyusul tepat di bawahnya dengan tanda tangan yang tegas: Erlangga Mahardika Pratama.

Begitu tinta terakhir menyentuh kertas, sebuah ikatan tak kasat mata tercipta. Sejak detik itu, hidup mereka tak akan pernah sama lagi.

1
Faiz Utama
gws hp
Fatma
Kasian hp nyaa
Nadia Julia
Enaknya punya temen kyk Rian
M. ZENFOX: Author kak💪
total 1 replies
Nadia Julia
Semangat thorr, aku tunggu updatenya ;)
M. ZENFOX: Siapp
total 1 replies
Nadia Julia
Jail amat
Nadia Julia
Perbedaan kael & Erlangga :)
M. ZENFOX: Apatuh?
total 1 replies
Nadia Julia
Jangan pernah pelit untuk memberi intinya, bolee
Nadia Julia
Semangat Thorrr>
M. ZENFOX: Makasih kakkk💪
total 1 replies
ELVI NI'MAH
Bagus, aku suka happy ending, inginku ibunya langga menyukai zea
M. ZENFOX: Makasihh kakk🤩
total 1 replies
Nessa
lapor donk zea jangan diam aja
M. ZENFOX: Tau ya, ngapain diem 😄
total 1 replies
Nessa
yakin ni g tertarik kita liat aja nanti 🤭
M. ZENFOX: hehe🙄😁
total 1 replies
Nessa
gimna nasib zea
M. ZENFOX: Di tunggu ya kakk
total 1 replies
Nessa
diihh sarah sombong kali
Nessa
erlangga 😤😤😤
Nessa
salut banget padamu zea, intinya bersyukur
Nessa
smngat zea
Nessa
ikut sedih 😢
M. ZENFOX: Sama kak🥲
total 1 replies
Nessa
zea kenapa g minta erlangga menikahimu
M. ZENFOX: Ending tamatnya cepet kak😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!