Erlan Pratama, seorang direktur muda yang ambisius, berhasil memenangkan sengketa hukum atas sebidang tanah strategis yang ditempati rumah susun tua. Dengan rencana besar di kepalanya, ia memutuskan melakukan penggusuran demi proyek pembangunan yang diyakininya akan membawa keuntungan besar. Namun, hari eksekusi yang seharusnya berjalan lancar justru menjadi titik balik dalam hidupnya.
Di tengah kericuhan warga yang menolak digusur, Erlan dikejutkan oleh kehadiran Linda Sari, mantan kekasihnya yang pernah menghilang tanpa kabar. Linda terlihat berbeda, lebih rapuh, namun tetap tegar. Di pelukannya, seorang bayi perempuan berusia tiga tahun menangis ketakutan melihat situasi di sekitarnya. Tatapan Erlan terpaku pada anak itu, memunculkan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.
Pertemuan tak terduga itu membangkitkan kembali kenangan lama, sekaligus membuka luka yang belum sembuh. Erlan mulai meragukan keputusannya, sementara Linda menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24
Pagi hari di komplek perumahan itu selalu dimulai dengan suasana yang sama—ramai, hangat, dan penuh aroma makanan yang menggoda dari catering Bu Eka. Seperti biasa, antrean sudah mengular bahkan sebelum matahari benar-benar naik. Warga berdiri sabar, beberapa mengobrol ringan, sementara yang lain sibuk dengan ponsel mereka.
Di tengah keramaian itu, Kirana datang dengan energinya yang tidak pernah habis.
Tanpa ragu, tanpa permisi, dia langsung menerobos kerumunan.
“Permisi… permisi…” ucapnya sekilas, meski langkah kecilnya lebih cepat dari kata-katanya.
Beberapa orang hanya tersenyum melihat tingkahnya. Tidak ada yang benar-benar marah. Anak kecil selalu punya “izin khusus” yang tidak tertulis.
Kirana langsung berhenti di depan meja.
“Bu Eka!” panggilnya riang. “Aku mau donat yang coklat itu!”
Bu Eka yang sedang melayani pelanggan lain menoleh. Wajahnya langsung melembut.
“Wah, Kirana sudah datang pagi-pagi,” katanya sambil tersenyum. “Seperti biasa, ya?”
“Iya!” jawab Kirana cepat.
Tanpa banyak tanya, Bu Eka mengambil satu donat dengan taburan meses coklat dan sedikit krim di atasnya. Dia menyerahkannya langsung ke tangan kecil Kirana.
“Nih, yang favorit.”
“Makasih, Bu Eka!” Kirana langsung menggigit donat itu tanpa menunggu lama. Senyum lebar muncul di wajahnya, pipinya sedikit menggembung karena penuh.
Bu Eka tertawa kecil, lalu kembali fokus melayani antrean yang semakin panjang.
Di belakang, Erlan berdiri dengan ekspresi campur aduk antara heran dan kagum.
“Dia… barusan menerobos antrean panjang begitu saja,” gumamnya pelan.
Linda yang berdiri di sampingnya hanya tersenyum tipis.
“Namanya juga anak-anak,” jawabnya santai. “Kalau dia sudah mau sesuatu, ya langsung saja.”
Erlan menggeleng pelan, masih memperhatikan putrinya yang kini sibuk menikmati donat.
“Seolah-olah antrean itu cuma rintangan kecil yang harus dilewati,” katanya.
Linda melirik ke arah meja makanan.
“Kamu mau sarapan apa?” tanyanya.
Erlan mengalihkan pandangannya ke deretan lauk.
“Nasi kuning… sama ayam bakar itu kelihatannya enak,” jawabnya.
Linda mengangguk.
“Baik, aku yang antre. Kamu jaga Kirana.”
Tanpa perlu diminta dua kali, Erlan langsung berjalan mendekat. Dia mengangkat Kirana ke dalam gendongannya.
“Kirana,” katanya lembut, “enak?”
Kirana mengangguk cepat sambil masih mengunyah.
“Enak banget! Donatnya lembut!”
Erlan tersenyum.
“Nanti Ayah belikan banyak, ya.”
Kirana langsung menatapnya dengan mata berbinar.
“Banyak banget?”
“Iya. Sampai kamu bosan.”
Kirana tertawa kecil, meski jelas dia tidak pernah benar-benar bosan dengan donat.
Sementara itu, Linda sudah berada di dalam antrean. Waktu berlalu perlahan, tapi suasana pagi membuat semuanya terasa ringan. Sesekali terdengar suara orang memanggil pesanan, bunyi plastik dibuka, dan percakapan ringan antar tetangga.
Beberapa menit kemudian, Linda akhirnya mendapatkan pesanannya. Dua bungkus nasi kuning lengkap dengan ayam bakar, dan sekotak donat tambahan untuk Kirana.
Dia berjalan menghampiri Erlan dan Kirana.
“Sudah,” katanya sambil menyerahkan sebagian bungkusan.
Erlan mengambilnya.
“Kirana mau kue yang lain?” tanyanya lagi, mencoba menawarkan.
Kirana menggeleng cepat.
“Tidak. Aku cuma mau donat.”
Linda tersenyum kecil.
“Sudah bisa ditebak.”
Tanpa berlama-lama, mereka bertiga berjalan kembali ke rumah. Udara pagi masih terasa sejuk, dan langkah mereka santai.
Sesampainya di rumah, Linda langsung menuju dapur. Dia mengambil beberapa piring dan sendok, lalu menatanya di meja makan dengan rapi.
Dua bungkus nasi kuning dibuka. Aroma santan dan rempah langsung memenuhi ruangan. Ayam bakar dengan bumbu yang meresap terlihat menggoda.
Di sisi lain, lima donat milik Kirana disusun di atas piring.
Kirana segera naik ke kursinya.
“Aku mau susu hangat,” katanya seperti rutinitas yang tidak pernah berubah.
Linda mengangguk.
“Tunggu sebentar.”
Tak lama kemudian, segelas susu hangat diletakkan di depan Kirana.
Erlan sudah mulai menyantap nasi kuningnya. Suapan pertama membuatnya berhenti sejenak.
“Ini… enak sekali,” katanya, sedikit terkejut.
Linda tersenyum.
“Makanya dari pagi sudah antre panjang.”
Erlan mengangguk.
“Pantas saja.”
Dia kembali makan dengan lahap, menikmati setiap suapan.
“Bu Eka ini hebat,” lanjutnya. “Masakannya enak semua.”
Linda duduk di seberangnya.
“Dia memang buat semuanya sendiri. Dari nasi sampai kue-kue.”
Erlan menatapnya, lalu berkata santai, “Kalau begitu… bagaimana kalau kita pakai catering Bu Eka untuk acara pernikahan kita nanti?”
Linda yang sedang mengambil sendok langsung terdiam. Wajahnya berubah, sedikit terkejut.
“Pernikahan?” ulangnya pelan.
“Iya,” jawab Erlan tenang. “Menurutku itu ide bagus.”
Linda menunduk sedikit, pipinya mulai memerah.
“Itu… terlalu cepat,” katanya pelan. “Kita bahkan belum bertemu orang tuamu.”
Erlan berhenti makan sejenak. Tatapannya serius, tapi tetap tenang.
“Aku sudah memutuskan,” katanya. “Aku tidak peduli kalau mereka menolak.”
Linda mengangkat pandangannya, terlihat ragu.
“Tapi—”
“Aku ingin kita bersama,” potong Erlan. “Itu yang penting.”
Suasana sempat hening sejenak.
Di sisi lain, Kirana sama sekali tidak terpengaruh oleh percakapan itu. Dia sibuk dengan donatnya, yang kini membuat wajahnya berantakan dengan meses coklat dan krim.
Erlan menoleh dan langsung mengambil tisu.
“Diam dulu,” katanya lembut.
Dia membersihkan wajah Kirana dengan hati-hati.
Kirana tertawa kecil.
“Ayah, geli!”
“Kalau tidak dibersihkan, nanti semut datang,” balas Erlan.
Kirana langsung diam, meski senyumnya masih tersisa.
Setelah beberapa saat, Kirana menatap Erlan.
“Ayah,” katanya, “kita berenang kapan?”
Erlan melirik ke arah jendela. Udara masih terasa dingin.
“Sekarang masih dingin,” jawabnya. “Nanti jam sepuluh saja, biar lebih hangat.”
Kirana mengerutkan kening.
“Masih lama?”
Erlan melihat jam tangannya.
Baru pukul setengah tujuh.
Dia tersenyum tipis.
“Tidak lama,” katanya mencoba meyakinkan. “Sebentar lagi juga jam sepuluh.”
Kirana tampak ragu, tapi akhirnya mengangguk.
Linda yang memperhatikan itu tersenyum.
“Kemarin Kirana belajar menggambar,” katanya. “Kamu mau lihat?”
Erlan menoleh.
“Oh ya?”
Linda mengangguk ke arah Kirana.
“Tunjukkan ke Ayah.”
Kirana langsung berdiri dari kursinya dengan penuh semangat.
“Aku ambil!” katanya, lalu berlari menuju tangga.
Erlan langsung berdiri.
“Tunggu, pelan-pelan!” serunya.
Dia segera mengejar, khawatir Kirana terpeleset.
Langkah kecil Kirana terdengar cepat di tangga, sementara Erlan mengikuti di belakangnya.
Sesampainya di lantai dua, Kirana langsung masuk ke kamar yang dipenuhi mainannya. Dia mengambil sebuah buku gambar dan kembali ke arah Erlan.
“Nih!” katanya sambil membuka halaman-halamannya.
Buku itu penuh dengan coretan warna-warni.
“Ini bunga,” kata Kirana dengan bangga.
Erlan menatap gambar itu. Garisnya tidak beraturan, warnanya keluar dari bentuk yang sulit dikenali.
Dia terdiam sejenak.
Lalu tertawa kecil.
“Bagus sekali,” katanya tulus.
Kirana tersenyum lebar.
“Bunga yang paling bagus,” lanjutnya percaya diri.
Erlan mengangguk.
“Iya. Bunga paling indah yang pernah Ayah lihat.”
Meski dia sendiri tidak benar-benar tahu bentuknya apa.
Namun bagi Kirana, itu sudah lebih dari cukup.