Bagi Alya, pernikahan adalah sebuah janji suci. Namun, di usianya yang ke-22, janji itu berubah menjadi transaksi gelap. Demi menyelamatkan ayahnya dari jeratan hukum akibat kebangkrutan besar dan serangan jantung ibunya, Alya terpaksa menerima pinangan Arka Dirgantara, seorang pengusaha muda nan dingin yang memiliki kekuasaan mutlak.
Alya mengira dia hanya akan menjalani pernikahan tanpa cinta. Namun, kenyataan jauh lebih pahit: Arka tidak menginginkan hatinya, ia menginginkan kehancurannya.
Arka menyimpan dendam masa lalu yang membara. Ia meyakini bahwa ayah Alya adalah penyebab kematian tragis ibunya bertahun-tahun silam. Baginya, menikahi Alya adalah cara paling elegan untuk menyiksa musuhnya melalui tangan orang yang paling dicintai sang musuh. Di mansion megah yang lebih menyerupai penjara emas, Alya harus bertahan menghadapi dinginnya sikap Arka, intimidasi ibu mertua yang kejam, hingga kehadiran masa lalu Arka yang terus memojokkannya.
Namun, di tengah badai air mata dan perlak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wyzy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puing-puing Penyesalan
Mansion Dirgantara tidak pernah terasa sesunyi ini. Meski lampu-lampu kristal tetap menyala terang dan para pelayan bergerak dalam diam melakukan tugas mereka, atmosfer di dalamnya terasa seperti kuburan mewah. Aroma parfum Alya yang lembut—campuran antara vanilla dan mawar—seolah masih tertinggal di lorong-lorong, menghantui setiap jengkal ruang yang kini terasa hampa.
Arka duduk di lantai ruang kerja, bersandar pada kaki meja kayu jati yang berat. Di tangannya terdapat sebotol wiski yang sudah tinggal separuh. Penampilannya sangat mengenaskan; kemeja putihnya yang mahal kini lecek dan kotor, matanya merah karena kurang tidur dan air mata yang tak henti-hentinya jatuh selama tiga hari terakhir.
Pikirannya terus berputar pada kejadian di bandara. Bayangan Alya yang menaiki tangga pesawat tanpa menoleh sedikit pun menjadi pisau yang terus-menerus mengiris jantungnya. Ia mengingat bagaimana Alya menatapnya untuk terakhir kali—bukan dengan benci, melainkan dengan kekosongan yang jauh lebih mematikan.
"Tuan..." suara pelan Bayu memecah keheningan.
Arka tidak mendongak. "Apa ada kabar?"
"Tim kami sudah melacak jet pribadi itu hingga ke Singapura, Tuan. Namun, setelah mendarat, Nyonya Alya dan Tuan Reno langsung pindah ke ambulans udara yang sudah menunggu. Mereka menghilang di antara jaringan rumah sakit internasional. Tuan Reno menggunakan protokol keamanan tingkat tinggi. Semua akses data pasien dikunci rapat."
Arka tertawa sinis, sebuah tawa kering yang terdengar seperti rintihan. "Reno. Dia melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Dia melindunginya."
"Tuan, ada satu hal lagi," Bayu ragu sejenak sebelum melanjutkan. "Polisi sudah menetapkan Sisil sebagai tersangka utama penipuan dan percobaan pembunuhan. Namun, Nyonya Ratna..."
"Kenapa dengan ibu tiriku?" Arka akhirnya mengangkat wajahnya, menatap Bayu dengan mata yang berkilat tajam.
"Beliau sedang mencoba menjual beberapa aset tanpa sepengetahuan Tuan. Tampaknya beliau bersiap untuk pergi ke luar negeri."
Arka berdiri dengan susah payah, membuang botol wiskinya ke keranjang sampah. Rasa sakit di hatinya tiba-tiba berganti dengan kemarahan yang dingin. "Blokir semua rekeningnya. Sita paspornya. Jika dia ingin pergi, dia harus menjelaskan dulu mengapa dia membiarkan Sisil menghancurkan istriku di bawah hidungnya sendiri."
Sementara itu, di sebuah rumah sakit privat di Singapura yang menghadap ke arah teluk, Alya berdiri di balik jendela besar. Ia mengenakan baju pasien berwarna biru muda yang longgar. Wajahnya yang dulu dipenuhi lebam kini mulai membaik, meski bekas luka di sudut bibirnya masih terlihat samar sebagai pengingat abadi.
Di ranjang di belakangnya, ibunya, Dewi, sedang tertidur pulas setelah menjalani operasi jantung yang sukses. Mesin-mesin di sekelilingnya berbunyi ritmis, memberikan kepastian bahwa kehidupan masih ada di sana.
Pintu kamar terbuka pelan. Reno masuk membawa dua cup kopi dan sebuah amplop putih.
"Ibumu sudah melewati masa kritis, Al. Dokter bilang dalam seminggu dia sudah bisa mulai belajar duduk," ucap Reno lembut.
Alya berbalik dan tersenyum tipis. "Terima kasih, Reno. Aku tidak tahu bagaimana harus membalas semua ini."
"Kau tidak perlu membalas apa pun. Melihatmu bisa bernapas lega saja sudah cukup bagiku," Reno memberikan amplop itu pada Alya. "Ini dokumen yang kau minta."
Alya membuka amplop itu. Di dalamnya terdapat surat gugatan cerai yang sudah ditandatangani oleh pengacaranya. Hanya tinggal menunggu tanda tangan Arka untuk mengakhiri segalanya secara hukum.
"Kau yakin?" tanya Reno. "Arka terus mencoba menghubungiku. Dia mengirimkan ratusan pesan setiap hari. Dia ingin menjelaskan semuanya, Al."
Alya menatap surat itu. Jarinya gemetar saat menyentuh nama Arka Dirgantara. "Penjelasan tidak akan menghapus rasa panas di pipiku saat dia menampar di gudang itu, Ren. Penjelasan tidak akan mengembalikan kepercayaan yang dia injak-injak saat aku memohon demi nyawa Ibuku."
Alya menarik napas panjang, menatap langit Singapura yang mulai jingga. "Dia mencintaiku dengan cara yang merusak. Dan aku tidak cukup kuat untuk diperbaiki kembali di sampingnya."
Kembali di Jakarta, Arka sedang berada di gudang bawah tanah. Ia tidak lagi menginterogasi orang, melainkan sedang membereskan barang-barang Alya yang sempat dibuang oleh Nyonya Ratna. Ia menemukan sebuah buku sketsa milik Alya yang sudah agak lembap.
Ia membukanya perlahan. Di halaman-halaman awal, terdapat gambar taman, bunga, dan pemandangan. Namun, di halaman-halaman terakhir, gambarnya berubah menjadi gelap. Ada sketsa seorang wanita yang meringkuk di balik pintu, sketsa tangan yang terbelenggu, dan di halaman paling belakang, ada sebuah sketsa wajah pria.
Wajah itu adalah wajah Arka.
Namun, di bawah gambar wajah itu, Alya menuliskan sebuah kalimat singkat: *"Aku mencintaimu, tapi aku lebih mencintai diriku yang tidak ingin hancur lebih jauh."*
Arka memeluk buku sketsa itu ke dadanya. Ia tersungkur di lantai, menangis meraung-raung seperti anak kecil. Penyesalan itu datang terlambat, sangat terlambat. Ia memiliki segalanya—kekuasaan, kekayaan, dan kehormatan—namun ia kehilangan satu-satunya orang yang mencintainya dengan tulus bahkan di saat ia menjadi iblis.
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Itu dari nomor yang tidak dikenal. Arka segera mengangkatnya dengan harapan itu adalah Alya.
"Halo? Alya?"
"Ini pengacara Tuan Reno," suara dingin di seberang sana menjawab. "Saya ingin memberitahukan bahwa surat gugatan cerai Nyonya Alya sudah dikirimkan ke kantor Anda. Nyonya Alya hanya meminta satu hal: jangan cari dia lagi. Jika Anda menandatanganinya sekarang, dia tidak akan menuntut harta gono-gini satu sen pun."
Arka terdiam. Jantungnya seolah berhenti berdetak. "Aku tidak akan menceraikannya."
"Tuan Arka, klien saya sudah sangat menderita. Memaksanya tetap dalam ikatan ini hanya akan membuktikan bahwa Anda memang tidak pernah mencintainya."
Arka menutup teleponnya tanpa menjawab. Ia menatap surat gugatan cerai yang baru saja dikirimkan oleh Bayu ke ruangannya melalui faks.
Ia mengambil pena, namun tangannya tak sanggup menggoreskan tinta. Menceraikannya berarti melepaskannya selamanya. Tapi mempertahankannya berarti terus menyakitinya.
Arka berdiri dan berjalan menuju jendela besar ruang kerjanya. Ia melihat ke arah langit, ke arah yang sama dengan pesawat Alya terbang tempo hari.
"Kau ingin bebas, Alya?" bisik Arka pada angin. "Jika itu satu-satunya cara agar kau bisa tersenyum lagi, meski senyum itu bukan untukku... maka aku akan melakukannya."
Dengan air mata yang menetes di atas kertas putih itu, Arka menggoreskan tanda tangannya. Setiap tarikan garis pena itu terasa seperti ia sedang mengiris nadinya sendiri.
"Selamat tinggal, Istriku," ucapnya parau. "Terima kasih sudah pernah mencintaiku, meski aku tidak layak mendapatkannya."
Malam itu, di dua negara yang berbeda, dua orang yang pernah terikat janji suci itu resmi melepaskan satu sama lain. Satunya memulai hidup baru dengan sisa-sisa kekuatan, sementara yang satunya lagi terkunci dalam istana megah yang kini menjelma menjadi penjara penyesalan abadi.
Namun, takdir seringkali memiliki selera humor yang gelap. Di Singapura, Alya baru saja selesai mual-mual di kamar mandi. Ia menatap benda kecil di tangannya dengan tatapan nanar. Dua garis merah.
Ia sedang mengandung anak Arka Dirgantara. Anak dari pria yang baru saja ia ceraikan. Anak dari masa lalu yang ingin ia kubur dalam-dalam.
Alya terduduk di lantai kamar mandi, tangannya mengusap perutnya yang masih rata. "Kenapa sekarang?" tangisnya pecah. "Kenapa kau datang saat semuanya sudah berakhir?"
Di saat Arka mulai belajar untuk melepaskan, benih dari hubungan mereka justru mulai tumbuh, menjanjikan ikatan yang tidak akan pernah bisa diputus oleh selembar kertas cerai mana pun. Badai belum benar-benar berakhir; ia hanya sedang bersiap untuk gelombang yang lebih besar.