Araya Lin dipaksa menjadi pengantin
pengganti bagi kakak tirinya. la dinikahkan dengan Arkanza Aditama, seorang CEO miliarder yang dirumorkan kejam, dingin, dan cacat akibat sebuah kecelakaan tragis. Keluarga Araya tertawa, mengira mereka telah membuang anak tak berguna ke dalam 'neraka'.
Namun, di malam pertama pernikahan mereka, Araya terkejut saat melihat pria jangkung dengan tatapan setajam elang berdiri sempurna di hadapannya-tidak cacat sedikit pun. Di sisi lain, Arkanza mengira ia hanya menikahi gadis udik yang bisa ia kendalikan. la tidak tahu bahwa istri kecilnya yang terlihat lugu ini adalah "Z", seorang peretas jenius misterius yang selama ini dicari-cari oleh perusahaannya sendiri.
Ketika dua pembohong ulung terjebak dalam satu atap, akankah pernikahan kontrak ini berakhir dengan pertumpahan darah, atau justru memicu romansa yang tak terhentikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18: Perjamuan Berdarah Digital
Aula hotel yang tadinya penuh dengan tawa palsu dan dentingan gelas kristal mendadak berubah menjadi kuburan massal bagi reputasi para elit. Logo "Z" yang berkedip merah di layar raksasa seolah-olah menjadi hakim yang siap menjatuhkan vonis mati.
Menteri Suryo Hadiningrat mematung di atas panggung. Mikrofon di tangannya mengeluarkan suara dengung yang menyakitkan telinga. "Apa ini? Teknisi! Matikan layarnya sekarang!" teriaknya panik.
Namun, alih-alih mati, layar itu justru menampilkan sesuatu yang lebih mengerikan: Daftar Transaksi Rekening Luar Negeri.
Angka-angka dengan nominal nol yang tak terhitung jumlahnya mengalir seperti air terjun, menghubungkan nama Suryo Hadiningrat dengan perusahaan cangkang milik Keluarga Lin. Di bawahnya, tertulis keterangan yang membuat seluruh ruangan menarik napas serentak: “Dana Pembersihan Aset & Eliminasi Target 1998.”
"Itu... itu palsu! Itu fitnah!" Siska berteriak dari tengah kerumunan, wajahnya yang penuh make-up mahal kini tampak retak karena ketakutan.
Araya melangkah maju, melepaskan diri sejenak dari rangkulan Arkanza. Ia berjalan perlahan di tengah aula, setiap ketukan sepatu hak tingginya terdengar seperti detak jam menuju ledakan. Semua mata tertuju padanya.
"Fitnah, Bibi?" suara Araya terdengar jernih dan tenang melalui sistem audio gedung yang sudah ia bajak sepenuhnya. "Lalu, bagaimana dengan suara ini?"
Araya menyentuh antingnya. Seketika, suara rekaman audio memenuhi ruangan.
...“Pastikan rem mobil Radit Lin tidak berfungsi saat mereka melewati jalur tebing. Aku tidak mau ada saksi hidup. Anak itu? Biarkan saja dia hidup sebagai pelayan di rumah kita. Dia akan menjadi pengingat betapa mudahnya kita menghancurkan mereka.”...
Itu suara Siska. Dingin, kejam, dan tanpa penyesalan.
Seluruh tamu undangan berbisik riuh. Wartawan mulai membabi butu mengambil foto dan merekam kejadian itu. Clara, yang berdiri di samping ibunya, gemetar hebat hingga menjatuhkan gelas sampanyenya. Prang!
"K-kau... Araya... bagaimana bisa kau..." Clara terbata-bata, menunjuk Araya dengan telunjuk yang bergetar.
Araya berdiri tepat di depan Siska. Ia tidak lagi menunduk. Ia menatap bibinya dengan sorot mata yang begitu tajam hingga Siska terpaksa melangkah mundur.
"Dua puluh tahun," bisik Araya, cukup keras untuk didengar orang-orang di sekitarnya. "Dua puluh tahun aku hidup sebagai bayangan di rumah kalian, mendengarkan kalian tertawa di atas kematian orang tuaku. Hari ini, aku bukan lagi anak yatim piatu yang bisa kalian injak. Aku adalah akhir dari dinasti kotor kalian."
"Security! Tangkap wanita ini! Dia penyusup! Dia hacker ilegal!" teriak Suryo dari atas panggung, mencoba mengalihkan perhatian.
Beberapa petugas keamanan hotel berlari mendekat, namun sebelum mereka bisa menyentuh ujung gaun Araya, sebuah tangan besar menghalangi jalan mereka.
Arkanza berdiri di sana, auranya begitu mengancam hingga para petugas itu berhenti seketika. "Siapa pun yang berani menyentuh istriku," ucap Arkanza dengan suara rendah yang menggetarkan ruangan, "akan berurusan langsung dengan seluruh kekuatan hukum dan finansial Aditama Group. Dan kau, Pak Menteri..."
Arkanza menoleh ke arah Suryo di panggung. "...sepuluh detik lagi, tim KPK dan kepolisian akan masuk melalui pintu utama. Aku menyarankanmu untuk menyiapkan pengacara terbaik, meskipun itu tidak akan berguna."
Tepat setelah Arkanza selesai bicara, pintu aula menjeblak terbuka. Puluhan petugas berseragam masuk dengan surat perintah penangkapan. Suasana menjadi kacau balau. Siska mencoba lari, namun Leon sudah lebih dulu mencegatnya.
Di tengah kekacauan itu, Arkanza menarik Araya ke dalam pelukannya, melindunginya dari jepretan kamera yang membabi butu. Ia menunduk, menatap wajah istrinya yang kini tampak kosong seolah bebannya baru saja terangkat.
"Kau melakukannya, Araya," bisik Arkanza, mencium keningnya dengan lembut.
Araya menyandarkan kepalanya di dada tegap Arkanza. "Ini baru permulaan, Arkanza. Masih ada satu orang lagi yang belum muncul."
Arkanza mengerutkan kening. "Siapa?"
"Kakekmu," jawab Araya dingin. "Dia yang menandatangani perintah terakhir, bukan?"
Arkanza terdiam. Pelukannya mengerat. Aliansi mereka yang tadinya terasa manis karena keberhasilan membalas dendam, kini kembali dibayangi oleh tembok besar yang memisahkan mereka: Dosa masa lalu keluarga Aditama.