Niatnya cari pelarian, malah dapet "tuan muda" kematian.
Alicia kabur ke Italia dan mencari pria paling tampan untuk menghina selera perjodohan ayahnya. Misinya berhasil ia menemukan Dante, pria dengan visual sempurna yang mau diajaknya bermalam bersama.
Tapi keesokan paginya, Alicia baru sadar kalau dia bukan baru saja menaklukkan pria biasa, melainkan seorang predator paling ditakuti di Eropa. Ternyata, merayu bos mafia saat mabuk adalah ide terburuk yang pernah Alicia lakukan seumur hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 23
Dante tidak membuang waktu. Ia melangkah maju ke arah Lorenzo yang kini gemetar hebat. Seluruh Capo yang tadinya memihak Lorenzo segera menjauh, seolah pria tua itu adalah wabah penyakit.
Dante menarik kerah baju Lorenzo, suara Dante menggelegar. "Lorenzo, sepetinya kehidupanmu selama tujuh puluh tahun ini sudah membuatmu bosan bahkan Kau Berani mencuri dari keluargamu sendiri untuk membiayai kemewahan pribadimu di Paris. Kau melanggar hukum paling sakral di klan ini."
"Dante... ini jebakan! Gadis ini memanipulasi semuanya! kau tidak tahu apa-apa!" teriak Lorenzo sambil menatap Alicia dengan penuh arti. "Tanyakan pada istrimu, siapa yang sebenarnya lebih dulu menaruh tanda di hidupnya! Tanyakan padanya tentang janji yang ia buat di London!"
Dante menghentikan gerakannya. Rahangnya mengeras. Ia menatap Alicia, mencari jawaban. Namun Alicia hanya menatap Lorenzo dengan pandangan kosong. "Marcello, Bambang, bawa dia keluar sekarang," perintah Alicia dingin, memotong kalimat Lorenzo sebelum pria tua itu bicara lebih banyak.
Marcello dan Bambang (yang baru saja turun dari posisinya) segera menyeret Lorenzo keluar melalui pintu belakang. Tidak ada tembakan di dalam aula sesuai permintaan Alicia namun semua orang tahu Lorenzo tidak akan pernah melihat matahari terbit lagi.
Setelah ketegangan mereda, Alicia kembali memimpin acara seolah tidak terjadi apa-apa. Para tamu kini menatapnya dengan rasa takut yang murni. Mereka baru saja menyaksikan seorang wanita menghancurkan salah satu pilar tertua mafia hanya dengan beberapa klik di ponsel.
Namun, saat acara makan malam dimulai, sisi "putri manja" Alicia kembali mengambil alih.
Ia duduk di meja utama, menatap piring dessert di depannya. Sebuah cokelat lava yang terlihat sangat menggoda. Alicia mengambil satu suap, lalu tiba-tiba wajahnya berubah mendung.
"Dante..." suaranya mulai bergetar.
"Apa lagi sekarang, Alicia? Musuhnya sudah habis, Lorenzo sudah diurus," Dante bertanya sambil menghela napas panjang.
"Cokelat ini... kenapa rasanya terlalu manis?!" Alicia melempar sendok peraknya ke atas piring. "Aku ingin yang pahit! Aku ingin cokelat hitam dari hutan Amazon! Dan kenapa es krimnya mulai meleleh? Ini penghinaan bagi lidahku!"
Dante menatap istrinya yang baru saja menggulingkan faksi mafia, kini sedang menangis sesenggukan hanya karena kadar gula di cokelatnya. "Alicia, kita sedang di depan lima ratus orang penting."
"Aku tidak peduli! Aku stres, Dante! Aku baru saja melakukan spionase internasional dan sekarang aku bahkan tidak bisa mendapatkan cokelat yang benar!" Alicia menutupi wajahnya dengan serbet sutra. "Aku ingin pulang! Aku benci pesta ini! Dan baumu... kau pasti keringatan saat menyeret Lorenzo tadi! Bau maskulinmu ini membuatku mual lagi!"
Dante berdiri, menatap para tamu yang kini mematung bingung melihat "Sang Ratu Mafia" mereka berubah menjadi anak kecil yang merajuk.
"Pesta selesai! Semuanya keluar!" teriak Dante tanpa basa-basi.
Marcello segera mengarahkan para tamu menuju pintu keluar. Dante kemudian menggendong Alicia keluar dari aula, mengabaikan tatapan heran dari semua orang.
Di dalam mobil dalam perjalanan kembali ke vila, Alicia bersandar di bahu Dante, memegang kotak es krim yang baru saja dibelikan Bambang dari toko terdekat (setelah mengancam pemilik toko untuk buka kembali di tengah malam).
"Dante... kau tidak marah padaku kan?" Alicia bertanya sambil menjilat es krimnya.
"Marah? Kau baru saja membersihkan faksi pengkhianat tanpa membuatku harus berperang selama berbulan-bulan. Kau menghemat banyak amunisi dan nyawa anak buahku," Dante mengusap rambut Alicia. "Tapi bisakah besok kita tidak meributkan soal warna gorden?"
"Tentu saja tidak bisa," sahut Alicia mantap. "Besok aku ingin kita mengecat ulang ruang bayi. Aku tidak suka warna birunya, terlalu 'maskulin'. Aku ingin warna 'biru langit pagi di Jakarta'. Kau tahu kan warnanya?"
Dante hanya bisa memejamkan mata, menyadari bahwa hidupnya akan selalu berada di antara dua ekstrem, dari peluru yang berdesing atau permintaan Alicia yang Ajaib. Namun, saat ia melihat Alicia yang tertidur pulas dengan sisa es krim di sudut bibirnya, Dante berpikir ia tidak akan menukar hidup ini dengan apa pun.
"Tidur yang nyenyak, Nyonya Vallo," bisik Dante. "Besok kita akan mencari warna biru langit Jakarta itu... bahkan jika aku harus menerbangkan jet ke sana hanya untuk mengambil sampel warnanya."
Di kursi depan, Bambang yang mendengar percakapan itu hanya bisa bergumam lirih, "Aku rasa aku butuh kenaikan gaji... atau setidaknya aku sudah merasa beruntung karena di selamatkan oleh Tuan vallo dari Alicia yang merepotkan."
Pagi di Amalfi tidak pernah benar-benar tenang bagi rumah tangga Vallo. Sejak insiden pengusiran Don Lorenzo dari pesta amal "Kucing Cantik", nama Alicia Vallo bukan lagi sekadar nama seorang istri pajangan. Ia adalah momok baru yang ditakuti para Capo. Namun, di dalam vila, ketakutan itu berubah menjadi kepasrahan total, terutama bagi para pengawal yang kini memiliki tugas tambahan yang sangat jauh dari deskripsi pekerjaan militer mereka.
"Bambang, aku sudah bilang warnanya bukan baby blue, bukan juga cyan. Warnanya adalah 'Biru Langit Jakarta Pukul Enam Pagi'!" Alicia berdiri di tengah calon kamar bayi sambil berkacak pinggang. Perutnya yang kini memasuki bulan ketujuh membuatnya terlihat seperti ratu yang sedang memimpin inspeksi pasukan, meski ia hanya mengenakan daster sutra seharga ribuan dolar.
Bambang berdiri kaku di samping ember cat, memegang sepuluh kartu palet warna yang berbeda. Wajahnya yang penuh bekas luka bakar tampak sangat kontras dengan situasi ini. "Nyonya, saya sudah mencari di seluruh toko bangunan di Napoli. Tidak ada warna dengan nama geografis spesifik seperti itu."
"Kalau begitu terbanglah ke Jakarta dengan jet Dante, bawa kamera profesional, potret langitnya jam enam pagi tepat, lalu bawa ke lab pencampuran warna!" Alicia merajuk, bibirnya mengerucut. "Bayiku tidak boleh bangun di ruangan dengan warna yang salah. Itu akan merusak aura kepemimpinannya!"
Dante melangkah masuk ke ruangan, mengenakan setelan jas taktis hitamnya. Ia baru saja selesai melakukan panggilan satelit mengenai pertemuan besar di perairan internasional. "Bambang, tinggalkan cat itu. Kita punya prioritas yang lebih mendesak. Jet sudah siap dalam tiga puluh menit."
Dante menoleh ke arah Alicia, matanya melembut namun tetap tegas. "Alicia, pertemuan The Obsidian Sovereign dimajukan. Kita harus berangkat sekarang ke Mediterania. Seluruh pimpinan sindikat global akan hadir. Dan kau... harus ikut."
Alicia seketika berubah dari mode merajuk ke mode waspada. "Kapal pesiar lagi? Oh, Dante, aku benci mabuk laut. Tapi... baiklah. Asal aku bisa membawa koper tambahan untuk stok perawatan kulitku. Udara laut sangat jahat pada kelembapan wajahku."
Beberapa jam kemudian, pemandangan di dek The Obsidian Sovereign benar-benar menguji kewarasan siapa pun yang melihatnya. Kapal pesiar itu adalah benteng terapung berlapis baja. Di setiap sudut, pengawal dari klan Yakuza, kartel Meksiko, hingga mafia Rusia berdiri dengan senjata otomatis di tangan. Namun, di tengah-tengah kumpulan pria paling berbahaya di dunia itu, melintaslah rombongan klan Vallo.
Oh yah,. Jangan lupa tetap stay tune yaa, besok author bakal update 3 BAB sekaligus 🔥✨
Buat yang udah setia nemenin cerita ini sampai sini, makasih banyak yaa~
Dan jangan lupa tinggalkan jejak di setiap bab 🫶
Entah itu like, vote, ataupun komentar.
Segala bentuk dukungan dari kalian semua, sangat berarti banget untuk author khusus-nya.
Itu semua bikin author makin semangat untuk update bab selanjutnya. ✨🫰🏻
alicia terjepit situasi absurd🤣🤣🤣🤣