NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi / Transmigrasi
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

"What? Masa gue mati cuma gara-gara keselek air minum sih? Nggak estetik banget!"
Itu umpatan terakhir Arcelia sebelum jiwanya "nyasar" ke tubuh Alzena—seorang istri pajangan yang hidupnya lebih tragis dari drama sabun. Alzena yang asli mati karena menyerah, tapi Arcelia yang baru bangun dengan satu prinsip: Siapa yang nyenggol, bakal kena hack sampai ke akar.

Tak ada lagi Alzena yang penurut. Arcelia menggunakan otak hacker-nya untuk membongkar borok keluarga Halim dan membuat Shania kena mental. Sementara Keano, suami dingin yang biasanya menganggapnya sampah, mulai dibuat pusing tujuh keliling karena istrinya berubah jadi singa betina yang tak lagi memuja dirinya.

Game baru dimulai. Arcelia tidak datang untuk minta maaf, dia datang untuk berkuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: CERMIN YANG RETAK

Gue berdiri mematung di tengah badai salju yang mulai membutakan pandangan. Suara di telepon tadi... itu bukan sekadar mirip. Itu adalah frekuensi yang sama, nada ketus yang sama, bahkan cara napas yang sama dengan gue. Bagaimana mungkin ada "Arcelia" lain di luar sana, sementara gue terjebak di tubuh Alzena?

Gue nggak peduli sama peringatan Keano. Gue menyambar kunci motor sport milik salah satu penjaga di depan mansion, menendang mesinnya sampai menderu, dan melesat membelah jalanan licin Calveron. Tujuan gue cuma satu: Grey Wharf. Dermaga terkutuk tempat Baron mati tadi malam.

...----------------...

Angin malam di dermaga terasa seperti ribuan silet yang menyayat wajah gue. Suasananya jauh lebih sepi daripada tadi malam, hanya ada sisa-sisa garis polisi yang berkibar ditiup angin dan bau amis darah yang masih tertinggal.

Gue turun dari motor, memegang pistol kecil pemberian Keano dengan tangan yang berkeringat meski udara sangat dingin.

"GUE UDAH DI SINI! KELUAR LO!" teriak gue ke arah kegelapan kontainer.

Hening. Hanya suara ombak yang menghantam beton dermaga. Tiba-tiba, lampu mercusuar tua di ujung dermaga menyala, berputar pelan dan menyinari satu sosok yang duduk tenang di atas tumpukan kayu tua.

Sosok itu mengenakan jaket kulit yang sama persis dengan punya gue. Rambutnya diikat tinggi, sama persis. Dan saat dia menoleh... gue merasa seperti lagi berdiri di depan cermin.

Wajah itu. Wajah Arcelia yang asli. Bukan wajah Alzena yang cantik dan lembut, tapi wajah gue yang penuh bekas luka tipis di dagu dan sorot mata yang liar.

"Hai, Kak Alzena," dia menyeringai. Suaranya terdengar begitu nyata sampai gue merinding. "Atau harusnya gue panggil 'pencuri tubuh'?"

Gue menodongkan senjata ke arahnya. "Siapa lo?! Lo nggak mungkin Arcelia! Gue adalah Arcelia!"

Wanita itu tertawa, lalu melompat turun dengan kelincahan yang gue kenal betul. Itu gerakan bela diri jalanan yang gue pelajari bertahun-tahun. "Lo cuma jiwa yang kesasar, Kak. Lo pikir karena lo hacker hebat, lo bisa ambil alih hidup gue gitu aja? Lo dapet memori gue, lo dapet skill gue, tapi lo nggak akan pernah bisa jadi gue."

"Gue nggak mencuri apa-apa! Gue bangun di tubuh ini!" teriak gue, mencoba menstabilkan napas.

"Alexander Crowe nggak cuma bikin formula medis, Kak," dia berjalan mendekat, sama sekali nggak takut sama moncong pistol gue. "Dia terobsesi sama transfer kesadaran. Lo itu cuma eksperimen yang berhasil. Dan sekarang, 'produk' aslinya udah balik buat ambil apa yang jadi haknya."

Gue tertegun. *Eksperimen? Transfer kesadaran?* Apa ini alasan kenapa gue bisa masuk ke tubuh Alzena? Bukan karena takdir atau keajaiban, tapi karena konspirasi medis Alexander Crowe?

"Kenapa lo baru muncul sekarang?!" tanya gue ketus.

"Karena gue butuh lo buat hancurin Aldric dulu. Gue butuh lo buat dapetin akses ke Winchester," dia berhenti tepat di depan gue, ujung pistol gue menempel di dadanya. "Dan sekarang setelah Keano jatuh cinta sama 'lo', tugas lo selesai. Gue bakal ambil alih posisi Nyonya Winchester, dan lo... lo bisa pergi ke neraka tempat seharusnya lo berada."

Tiba-tiba, dari arah belakang, terdengar suara langkah kaki yang berat.

"Alzena! Menjauh dari dia!" teriakan Keano menggema.

Keano datang bersama Virel dan pasukan pengamannya. Mereka semua terpaku melihat pemandangan di depan mereka. Dua wanita yang terlihat identik secara aura, berdiri berhadapan. Satunya bertubuh Alzena dengan jiwa Arcelia, dan satunya lagi bertubuh Arcelia asli dengan jiwa yang gelap.

Keano menodongkan senjatanya, tapi dia ragu. Matanya bergerak bolak-balik antara gue dan wanita itu.

"Keano! Ini aku!" teriak wanita itu, tiba-tiba aktingnya berubah jadi lembut dan ketakutan, persis kayak Alzena yang dulu. "Dia yang mau bunuh aku! Dia monster yang selama ini neror kita!"

"Gue nggak butuh akte buat buktiin siapa gue, Keano!" balas gue, mata gue mulai panas. "Lo tau siapa gue! Lo tau cara gue berantem, lo tau cara gue bicara!"

Virel tampak pucat. "Dua... mereka ada dua..."

Wanita itu tiba-tiba bergerak cepat. Dia menarik pisau dari balik sepatunya dan mengarahkannya ke lehernya sendiri. "Kalau kamu nggak pilih aku, Keano... aku bakal matiin tubuh ini! Dan rahasia panti asuhan nggak akan pernah kebongkar!"

Keano melangkah maju, tangannya gemetar. "Siapa pun kalian... turunkan senjatanya."

Gue menatap Keano. Gue bisa liat kebingungan yang luar biasa di matanya. Pria yang biasanya selalu punya jawaban untuk segalanya itu kini tampak hancur. Di satu sisi ada tubuh istrinya (gue), di sisi lain ada wanita yang wajahnya sama persis dengan gadis yang menyelamatkannya sepuluh tahun lalu.

"Keano," suara gue mendadak tenang. "Inget apa yang gue bilang di helikopter tadi? Gue bukan 'korban'. Dan gue nggak akan biarin lo pilih orang yang cuma mau manfaatin lo."

Gue menurunkan pistol gue. Gue nggak mau main drama. Gue berjalan ke arah wanita itu dengan tangan kosong.

"Lo mau tubuh ini? Ambil," kata gue dingin. "Tapi lo harus hadapi gue dulu secara fisik. Satu lawan satu. Kalau lo emang Arcelia yang asli, lo pasti tau kalau kita nggak pernah lari dari tantangan."

Wanita itu menyeringai licik. Dia membuang pisaunya dan memasang kuda-kuda. "Ayo, Kakak tersayang. Mari kita liat siapa yang paling berhak pake nama Arcelia."

Perkelahian itu pecah di bawah lampu mercusuar. Itu adalah perkelahian paling gila yang pernah gue alami. Rasanya kayak gue lagi berantem sama bayangan gue sendiri. Dia tau setiap langkah gue, dan gue tau setiap langkah dia. Kami saling pukul, saling tendang, berguling di aspal dermaga yang kasar sampai baju gue robek dan wajah gue lebam.

Virel mau maju buat misahin, tapi Keano menahan tangannya.

"Biarkan," kata Keano rendah. "Cuma satu dari mereka yang punya 'jiwa' yang gue kenal."

Gue dapet satu pukulan keras di perut yang bikin gue tersungkur. Wanita itu tertawa, dia mengambil pistol gue yang tadi jatuh dan mengarahkannya ke kepala gue.

"Selamat tinggal, Nona Hacker," bisiknya.

*DOR!*

Suara tembakan meledak, tapi bukan dari pistol di tangan wanita itu.

Wanita itu jatuh tersungkur dengan lubang di pundaknya. Gue menoleh. Keano berdiri di sana dengan asap yang masih mengepul dari ujung senjatanya.

"Keano... kenapa?" wanita itu merintih, mencoba berakting lagi. "Aku penyelamatmu..."

Keano berjalan mendekati kami berdua. Dia sama sekali nggak ngeliat ke arah wanita itu. Dia justru berlutut di samping gue, mengusap darah di bibir gue dengan ibu jarinya.

"Lo telat narik napas sebelum mukul tadi," bisik Keano pelan. "Dan Arcelia yang gue tau nggak pernah nangis pas lagi berantem."

Gue tersenyum kecil di tengah rasa sakit. "Sok tau lo."

Keano berdiri, menatap wanita yang terkapar itu dengan tatapan paling dingin yang pernah gue liat. "Gue nggak peduli lo punya wajah siapa atau lo siapa di masa lalu. Tapi wanita yang berdiri di depan gue tadi... dia yang nemenin gue hancurin Alexander Crowe. Dia yang meledakin *Sanctuary* demi gue. Dan dia... adalah istri gue."

Evan langsung meringkus wanita itu. Saat diperiksa, ternyata wanita itu memakai topeng prostetik super tipis hasil teknologi Alexander Crowe. Wajah aslinya adalah salah satu asisten lab di *Evergreen Sanctuary* yang dicuci otaknya.

Virel terduduk lemas di tanah. "Jadi... Arcelia yang asli... bener-bener udah nggak ada?"

Gue menatap ke arah laut lepas. Perasaan sedih itu muncul lagi. "Mungkin dia emang udah tenang di sana, Kak. Dan tugas gue sekarang cuma mastiin namanya nggak dikotorin lagi."

Malam itu, rahasia panti asuhan bener-bener terkubur bersama matinya Baron dan tertangkapnya si penyamar. Tapi buat gue dan Keano, ini bukan akhir.

"Kita pulang," kata Keano, dia menggendong gue ala *bridal style*.

"Gue bisa jalan sendiri, Keano! Malu diliatin Evan!" protes gue sambil mukul bahunya.

"Diem atau gue cium di depan semua orang," ancamnya.

Gue langsung diem, nyenderin kepala di dadanya. Malam itu di Calveron, gue sadar satu hal. Gue mungkin pencuri tubuh, gue mungkin bukan Alzena yang asli. Tapi di pelukan pria ini, gue ngerasa gue adalah diri gue sendiri. Dan itu sudah lebih dari cukup.

...****************...

TBC

1
Nessa
visulnya 👍🏻👍🏻👍🏻
Nessa
wiiihhh badass
Noey Aprilia
Hai kk....
aku udh mmpir....crtanya seru mskpn pnuh misteri,tp ga sbar krna pnsran....
d tnggu up'ny kk....smnggttt.....😘😘😘
partini
Nemu lagi novel macam ini i like
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!