"Tega kamu, Mas." Kanaya menatap suaminya dengan sorot mata yang tenang namun penuh luka. Kecewa luar biasa wanita itu rasakan setelah tau kalau suaminya ternyata sudah menikah dan memiliki istri lain tanpa sepengetahuannya.
"Aku minta maaf, aku tau kamu kecewa. Tapi ini semua udah terlanjur terjadi, aku harap kamu bisa berlapang dada menerima istri baruku." Jawab Andra dengan nada bersalah.
Tapi Kanaya tau, suaminya itu tidak benar-benar menyesal. Sedikit pun.
Siang dan malam ia berdo'a kepada Tuhan, meminta kelimpahan dan kelancaran untuk bisnis juga rezeki suaminya.
Tapi ketika pria itu benar-benar diberi kekayaan, ia malah menduakannya diam-diam.
Kanaya tidak akan diam aja, ia akan membalasnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA PULUH SATU
"Setelah dari klinik, kita makan siang di restaurant kesukaan kamu ya. Udah lama kita nggak makan siang sama-sama."
Ucap Andra memecah keheningan di antara mereka, perjalanan yang sebenarnya tidak terlalu jauh terasa begitu lama bagi Kanaya yang muak.
"Hmmm, iya." Jawab Kanaya setengah hati.
Untungnya, ponsel wanita itu kembali bergetar menandakan pesan baru masuk.
Kanaya mengambil benda canggih itu dengan tidak sabaran, merasa sangat senang karena akhirnya ia punya alasan untuk menyibukkan diri selama suaminya itu mengoceh tentang menikmati dan menghabiskan waktu bersama.
"Lagi chat sama siapa kamu, Sayang? Kenapa kayanya seru banget same aku dicuekin?"
"Hmm? Bukan siapa-siapa. Cuma temenku." Jawab Kanaya, ia ingin menjawab bahwa dirinya sedang bertukar pesan dengan calon ibu tiri pria itu, tapi tentu saja ia tak bisa.
Maka dari itu, wanita itu hanya bisa bergumam dan menjawab asal. Tapi pesan-pesan yang dikirimkan Esmeralda begitu lucu hingga Kanaya tak bisa menahan tawa, ia cekikikan.
"Beneran bukan siapa-siapa? Kok kamu sampe ketawa-ketawa gitu?"
Andra berusaha menahan rasa cemburu, ia mulai panik dan takut kalau istrinya itu memiliki tambatan baru.
"Ya aku ketawa karena lucu. Temen-temenku memang lucu." Jawab Kanaya dengan enteng.
"Hmm, oke. Kita udah sampe di klinik." Ucap Andra membuat Kanaya akhirnya mengangkat kepala.
Ia terlalu asyik bertukar pesan dengan calon ibu mertua barunya sampai tak sadar dengan perjalanannya yang sudah sampai.
"Oh, oke. Kamu tunggu di sini aja atau mau jalan-jalan dulu ke tempat lain, silahkan." Kanaya mengusir suaminya itu halus, mengisyaratkan agar pria itu tak ikut masuk dengannya.
"Aku ikut masuk ke dalem aja, di sana juga kan ada ruang tunggu." Ucap Andra sambil membuka sabuk pengamannya.
Kanaya yang mendengarnya tak bisa menolak meski sebenarnya ia enggan.
"Oh, ya udah. Oke."
Bagai anak kecil yang sedang menunggu ibunya, Andra duduk dengan tenang di soffa ruang tunggu sambil membaca koran yang disediakan.
Ia sesekali menghampiri istrinya di ruang treatment dan memperhatikan wajah Kanaya yang terlihat nyaman juga tenang menerima perawatan.
"Kamu kalau bosen mending jalan-jalan dulu, gih. Dari pada diem gitu sambil mondar-mandir."
Ucap Kanaya tanpa membuka matanya, meski indera penglihatan wanita itu terpejam tapi ia masih bisa merasakan kehadiran Andra dari aroma parfume pria itu.
"Nggak, kok. Aku nggak bosen. Siapa yang bilang aku bosen." Andra menyanggah lembut.
"Ya udah duduk gih, jangan bolak-balik kaya setrikaan."
"Aku mau liat kamu."
Kanaya berdecak mendengar jawaban klise tersebut, ia kemudian memilih untuk tutup mulut karena percuma saja memperpanjang perdebatan.
"Baik banget ya suaminya, Bu. Pengertian banget.
Biasanya kalau laki-laki anter pasangan mereka perawatan di klinik, pasti pada pengen buru-buru selesai dan cepet pulang. Kadang ada yang terang-terangan marah karena kelamaan. Suami Ibu baik banget dari tadi cuma merhatiin dan nggak nyuruh buat cepet-cepet selesai."
Puji salah seorang perawat yang membuat Kanaya ingin tertawa sekencang-kencangnya. Tapi wanita itu memilih untuk mengabaikan pujian tersebut dan mengalihkan topik pembicaraan.
"Ini ada treatment apa lagi? Saya ambil semuanya ya, kalau bisa yang durasi pengerjaannya lama." Ujar Kanaya saat yakin kalau Andra sudah tak berada di sana dan kembali ke ruang tunggu.
"Baik, Bu. Nanti kita kasih treatment-treatment lain yang terbaik."
"Hmm,..."
Kanaya sengaja meminta hal tersebut untuk mengulur waktu semakin lama karena ia malas kalau harus berduaan kembali dengan Andra.
Apalagi pria itu mengajaknya makan siang bersama, Kanaya mual.
"Ibu, ayo kita pindah ke ruang lain." Kanaya mengangguk, mengambil ponselnya agar ia tak mati bosan selama melakukan treatment.
Ting!
Ting!
Ting!
Pesan baru masuk secara beruntun, Kanaya membukanya dengan tenang saat lagi-lagi nama Esmeralda yang tertera.
Esmeralda:
"Lapor, Miss. Ini aku udah fix ya mau dikawinin. Aku minta buat diajak dikenalin dulu ke keluarganya karena nggak mau jadi istri rahasia, dia setuju buat datang ke rumah hari ini juga."
Pesan lainnya mengikuti.
"Kira-kira ada persiapan khusus nggak yang perlu saya lakuin, Miss?"
Pesan teratas masuk.
"Katanya setelah makan siang ini dia mau ajak saya ke rumahnya. Miss ada di sana nggak? Nanti kita di sana berarti pura-pura nggak kenal aja ya?"
Kanaya:
"Oke. Bagus kalau hari ini juga kamu bisa bikin dia ajak kamu ke rumah buat dikenalin ke keluarga. Kamu cuma perlu hati-hati dan siap-siap aja ngadepin nenek
sihir alias istri si ikan buntal. Jangan ampe kalah kalau seandainya nanti kamu jambak-jambakan. Selebihnya, santai aja. And ya, kita pura-pura nggak kenal aja nanti kalau ketemu. Akting aja seolah kita nggah pernah ketemu sebelumnya."
Esmeralda:
"Siap, Miss. See you."
Kanaya kembali memejamkan matanya sambil tersenyum puas.
Ah, rasanya ia tak sabar untuk segera pulang ke rumah.