Bailla adalah gadis muda berusia 20 tahun seorang putri tunggal yang memiliki karakter yang manja dan terbiasa hidup dengan kemewahan ia terpaksa menjadi ibu tiri muda dan menikah dengan duda beranak 3 yang terpaut usia 20 tahun. Pernikahan itu terpaksa terjadi idikarenakan perusahan orang tuanya diambang kebangkrutan akibat tertipu investasi bodong. Bagaimana Bailla menghadapi kehidupan sebagai istri dan ibu muda untuk anak-anak yang usia hampir sama dengannya ?? banyak hal lucu dan sedih yang terjadi degan Bailla si ibu tiri muda ini. ,🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ALASAN DIBALIK PEJODOHAN DAN HUTANG BUDi***
Malam itu diruangan keluarga. Bailla, Papi dan maminya duduk santai sambil menikmati teh hangat dan singkong goreng. Dari tadi Papi diam, ngerokok kretek yang tinggal setengah batang. Biasanya kalau udah ngerokok, artinya ada yang mau diomongin tapi susah keluar.
“Bailla,” panggil Papi, suaranya berat, kecampur bunyi jangkrik. “Kamu pasti mikir, kenapa Pak Arya mau bantu kita. Kenapa dia pilih kamu.”
Bailla menoleh kearah papi. Dia udah siap denger jawaban yang biasa ia dengar di novel maupun di film “karena kamu cantik” atau “karena dia kesepian atau lagi karena kamu cocok untuk ibu tiri”. Jawaban sinetron yang dia hafal.
Tapi Papi matiin rokoknya di asbak tanah liat. “Dulu, waktu Papi masih kerja di proyek, Papi pernah mengalami kecelakan. Kaki papi tertiba bahan bangunan tepat di pinggang papi. Bos yang menangani proyek tersebut, gak mau tanggung jawab dengan alasan kelalaian kerja ”
“ kamu tau Yang nolong Papi siapa, Nak ?” Papi senyum, pait. “Pak Amir. Bapaknya Pak Arya. Pada waktu itu beliau mandor di sana. Dia yang gotong Papi ke klinik. Dia yang bayarin berobat Papi, jual motor bututnya. Padahal anaknya Arya waktu itu baru 5 SD, makan aja susah.”
"Kamu mungkin belum tau kenapa papi gak bisa berkerja berat dan sering cek up kerumah sakit" ??. Papi terdiam sebentar.
"karena waktu itu ginjal papi bermasalah akibat dari kecelakaan tersebut. Dan papi bisa sehat seperti sekarang karena siapa?? "Karena Bapak nya Arya pak Amir yang rela mendonorkan ginjalnya sebelah untuk papi". Papi mulai terisak kecil menahan tangis.
Mami genggam tangan Bailla. Cerita ini belum pernah dibuka lagi setelah 15 tahun.Bailla diam. singkong di mulut mulai terasa hambar.
“Papi janji sama Pak Amir,” lanjut Papi, “Papi bilang, ‘Bang, utang nyawa gak bisa dibayar uang. Suatu hari kalau Abang butuh, saya ada.’”
Udara mulai terasa menghangat
“10 tahun kemudian, Pak Amir sakit keras. Sebelum meninggal, dia panggil Papi. Bukan minta duit. Dia cuma titip satu hal: ‘Jaga Arya. Anak saya lurus, tapi lugu. Kalau suatu hari dia susah, tolong jangan cuek.’”
"Waktu itu papi sudah berhasil mendirikan perusahaan finansial sudah tercukupi, sementara keluarga Pak Amir mengalami penurunan perekonomian Arya waktu itu masih kuliah Papi membantu membiayai kuliahnya Arya sampai selesai sebagai balas Budi dan memenuhi janji papi ke Pak Amir". Papi berhenti untuk mengelap air matanya.
"Selesai kuliah Arya berkerja keluar negeri dan sukses mendirikan perusahannya dan sekarang sudah berkembang dan membuka cabang disini. Papi dan Arya menjalin kerja sama sampai akhirnya kita mengalami masalah sekarang papi ditipu rekan papi yang sangat papi percaya secara sudah hampir 20 tahun kami berkerja sama".
Mami ngelap ujung matanya pake tissu.
“Pas istri Arya meninggal 3 tahun lalu,” Papi nerusin, “dia datang ke Papi. Bukan minjem duit. Dia cuma bilang, ‘Pak, saya capek. Anak tiga, perusahaan juga mulai sibuk. saya takut salah urus anak.’ Waktu itu Papi gak bisa bantu apa-apa. Papi sendiri lagi bangkrut.”
Bailla nahan napas. Pertanyaan yang selama ini ia simpan seperti Kepingan-kepingan puzel mulai nyambung.
“Sampai minggu lalu,” suara Papi makin pelan, “Arya datang lagi. Ia sudah mendengar perusahaan kita bakrut dan mencoba meng akusisi saham 50%. Arya Bawa amplop. Isinya... uang buat tebus sertifikat rumah kita. Papi nolak. Papi malu, Bailla. Utang nyawa belum lunas, masa mau nambah utang duit.”
“Terus dia bilang apa, Pi?” bisik Bailla penasaran
Papi ketawa kecil. “Dia bilang, ‘Pak, saya gak ngasih utang. Saya membayar janji Bapak ke Almarhum Bapak saya. Dulu sewaktu bapak saya susah Bapak yang menolong Sekarang giliran saya nolong Bapak. Impas.’”
Teh mulai hampir habis. Tapi muka Papi keliatan jelas sekarang. Basah.
“Terus kenapa... harus nikahin aku?” suara Bailla bergetar menahan gejolak perasaan nya sendiri.
Papi menggenggam tangan Bailla. terasa hangat dan bergetar. “Karena Arya bilang kepapi ‘Saya gak mau dibilang beli anak orang, Pak. Kalau saya bantu tanpa ikatan, besok lusa orang ngomong saya ada maunya. Saya juga gak mau Bailla dihina, dibilang perempuan yang dibeli. Kalau dia jadi istri saya, dia punya harga diri. Dia bukan orang yang ditolong. Dia keluarga saya. Anak-anak saya punya ibu, dan Bailla punya wali. Kita sama-sama selamat.’
” Bailla Arya bisa saja mencari istri yang lebih matang dan cocok untuk calon ibu bagi anak-anaknya tetapi dia tidak mau. Karena dia masih memegang teguh pesan Bapaknya untuk saling membantu dengan keluarga kita.
Mami sesenggukan. “Dia gak mau kamu ngerasa utang budi seumur hidup, Bailla. Dia mau kamu berdiri sama tinggi dan dia juga gak mau dibilang memanfaakan kesempatan".
Bailla nutup mulut. Jadi selama ini... dia bukan “dibeli atau dijual ”. Dia “dimuliakan, dibantu dan dijaga martabatnya” walaupun dengan cara yang aneh, tapi tulus. Cara laki-laki yang gak pandai puisi, tapi paham utang budi dan harga diri perempuan.
Papi ngelap pipi Bailla pake jempolnya. “Maafin Papi ya, Nak. Papi gagal jagain kamu dari susah. Tapi Papi gak salah pilih orang buat nititipin kamu. Arya itu... dia bayar utang Bapaknya ke Papi, dengan cara ngasih kamu rumah yang gak bakal ngusir kamu.”
Ruangan tiba-tiba terasa luas Tapi Bailla justru lihat jelas sekarang.
Pernikahan ini bukan transaksi. Ini cicilan 10 tahun dari dua bapak yang saling nolong, dan jatuh temponya sekarang, di pundaknya. Bailla harus ikut mengambil andil sebagai anak untuk saling membalas janji dan Budi orangtuanya.
Bailla tidak bisa bicara. Dia cuma memeluk Papinya, kenceng. Di dalam pelukan itu ada marah, ada lega, ada takut, ada... sedikit bangga dan lega.
Karena ternyata, ia selah paham dengan maksud perjodohan ini dan ternyata idia gak dijual. Dia dipilih. Untuk melunasi janji, dan untuk memulai cerita baru. Dengan orang yang dipercaya papi mami untuk menjaganya. seketika Aura pak duda mulai memasuki sedikit disudut hati Bailla.
Malam itu Bailla tidak bisa tidur nyenyak memikirkan cerita papi yang baru saja ia tau. Didalam hatinya ia merasa bersalah karena sudah salah paham Dengan rencana pernikahan ini.
"Pak Arya, semoga kamu bisa menjadi rumah bagi ku kelak." batin Bailla sambil memejamkan mata nya.
...****************...
...****************...