Erlan Pratama, seorang direktur muda yang ambisius, berhasil memenangkan sengketa hukum atas sebidang tanah strategis yang ditempati rumah susun tua. Dengan rencana besar di kepalanya, ia memutuskan melakukan penggusuran demi proyek pembangunan yang diyakininya akan membawa keuntungan besar. Namun, hari eksekusi yang seharusnya berjalan lancar justru menjadi titik balik dalam hidupnya.
Di tengah kericuhan warga yang menolak digusur, Erlan dikejutkan oleh kehadiran Linda Sari, mantan kekasihnya yang pernah menghilang tanpa kabar. Linda terlihat berbeda, lebih rapuh, namun tetap tegar. Di pelukannya, seorang bayi perempuan berusia tiga tahun menangis ketakutan melihat situasi di sekitarnya. Tatapan Erlan terpaku pada anak itu, memunculkan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.
Pertemuan tak terduga itu membangkitkan kembali kenangan lama, sekaligus membuka luka yang belum sembuh. Erlan mulai meragukan keputusannya, sementara Linda menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14
Matahari bahkan belum menampakkan diri di ufuk timur, namun Kirana sudah lebih dulu terbangun dari tidurnya. Matanya yang masih setengah terbuka berkedip-kedip, lalu perlahan wajah mungil itu berubah cerah ketika menyadari suasana sekitarnya. Dengan langkah kecil yang masih agak goyah, ia merangkak mendekati Linda yang masih terlelap di atas tempat tidur.
“Mama…” suara kecilnya terdengar lembut, hampir seperti bisikan.
Tidak ada respons.
Kirana mengulurkan tangan mungilnya, menepuk pelan pipi Linda. “Ma… ma…” kali ini sedikit lebih keras, diiringi tawa kecil yang menggemaskan.
Linda mengerjap, alisnya berkerut sebentar sebelum akhirnya membuka mata. Begitu melihat wajah Kirana yang begitu dekat, ia langsung tersenyum hangat.
“Kamu sudah bangun, hm?” suaranya masih serak karena baru terbangun.
Kirana tertawa kecil, lalu memeluk wajah Linda dengan kedua tangannya yang kecil. Linda langsung menarik tubuh putrinya ke dalam pelukan, mencium pipinya berkali-kali.
“Pagi sekali ya, seperti biasa,” gumam Linda sambil mengelus lembut rambut Kirana.
Kirana hanya membalas dengan suara celotehan yang belum jelas, namun penuh semangat. Seolah dunia ini memang miliknya sejak subuh.
Dengan perlahan, Linda bangkit dari tempat tidur sambil tetap menggendong Kirana. Ia berjalan keluar kamar, berusaha tidak membuat suara terlalu keras, meskipun langkah kaki kecil Kirana yang sesekali menendang bahunya membuat usaha itu sia-sia.
Di ruang tengah, Linda menghela napas pelan. Ia menggendong Kirana dengan satu tangan, sementara tangannya yang lain membuka lemari kecil di sudut ruangan.
“Kita cari sesuatu dulu ya, biar kamu tidak bosan,” ucapnya lembut.
Ia mengambil beberapa kue kecil, lalu memberikannya pada Kirana. Mata Kirana langsung berbinar, tangannya segera meraih kue itu dengan antusias.
“Pelan-pelan makannya,” Linda mengingatkan, meskipun tahu Kirana belum benar-benar memahami.
Setelah itu, Linda beralih mencari mainan. Ia mengeluarkan beberapa boneka kecil dan meletakkannya di sofa.
“Nih, main dulu sebentar. Mama mau masak.”
Kirana duduk di sofa dengan kue di tangan, sesekali menggigitnya sambil memperhatikan boneka di sekitarnya.
Belum lama Linda hendak beranjak ke dapur, suara pintu kamar lain terbuka. Erlan keluar dengan langkah tenang, rambutnya masih sedikit berantakan, namun wajahnya terlihat segar.
Tatapannya langsung tertuju pada Kirana.
“Kamu sudah bangun?” tanyanya, suaranya rendah namun jelas mengandung kehangatan.
Kirana menoleh, lalu tersenyum lebar. “Pa…”
Satu kata sederhana itu membuat Erlan berhenti sejenak, seolah waktu ikut melambat. Ia mendekat tanpa ragu, lalu berjongkok di depan sofa.
“Pagi sekali ya,” katanya sambil mengulurkan tangan.
Linda yang melihat itu langsung berdiri sedikit kaku. “Maaf… sepertinya kami terlalu berisik sampai membangunkanmu.”
Erlan menggeleng ringan. “Tidak. Aku memang sudah menunggu dia bangun.”
Linda menatapnya sejenak, sedikit terkejut.
Erlan lalu mengangkat Kirana dengan hati-hati dari sofa. “Biar aku saja yang jaga dia. Kamu lanjutkan saja.”
Kirana langsung nyaman dalam pelukan Erlan, bahkan kue di tangannya hampir terlupakan.
Linda ragu sejenak, namun akhirnya mengangguk. “Baik… kalau begitu.”
Ia berbalik menuju dapur, meskipun pikirannya masih tertinggal di ruang tengah.
Sementara itu, Erlan duduk di sofa sambil memangku Kirana. Ia meraih iPad yang tergeletak di meja, lalu membuka aplikasi video.
“Kita lihat ini, ya,” ujarnya.
Beberapa detik kemudian, animasi berwarna cerah mulai diputar. Kirana langsung terdiam, matanya fokus penuh pada layar.
Erlan tersenyum tipis. Ia sesekali menunjuk layar.
“Itu bola… bilang bola.”
Kirana menatap layar, lalu menoleh pada Erlan. “Bo…”
Erlan tertawa pelan. “Iya, pintar.”
Ia mengulang beberapa kata sederhana dari video itu, dengan sabar membimbing Kirana. Ada harapan yang begitu jelas di matanya.
“Ayah,” gumamnya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. “Cepat ya… panggil ayah.”
Di dapur, Linda sibuk menyiapkan sarapan. Ia menggoreng nugget dan sosis—makanan favorit Kirana—sambil sesekali melirik ke arah ruang tengah.
Suara tawa kecil Kirana dan suara rendah Erlan yang mengajarinya berbicara terdengar samar, namun cukup untuk membuat suasana rumah terasa hangat.
Linda berhenti sejenak, menatap wajan di depannya.
Aneh, pikirnya.
Semua ini terasa… seperti keluarga yang utuh.
Ia menggeleng pelan, lalu melanjutkan memasak. Setelah itu, ia mengambil ayam, memotongnya kecil-kecil, dan menumisnya dengan sayuran.
Aroma harum segera memenuhi dapur.
Setelah semuanya siap, Linda menata makanan di meja makan dengan rapi. Ia lalu memanggil dari dapur.
“Erlan, sarapan sudah siap.”
“Baik,” jawab Erlan.
Ia langsung mengangkat Kirana dan membawanya ke meja makan. “Ayo, kita makan.”
Kirana terlihat senang, tangannya bergerak-gerak antusias.
Erlan duduk, lalu menatap Linda. “Boleh aku yang menyuapinya?”
Linda sempat terdiam, lalu mengangguk. “Silakan.”
Ia memberikan mangkuk kecil berisi makanan Kirana kepada Erlan.
Dengan hati-hati, Erlan mengambil satu sendok kecil dan meniupnya sebelum menyuapkannya.
“Pelan ya,” katanya.
Kirana membuka mulutnya dengan mudah, lalu mengunyah dengan lahap.
Erlan tersenyum. “Pintar sekali.”
Linda duduk di seberang mereka, memperhatikan dengan diam. Ada sesuatu yang terasa hangat sekaligus menyakitkan di dalam dadanya.
Kirana terlihat begitu bahagia.
Dan Erlan… terlihat begitu tulus.
Linda menunduk, mengambil makanannya sendiri. Namun pikirannya terus berputar.
Mungkin… demi Kirana…
Ia mengangkat pandangannya lagi, menatap keduanya.
Mungkin dia bisa mempertimbangkan kembali.
Namun keraguan itu tetap ada.
Apakah Erlan benar-benar masih menyukainya?
Atau semua ini hanya karena tanggung jawab sebagai seorang ayah?
Setelah beberapa saat, Kirana selesai makan. Linda berdiri, lalu menggendongnya dari pangkuan Erlan.
“Biar aku saja. Kamu makan dulu.”
Erlan mengangguk. “Terima kasih.”
Ia lalu mengambil nasi dan mulai makan. Namun begitu mencicipi lauknya, ia berhenti sejenak.
Ekspresinya berubah.
“Kamu…” ia menatap Linda. “Masak ini?”
Linda terlihat bingung. “Iya. Kenapa?”
Erlan tersenyum tipis. “Ini… makanan kesukaanku.”
Linda terdiam.
“Aku hanya… tidak tahu harus masak apa,” katanya pelan. “Jadi… aku ingat ini.”
Erlan menatapnya lebih dalam. “Berarti kamu masih ingat.”
Linda menggenggam Kirana sedikit lebih erat. “Aku tidak pernah melupakan apa pun tentangmu.”
Suasana mendadak hening.
“Setiap kali melihat Kirana…” lanjut Linda pelan, “aku selalu teringat kamu yang dulu.”
Erlan tidak langsung menjawab.
“Dan kamu yang sekarang,” tambah Linda, “mungkin… versi terbaik dari dirimu.”
Erlan tersenyum, kali ini lebih hangat. “Aku tidak akan berubah.”
Linda menatapnya.
“Aku akan jadi ayah terbaik untuk Kirana,” lanjutnya. “Dan… aku juga ingin jadi suami yang baik.”
Kata-kata itu menggantung di udara.
“Karena itu,” katanya lagi, “aku harap kamu mau mempertimbangkan untuk kembali.”
Linda terdiam lama.
Kirana di pelukannya mulai memainkan ujung bajunya, tidak menyadari ketegangan yang terjadi.
“Aku…” Linda membuka suara, namun berhenti.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Akhirnya, ia menarik napas pelan. “Aku perlu waktu.”
Erlan mengangguk. “Aku mengerti.”
Linda tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menatap Kirana sejenak, lalu berbalik.
“Aku akan memandikannya dulu.”
Ia berjalan menuju kamar mandi, langkahnya perlahan namun pasti.
Di belakangnya, Erlan tetap duduk di meja makan, menatap piringnya tanpa benar-benar melihat.
Namun ada satu hal yang jelas.
Harapan itu masih ada.