Aku adalah Raka. Seorang Pebisnis yang telah mapan sebelum usia kepala tiga. Aku mempunyai kekasih seorang janda beranak satu, hubunganku di tentang oleh mama dengan alasan perbedaan pandangan adat dan statusnya.
Aku dijodohkan dengan seorang wanita yang sama sekali tidak aku kenal. Akankah mama berhasil menjdohkanku atau mama akan luluh dengan pilihanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Kembalinya Sang Pramugari
"Selamat pagi Pak Raka?"
Sebuah suara yang tak lagi asing di telingaku. Ningsih muncul dengan congkaknya. Ia memutar tubuhnya perlahan, ujung jemarinya sengaja menyisir pinggiran mejaku dengan gerakan dibuat-buat.
"Ada perlu apa? Aku sedang sibuk!"
Kualihkan perhatian pada laptop di atas meja kerja. Aku benar-benar muak melihat tingkahnya.
"Semakin hari perutku semakin membesar sayang. Pasti ia sudah nggak sabar ingin bertemu sama papanya?"
Ia menarik tanganku mengelus perutnya. Namun aku menepis dengan cepat.
"Kamu jangan keterlaluan Ningsih,"
Mukaku memanas. Konsentrasiku tiba-tiba ambyar.
"Kalau nggak ada keperluan lain, silahkan keluar sebelum aku panggil satpam untuk mengusirmu."
Ningsih masih dengan sikap centilnya berusaha meraba dadaku. Aku bergegas berdiri, kalau saja aku tak ingat nasehat mama. Mungkin saja tanganku sudah mendarat di pipinya.
"Keluar!" Teriakku seperti orang kesurupan, membuat Dimas langsung memasuki ruangan.
"Maaf Pak Raka, ada yang bisa saya bantu?"
"Bawa wanita ini ke ruangannya."
Suaraku menggelegar. Aku belum pernah semarah ini kepada Ningsih, tapi kali ini sikapnya sudah benar-benar di luar batas toleransiku.
"Nggak perlu suruh orang lain buat mengusirku. Aku bisa pergi sendiri."
Raut muka Ningsih langsung berubah. Ia pergi bergegas meninggalkan ruangan.
Aku juga meminta Dimas untuk segera keluar. Moodku benar-benar sedang tidak baik.
Ku pandangi kota Jakarta dari jendela ruangan ku. Di luar sangat terik, panasnya cetar membahana seperti panasnya hatiku ulah Ningsih.
"Assalamu'alaikum, sayang!"
Sapaan lembut dari suara itu membuat aku membalikkan badan. Senyum merekah dari bibir cantiknya. Laras istriku, bisikmu pelan di dalam hati.
"Kenapa bang? Mukanya kelihatan seperti orang banyak masalah?"
Laras menghampiriku lengkap dengan sebuah tentengan di tangannya.
"Nggak kok, abang hanya lagi capek sama pekerjaan aja."
Aku mendekatinya mengelus kepalanya, mengecup keningnya dengan cinta.
"Kenapa Laras ke kantor abang?"
"Emangnya Laras nggak boleh ke sini ya?"
Mukaku langsung membeku. Bukan begitu maksudku.
"Bukan sayang, bukan nggak boleh. Tapi kenapa nggak ngabari abang, biar Dimas bisa jemput. Kasihan istri abang nyetir sendiri."
Laras terkekeh. Ia bergeledotan manja di lenganku.
"Laras mau kasih abang surprise. Laras habis masak tadi, bikinin makan siang kesukaan abang. Mama pernah bilang kalau abang paling suka semur ayam."
Laras membuka kotak makanan yang ia bawa. Mengeluarkan satu persatu menu dan serantang nasi putih.
Sejak kami menikah mungkin ini pertama kalinya dia memasak untukku. Bukan karena dia malas tapi memang aku yang larang. Biar itu menjadi tugas bik Iyem saja.
"Terimakasih sayang, sudah repot-repot masakin buat abang." Sekali lagi aku kecup dengan lembut keningnya. Laras malu-malu tapi ketagihan.
"Kenapa mukanya memerah?"
Laras mencubit pinggang ku.
"Udah abang nggak usah bikin Laras salting deh."
Balasnya tak menatapku. Hmpz, melihat menu yang ia bawa membuat perutku keroncongan. Katanya orang minang itu hebat dalam masakan, apakah istriku termasuk salah satunya?
"Abang mau makan asal ditemani Laras." Gombal ku. Laras memukul lembut dokumen di atas meja ke bahuku.
"Makanya Laras ke sini. Emang niatnya nemanin abang makan siang, dengan masakan spesial dari Laras."
Godanya lalu mencuil pelan hidungku.
Suapan pertama, hm.. Nggak salah lagi wanita minang itu kebanyakan emang paling jago kalau soal masak. Lidahku langsung memuji masakan istriku. Rindu akan masakan buatan mama terobati dengan masakan spesial dari Laras.
"Enak bang?" Ucapnya dengan rasa penasaran. Aku tersenyum, membuat ia makin penasaran.
"Masakan istri abang nggak ada duanya?" Pujiku tapi Laras malah cemberut.
"Abang kebanyakan gombalnya sama Laras."
"Abang serius sayang, masakan Laras mengingatkan abang pada mama. Rindu sama samakan mama sudah terobati."
"Kalau begitu, boleh Laras masakin abang setiap hari?" Aku menggenggam jemarinya.
"Asal Laras tidak merasa keberatan, abang izinkan."
Laras mengembangkan senyuman.
"Nggak kok bang habis Laras bingung di rumah sendirian. Kania udah mulai sibuk bolak balik persiapan kuliahnya."
Aku mengelus lembut punggung tangannya. Iya tampak rahu-ragu ingin mengutarakan sesuatu padaku.
"Abang, Laras boleh minta satu hal lagi?" Aku mulai curiga, pasti ini ada sangkut pautnya dengan kerjaan. Laras yang biasa berkarier, setelah menikah hanya duduk manis di rumah.
"Hmmm, emang apa sayang?"
"Laras mau kembali aktif jadi pramugari boleh?"
Aku tersedak. Hampir saja nasi dalam mulutku ikut terbang keluar. Laras dengan siaga menyodorkan segelas air putih.
"Kalau abang keberatan Laras nggak akan maksa."
Ku lihat raut wajahnya mulai datar.
"Abang izinkan." Satu kalimat itu keluar dengan rasa keberatan.
"Serius sayang?" Ia menarik tanganku. Matanya berbinar, senyumnya merekah lebar.
"Dengan dua syarat?" Lanjut ku kemudian.
"Apapun syarat abang pasti Laras penuhi," Balasnya cukup cepat.
"Satu terbang rute pendek aja, kedua telpon abang tiap landing. Dan satu lagi jaga hati Laras, ingat bahwa Laras sudah milik abang."
Ucapku sedikit posesif. Ia merangkulku, cukup erat hingga membuat aku susah bernafas.
Berkali-kali ia mencium pipiku tanpa henti. Bucin karena kemauannya aku turuti. Huft..
"Terimakasih abang, InsyaAllah akan selalu Laras ingat kata-kata abang."
Ia tampak sangat bahagia, aku rasa belum pernah lebih bahagia dari ini selama jadi istriku.
"Kemarin Laras resign, apakah karena kemauan sendiri?"
Ia menghela napas singkat. Lalu melirik ke arahku.
"Kalau itu bukan sepenuhnya mau Laras, mama yang suruh."
Hmpz, wajar saja dia uring-uringan di rumah. Biasa berkarier tiba-tiba aku pingit jadi wanita rumahan.
"Katanya tadi mau bikinin makan siang setiap hari untung abang?"
Aku membalikkan ucapannya tadi, ternyata itu cuma rayuan manis untuk membujukku. Wanita memang paling pintar kalau soal menggoda laki-laki.
Ia tersipu, mukanya memerah. Lalu mencubitku manja.
"Abang tahu aja, kalau Laras lagi merayu abang."
Kali ini aku yang menjiwil hidung mancungnya.
"Awas kalau macam-macam di belakang abang,"
Ia mengulurkan dua jempolnya padaku. Wanita dinamis, tegas dan berwibawa itu, tiba-tiba mode bucin ternyata kelakuannya seperti anak-anak juga. Aku senyum sendiri melihat tingkahnya.
"Maaf mengganggu pak Raka!" Ningsih masuk di waktu yang sangat tidak tepat.
Laras meliriknya cukup tajam. Wajahnya yang ruang berubah tiga ratus enam puluh derajat.
"Saya hanya mau antar laporan penjualan minggu lalu, sekalian minta tangan bapak. Maaf kalau kedatangan saya mengganggu momen keromantisan kalian."
Ucapannya seperti pisau tajam. Pedih dan membunuh, ia tersenyum melirik Laras. Menaruh laporan itu di meja ku lalu ke luar begitu saja tanpa paksaan. Tapi aku bisa menangkap senyuman licik di wajahnya.
"Bekerja di sini? Kenapa abang nggak pernah cerita?"
Aku menarik ludah. Ini pertanyaan jebakan atau ajakan untuk memulai perang kedua? Oh Tuhan, sekali lagi Ningsih memang dengan sengaja mematik api diantara aku dan Laras.
Dengan sikap dinginnya Laras meninggalkan aku begitu saja tanpa pamit dan kata-kata romantis.