NovelToon NovelToon
ASI Untuk CEO

ASI Untuk CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Nikahmuda / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Menjadi pengasuh CEO yang berpura pura menjadi anak berumur 7 tahun?
CEO bernama Halton Felix berumur 25 tahun, tubuh tinggi kekar dan juga berisi.

Menceritakan kehidupan yang sungguh pahit yang di jalani seorang perempuan polos yang bernama Qiandra Januar Putri. Dia berstatus pelajar kelas 2 di sekolah SMA Negeri yang ada di kota nya.
Dia seorang gadis yang cantik, baik dan juga ramah. Dia adalah anak yatim piatu, yang di tinggal orang tua nya sejak dia duduk di bangku kelas 6 SD.
Setiap hari dia berjualan donat di sekolah untuk menghidupi kehidupan dirinya dan juga adik kandungnya.
Di sekolah Qiandra adalah korban perundungan. Karena semua orang membenci dirinya akibat kemiskinan yang dia jalani.
Qiandra juga disukai Rio Dewandaru tuan muda yang terkenal akan kekayaan dan juga ketampanannya di sekolah.
Alih alih melindungi orang yang dia cintai, tuan muda yang terkenal akan kecerdasannya malah menjadi orang pertama yang ...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7.

"Rio," Ucap Qiandra dengan nada yang ter dengar seperti orang ketakutan.

Bagaimana bisa, orang yang menolong diri nya saat pingsan di jalan adalah Rio Dewandaru, teman nya di sekolah yang ter lihat begitu membenci dan suka sekali menindas diri nya.

"Ya, kenapa elo malah takut, tenang gue gak suka makan daging manusia kok! Eh tapi kayak nya mencoba daging elo, enak kali ya," ucap Rio tiba tiba menggigit pipi Qiandra.

Qiandra hanya diam mematung, saat pipi nya di gigit oleh Rio. Bahkan wajah Qiandra tampak datar dan juga biasa saja. Dia tidak terlihat lebay memasang wajah kesakitan, seperti yang di lakukan perempuan lain pada umum nya.

"Ya .. silah kan, kalau mau diambil ... mau bagian mana?" Ucap Qiandra dengan wajah yang ter lihat begitu serius, dan bola mata nya ter lihat menahan takut.

Rio hanya melongo, setelah mendengar penuturan perempuan yang ada di depan nya.

brakkkkk

Rio malah menjatuhkan tubuh Qiandra ke lantai, tapi tidak ada teriakan yang keluar dari mulut Qiandra, dia nampak datar, sembari memegang perut nya.

Qiandra memasang wajah bingung sembari masih ter duduk di atas lantai.

Pelayan yang akan ber jalan ke arah Qiandra untuk membantu nya bangun, tapi di cegah oleh majikan nya.

"Tinggal kan dia, keluar lah. Aku akan memanggil mu! Jika nanti aku membutuh kan bantuan mu." Ucap Rio dengan nada meninggi ke arah pembantu nya.

Lalu Rio ber jalan mendekat ke arah Qiandra yang masih ter duduk lemas di atas lantai.

"Benar kah gue boleh memakan bagian yang ini?" Tanya Rio dengan sebuah senyuman miring, seketika membuat bulu kuduk Qiandra ber diri, menahan takut. Karena Rio terus menunjuk ke bagian pipi nya.

"I - iya boleh, sebagai ucapan rasa terima kasih ku, karena kamu sudah menyelamat kan ku, saat aku pingsan di jalan," ucap Qiandra dengan nada yang terdengar terbata bata.

"Owh ... Baik lah, gue akan memakan nya sekarang, tapi elo harus janji, setelah gue makan pipi elo itu, elo harus menghabis kan semua makanan yang ada di meja itu," ucap Rio dengan nada yang terdengar begitu menyeram kan.

"I - iya, apa pun, yang kamu mau Rio!" Ucap Qiandra pasrah, karena mau kabur pun tentu sangat lah susah, dia terlanjur sudah masuk ke kandang singa sekarang, mau kabur atau memberontak pun tentu akan sangat percuma.

Qiandra pun mulai memejam kan mata nya, guna menahan sakit. Karena dalam pikiran Qiandra, bagian pipi yang di tunjuk oleh Rio, akan di makan Rio secara langsung. Apa lagi? Qiandra sedikit phobia dengan darah. Maka nya dia memilih untuk memejam kan mata nya. Bagi Qiandra yang mempunyai IQ pas pasan, tentu saja sarkas nya Rio, dia anggap sebagai hal yang serius.

Ternyata Rio hanya menggigit kecil pipi Qiandra dan hanya menjilat nya saja.

"Sudah, apa perlu gue bantu, untuk ber jalan ke kursi sofa," ucap Rio sembari menaik kan satu alis nya.

"Ak - Akku nurut saja, apa yang kamu ingin kan Rio?" Ucap Qiandra dengan nada ter bata bata, sembari memegang bagian pipi nya yang tadi di gigit oleh Rio, Qiandra ingin memasti kan apa kah pipi nya itu, masih utuh atau tidak. Karena dia heran kenapa tidak ada darah yang menetes, Rio tidak pernah bercanda dengan apa yang dia ucap kan.

Qiandra tidak menunjuk kan rasa jijik saat memegang pipi nya yang terkena air liur oleh Rio.

"Kenapa? Jangan bilang elo megang pipi, buat memastikan apa kah pipi elo itu masih utuh, atau sudah ber kurang," ucap Rio menahan geli. Dan tetap memasang wajah yang menakutkan ke arah Qiandra.

"Hmmm ... Iya," ucap Qianda jujur.

Tanpa basa basi, Rio langsung menggendong tubuh mungil Qiandra. Ke arah meja sofa yang ada di kamar nya kini kamar itu hanya di isi oleh Qiandra dan Rio seorang.

Rio menggendong tubuh Qiandra ala bridal style, Qiandra tidak berani memandang ke arah wajah Rio.

Apalagi mengingat semua kenangan buruk yang dia dapat akibat pembullyan yang dilakukan oleh Rio.

Ada yang membuat Qiandra heran dengan sikap yang di perlihatkan oleh Rio, Karena kini Rio meletakkan tubuhnya di atas kursi sofa dengan sangat lembut.

Padahal selain membully dirinya, di sekolah. Rio terlihat selalu menyakiti Qiandra dengan perkataan dan juga kekerasan fisik.

Contoh nya seperti menjitak kepala nya, kadang mendorong tubuh nya di sekolah sampai membuat nya tersungkur, bahkan Rio pernah menyeret tangan nya dengan sangat kasar, membuat tangan Qiandra lecet, saat diri nya didekati oleh ketua OSIS.

Tapi Qiandra memilih abai dan tidak memikirkan semua hal itu. Nyata nya kini Rio memperlakukan diri nya begitu baik.

"Makan lah?" Ucap Rio dengan lembut sembari mengelus elus pucuk kepala Qiandra.

Hati Qiandra terasa bergetar, saat mendapat kan sebuah perlakuan manis dari Rio.

"Terima kasih," ucap Qindra dengan linangan air mata, dia memakan makanan itu sembari menangis.

Rio melihat Qiandra dengan tatapan iba, entah kenapa tangisan Qiandra menunjuk kan sesuatu hal yang begitu menyakitkan.

Rio hanya memandang wajah Qiandra saja, Qiandra makan begitu lahap, seperti orang yang sudah lama tidak memakan nasi. Qiandra makan dengan tubuh yang mengigil.

Bahkan wajah Qiandra ber kali kali menunjuk kan sebuah rona kebahagiaan karena memakan sesuatu yang enak.

Rio pun ber diri, lalu ber jalan ke arah meja belajar nya, mengambil sebuah tas punggung yang biasa dia gunakan untuk berangkat ke sekolah.

Qiandra memandang Rio dengan wajah heran, "elo masih mau di sini, atau mau kemana? Gue mau berangkat ke sekolah," ucapan Rio bak sambaran petir di siang bolong bagi Qiandra.

"Buka nya sekarang masih sore ya?" Ucap Qiandra dengan nada yang polos sembari masih memakan makanan yang ada di depan nya.

"Ini sudah pagi, elo pingsan semalaman." Ucap Rio dengan nada ketus.

"Berarti jam itu," ucapin Qiandra sembari menelan makanan yang ada di mulut nya.

"Jam itu mati, pelayan di sini terlihat bodoh bukan, tidak segera mengganti batu jam itu." Ucap Rio menahan marah, sembari menatap lekat ke arah jam besar yang ada di dinding kamar nya. Sebuah jam besar yang berisi sebuah foto keluarga.

"Ya udah gue berangkat sekolah dulu, gue nggak mau terlambat. Setelah ini pelayan yang tadi akan menemanimu." Ucap Rio pergi meninggal kan Qiandra begitu saja.

"Astaga nyonya Julia," gumam Qiandra sembari menyelesaikan makan. Karena teringat akan janji yang dia buat untuk Rio, untuk meng habiskan semua makanan ini.

"Nona, mau diantar sopir atau bagaimana?" Tanya pelayan Rio yang ntah datang dari mana.

"Antar saya ke pintu keluar saja Bu? Sekarang ... Saya harus buru-buru bertemu dengan seseorang. Karena saya sudah membuat janji." Ucap Qiandra langsung berlari ke arah pintu. Dia tidak memikirkan wajahnya yang kusut karena bangun tidur, tidak memikirkan bagaimana penampilan nya kini, bahkan tas, sepatu bolong dan peralatan jualannya dia tinggalkan di kamar Rio.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!