NovelToon NovelToon
Di Jual Kepada Mafia Rusia

Di Jual Kepada Mafia Rusia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

"Sepuluh tahun lalu, ayahku menjualku. Dan malam ini, sang pembeli datang menjemputku."
Alana mengira hidupnya sempurna, sampai ia diseret ke Rusia oleh Alexei Dragunov seorang Tsar mafia yang dingin dan berbahaya. Alana bukan datang sebagai pengantin, melainkan sebagai aset yang telah dibayar lunas oleh Alexei untuk menutupi hutang ayahnya.
Di tengah badai salju Saint Petersburg, Alana terjebak di antara dua pria paling berkuasa, Ayah kandung yang menjadikannya barang dagangan, dan suami mafia yang menjadikannya tawanan obsesi.
Saat rahasia darahnya mulai terungkap, Alana menyadari, Di dunia Alexei, tidak ada jalan keluar. Ia harus memilih, hancur sebagai korban, atau bangkit menjadi Ratu di samping sang iblis.

"Kau adalah milikku, Alana. Hidup atau mati, kau tetap dalam genggamanku."
-Alexei Dragunov-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. SUMPAH DI ATAS MESIU

Lonceng gereja Orthodox itu tidak lagi terdengar seperti musik perayaan namun itu terdengar seperti suara palu hakim yang menjatuhkan vonis mati pada kebebasannya.

Setiap langkah yang diambil Alana di atas karpet merah beludru terasa seperti berjalan di atas bara api. Gaun pengantin yang berat ini bukan sekadar pakaian namun ini adalah rantai yang dibalut sutra. Alana menatap sekeliling dengan pandangan yang nyaris kosong, mencoba mencari satu saja wajah yang ia kenal, namun yang ia temukan hanyalah barisan pria-pria Rusia bertubuh raksasa dengan wajah sedingin batu nisan. Mereka berdiri tegak, tangan mereka tersembunyi di balik jas, menjaga setiap sudut gereja dengan kewaspadaan predator.

Di ujung altar, Alexei Mikhailovich Dragunov berdiri menunggunya. Cahaya dari ribuan lilin lebah memantul di rambut pirang pucatnya, memberinya aura malaikat maut yang megah.

Kenapa Ayah melakukan ini? Pertanyaan itu terus berputar di kepala Alana, menghancurkan sisa-sisa kewarasannya. Apa aku hanya sekadar komoditas? Apakah cintanya selama ini hanyalah investasi untuk hari ini?

Pikiran Alana terputus saat tangan Alexei yang besar dan kasar meraih tangannya. Kulit pria itu terasa panas, kontras dengan udara gereja yang membeku. Alexei menariknya sedikit lebih dekat, memaksa Alana menatap langsung ke dalam mata birunya yang tidak memiliki celah untuk belas kasihan.

"Tegakkan kepalamu, Alana," bisik Alexei, suaranya begitu rendah hingga hanya Alana yang bisa mendengarnya di tengah nyanyian paduan suara gereja yang melankolis. "Jangan biarkan mereka melihatmu gemetar. Di Rusia, serigala akan langsung menerkam saat mereka mencium bau ketakutan."

"Kau adalah monster," balas Alana dengan suara bergetar, air mata yang tertahan membuat matanya berkilat marah.

Alexei hanya menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang lebih mengerikan daripada kemarahan. "Mungkin. Tapi mulai hari ini, aku adalah monstermu. Dan kau adalah mahkotaku."

Pendeta tua dengan jubah emas yang berat mulai membacakan doa-doa dalam bahasa Slavia kuno. Alana tidak mengerti satu kata pun, namun nada bicaranya yang berat dan monoton terasa seperti mantra yang mengunci takdirnya. Ia merasa terasing secara total, terjebak di sebuah negara yang bahasanya tidak ia kuasai, diikat pada pria yang ia benci, dan dikhianati oleh Ayahnya sendiri. Secara psikologis, Alana merasa jiwanya perlahan mulai mati, meninggalkan cangkang kosong yang hanya bisa mengikuti instruksi.

"Alexei Mikhailovich... Alana Adrielle..." Pendeta itu beralih ke bahasa Inggris yang patah-patah saat tiba pada bagian inti. "Apakah kalian datang ke sini dengan kemauan sendiri... untuk bersatu dalam pernikahan suci?"

Alexei menjawab dengan tegas, suaranya menggema di seluruh ruangan tinggi itu. "Ya."

Kini giliran Alana. Ia membuka mulutnya, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Ia ingin berteriak "Tidak!", ia ingin lari dan menghancurkan semua sandiwara ini. Namun, ia merasakan cengkeraman Alexei di tangannya mengencang, bukan sebagai bentuk dukungan, melainkan peringatan.

Tepat saat Alana akan dipaksa bersuara, keheningan gereja hancur berkeping-keping.

PRANG!

Kaca patri raksasa yang menggambarkan orang suci di sisi kanan gereja meledak menjadi ribuan kepingan kristal yang beterbangan. Suara tembakan otomatis menyalak, memutus nyanyian paduan suara dengan jeritan kesakitan.

"TIARAP!" teriak Alexei.

Dalam satu gerakan yang sangat cepat dan presisi, Alexei merangkul pinggang Alana dan menjatuhkannya ke lantai marmer tepat di belakang altar kayu yang tebal. Alana berteriak, telinganya berdenging karena suara peluru yang menghantam pilar-pilar batu di atas mereka.

"Ivan! Ogon'! (Tembak!)" Alexei memberi perintah dengan tenang, seolah-olah serangan pembunuhan ini hanyalah gangguan kecil dalam jadwal hariannya.

Ivan Petrov dan para pengawal Dragunov segera membalas tembakan. Gereja yang tadinya suci dalam sekejap berubah menjadi medan perang. Aroma dupa yang menenangkan berganti dengan bau belerang yang menyengat dari mesiu.

Alana meringkuk di bawah perlindungan Alexei, gaun pengantin putihnya kini terkena debu dan serpihan kaca. Ia melihat Alexei mengeluarkan sebuah pistol Colt 1911 perak dari balik jas pengantinnya. Pria itu tidak tampak takut, matanya justru berkilat dengan kegilaan perang yang terukur.

"Siapa mereka?" tanya Alana di tengah suara desingan peluru.

"Sergei Volsky," jawab Alexei singkat sambil membidik ke arah balkon gereja dan melepaskan tiga tembakan beruntun. "Dia ingin kau mati sebelum kau sah menjadi milikku. Karena dengan matinya kau, klaim Volskaya akan tetap berada di tangannya."

Ketakutan Alana berubah menjadi horor yang lebih dalam. Ia bukan hanya dijual untuk aliansi, ia adalah target pembunuhan.

"Tetap di belakangku jika kau ingin hidup!" Alexei menarik Alana bangun saat tembakan musuh mulai mereda untuk sementara karena pengawalnya berhasil menekan penyerang.

Alexei menatap pendeta tua yang kini bersembunyi di bawah meja altar dengan tubuh gemetar. Pria itu menodongkan pistolnya ke arah sang pendeta. "Lanjutkan sumpah itu sekarang. Singkatkan."

"T-tapi, Tuan Dragunov... ini tidak sah..."

"SEKARANG!" gertak Alexei.

Pendeta itu gemetar hebat, ia mengangkat tangannya yang memegang salib perak. "D-dengan kekuasaan yang diberikan Tuhan... dan di hadapan senjata ini... aku menyatakan kalian sebagai suami dan istri. Apa yang telah dipersatukan, tidak boleh dipisahkan manusia."

Alexei menatap Alana, wajahnya hanya berjarak beberapa inci. Di tengah kekacauan, peluru yang masih berdesingan, dan bau kematian, Alexei meraih tengkuk Alana dan menciumnya dengan kasar, sebuah ciuman yang tidak mengandung cinta, melainkan klaim kepemilikan yang mutlak.

"Selamat datang di keluarga Dragunov, Alana," bisiknya di bibir Alana yang pucat.

Tanpa membuang waktu, Alexei menyeret Alana keluar melalui pintu rahasia di belakang altar saat ledakan kedua mengguncang fondasi gereja. Mereka berlari menembus lorong sempit yang dingin menuju sebuah SUV lapis baja yang sudah menunggu dengan mesin menyala.

Di dalam mobil yang kedap suara itu, napas Alana tersengal. Gaunnya yang indah kini compang-camping dan ternoda jelaga. Ia menatap tangannya, dan baru menyadari bahwa Alexei telah melingkarkan sebuah cincin perak kuno di jarinya, cincin yang terasa sangat berat, seolah membawa beban ratusan tahun sejarah berdarah.

Mobil melaju kencang meninggalkan gereja yang mulai dilalap api. Alana mencoba melihat ke luar jendela yang gelap, namun Alexei menarik tirai mobil hingga tertutup rapat.

"Jangan melihat ke belakang," perintah Alexei dingin. Ia meletakkan pistolnya yang masih panas di atas kursi di antara mereka.

"Ke mana kau membawaku?" tanya Alana dengan suara nyaris hilang.

Alexei tidak langsung menjawab. Ia mengambil sebuah tablet elektronik, mengetikkan beberapa perintah, lalu menatap Alana dengan kilatan aneh di matanya, campuran antara kemenangan dan sesuatu yang jauh lebih gelap.

"Ke tempat di mana bahkan ayahmu tidak bisa menjangkaumu. Tapi ada sesuatu yang harus kau ketahui sebelum kita sampai di mansion." Alexei merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kalung liontin perak yang sudah usang.

Alana terbelalak. Jantungnya seakan berhenti berdetak. "Itu... itu milik ibuku. Bagaimana kau bisa memilikinya?"

Alexei menggenggam liontin itu erat, seolah-olah itu adalah kunci dari sebuah rahasia besar. "Ibumu tidak meninggal karena kecelakaan, Alana. Dan alasan mengapa kau berada di mobil ini bersamaku... bukan hanya karena keinginan ayahmu."

Alexei mendekatkan wajahnya ke arah Alana, suaranya kini berubah menjadi bisikan yang menghantui.

"Ada seseorang yang sudah menunggumu selama dua puluh tahun di rumahku. Seseorang yang seharusnya sudah mati."

Mobil tiba-tiba berhenti di depan sebuah gerbang besi raksasa yang tertutup salju. Alana menelan ludah, rasa takut yang baru merayapi punggungnya. Siapa yang menunggunya? Dan rahasia apa yang disembunyikan Alexei tentang ibunya?

"Turunlah, Moya printsessa," ucap Alexei pelan sambil membukakan pintu. "Selamat datang di rumah aslimu. Sebuah Neraka yang indah."

1
Mia Camelia
haduh kok jadi rumit sih😔
My: Kalau terasa rumit, berarti kamu mulia melihat potongan puzzle- nya.. 👀
total 1 replies
Mia Camelia
lanjut thor🥰👍
Mia Camelia
cerita nya menarik
Mia Camelia
lanjut thor, cerita nya seru banget👍👍👍
putri
Alexei.. neraka yang indah itu macam mana?? 😄
My: wahh, terimakasih kehadirannya kak-
🥰
total 1 replies
putri
aku suka ceritanya.. tetap semangat kak..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!