Nigista, seorang gadis cantik yang terlahir dengan kelebihan yang tak biasa, harus berjuang untuk bertahan hidup di tengah caci maki orang-orang sekitarnya. Dia hanya ingin hidup normal, seperti manusia lainnya, tapi takdir sepertinya tak berpihak padanya.
Nigista Kanaya Putri, nama yang indah, tapi ironisnya, di rumahnya dia lebih sering dipanggil "Si pembawa Sial" oleh ibunya sendiri. Setiap musibah yang menimpa keluarga selalu saja dia yang disalahkan.
Tapi, Nigista memiliki kemampuan unik - dia bisa mendengar bisikan-bisikan dari orang-orang yang butuh pertolongan, sebuah kelebihan yang membuatnya sering merasa terjebak. Di sekolah, dia menjadi target bully-an teman-temannya karena sering menjerit-jerit ketika bisikan itu datang, membuatnya dicap sebagai "gadis aneh"
Yok ikuti kisah Nigista
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak Nya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nigista Dan Dunianya
"Aw.. sakit banget." Gista meringis kesakitan saat terjatuh dari motornya, perlahan tapi pasti pengelihatannya menggelap.
Ia tak sadarkan diri
Diruangan bernuansa putih kini Gista tlah berada, ia di temani oleh wanita paru baya yang tak lain adalah dokter dari rumah sakit tersebut. Perlahan tapi pasti mata Gista mulai terbuka, matanya mengerjap saat sinar lampu menusuk matanya.
"Kamu sudah sadar nak.." ucap dokter tersebut, dapat Gista lihat nama di seragamnya Erika.
Gista memijat kepalanya yang terasa sakit. "Saya kenapa bisa ada di sini, dok?"
"Saya tadi menemukan kamu tergeletak di pinggir jalan."
Bola mata Gista meleber, ia baru ingat jika tadi ia jatuh dari motor. "Aghkk!"
"Astagfirullah, ada apa nak?" dokter Erika di buat terkejut saat Gista tiba-tiba berteriak.
"Dok, dokter tadi liat ada motor gak deket aku pingsan?" Gista sudah duduk di atas ranjang rumah sakit, ia menatap lekat sang dokter
"Perasaan gak ada, dokter cuma liat kamu sama beberapa warga sekitar."
Mendengar ucapan sang dokter membuat Gista seketika beranjak, bergegas ia turun dari atas tempat tidur rumah sakit itu.
"Kamu mau kemana nak?" lengan Gisra di tahan oleh sang dokter. "Kamu masih belum sembuh nak, banyak luka-luka di tubuhmu biarkan luka itu mengering terlebih dahulu."
"Enggak bisa dok, saya harus pergi cari motornya nanti mama saya marah kalo motornya hilang." tutur Gista. "Dokter tenang aja saya udah sembuh kok, makasih banyak dokter udah tolongin saya."
"Tunggu."
Langkah kaki Gista terhenti, ia menggigit bibirnya sendiri.
'Mampus, pasti dokternya minta tagihan pembayaran biaya rumah sakit.'
Dengan gerakan slow motion Gista memutar tubuhnya. "K-kenapa ya dok?"
"Siapa namamu?"
Mendengar pertanyaan sang dokter membuat Gista bernapas lega, senyuman di bibirnya melengkung.
"Nigista Kanaya putri, dokter bisa panggil Gista aja atau sta seperti saudara kembar saya." ucap Gista dengan cengiran
Sang dokter mengangguk. "Kamu punya saudara kembar?"
"Iya dok, namanya Adara Arabella. Arabella itu nama mama aku dokter, kayaknya mamaku seusia dokter deh."
"Kenapa nama ujungmu enggak di kasih nama mamamu kayak saudara kembarmu?"
Mendengar pertanyaan sang dokter membuat bibir Gista tertutup rapat, pertanyaan yang barusan dokter berikan juga merupakan pertanyaan Gista selama ini. Ia bingung kenapa nama mamanya tak ada di ujung namanya seperti Adara.
"Dokter mau cari motor saya, pamit ya."
"Eh, dokter sampai lupa tadi mau bilang sama kamu ambil obat sesuai resep yang saya tuliskan." tutur sang dokter sembari memberikan secarik kertas pada Gista
Gista terdiam sembari memandangi nama-nama obat yang tertulis.
"Malah bengong tadi bilangnya mau buru-buru, oiya obatnya sudah saya bayar jadi kamu tinggal ambil aja."
Mata Gista berbinar, ia langsung memeluk dokter Erika. "Makasih banyak dok, dokter benar-benar pahlawanku."
Dokter Erika terkekeh, ia melambaikan tangannya sembari memandang kepergian Gista.
"Semoga kebahagian menyertaimu, nak."
______
Hari sudah larut malam namun gadis cantik itu masih tak kunjung pulang kerumahnya, ia masih berkeliaran di jalanan. Sinar rembulan menyinari jalan yang sedang Gista lalui, tak terasa sudah pukul sepuluh malam.
"Udah jam sepuluh, mama pasti marah." gungam Gista dengan langkah terus maju. "Mama lebih marah kalo tau motornya hilang, bisa-bisa nyawaku ikut melayang."
Tolong... tolong....
Gista membekap telinganya saat mendengar bisikan seseorang yang butuh pertolongannya
"Pergi setan, jangan ganggu gue lagi. Gue gak mau bantu orang lagi!" Gista berteriak di kesunyian malam, ia sudah muak dengan semua yang terjadi padanya.
Tolong..
Suaranya semakin membesar. Tidak, ini bukan bisikan namun benar-benar suara seseorang yang minta pertolongannya. Mata Gista melebar saat melihat seseorang sedang di keroyok oleh segerombolan anak laki-laki.
"Woy kalo berani jangan keroyokan dong, satu lawan satu!" pekik Gista
Semua laki-laki itu menoleh ke sumber suara. "Lo jangan ikut campur, kenah tonjok dikit nanti nangis.."
"Alah banyak bacot loh."
Bug.
Bug.
BUG.
Gista melayangkan pukulan satu persatu pada beberapa laki-laki tersebut, nyalinya tak bisa di ragukan. "Ayo lawan gue, katanya jagoan, masa lawan cewek kek gue ini gak bisa."
Sepuluh lawan dua itu la yang sekarang Gista dan remaja laki-laki itu rasakan, Gista dengan semangat yang menggebu-gebunya akhirnya menghajar orang-orang itu. Tak hanya Gista tapi remaja laki-laki itu pun juga membabibuta para laki-laki bajingan itu.
Bug!
Bug!
Bug!
"Sampaikan pada bos kalian jangan jadi laki-laki pengecut yang bisanya cuma kerahin anak buahnya doang buat ngelawan gue, Kalau berani langsung temui gue!"
"Cabut!" sepuluh orang laki-laki itu seketika pergi dari sana
"Huh, capek juga."
"Lo gapapa? Btw makasih ya atas bantuannya."
Gista menganggukan kepalanya sebagai jawaban, pergi begitu saja meninggalkan pemuda laki-laki tersebut.
"Tunggu," teriak laki-laki tersebut namun sayangnya Gista tak mendengarnya.
Huft
"Semoga gue bisa ketemu dia lagi," gungamnya sembari memandang kepergian Gista yang berlari kencang
___________
Arabella terus mondar mandir di depan pintu utama, di tangannya ada benda kesayangannya yang siap memberikan ukiran di tubuh Gista yang sampai sekarang belum juga pulang.
"Sta, lo dimana sih." gungam Adara yang saat ini tenga mengintip mamanya dari balik tembok
Ceklek.
Pintu utama terbuka, Gista berdiri di depan sana dengan mata melebar.
"M-mama.."
Tanpa berkata-kata Arabella menarik putri bungsunya itu, di bawanya ke gudang. Seperti biasa mamanya itu akan menghukumnya di gudang baik masalah kecil atau pun masalah besar, dan sekarang entah masalah yang mana Gista hadapi sehingga ia di seret paksa seperti itu.
Bruk!
"Aw s-sakit ma." Gista mengelus kepalanya yang baru saja membentur tembok, sakit rasanya.
"Sakit?"
Gista mengangguk.
"Sini saya bantu berdiri," ucap Arabella sembari menjulurkan tangannya, dengan senang hati Gista menerima uluran tangan itu namun bukan mendapatkan genggaman dari sang mama namun ia malah mendapatkan cambukan di punggung tangannya.
Ctas!
"Ini hukuman buat kamu yang baru pulang tengah malam!"
Ctas!
"Ini hukuman buat kamu selalu nyusahin hidupku."
Gista hanya diam menahan sakit dari cambukan, bukan hanya punggung tangannya namun seluruh tubuhnya merasakan sakit dari cambukan mamanya itu.
Adara yang menyaksikan semua itu seketika menitikan air mata, ia tak tega melihat saudari kembarnya di siksa seperti itu namun ia juga tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia sudah terlibat perjanjian pada mamanya.
"Baiklah mama akan sekolahkan anak pembawa sial itu tapi dengan satu syarat." ucap Arabella tadi siang
"Syaratnya apa, ma?"
"Kamu tidak boleh menghentikan mama kalo sedang menghukum dia."
"Tapi—"
"Gak ada tapi-tapi, kalo kamu setuju gapapa tapi mama juga gak setuju kalo dia bersekolah lagi, sudah cukup uang mama terbuang sia-sia."
Adara menarik napas dalam-dalam. "Iya ma, dara setuju."
Lamunan Adara buyar saat mendengar jeritan saudari kembar tak identiknya itu.
"Aghh sakit ma ..." Gista menjerit saat rambutnya di tarik, rasanya rambutnya terkelupas dari kulit kepalanya.
"Maaf'in aku sta, aku gak bisa bantuin kamu lagi." gungam Adara sebelum berlalu, ia tak kuat melihat siksaan yang di dapati Gista apalagi saat mata gadis itu memandangnya seolah berkata 'Bantulah aku, sakit.'