NovelToon NovelToon
Satu Malam Yang Merubah Ku

Satu Malam Yang Merubah Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / One Night Stand / Hamil di luar nikah
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Millea

Satu malam dalam keadaan mabuk berat, Permana merusak hidup seorang wanita yang bahkan tak ia kenal.

Wanita itu—Aaliyah, putri dari orang terpandang di kota London. Ia merasa bersalah sudah menodai wanita itu, sampai kata - kata yang di ucapkan oleh Aaliyah pada malam itu masih terus terngiang di kepala Praman.

“Bertaubatlah !! Kasihani orang tua mu. Aku tahu siapa dirimu sebenarnya.”

Sejak saat kejadian itu, Pramana. Merasa bersalah pada Aaliyah. meretakkan cintanya pada sang kekasih, mengguncang keyakinannya, dan menyeretnya pada pertanyaan terbesar:

mampukah ia menebus dosanya selama ini ia lakukan atau justru tenggelam dalam masa lalunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Millea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

Pagi hari, London terasa dingin, bahkan di awal musim semi sekalipun. Tirai kamar rumah mewah. itu masih setengah terbuka ketika cahaya tipis menyelinap, memotong ruang yang penuh keheningan dan sisa aroma alkohol. Pramana masih duduk di kursi dengan kepala tertunduk, tangannya menutupi wajah, mencoba menyingkirkan kilatan-kilatan memori yang terasa seperti luka bakar.

Namun tidak ada yang bisa ia singkirkan.

Suara pintu yang tertutup dengan tegas kemarin pagi masih bergema di kepalanya. Kata-kata perempuan itu—yang wajahnya tidak akan pernah ia lupakan—berputar di kepalanya: “ Aku tidak butuh pertanggung jawaban mu! Lebih baik segera lah kau bertobat dan mendekati diri pada tuhan,

ingat kedua orang tua mu. Bagaimana meraka sampai tahu kalo anak lelakinya seorang gay. ”

Kalimat itu menamparnya lebih keras dari sebuah tamparan tangan.

Pramana menegakkan tubuhnya, berusaha bangkit, tapi kepalanya terasa berat. Matanya merah, tenggorokannya kering, tubuhnya terasa hampa. Ia menatap ke cermin besar yang tergantung di sisi kamar. Sosok yang kembali menatapnya bukanlah pria dengan jas rapi dan senyum ramah yang biasa ia tunjukkan di kantor. Yang ia lihat hanyalah bayangan kusut seorang lelaki yang kehilangan kendali—seseorang yang bahkan tidak ia kenali lagi.

“Apa yang sudah aku lakukan?” gumamnya lirih. Suaranya serak, pecah.

---

Sementara itu, di kamar rumah peninggalan sang ayah. Aaliyah duduk di tepi ranjang dengan tubuh gemetar. Gaun pesta yang semalam ia kenakan sudah tergeletak di atas tempat sampah di dalam kamarnya. kusut, seolah ikut menanggung beban kejadian. Ia mengenakan piyama satin, rambutnya terurai berantakan, dan matanya sembab.

Aaliyah hampir tidak tidur semalam. Setiap kali memejamkan mata, ia kembali ke teringat dengan sentuhan Pramana kemarin malam. Bermula dari genggaman kasar di lengannya, lalu sentuhan demi sentuhan yang Pramana berikan pada tubuhnya membuat Aaliyah merasa kotor,

terhina, dan rasa jijik menempel di tubuhnya.

Ia menarik napas panjang, mencoba menahan gejolak di dadanya. Aku harus kuat. Aku tidak boleh kelihatan hancur di depan Mommy.

Jam di meja menunjukkan pukul delapan pagi. Amira, ibunya, sudah bersiap untuk berangkat kerja di kedutaan. Seperti biasa, ibunya tampak elegan dengan balutan blazer abu-abu dan jilbab satin hitam. Usianya mendekati lima puluh, tapi aura karismanya membuat siapa pun menaruh hormat padanya. Di tambah mendiang semuanya merupakan hakim terhormat dan terkenal di kota London membuat Amira sangat di segani.

" Günaydın canım ( Selamat Pagi, sayang

ku ) " ucap Amira sebelum duduk di kursinya, lalu ia melabuhkan satu kecupan di kening sang anak.

" Günaydın anne ( Selamat pagi juga Ibu )" balas Aaliyah sambil tersenyum manis yang di paksakan supaya tidak membuat Mommy Amira khawatir.

Sejak kecil Aaliyah sudah bisa menguasai tiga bahasa sekali gus. Bahasa Inggris, Turki dan Indonesia menjadi makanan sehari- harinya. Karena dulu Mommy dan Daddy selalu membiasakan Aaliyah bisa ketiga bahasa tersebut. Supaya ketika bertemu dengan sanak saudaranya di Turki atau Indonesia Aaliyah bisa berkomunasi dengan lancara pada mereka.

“Aaliyah, kau baik-baik saja?” tanya Amira ketika melihat wajah putrinya yang lesu

seperti ada beban masalah sedang menimpa Aaliyah.

Aaliyah berusaha tersenyum. “Aku baik, Mom. Hanya… lelah.”

Amira menatapnya penuh perhatian. “Pestanya kemarin malam berjalan lancar?”

Pertanyaan itu membuat dada Aaliyah sesak. Ia ingin berkata jujur, ingin menumpahkan ketakutannya, tapi lidahnya kelu. Bagaimana ia bisa menjelaskan pada Sang Mommy  bahwa seorang pria yang merupakan tetangga kompleks nya telah menodai dirinya di kamar hotel kemarin malam.

Akhirnya ia hanya menjawab singkat, “Ya, lancar. Sangat lancar, hanya saja minggu ini pekerjaan ku sangat banyak, membuat

ku cepat lelah. "

Amira mengangguk, meski matanya masih menyelidik. “Jangan memaksakan diri. Ingat, tubuhmu juga perlu istirahat. Kau punya proyek desain baru minggu depan, bukan?”

Aaliyah mengangguk pelan. “Iya, Mom.”

"Selalu jaga kesehatan. Kalo ada masalah cerita lah pada Mommy, jangan kamu pendem sendiri. " ucap Mom Amira sambil menatap putri semata wayangnya dengan lembut dan penuh cinta.

Aaliyah tak langsung menjawab ia tatap wajah cantik nan lembut milik sang Mommy sekian detik. Baru lah Aaliyah menjawab dengan lirih.

"Baik, Mom. Tapi Aaliyah belum bisa cerita pada Mommy sekarang" jawab Aaliyah lirih sambil menundukan kepalanya.

Amira bisa melihat jelas kalo putrinya itu sedang menutupi satu masalah dari dirinya saat ini. Ia akan memberi waktu pada Aaliyah untuk menenangkan diri. Baru lah ia akan bertanya kembali pada sang putri permasalahan apa yang sedang Aaliyah hadapi sekarang.

------

Setelah ibunya berangkat, Aaliyah duduk malamun di balkon kamarnya. Ia menatap keluar jendela ke arah blok dimana rumah Pratama berada. Dari tempatnya, ia bisa melihat pintu masuk yang sering ia perhatikan. Sesosok bayangan muncul di kepalanya—pria itu. Pria yang selama ini ia

kenal hanya dari kejauhan. Pria yang semalam merampas harta berharganya yang selalu ia jaga.

Ia tidak tahu namanya. Tapi ia tahu wajahnya. Ia tahu pria itu tinggal hanya beberapa langkah darinya.

Dan itu membuatnya semakin takut.

---

Di lain tempat, Pratama mencoba kembali ke rutinitasnya. Setelah mandi, ia mengenakan jas kerjanya dan memaksa masuk ke kantor. Namun, setiap kali ia menatap layar komputer, wajah perempuan itu muncul lagi. Wajah penuh amarah, mata yang menatapnya dengan jijik, bibir yang mengucapkan kebenaran pahit.

Di ruang rapat, rekan-rekannya masih membicarakan pesta kemarin malam. Mereka tertawa, saling bercanda, tidak ada yang menyadari betapa hancurnya perasaan Pramana saat ini. Ia duduk diam, hanya sesekali mengangguk.

“Hey, Pram, kau benar-benar mabuk kemarin malam,” ujar salah satu koleganya. “Aku lihat kau bahkan nyaris tidak bisa berdiri.”

Pramana tersenyum kaku. “Ya… aku terlalu banyak minum kamarin.”

" Saking mabuknya, aku sampai meniduri seorang wanita " ucap Pramana lirih tak terdengar oleh rekannya.

Mereka tertawa lagi, menganggapnya hal biasa. Tidak ada yang tahu apa yang benar-benar terjadi setelah pesta. Tidak ada yang tahu dosa besar yang Pramana perbuat.

Saat makan siang, Pramana pergi sendiri ke taman kecil di dekat kantor. Ia duduk di bangku, menatap orang-orang berlalu-lalang, tapi pikirannya masih terkunci pada satu hal: perempuan itu.

Siapa dia? pikirnya. Kenapa dia bisa ada di hotel itu?

Ia ingat gaun hitam elegannya. Ingat rambut cokelat bergelombang yang terurai. Ingat suara tegasnya. Tapi ia tidak tahu namanya. Ia bahkan tidak tahu apakah ia akan pernah bertemu lagi dengannya.

Namun, di lubuk hatinya, ada dorongan untuk mencari. Bukan karena ia ingin memperbaiki keadaan—karena ia tahu mungkin tidak ada yang bisa diperbaiki—tetapi karena ia tidak bisa hidup dengan penyesalan tanpa mencoba meminta maaf.

---

Hari-hari berikutnya berjalan seperti kabut. Aaliyah kembali ke kantornya, mencoba menenggelamkan diri dalam sketsa dan mood board. Ia bekerja dengan klien, menghadiri rapat, berbicara soal warna dan tekstur. Dari luar, ia tampak profesional, penuh kendali.

Tapi setiap kali ia sendirian, pikirannya kembali ke malam itu. Setiap bayangan Pramana yang menyentuh dirinya, membuat Aaliyah merasa ketakutan. Kadang ia terbangun di malam hari dengan napas terengah, meraih lampu di samping tempat tidur, memastikan ia masih aman di kamarnya.

Di kompleks perumahan Elit dimana Aaliyah dan Ibunya tinggal, ia semakin sering melihat pria itu dari kejauhan. Kadang ia melihatnya keluar rumah dengan jas kerja. Kadang ia melihatnya berbicara dengan tetangga lain. Setiap kali, hatinya berdegup kencang. Bukan karena jatuh cinta melainkan perasa takut yang menggerogoti Aaliyah saat ini.

Dia bahkan tidak tahu aku tetangganya, pikir Aaliyah dengan getir. Dan aku tidak tahu apakah aku harus merasa lega atau takut.

Sementara itu, Pramana sendiri tidak menyadari kalo wanita yang sudah ia nodai merupakan tetangga komplek. Baginya, Aaliyah hanyalah wanita asing yang belum pernah ia kenal sebelumnya. Gara - gara sebotol minuman beralkohol membuatnya kini menghantui setiap langkah. Ia mulai mencari-cari—bertanya diam-diam pada rekan yang mungkin mengenal tamu pesta itu. Tapi sejauh ini, semua usahanya sia-sia.

Yang ia miliki hanyalah rasa bersalah. Rasa bersalah yang semakin hari semakin berat, seperti rantai yang melilit lehernya.

" Siapa wanita itu ? Aku harus terus mencarinya, sampai ketemu.. " ucap Pramana penuh tekat yang bulat.

---

Malam hari, setelah pulang dari kantor, Pramana berdiri di balkon kamarnya. Ia menatap langit London yang kelabu, lampu-lampu jalanan yang berkelip di depan sana. Dalam hati, ia tahu hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Kata-kata perempuan itu terngiang lagi: “Aku tidak butuh pertanggung jawaban mu! Lebih baik segera lah kau bertobat dan mendekati diri pada tuhan, ingat kedua orang tua mu. Bagaimana meraka sampai tahu kalo anak lelakinya seorang gay.   ”

Untuk pertama kalinya, Pramana merasa seluruh identitasnya dipertanyakan. Ia memang menyukai laki-laki. Itu adalah kebenaran yang ia sembunyikan selama ini dari orang sekitar dan kedua orang tuanya. Namun, tindakannya malam itu membuktikan sesuatu yang lain: bahwa ia bisa menjadi monster, bahwa ia bisa menyakiti orang lain tanpa kendali.

Ia menutup mata, menarik napas panjang. “Aku harus menemukan dia,” bisiknya. “Aku harus meminta maaf. Apa pun yang terjadi.”

"Aku juga harus bertanggu jawab atas kesalahan ku kamarin malam. Biyar pun ia menolak aku akan harus tetap bertanggu jawab" lanjut Pramana penuh dengan tekat.

Di blok sebelah, Aaliyah berdiri di balik jendela, menatap ke arah balkon yang sama. Ia melihat pria itu—Pramana—berdiri sendirian, siluetnya diterangi lampu komplek. Hatinya bergemuruh.

Aaliyah tahu ia tidak akan pernah melupakan malam laknat bersama Pramana. Ia tahu kata-katanya malam itu telah menghancurkan pria itu. Tapi ia juga tahu: itu adalah kebenaran yang harus diucapkan. Supaya pria itu sadar dengan perbuatan yang telah pria itu lakukan selama ini.

Dan dari malam itu, tanpa mereka sadari, hidup mereka mulai terikat oleh satu kesalahan, satu rahasia, yang akan menyeret mereka ke perjalanan panjang—dari jalanan London yang dingin hingga tanah Indonesia yang akan mereka datang nantinya.

Bersambung...

1
Uthie
Coba mampir 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!