Mengetahui bahwa dirinya telah meninggal tanpa alasan yang jelas dan bahkan tidak bisa mengingat semua ingatan tentang kehidupan sebelumnya, di dalam kegelapan dia akhirnya melihat cahaya yang membawanya keluar dan bertemu dengan "Dewi Pencipta" yang memberinya cinta dan kehidupan baru yang lebih baik
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfan von Arcadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bereinkarnasi Menjadi Pangeran
**(Transisi Adegan: Istana Keluarga Kekaisaran Arcadia - Ruang Persalinan)**
(Terkejut—)
**Hwaaaa**
(Teriakan tajam memecah keheningan saat bayi kecil berambut perak memasuki dunia. Dokter Kekaisaran bergegas membungkusnya dengan selimut sutra, sementara pelayan menangis haru melihat kecantikannya yang luar biasa—pipinya montok seperti ceri, matanya merah berkilau samar seperti bara api di bawah sinar bulan.)
**Ibu Cassandra**: (Lemah tapi bersinar) "Dia... sempurna."
(Jari-jarinya yang gemetar menyentuh kepala Alfan yang berambut halus.)
**Ibu Cassandra**: "Bintang kecilku yang berharga..."
(Alfan juga merasa bahwa dia benar-benar sangat kecil, dan dia mengangkat tangannya ke atas dan melihat kedua tangannya yang mungil. Alfan bahkan tidak bisa berbicara karena dia masih bayi dan hanya bisa bergumam sedikit seperti bayi.)
Mmm...
**(Dalam pikiran, Alfan: Sepertinya aku benar-benar telah terlahir kembali dan sekarang menjadi bayi baru lahir di dunia ini.)**
(Cassandra tersenyum, kelelahan yang dirasakannya terlupakan di hadapan cinta yang begitu besar. Ia dengan lembut menarik selimut di atas bayi baru lahir dan menatap suaminya.
(Pangeran Mahkota Albert, seorang pria tinggi berambut perak dan mata biru yang tajam, berdiri di samping tempat tidurnya. Wajah tegasnya yang biasa kini bersinar dengan keheranan saat ia menatap putranya. Setelah beberapa saat, ia mengulurkan tangan dan mengusap pipi lembut Alfan dengan tangan yang kasar, ekspresinya hampir lembut.)
**Ayah Albert**: "Kamu melakukannya dengan sangat baik, Cassandra."
(Alfan memandang Albert dan dia benar-benar pria yang sangat tampan, lalu Alfan memandang Cassandra dan dia benar-benar wanita yang sangat cantik, hampir seindah dewi yang pernah dia temui sebelumnya. Tanpa sadar, Alfan tersenyum lembut dan menggerakkan tangan bayinya dengan lemah.)
**Alfan**: "Mmm... Mmb..."
**(Dalam pikiran, Alfan: Wow, ayahku benar-benar sangat tampan dan ibuku benar-benar sangat cantik. Jika aku lahir dari hubungan yang mereka berdua lakukan, aku penasaran seperti apa penampilanku.)**
(Albert dan Cassandra memperhatikan senyuman lembut Alfan dan gerakan kecilnya yang bahagia, dan ekspresi mereka semakin hangat. Albert dengan lembut mengusap kepala Alfan, sementara Cassandra mendekapnya erat ke dadanya yang besar dan lembut, mengayunkannya perlahan ke kiri dan kanan. Seolah-olah seluruh ruangan menahan napas, menikmati cahaya kehidupan baru.)
**Ayah Albert**: "Dia sangat cantik."
**Ibu Cassandra**: (Tawa yang setengah lega, setengah bahagia.) "Seorang pangeran kecil yang sempurna."
(Perawat-perawat keluar dengan diam-diam, meninggalkan keluarga baru itu sendirian sejenak. Alfan mewarisi warna rambut peraknya dari ayahnya, yang merupakan warna rambut khas keluarga Kekaisaran Arcadia. Sementara itu, mata merah Alfan diwarisi dari ibunya.)
(Mereka menatap putra mereka, rasa bahagia menyelimuti mereka seperti selimut hangat. Ada keheningan sejenak, hanya terputus oleh suara bayi Alfan yang lembut dan suara Albert yang dalam.)
**Ayah Albert**: (Jempolnya mengusap pipi Alfan yang montok.) "Dia punya mata seperti kamu."
(Cassandra tersenyum, kelelahan berganti dengan kilauan kebanggaan. Dia menyentuh salah satu tangan kecil Alfan.)
**Ibu Cassandra**: "Dan rambutmu."
(Albert tertawa pelan, suaranya seperti gemuruh petir yang lembut.)
**(Di pikiran nya: Sepertinya Dewi benar-benar tidak berbohong ketika dia mengatakan bahwa aku terlahir kembali sebagai Pangeran Kekaisaran dan memiliki kehidupan yang baik. Aku akan memikirkan hal-hal lain nanti.)**
**Alfan**: "Mmm... Mb.... Aa..."
(Alfan tersenyum dan terus bergumam seperti bayi, menggerakkan tangannya seolah-olah dia bahagia, meskipun dia belum bisa berbicara dan hanya bisa bergumam pelan sejenak.)
(Albert dan Cassandra tertawa pelan melihat kebahagiaan Alfan, momen hangat antara orang tua baru. Tepat saat Alfan hendak menguap karena kelelahan, pintu ruangan terbuka dan seorang pria bergegas masuk, senyum lebar mengerutkan matanya.)
**Kakek Arthur**: (Suara menggelegar) "Apakah anak itu ada di sini?"
(Arthur adalah salah satu manusia terkuat di dunia; ia adalah Kaisar dari Kekaisaran Arcadia. Kekaisaran manusia terkuat di benua ini, yang menguasai 5 kerajaan manusia dan wilayahnya. Tentu saja, ini tidak termasuk kerajaan atau wilayah dari ras lain terutama ras yang lebih kuat dan berkuasa.)
(Melihat sang Kaisar, semua orang disana langsung berlutut dan merasa tertekan juga gugup, bagaimanapun juga di adalah Kaisar yang memancarkan aura yang agung, kuat dan mengintimidasi. Kaisar Arthur melambaikan satu tangannya untuk memberi isyarat agar mereka berdiri lagi)
(Saat bayangan Kakek Arthur melintas di atas tempat tidur bayi, tubuh mungil Alfan menegang—insting bayinya berteriak bahwa pria ini *berbahaya* dalam cara yang tak seharusnya dimiliki oleh manusia biasa. Kehadiran Kaisar memancarkan kekuatan seperti panas dari baja cair.)
**Kakek Arthur**: (Menunduk hingga janggut peraknya hampir menyentuh hidung Alfan) *"Hmph."* (Mata birunya menyempit, mengamati setiap inci bayi baru lahir itu dengan intensitas yang menghitung.)
(Lalu—)
(Jari kasar yang tunggal menyentuh di antara alis Alfan seolah menguji ketajaman pisau. Sentuhan itu terasa dingin membakar di kulit bayi...)
**(Dalam pikiran, Alfan: Astaga, dia benar-benar sedikit kasar untuk seorang Kaisar dan Kakek yang melihat cucunya. Aku tidak peduli siapa kamu karena kamu sangat berani padaku. Jangan salahkan aku jika aku membalas.)**
**Alfan**: "Bwaa... Buu..."
(Alfan dengan berani menggerakkan tangan kecilnya dan menarik janggutnya, meskipun dia tidak cukup kuat untuk menariknya karena dia masih seorang bayi, tapi Alfan bergumam pelan seolah menantangnya.)
(Reaksinya langsung terasa. Cassandra terkejut dan mata Albert melebar karena kaget. Bahkan para pelayan di sudut ruangan pun terhenti sejenak. Namun, reaksi paling menarik datang dari Arthur sendiri. Kaisar yang perkasa, penguasa puluhan juta orang, menatap tangan kecil yang tersangkut di janggutnya... dan tertawa terbahak-bahak.)
**Kakek Arthur**: "Hahahaha!! Dia punya semangat."
(Dia dengan lembut melepaskan tinju kecil itu dari janggutnya, masih tertawa. Lalu dia menatap Cassandra dan Albert dengan tajam.)
**Kakek Arthur**: "Yang ini bakal jadi masalah." (Suaranya kasar, tapi ada kebanggaan yang tak terbantahkan dalam suaranya.)
(Cassandra terlihat terkejut. Albert batuk canggung ke telapak tangannya—setengah tertawa, setengah takut.)
**Ibu Cassandra**: "Dia kan masih bayi, Yang Mulia!"
**Ayah Albert**: "...Dan sudah menantang Kaisar?" (Menggosok pelipis) "Aku butuh anggur."
(Lelaki tua itu tertawa lagi sebelum menjentikkan hidung Alfan dengan satu jari—kali ini dengan nada bermain-main. Bayi itu menatapnya dengan amarah sekuat tenaga yang bisa dikumpulkannya... meski tak banyak, tapi hal itu membuat Arthur tertawa tak henti-henti.)
**(Dalam pikiran, Alfan: Sialan, Kakek tua! Beraninya kau memperlakukanku seperti itu? Aku akan memukulmu dan bertarung sampai akhir, dan kau lebih baik menghormati ayah dan ibuku juga!)**
**Alfan**: "Bwaa... Buu... Hwa..."
(Alfan masih bergumam seperti bayi sambil menggerakkan kedua tangannya yang kecil, memukul tangannya yang besar dengan tangannya yang kecil, pendek, dan lembut yang sama sekali tidak memiliki kekuatan)
(Cassandra dan Albert hanya bisa menonton adegan aneh ini dengan campuran rasa terhibur, takut, dan pasrah: Alfan, bayi kecil yang berharga ini, dengan penuh amarah memukul tangan kasar Kakek Kaisar dengan tinju kecilnya. Kaisar sendiri sedang bersenang-senang, tersenyum lebar seperti serigala yang bertemu lawan yang tangguh.)
**Kakek Arthur**: (Tertawa) "Demi para dewa, nak. Kau punya nyali!"
(Dia dengan lembut menggenggam salah satu tinju Alfan dan menggodanya, membuat Alfan berteriak kesal. Para pelayan menonton dari sudut seperti penonton di turnamen.)
**Kakek Arthur**: "Sepertinya dia bahkan tidak menangis saat pertama kali lahir."
(Senyum Arthur tertahan sejenak—ketegasan kerajaannya retak di bawah tatapan menantang bayi itu. Suhu ruangan seolah turun saat tinju kecil Alfan mengepal lebih erat, mata merahnya membara dengan amarah yang tak terucap.)
**Kakek Arthur**: "... Hah." (Tawanya kini lebih lambat, lebih penuh pertimbangan.) "Kamu anak nakal."
(Cassandra mengeluarkan suara tercekik dan melompat ke depan seolah hendak merebut anaknya kembali dari sejarah itu sendiri. Albert hanya menonton dengan kagum dalam diam saat Kaisar membungkuk hingga hidung mereka hampir bersentuhan—)
**Kakek Arthur**: "Aku cukup *menyukai mu* cucu laki-laki ku."
**(Di dalam pikirannya: Tapi aku tidak suka padamu, kau "orang tua." Kau benar-benar tidak mau menyerah pada bayi kecil.)**
**Alfan**: "Hmmph! Bwa..."
(Alfan bergumam seperti bayi, lalu memalingkan wajahnya dari kakeknya dengan sikap sombong, menatap ibunya yang cantik dan menawan.)
(Para pelayan berusaha menahan tawa mereka. Cassandra terlihat seolah-olah seperti akan pingsan. Alfan hanya menggerutu dan menepis tangan Kaisar.)
(Albert dan Cassandra masih terdiam kaget, tapi Arthur hanya tertawa dan mengulurkan tangan untuk mengacak-acak rambut lembut Alfan. Itu lebih dari sekadar kasih sayang yang pernah dia tunjukkan pada siapa pun, bahkan pada anak-anaknya sendiri.)
**Kakek Arthur**: "Aku tidak ingat kapan terakhir kali ada yang mencoba menantangku. Apalagi orang seukuran itu."
(Para pelayan berusaha menahan tawa mereka. Cassandra terlihat seperti akan pingsan. Alfan hanya menggerutu dan menepis tangan Kaisar.)
**(Dalam pikiran, Alfan: Jangan sentuh aku Kakek Tua)**
**Kakek Arthur**: "Kalian benar-benar telah memiliki anak yang pemberani, anakku Albert dan menantuku Cassandra."
(Albert akhirnya menemukan suaranya, meskipun matanya masih melebar karena terkejut tapi dia menanggap putra nya benar-benar sangat imut dengan keberanian nya)
**Ayah Albert**: "Berani… atau gila."
(Cassandra akhirnya sadar dari keterkejutannya, memeluk Alfan dengan pelindung ke dalam pelukannya. Anak laki-laki kecil itu mengeluarkan tangisan kecil yang marah karena tiba-tiba diangkat. Cassandra melemparkan tatapan tajam pada ayah mertuanya.)
**Ibu Cassandra**: "Ayah mertua, dengan segala hormat, tolong jangan mengganggu anak laki-laki ku yang baru lahir."
(Arthur hanya mengedipkan mata pada Alfan, seolah-olah tidak menyesal.)
(Arthur tersenyum lebar, tak terpengaruh oleh tatapan tajam Cassandra. Kaisar memang tak dikenal karena kelembutannya, tapi dia tahu kapan harus pergi.)
**Kakek Arthur**: "Aku akan pergi dulu. Selamat siang untuk kalian semua..."
(Dengan tepukan terakhir di kepala Alfan, dia berjalan keluar dari ruangan, masih tertawa dalam hati. Tapi untuk terakhir kalinya, dia menoleh dan berbicara lagi)
**Kakek Arthur**: "Dan sepertinya kalian belum memberi nama cucu ku, pastikan untuk memberinya nama yang indah secepatnya! Aku akan menyiapkan hadiah untuk cucu ku."
(Kepergian Arthur meninggalkan keheningan yang terkejut di belakangnya. Cassandra dan Albert menghembuskan napas panjang sambil bertukar pandang—sebagian lega, sebagian tak percaya. Tapi Alfan tampak tak terpengaruh oleh drama itu, sudah menatap Cassandra dengan mata lebar dan polos.)
**Ibu Cassandra**: (Tawa kecil yang lelah) "Dia benar-benar akan memanjakan anak kita habis-habisan, bukan?"
(Albert mengusap rambutnya, masih terkejut.)
**Ayah Albert**: "Aku hanya ingin tahu mengapa dia berpikir itu boleh mengganggu bayi yang baru lahir."
**(Dalam pikiran, Alfan: Sebuah nama? Heh, aku sudah diberi nama oleh Dewi. Tapi kalau mereka bertanya pendapatku...)**
(Alfan menatap mereka dengan mata merah besar—sama sekali tidak tahu apa-apa tapi juga sangat curiga dengan urusan penamaan ini.)
**Ibu Cassandra**: (Dengan lembut, mengusap pipinya) "Apa menurutmu kita harus memanggilnya apa?"
**Ayah Albert**: (Menggerutu) "...Lebih baik sesuatu yang *tidak* membuat Kaisar tertawa setiap kali dia mengucapkannya."
(Tiba-tiba, seolah-olah terlintas di benak Cassandra, dan dia mendengarnya dengan lembut, tentang nama "Alfan" yang akan digunakan untuk menamai anak laki-laki nya, dan tentu saja, yang membuatnya terjadi adalah Dewi Pencipta yang membuat Alfan bereinkarnasi ke dunia ini.)
**Ibu Cassandra**: "Alfan... Aku akan menamainya 'Alfan' dan memberinya marga keluarga "von Arcadia" sebagai nama keluarga Kekaisaran mu."
**(Dalam pikiran, Alfan: Itu bagus! Aku suka nama itu karena terasa sangat familiar bagi ku juga)**
"Mmma... Bwaa..."
(Alfan bergumam pelan dan tersenyum seolah-olah dia suka nama itu, tangan bayinya bergerak dengan penuh semangat)
(Sebuah senyuman kecil dan lembut menghiasi bibir Cassandra saat ia menatapnya. Meskipun situasi saat ini kacau balau, hanya ada kebahagiaan di matanya saat ini. Melihat putra kecilnya tersenyum seperti itu—itu menyembuhkan kelelahan dan rasa sakit akibat persalinan, kekhawatiran tentang perilakunya yang aneh, dan kekacauan yang ditimbulkan oleh kakeknya.)
**Ibu Cassandra**: "Selamat datang, Alfan von Arcadia. Semoga dunia memperlakukanmu dengan baik."
(Sementara itu: Mereka semua menganggapnya sangat imut, terutama keberaniannya yang benar-benar menggemaskan. Arthur penasaran bagaimana reaksi istrinya, Permaisuri, saat melihat cucunya nanti, tapi untuk saat ini, ia bisa memikirkannya nanti.)
(Dan sepertinya Kaisar akan segera menyiapkan sebuah pesta perayaan yang sangat besar dan mewah di seluruh Kekaisaran Arcadia untuk merayakan kelahiran cucunya, karena ia menyukainya.)