NovelToon NovelToon
Tawanan Mantan Suami

Tawanan Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Sinopsis:

Lima belas tahun setelah perpisahan yang dipenuhi salah paham, Helena kembali bertemu dengan Arthur Fernando, mantan suami yang tak pernah berhenti mencarinya. Di balik perceraian mereka, tersimpan konspirasi musuh yang ingin menghancurkan klan Fernando. Kini, saat kebenaran terungkap, Arthur bertekad merebut kembali Helena, meski harus menjadikannya tawanan cinta yang tak pernah padam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Pagi yang Membingungkan

Cahaya matahari pagi mulai merembes masuk melalui celah tirai tebal, namun kamar itu masih terasa gelap. Helena mengerjapkan matanya perlahan, mencoba membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat. Kepalanya berdenyut-denyut, seperti ada ribuan palu kecil yang memukul pelipisnya.

"Dimana... ini..." gumamnya pelan, suaranya serak.

Helena mencoba menggerakkan tubuhnya, tapi dia merasakan sesuatu yang aneh. Kasur di bawahnya sangat empuk, jauh lebih empuk daripada kasur hotel mana pun. Selimut yang menyelimutinya terasa sangat halus, dan baunya... baunya harum, seperti aroma kayu cendana.

Dia membuka matanya sepenuhnya, mencoba menyesuaikan diri dengan kegelapan. Samar-samar dia bisa melihat langit-langit ruangan yang tinggi, dengan lampu gantung kristal yang berkilauan di atasnya. Ini bukan kamar hotelnya.

Helena duduk dengan cepat, namun kepalanya langsung terasa pusing. Dia memegangi kepalanya, menunggu rasa sakit itu reda. Dengan tangan gemetar, dia meraba-raba di samping tempat tidur, mencari saklar lampu.

Klik.

Lampu di samping tempat tidur menyala. Cahaya hangat menerangi ruangan, dan Helena langsung membelalakkan matanya.

Ruangan ini sangat luas. Dindingnya berwarna krem dengan hiasan lukisan klasik bergaya Eropa. Ada meja rias besar dengan cermin berbingkai emas, lemari pakaian dari kayu mahoni, dan pintu kaca besar yang menuju ke balkon dengan tirai sutra berwarna putih.

Tapi yang membuat Helena hampir pingsan bukanlah kemewahan ruangan itu. Melainkan apa yang dia kenakan.

Helena menunduk, menatap dirinya sendiri. Dia mengenakan baju tidur berbahan sutra berwarna merah marun, dengan renda-renda halus di bagian dada dan lengan. Baju tidur itu sangat tipis dan nyaman, tapi sama sekali bukan miliknya. Dan yang lebih mengejutkan, make-up yang tadi malam dia kenakan saat pesta sudah hilang total. Kulitnya terasa bersih, seolah-olah seseorang telah membersihkan wajahnya dengan teliti.

"Tuhan..." Helena menggenggam selimut, menariknya hingga menutupi dadanya. Tubuhnya bergetar. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi tadi malam. Yang terakhir dia ingat hanyalah aroma menyengat yang menutupi hidung dan mulutnya, dan wajah Arthur yang tampak di depannya.

Arthur. Arthur membawaku ke sini. Tapi apa yang dia lakukan padaku semalam?

Helena memeriksa tubuhnya dengan cermat. Tidak ada rasa sakit, tidak ada memar, tidak ada tanda-tanda kekerasan. Namun, ketidaktahuannya tentang apa yang terjadi selama berjam-jam itu membuatnya merasa sangat takut. Air matanya mulai menggenang.

"Arthur, apa yang kau lakukan padaku?" bisiknya, suaranya gemetar.

Helena mencoba bangkit dari tempat tidur, berniat mencari pintu keluar. Tapi kakinya terasa lemas, dan dia baru sadar bahwa dia tidak punya pakaian lain selain baju tidur tipis itu. Dia meraih selimut, melilitkannya di tubuhnya seperti jubah, dan mulai berjalan perlahan menuju pintu.

Namun, sebelum jari-jarinya menyentuh gagang pintu, pintu itu terbuka dari luar.

Helena mundur selangkah, jantungnya berdegup kencang. Arthur berdiri di ambang pintu. Dia tidak lagi mengenakan jas formal seperti tadi malam. Kali ini, dia hanya mengenakan kemeja putih lengan panjang yang dibuka dua kancing atasnya, dan celana panjang berwarna abu-abu. Rambutnya sedikit berantakan, tapi wajahnya tampan dan segar. Di tangannya, Arthur membawa sebuah nampan kayu besar.

"Nampan berisi sepiring bubur ayam, dua potong roti panggang, segelas jus jeruk, dan secangkir teh hangat. Aroma harumnya langsung tercium ke seluruh ruangan.

Arthur tersenyum tipis melihat Helena yang sedang terbungkus selimut. "Selamat pagi, Hel. Aku pikir kamu sudah bangun. Aku bawakan sarapan."

Helena menatap Arthur dengan tatapan campuran antara takut dan marah. "Arthur, apa yang terjadi semalam? Kenapa aku di sini? Kenapa aku memakai baju ini?"

Arthur menaruh nampan itu di atas meja kecil dekat jendela. Dia berjalan mendekat, tapi masih menjaga jarak agar tidak membuat Helena semakin panik. "Hel, tenang dulu. Aku akan jelaskan semuanya. Tapi sebelumnya, lebih baik kamu sarapan dulu. Kamu pasti lapar."

Helena menggeleng, matanya berkaca-kaca. "Aku tidak mau sarapan. Aku ingin pulang. Aku ingin tahu apa yang kau lakukan padaku semalam."

Arthur menatap Helena dengan tatapan lembut. Dia bisa melihat ketakutan di mata Helena, dan itu membuat hatinya sedikit sakit. Namun, dia juga tahu bahwa ini adalah satu-satunya cara agar Helena mau berbicara dengannya.

"Hel, aku minta maaf jika aku membuatmu takut. Aku tahu cara yang aku lakukan semalam sangat salah. Tapi aku tidak punya pilihan. Kamu selalu menghindar dariku, dan aku tidak bisa membiarkanmu pergi lagi."

Helena menatap Arthur, menunggu penjelasan lebih lanjut.

Arthur menghela napas panjang. "Kemarin malam, saat kamu pingsan, aku membawamu ke mansionku. Aku memintakan asistenku—seorang wanita—untuk membantumu membersihkan make-up dan menggantikan pakaianmu dengan baju tidur yang nyaman. Itu semua aku lakukan agar kamu bisa istirahat dengan nyaman."

Helena menelan ludah. "Jadi... kamu tidak melakukan apa-apa padaku?"

Arthur tersenyum kecil. Senyuman itu terlihat sedikit canggung. "Aku memang tidak melakukan apa-apa, Hel. Tapi aku mengakui, semalaman aku tidak bisa tidur nyenyak. Aku... duduk di kursi di sebelah ranjangmu, memelukmu saat kamu tertidur. Aku hanya ingin merasakan kehangatanmu setelah lima belas tahun kita berpisah. Itu saja. Tidak ada yang lebih."

Helena merona. Wajahnya memanas mendengar pengakuan Arthur. Dia menunduk, menarik selimut lebih erat ke tubuhnya. Dadanya naik turun, napasnya mulai tidak beraturan.

"Arthur, kamu... kamu memelukku semalaman?" tanyanya, suaranya bergetar.

Arthur mengangguk, masih dengan senyuman tipis. "Aku hanya memelukmu, Hel. Dan aku tidak menyesal melakukannya. Karena untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun, aku merasa tenang. Kamu ada di sini, di dekatku."

Helena tidak tahu harus berkata apa. Perasaannya campur aduk antara marah, malu, dan bingung. Dia seharusnya marah karena Arthur menculiknya. Tapi di sisi lain, mendengar bahwa Arthur hanya memeluknya semalaman tanpa melakukan hal lain, membuatnya merasa... aneh.

"Kamu harusnya minta izin dulu," kata Helena akhirnya, suaranya lebih pelan. "Kamu tidak bisa seenaknya membawa orang ke sini."

Arthur berjalan ke meja, menarik kursi, dan duduk. Dia menatap Helena dengan tatapan serius. "Aku tahu aku salah. Tapi Hel, jika kamu tidak pernah mau bertemu denganku, bagaimana aku bisa mendapatkan jawaban? Aku ingin tahu tentang James. Aku ingin tahu kenapa kamu menyembunyikannya dariku selama ini."

Mendengar nama James, Helena langsung menunduk. Air matanya mulai menetes. "Arthur... tolong... jangan bahas itu sekarang. Aku belum siap."

Arthur tidak memaksa. Dia hanya menunjuk ke arah nampan sarapan. "Baik. Kita tidak bahas itu dulu. Tapi kamu harus makan. Kamu tidak boleh sakit. Setelah itu, kita bisa bicara pelan-pelan. Aku berjanji, aku tidak akan memaksamu kalau kamu belum siap."

Helena menatap nampan sarapan itu. Perutnya memang terasa lapar. Dengan perlahan, dia melangkah ke kursi dan duduk, masih membungkus tubuhnya dengan selimut.

Arthur menatap Helena dengan tatapan penuh kasih sayang. Dia tidak akan memaksa. Tapi dia juga tidak akan membiarkan Helena pergi lagi. Pagi ini, di mansion megahnya, Arthur memulai langkah pertamanya untuk memperbaiki semua kesalahan di masa lalu—meski dia tahu jalan yang harus ditempuh masih sangat panjang.

1
Mamah Dini11
semoga kalian tetap bersama saling berbagi kasih sayang saling mencintai mungkin james pindah sekolah dn kmu helen tak usah kerja lgi arthur udh udah banyak uang ,
Mamah Dini11
pada. ke. mana ya thor ko sepi
Mamah Dini11
semoga arthur selamat , tolong thor selamatkan arthur dia baru bertemu dgn masa lalunya dn blm mengetahui semuanya
Mamah Dini11
alhmdulilah james selamat semoga kedepan nya gk ada hendra2 yg kain nya , james satukan ke dua orang tuamu biar punya kluargfa lengkap kmu james anak hebat
Mamah Dini11
blm juga arthur menemui anaknya mengenal anaknya dekat sm anakny udh ada yg nyulik berarti hilang nya helena , ada tim musuh yg mencarinya , dan arthur kmu kalah malah musuhmu yg nenang duluan , semoga james baik2 saja dan cepat kembali ke pelukan helena , kasian helen yg berjuang sendirian tiba2 anaknya hilang di culik enak bener tuh penculik , ayo arthur basmi musuh2mu jgn beri ampun , dn apa sih maunya .
Mamah Dini11
semangat arthur 💪 semoga semua masalahmu cepat selesai cepat terbongkar semua yg berkaitan dgn helena
Mamah Dini11
semoga kedepan nya kmu dn anakmu lbh bahagia sm arthur tentu nya jemputlah helen masa depan kaluan dgn senyuman , dan hadapilah orang2 yg julid dn gk suka sm kmu arthur ada bersamamu helen , jgn pergi lgi james berhak tau siapa ayahnya .lanjut
Mamah Dini11
kenapa msh meragukan mantanmu hel dia baik mbok jum baik , kalau kmu msh cinta lihat arthur juga sampai sekarang msh sendiri ,itu tandanya lelaki setia sm pasangan ,dan hel bersatu lagi kalian kasian james dia butuh sosok seorangf ayah, dn seberat apapun badai yg akan datang hadapilah sm kalian berdua di rasa arthur tdk akan tinggal diam diai pasti bisa mengatasinya , kmu percayakan sm mantannu
Mamah Dini11
beri alasan yg masuk akal arthur ke teman2 nya helena yg masuk akal biar mereka gfk hawatir
Mamah Dini11
tenang helen arthur tdk seburuk yg kamu pikirkan, asal kmu berkata jujur aja apa adanya ok
Mamah Dini11
kayaknya arthur orang baik dehh tpiii kenapa ada perceraian, dn berharap arthur tdk melakukan yg membuat helena bersedih ya malah sebaliknya
Mamah Dini11
semoga pertemuan mu dgn mantan suamimu membawa ke baikan helena bkn menambah ke sedihan , dan moga aja membongkar ke salahpahaman yg berlarut dn pd akhirnya menuju ke bahagian kmu dan anakmu pantas mendapatkan nya
Mamah Dini11
ya kadang2 suka membingungkan cerita di novel mh he he
Mamah Dini11
permisi ikutan nimbrung thor 🙏
Ita Putri
masak horang kaya nunggu 15 th dulu baru dapat orang kepercayaan yg punya kemampuan hebat baru sekarang
Rian Moontero
mampiiirr👍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!