NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN SANG PEWARIS SAKTI

KEBANGKITAN SANG PEWARIS SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Selama tiga tahun, Ye Chen hidup sebagai menantu benalu di keluarga Su. Dia mencuci pakaian, memasak, dan menerima setiap hinaan tanpa melawan demi melindungi istrinya yang dingin namun cantik jelita, Su Yuhan. Semua orang memanggilnya anjing pecundang, tanpa tahu bahwa di dalam nadinya mengalir darah keluarga paling berkuasa di ibu kota.
​Ketika sebuah konspirasi mengancam nyawa istrinya dan mertuanya memaksanya untuk bercerai demi menikahkan Yuhan dengan tuan muda kaya, sebuah liontin giok peninggalan ibunya menyerap darah Ye Chen dan membangkitkan Warisan Tabib Naga Sakti. Di saat yang sama, iring-iringan Rolls-Royce hitam dari ibu kota tiba di depan rumahnya.
​Mulai hari ini, sang naga telah membuka matanya. Mereka yang pernah menghinanya harus berlutut!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Tarian Jarum Perak dan Hadiah Tengah Malam

​Pukul dua dini hari, keheningan menyelimuti kompleks Vila Keluarga Su. Bulan purnama bersinar terang, namun tiba-tiba tertutup oleh awan kelabu yang tebal, menjerumuskan halaman vila ke dalam kegelapan pekat.

​Di luar tembok vila, tiga bayangan hitam berkelebat tanpa suara. Mereka mengenakan pakaian tempur ketat, topeng hitam yang hanya menyisakan celah mata, dan masing-masing menggenggam bilah belati melengkung yang diolesi racun mematikan.

​Mereka adalah Pasukan Bayangan Darah, elit pembunuh rahasia yang dipelihara oleh Keluarga Utama Su di Provinsi Jiangbei. Ketiganya memiliki tingkat kultivasi di Tahap Master Qi Dalam. Untuk ukuran kota sekecil Jiangcheng, mengirim tiga Master sekaligus untuk membunuh satu orang adalah sebuah pemborosan besar.

​"Target berada di kamar lantai dua sebelah kiri. Instruksi Tuan Muda Wenyuan: penggal kepalanya, dan jangan sentuh istrinya," bisik sang pemimpin, Bayangan Satu, melalui komunikator di telinganya.

​Dua bayangan lainnya mengangguk. Dengan kelincahan layaknya kucing liar, mereka melompati tembok setinggi tiga meter itu tanpa menimbulkan suara sekecil daun jatuh.

​Namun, saat kaki mereka baru saja menyentuh rumput halaman belakang...

​"Kalian terlambat lima belas menit dari perkiraanku."

​Suara yang sangat tenang dan santai terdengar dari atas kepala mereka.

​Ketiga pembunuh itu tersentak. Mereka serempak mendongak dan menatap ke arah balkon lantai dua. Di sana, duduk di atas pagar pembatas balkon, Ye Chen sedang memegang secangkir teh yang sudah dingin. Angin malam membuat kemeja tipisnya berkibar.

​Mata Ye Chen menatap ketiga pembunuh itu seperti elang yang menatap sekawanan tikus.

​Bayangan Satu memicingkan matanya. Terkejut? Ya. Tapi sebagai pembunuh profesional, ia tidak panik. "Mati!" perintahnya singkat.

​Dalam sekejap mata, Bayangan Dua dan Bayangan Tiga melesat ke atas, menendang dinding bata vila sebagai pijakan, dan melompat ke arah balkon dengan belati terhunus lurus ke jantung dan leher Ye Chen. Kecepatan mereka luar biasa, menghasilkan suara mendesing di udara.

​Jika ini adalah dua hari yang lalu, Ye Chen pasti akan meledakkan True Qi (Qi Sejati) untuk mementalkan mereka seperti yang ia lakukan pada Master Wu. Namun, malam ini, ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk menghemat energi spiritual demi melindungi meridiannya yang masih rapuh.

​Kalau begitu, mari kita gunakan bela diri murni, batin Ye Chen sambil tersenyum kejam.

​Alih-alih mundur, tubuh Ye Chen tiba-tiba meluncur ke depan, jatuh bebas dari balkon. Di udara, ia memutar tubuhnya dengan kelenturan yang mustahil dilakukan manusia normal, melewati celah sempit di antara dua bilah belati yang menusuk ke arahnya.

​Sret! Sret! Sret!

​Tangan kanan Ye Chen bergetar. Tiga batang jarum perak melesat dari sela-sela jarinya menembus kegelapan malam.

​Ini bukanlah Sembilan Jarum Penakluk Maut yang digunakan untuk menyembuhkan. Ini adalah Jarum Pengejar Jiwa!

​"Argh!"

​Terdengar suara rintihan tertahan. Di udara, tubuh Bayangan Tiga tiba-tiba menegang kaku. Sebuah jarum perak setipis rambut telah menancap tepat di titik akupunktur Yamen (titik mati di pangkal leher belakang). Tubuhnya jatuh menghantam tanah layaknya sekarung batu bata. Ia tewas seketika bahkan sebelum otaknya menyadari rasa sakit.

​Melihat rekannya mati hanya dalam satu detik, mata Bayangan Satu dan Bayangan Dua membelalak horor.

​Teknik Senjata Rahasia?! Dia bukan sekadar bisa bela diri, dia adalah monster!

​Ye Chen mendarat di atas rumput tanpa suara, menekuk lututnya sedikit, lalu menatap dua pembunuh yang tersisa. Napas Ye Chen sedikit memburu. Menggunakan teknik fisik tingkat tinggi tanpa perlindungan True Qi ternyata membuat otot-otot manusianya sedikit nyeri.

​"Dua tersisa. Ayo kita selesaikan sebelum istriku terbangun karena suara bising kalian," ucap Ye Chen santai, mengibaskan debu dari celananya.

​"Jangan sombong, Keparat!" raung Bayangan Dua. Ia meledakkan seluruh Qi Dalamnya, membuat otot-otot lengannya membesar hingga merobek baju tempurnya. Ia menerjang maju, mengayunkan belatinya ke leher Ye Chen.

​Ye Chen tidak menghindar. Ia melangkah satu langkah serong ke depan—Langkah Naga Terbang. Saat belati itu berjarak satu sentimeter dari kulit lehernya, tangan kiri Ye Chen bergerak ke atas, mencengkeram pergelangan tangan Bayangan Dua dengan akurasi mengerikan.

​Krek!

​Dengan satu putaran kasar, Ye Chen mematahkan pergelangan tangan pembunuh itu. Belati beracun itu terlepas, jatuh ke bawah. Tangan kanan Ye Chen menangkap gagang belati itu di udara, lalu dengan gerakan secepat kilat, ia menyayatkan bilahnya ke leher Bayangan Dua.

​Darah segar menyemprot mewarnai rumput hijau. Bayangan Dua memegangi lehernya yang robek, mundur beberapa langkah sambil mengeluarkan suara gurgling, sebelum akhirnya ambruk tak bernyawa.

​Kini, hanya tersisa Bayangan Satu.

​Sang pemimpin pembunuh elit itu gemetar hebat dari kepala hingga ujung kaki. Ketakutan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya kini mencengkeram jiwanya. Dua Master Qi Dalam dibantai dalam waktu kurang dari sepuluh detik, dan pemuda itu bahkan tidak menggunakan energi spiritual sedikit pun! Hanya mengandalkan kelincahan fisik, akurasi anatomi, dan kekejaman murni!

​"K-kau... kau sebenarnya siapa?!" Bayangan Satu mundur, kakinya terasa lemas.

​Ye Chen berjalan mendekat, belati berlumuran darah masih menetes di tangannya. Senyumnya di bawah sinar bulan tampak seperti senyum malaikat maut.

​"Aku? Aku hanyalah menantu benalu dari keluarga Su," kekeh Ye Chen. Ia menatap lurus ke arah pembunuh itu. "Siapa yang mengutusmu? Su Wenyuan?"

​"A-aku tidak akan bicara!" Bayangan Satu menggigit lidahnya, berniat bunuh diri.

​Namun tangan Ye Chen melesat lebih cepat, menancapkan satu jarum perak ke rahang pembunuh itu, membuat seluruh otot wajahnya lumpuh seketika.

​"Aku tidak butuh jawabanmu. Aku hanya butuh kepalamu untuk mengirim pesan," bisik Ye Chen dingin.

​Bilah belati itu berayun di bawah sinar bulan. Malam itu, halaman Keluarga Su diwarnai warna merah pekat.

​Setelah memastikan tidak ada lagi ancaman, Ye Chen mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Tang Zhenhai.

​"Master Tang, maaf mengganggumu selarut ini. Ada tiga kantong sampah organik di halaman belakangku. Tolong kirim orang untuk membersihkannya."

​Di seberang sana, Tang Zhenhai yang sedang tidur seketika terbangun, keringat dingin membasahi punggungnya. Ia tahu betul apa arti kata "sampah" dari mulut Ye Chen.

​"D-dimengerti, Tuan Ye! Tim pembersih saya akan tiba dalam lima menit!"

​"Satu hal lagi," Ye Chen melirik tiga jasad pembunuh berpakaian hitam itu. "Kumpulkan token identitas mereka, bungkus dalam kotak hadiah yang rapi, dan kirimkan ke kamar presidential suite Su Wenyuan di Hotel Grand Hyatt pagi ini juga."

​Keesokan paginya, pukul 07:00.

​Sinar matahari pagi yang hangat menyinari ruang makan vila keluarga Su. Aroma sedap nasi goreng seafood dan sup ayam jamur memenuhi udara. Ye Chen dengan mengenakan celemek Hello Kitty milik Yuhan sedang menata piring di atas meja makan, persis seperti suami rumah tangga teladan.

​Tidak ada satu pun bercak darah yang tersisa di halaman belakang. Seolah malam berdarah itu hanyalah ilusi.

​Su Yuhan menuruni tangga dengan pakaian kerja rapi. Wajahnya yang biasa sedingin es kini memancarkan aura cerah dan semangat. Kesuksesan peluncuran salep semalam telah membalikkan nasib perusahaannya.

​"Pagi, Ye Chen," sapa Yuhan, rona merah tipis terlihat di pipinya. "Baunya sangat enak."

​"Makanlah yang banyak. Hari ini kau akan sangat sibuk menandatangani kontrak," senyum Ye Chen sambil melepaskan celemeknya.

​Tepat saat mereka mulai makan, bel pintu berbunyi.

​Zhao Mei (ibu mertua) yang baru saja keluar kamar buru-buru membuka pintu. Di depan pintu, berdiri dua pria berjas hitam dari Asosiasi Harimau Putih yang menyamar sebagai kurir. Mereka membawa sebuah kotak kayu eksekutif yang sangat mewah.

​"Paket khusus untuk Tuan Ye Chen," ucap salah satu pria itu dengan sangat hormat.

​"Untuk menantuku tersayang? Wah, wah, pasti hadiah mahal!" Zhao Mei langsung menerima kotak itu dengan mata berbinar-binar. "Ye Chen! Ada paket untukmu!"

​Ye Chen berjalan ke ruang tamu dan mengambil kotak itu. Ia membukanya, dan di dalamnya terdapat sebongkah batu giok hijau jernih seukuran telapak tangan. Itu adalah Giok Hetian Kelas Imperial murni yang ia minta semalam. Di bawah giok itu, terdapat satu set alat ukir mini berlapis berlian.

​Mata Zhao Mei langsung terbelalak melihat giok tersebut. "A-astaga! Ini Giok Hetian? Warnanya sangat murni! Ye Chen, apakah ini hadiah dari keluarga Besarmu di Ibu Kota?"

​"Sesuatu seperti itu," Ye Chen menjawab seadanya.

​Yuhan menghampiri dan menatap giok itu dengan takjub. "Ini sangat indah, Ye Chen. Tapi untuk apa alat ukir itu?"

​Ye Chen mengambil bongkahan giok tersebut, lalu menatap Yuhan dengan serius. "Yuhan, dunia bisnis sangatlah kotor dan berbahaya. Aku tidak selalu bisa berada di sisimu setiap detik. Aku memesan giok ini untuk kubuatkan menjadi kalung jimat pelindung untukmu."

​Zhao Mei tertawa meremehkan, kebiasaan lamanya kumat. "Jimat? Ye Chen, kau ini pewaris keluarga triliunan dolar, kenapa percaya hal mistis kampungan seperti itu? Lebih baik giok ini dijual, harganya pasti puluhan juta!"

​"Ibu!" tegur Yuhan, lalu menatap suaminya lembut. "Kau... mau mengukirnya sendiri untukku?"

​Ye Chen mengangguk. Ia membawa giok itu ke sudut ruangan. Dengan menggunakan alat ukir berlian itu, tangannya mulai bergerak dengan kecepatan yang sulit diikuti mata. Serpihan giok jatuh ke lantai.

​Namun, Yuhan dan Zhao Mei tidak bisa melihat bahwa saat Ye Chen mengukir, seutas aliran emas (True Qi) dialirkan ke ujung pisau berlian tersebut. Ye Chen sedang mengukir Formasi Penghalang Pasir Emas, sebuah teknik kuno dari memori Tabib Naga. Di akhir ukirannya, Ye Chen diam-diam menggigit ujung jarinya, meneteskan setetes darah naga-nya tepat di tengah ukiran, yang langsung terserap oleh giok itu hingga memancarkan kilau kemerahan samar dari dalam.

​Hanya butuh waktu sepuluh menit, bongkahan giok itu telah berubah menjadi liontin kalung yang sangat indah dengan ukiran bunga teratai yang tampak hidup.

​Ye Chen memasangkan tali sutra merah, lalu berjalan menghampiri Yuhan.

​"Berbaliklah," ucap Ye Chen lembut.

​Yuhan menurut. Ye Chen mengalungkan giok itu ke leher putih istrinya. Saat giok itu bersentuhan dengan kulit Yuhan, wanita itu tersentak pelan. Alih-alih terasa dingin seperti batu pada umumnya, giok itu memancarkan rasa hangat yang mengalir ke seluruh tubuhnya, membuat pikiran dan badannya seketika rileks.

​"Pastikan kau tidak pernah melepasnya, apa pun yang terjadi," bisik Ye Chen di telinga Yuhan. Bahkan jika peluru penembak jitu mengarah ke kepalamu, giok ini akan menahannya, lanjut Ye Chen dalam hati.

​Yuhan menyentuh giok di dadanya, matanya berkaca-kaca. "Aku berjanji. Aku tidak akan pernah melepaskannya."

​Sementara itu, di kamar Presidential Suite Hotel Grand Hyatt.

​Su Wenyuan sedang mondar-mandir dengan wajah panik, sesekali melihat ke arah jam dinding. Pukul delapan pagi. Seharusnya, sejak subuh tadi, Pasukan Bayangan Darah sudah menghubunginya dan membawa kepala Ye Chen. Tapi sampai detik ini, komunikator mereka mati total.

​Ting tong.

​Bel kamar berbunyi. Su Wenyuan segera berlari membuka pintu, berharap itu adalah anak buahnya.

​Namun, yang berdiri di sana hanyalah seorang bellboy hotel yang mendorong troli makanan kecil. Di atas troli itu terdapat sebuah kotak kado elegan berwarna hitam berpita merah.

​"Selamat pagi, Tuan. Ada paket kado untuk Anda, dititipkan di meja resepsionis subuh tadi," ucap bellboy itu.

​"Paket? Dari siapa?" Su Wenyuan mengerutkan dahi. Ia mengambil kotak itu. Agak berat. "Pergilah."

​Setelah menutup pintu, Su Wenyuan membawa kotak kado itu ke atas meja ruang tamu. Firasat buruk tiba-tiba merayapi tengkuknya. Tangannya sedikit gemetar saat ia menarik pita merah tersebut dan membuka tutup kotaknya.

​Jleb.

​Bau darah segar dan amis langsung menyengat hidungnya.

​Di dalam kotak kado putih yang indah itu, tergeletak tiga buah topeng hitam yang koyak berlumuran darah. Di atas topeng-topeng itu, terdapat tiga token kayu dengan ukiran 'Bayangan Darah', terbelah menjadi dua.

​Dan di bagian dalam tutup kotak itu, tertulis sebuah kalimat menggunakan darah tebal yang masih basah:

​[Lehermu sudah kupesan. Bersihkan dengan baik sebelum aku datang mengambilnya. - Ye Chen]

​"A-AAARRRGGHH!"

​Su Wenyuan menjerit histeris. Ia terhuyung mundur hingga tersandung sofa dan jatuh terduduk di lantai. Wajah pangeran arogan itu kini tak ada bedanya dengan mayat pucat. Tubuhnya menggigil hebat, celana mahalnya mulai basah oleh air kencingnya sendiri.

​Tiga pembunuh elit... Pasukan Bayangan Darah kebanggaan Keluarga Utama... dibantai tanpa sisa dalam satu malam!

​"M-monster... dia monster!" Wenyuan meratap. Ia segera merangkak mengambil ponselnya. "Aku harus pulang... aku harus lari dari kota gila ini sekarang juga!"

1
yos helmi
sdh banyak cerita seperti alur ini.. tp semua ng pernah tamat.. cerita ciplakan/saduran.. jd jgn harap tamat
Marthen
dari teknik bela diri penakluk naga apakah ada sutra naga penyerap energi agar kultivadinya naik lagi kan sayang energi musuh yg terbuang....?
Arinto Ario Triharyanto
mantap ini😎
Marthen
banjir darah mewarnai pesta ulangtahun
Arinto Ario Triharyanto
tegas lugas gak pake lama... mantul 😎
Marthen
seru sekaLi.....
Marthen
keren....suka dgn jalan ceritanya.....
Fajar Fathur rizky
cepat bantai Asosiasi bela diri sampai ke akar akarnya
Fajar Fathur rizky
cepat bantai semua musuhnya sampai ke akar akarnya
Fajar Fathur rizky
cepat bantai su zheng bikin dia menyaksikan sendiri pas yechen bantai semua klan su sampai ke akar akarnya bikin su zheng mengutuk putranya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!