"Dia cinta pertamaku, dan aku ingin berjuang untuk mendapatkannya"
Irena, gadis berkacamata yang sebelumnya bahkan tidak mempunya teman pria, namun tiba-tiba jatuh cinta pada pandangan pertama pada seorang pria tampan bernama Andreas. Pertama kali merasakan jatuh cinta, membuat dia antusias untuk bisa mendapatkan hati pria itu. Meski tidak jarang perjuangannya sama sekali tidak dihargai oleh Andreas. Bahkan pria itu seolah tidak menganggap kehadirannya.
"Sebaiknya kau berhenti berjuang dengan perasaanmu itu, karena aku tidak akan pernah membalas perasaanmu, semuanya hanya sia-sia"
Berbagai macam penolakan Irena bisa pahami, dia tidak menyerah begitu saja. Namun, ketika Andreas sendiri yang mengatakan jika dia tidak akan pernah mencintainya, karena ada perempuan lain yang dicintainya. Maka saat itu semua harapan runtuh tanpa jejak, semua perjuangan sia-sia. Dan Irena mulai mundur, mengasingkan diri dan mencoba melupakan cinta pertamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengirim Pesan
Irena kembali ke rumahnya malam hari, dia pergi bekerja di sebuah Cafe setelah selesai jam kuliah. Mengacak rambut adiknya yang sedang duduk di ruang tengah.
"Kakak ih, apaan sih" teriak Farel.
Irena hanya tertawa kecil, dia berjalan ke arah dapur melihat Ibu dan Ayah yang sedang duduk di meja makan dengan secangkir kopi untuk Ayah dan segelas susu untuk Ibu. Irena datang menghampiri mereka, mencium pipi Ayah dan Ibunya.
"Sudah pulang Kak, bagaimana hari ini?" tanya Ibu.
Irena menarik kursi di samping Ayah dan duduk disana. Mengingat kembali kejadian hari ini, cukup membuat moodnya senang. "Hari ini, cukup baik Bu. Ada seminar di kampus aku, dan pembicaranya sangat tampan"
Ayah tertawa kecil, dia mengusap kepala anak gadisnya ini. "Sepertinya anak Ayah sudah dewasa ya. Sudah bisa merasakan cinta sepertinya, Bu"
"Iya Yah, bagaimana ini? Padahal kita belum siap melihat dia meninggalkan rumah ini dan dibawa oleh suaminya"
"Ish, Ayah sama Ibu apaan sih. Irena masih sendiri ya, belum mau menikah juga. Janji Irena akan lulus kuliah dan membantu Farel untuk kuliah juga. Tidak langsung menikah juga"
"Haha.. Yasudah, sekarang kamu cepat mandi. Biar Ibu siapkan makanan untuk kamu"
"Terima kasih Ibu" Irena memeluk Ibunya dan mencium pipinya beberapa kali.
"Iya, iya cepat sana mandi. Kakak bau"
"Ish, biarin aja"
Setelah selesai makan, irena kembali ke kamarnya. Duduk bersila di tas tempat tidur single itu. Tangannya fokus pada ponsel di tangannya dan kartu nama. Memasukan nomor ponsel Andreas di ponselnya dengan wajah berseri.
"Apa aku kirim pesan saja ya, tapi bagaimana aku memulai pesan ini"
Irena sedikit bingung dan gugup saat ingin mengirim pesan pada nomor Andreas. Namun lagi-lagi hatinya penuh keberanian untuk saat ini. Entah kenapa Irena merasa jika dirinya begitu berani untuk mendekati Andreas. Padahal seharusnya dia tahu jika pria itu memilki dinding pemisah yang terlalu tinggi.
Hai Kak, aku Irena.
Akhirnya hanya pesan singkat itu yang dia kirim. Menunggu pesannya terbalas sambil terus menatap layar ponselnya. Tapi pesan itu belum juga terbaca sampai satu jam kemudian. Akhirnya Irena merasa lelah menunggu dan dia pun tertidur dengan ponsel masih berada dalam genggaman tangannya.
*
Suara tawa di dalam sebuah rumah minimalis itu begitu menggema. Beberapa botol dan kaleng minuman berserak di atas meja dan juga lantai. Satu orang duduk di sofa tunggal dengan seorang gadis duduk di atas pangkuannya. Meraba dan menggodanya.
"Davin, berkan gadismu padaku. Aku sedang ingin melepaskan" ucap Bayu.
Davin berdecak kesal, dia mendorong gadis di atas pangkuannya tanpa berpikir lagi. "Ambilah, lagian kau kenapa tidak bawa gadismu sendiri?"
"Tidak ada yang menarik"
Bayu langsung membawa gadis itu ke sebuah kamar di sana untuk bersenang-senang semalam.
Melihat dua temannya yang masih saja seperti ini, bermain wanita bayaran sepuas mereka. Meski ada sesuatu yang membuat mereka menjadi seperti ini. Andreas hanya menghela napas pelan, dia menutup buku di tangannya.
"Sampai kapan kalian akan bermain wanita seperti itu? Nanti kena akibatnya baru tahu rasa"
Davin menatap Andreas dengan santai, satu kaleng minuman di teguk kasar. "Hanya bersenang-senang, lagian belum tentu ada wanita yang bisa membuatku jatuh cinta. Hey Andreas, kau saja yang seperti ini belum pernah membawa wanita manapun ke rumah kita ini"
Dalam sekejap Andreas langsung teringat dengan gadis berkacamata tadi siang. Dia tertawa sendiri mengingat ekspresi wajah gadis itu yang meminta nomor ponselnya dengan begitu berani.
Melihat temannya seperti Andreas tiba-tiba tertawa, membuat semua orang terdiam dengan wajah kaget dan tertegun. Bara yang duduk di sampingnya langsung memegang kening Andreas.
"Tidak panas, kau tidak salah minum obat 'kan?"
Andreas berdecak kesal, dia menyingkirikan tangan Bara dari keningnya dengan kasar. "Siapa yang sakit, kenapa juga harus minum obat sialan!"
"Ya, kau tiba-tiba tertawa mengerikan begitu" ucap Byan.
"Ck, aku punya cerita menarik hari ini. Dan kalian pasti akan terkejut" ucap Andreas sambil menatap ke arah teman-temannya yang menunjukan wajah penasaran.
"Cerita apa? Kalau sampai membosankan, ku tembak kau!" ketus Davin.
"Tadi siang saat aku mengisi seminar, ada seorang gadis culun yang tiba-tiba meminta nomor ponselku. Hahaha"
Bugh.. Byan melemparkan bantal sofa pada sahabatnya ini. "Siapa gadis sial itu? Kenapa berani sekali?"
Andreas mengangkat bahunya acuh, mengambil segelas minuman di atas meja. "Aku tidak tahu, tidak aku tanyakan namanya. Untuk apa juga"
"Tapi kau berikan nomor ponselmu?" tanya Bara dengan tidak percaya.
Andreas mengangguk pelan, menyimpan kembali gelas minuman yang sudah dia minum isinya. "Ya, aku ingin melihat saja seberapa berani dia mendekatiku. Semua gadis yang ingin dekat denganku, akan mundur dengan sendirinya"
"Haha.. Gila, kau hanya ingin menjadikan dia mainan saja? Tapi, kenapa kau tidak pernah mau mencoba berpacaran saja?" tanya Byan.
"Belum ada yang bisa menggantikan dia" Suaranya berubah rendah, tatapannya berubah sangat dingin, seperti hidup yang dia jalani selama ini.
Bara langsung menepuk bahu sahabatnya itu. "Dia tidak akan kembali Andreas, apalagi yang kau harapkan"
"Tidak ada, tapi aku hanya belum bisa menemukan penggantinya" Andreas berdiri dari duduknya. "Aku pulang duluan ya"
"Pergilah" ucap Davin dengan menggerakan tangannya seperti sengaja mengusir Andreas. "Kau tidak akan bisa senang jika sudah mengingatnya, sebaiknya kau pulang dan beristirahat"
*
Mobil yang melaju kencang itu berhenti di sebuah jembatan. Andreas turun dari mobil dengan mengambil rokok dan korek. Berdiri di depan pagar jembatan dengan menyalakan satu batang rokok dan menghisapnya.
Pikirannya berkelana tanpa arah, ada sebuah luka yang disembunyikan, kesepian dan kehilangan yang tidak benar orang-orang bisa mengerti. Menatap cincin yang masih dia simpan di sebuah kalung yang dia pakai kemana pun dia pergi.
"JIka masih ada kesempatan dan keajaiban dari Tuhan, aku berharap kau kembali dengan baik-baik saja"
Hanya itu doa yang selalu dia ucapkan dalam setiap renungan kesendiriannya. Ada sosok yang dia tunggu kembali, namun masih menjadi misteri dia akan kembali atau mungkin tidak sama sekali.
Andreas membuka ponselnya, melihat ada pesan dari nomor ponsel yang tidak dia simpan. Membukanya dan dia mengerutkan kening melihat pesan itu.
Hai Kak, aku Irena.
Andreas menatap layar ponselnya yang menunjukan pesan itu. Masih dengan kening berkerut bingung. "Irena? Siapa dia? Aku tidak punya kenalan bernama Irena"
Lama Andreas berpikir sampai dia ingat kejadian tadi saing. Langsung tersenyum tanpa alasan. "Dia bear-benar berani sekali langsung mengirimkan pesan padaku"
Tanpa berniat membalasnya, Andreas kembali memasukan ponsel ke dalam saku jaketnya. Kembali ke dalam mobil dan pergi dari sana di waktu yang sudah hampir dini hari.
Bersambung
Yuhuu.. Yang nungguin cerita ini siapa? Awas aja kalo sampe gak di baca, aku ngambek ya..
kan papa Andreas seorang diri pasti Irena
menerima dengan senang hati wanita tulus biasanya mau melakukan hal baik
tujuan nya baik pasti akan selalu di sayang
banyak orang,,,ga sabar papa Andreas gendong cucu menjaga nya dan teriak Irena anak mu nagis minta susu ,,, bagaimana bahagia nya papa Andreas ,,,ibu ayah di kelilingi banyak orang baik'
akan kelain hati ❤️🌹🌹😂😂sweet banget si bikin n baper unyu unyu
seolah mengakui bahwa Ak lah ibu nya ,,,
ibu yang seperti apa ,,, tidak seperti keluarga calon mertua putramu hidupnya sederhana tidak punya harta berlimpah hanya cukup buat makan dan hidup sehari-hari tetapi sangat menyayangi putra dan putrinya hingga putramu selalu merebes matanya ketika melihat calon mertuanya menasehati anak anak nya dengan lemah lembut ,,,
ak sudah mak 😂jadi ngalah deh buat yang masih jomblo 😁
untung ga pingsan,,, aduh itulah para tuan tua sultan kalau sudah BUCIN mana ad yang bisa menggangu nya bisa senyap sekejap
sare,,,Tuhan tidak tidur,,sudah kehilangan pekerjaan mana menanggung adek atau orang tua atau cicilan dan di tambah tidak bisa bekerja di kantor manapun di beklis
pada mimpi' apa semalam lihat Yumna istri Bos Gavin mantan suaminya kan jahat sekarang nasibnya di hotel prodeo,,,👍😁