Meski tidak di awali dengan baik, bahkan sangat jauh dari pernikahan impian nya. sejak kalimat akad di lantunkan, saat itu ia bersumpah untuk mencintai suami nya, bahkan dalam keadaan terburuk sekalipun.
Tanpa Arina tau kalau detik itu juga ia dengan sadar membakar hidup nya, dunia nya bahkan cinta nya dengan perihnya api neraka pernikahan .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanillastrawberry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
selingkuh
Arina menggigit bibir bawah nya, sesekali ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi lalu beberapa saat kemudian ia kembali menegakkan punggung nya. Hal seperti itu ternyata lebih menarik dari pada ia harus berjalan mondar-mandir di tempat seramai ini sekedar untuk menyalurkan kegelisahan nya.
Segelas lemon tea yang ia pesan beberapa saat lalu menjadi objek yang menarik untuk di pandangi nya tanpa berniat untuk menyentuhnya apalagi meminum nya saat ini, meski sesekali ia melirik ke arah ponsel nya setiap benda itu menyala.
" Selamat siang, nona Arina." Arina mendongak bahkan sebelum pria tua dengan kaca mata tebal itu menyapa nya, berbekal sudut matanya yang menangkap sepasang pantofel yang berhenti di samping mejanya, ia sudah tau jika seseorang yang di tunggu nya sudah datang.
" selamat siang bapak Alwan" Reflek Arina berdiri, lalu menyambut uluran tangan pria itu dengan wajah yang tampak sumringah.
" maaf telah membuat anda menunggu terlalu lama."
" tidak masalah." Yang terpenting sekarang penantian nya telah berakhir, Setelah mempersilahkan untuk duduk, Arina memesankan beberapa Snack dan minuman, Arina pun tak sungkan membahas inti pembicaraan yang membawanya dan pria itu bertemu di sini.
Pak Alwan, pria setengah baya itu tampak fokus pada map di tangan nya." kasus nya cukup berat." hanya satu kalimat itu saja, tapi sanggup membuat nya lemas. Iya dia tau, kasus ayah nya ini memang sangat berat. Apapun penyebabnya, Ayahnya tetap berada di pihak yang bersalah.
" tolong pak, usahakan hukuman seringan mungkin untuk Ayah saya." memang hanya itu yang bisa di mintanya, karena tidak mungkin ia bisa membebaskan Ayahnya dari jerat hukum karena kecelakaan itu memakan korban, dan masing-masing keluarga korban tengah menuntut keadilan saat ini.
" Akan kami usahakan, mbak Arina. Yang terpenting sekarang mbak Arina teruslah berdoa semoga keberuntungan ada di pihak kita" Arina mengangguk, lalu menyeruput lemon tea nya, tubuh nya menjadi sedikit rileks setelah nya.
Ia tak berminat beranjak dari kursi nya meskipun pak Alwan sudah pergi dari beberapa menit yang lalu, pandangan alam yang di tawarkan cafe ini sedikit bisa memberikan kedamaian untuk nya.
Meski agak ramai, banyak suara yang saling bersahutan dari meja-meja di dekat nya. Tapi, ia tidak merasa terganggu sama sekali, justru hal itu membuat nya semakin tenggelam dengan pikirannya sendiri.
Suara tawa yang berasal dari pintu masuk berhasil mengusiknya, bukan karena terganggu, tapi karena suara itu cukup familiar di pendengaran nya.
Arina mematung saat melihat dua orang yang tampak di mabuk asmara itu, si wanita yang bergelayut manja pada lengan si pria, Sesekali pria itu mencubit ujung hidung wanita nya dengan gemas, dunia seakan milik berdua tapi justru hal itu menjadi pukulan yang sangat menyakitkan untuk nya.
Arina meremas ujung kemeja nya, bahkan saking asyiknya mereka sama sekali tidak peduli dengan pandangan sekitar. Salah, mungkin hanya pandangannya. Karena selain dirinya tak ada yang memperdulikan tingkah mereka berdua.
" Devan!" lirih nya tepat saat sepasang pria dan wanita itu melewati mejanya, ia bisa melihat pria itu sangat terkejut manakala pandangan mereka beradu.
" Arina" Arina tersenyum miring, meski kedua matanya memberikan reaksi berlawanan. Ia menarik tangannya ketika Devan hendak menyentuhnya.
" Siapa dia, sayang?" panggilan sayang yang meluncur dari bibir wanita itu semakin membuat luka nya menganga. Namun, nasib baik dirinya sedang kehabisan tenaga saat ini, kasus Ayah nya sudah sangat menguras energi nya.
Devan tampak kalang kabut, pria itu berusaha melepaskan tangan wanita itu yang kembali bergelayut manja pada lengannya, sehingga wanita itu mencebik.
" kamu tunggulah di sana." Devan menunjuk salah satu meja kosong yang cukup jauh dari meja nya, wanita itu tampak keberatan.
" tapi, yang!"
" tunggu di sana ku bilang!"
Apalagi ini tuhan, rasanya ia seperti ingin mencakar-cakar wajah pria yang setahun belakangan ini menyirami perasaannya dengan cinta.
" kamu selingkuh, Dev?" sebenarnya ia ingin bereaksi lebih dari itu, seperti menamparnya, menjambak selingkuhan nya, memaki mereka berdua, bahkan memviralkan nya. Lumayan kan, selain dapat duit ia juga mendapatkan simpati dari seluruh wanita di Indonesia raya ini.
Karena pelakor adalah musuh utama semua wanita di muka bumi ini, tapi, sekali lagi ia tidak memiliki minat untuk melakukannya. Seluruh emosinya sudah habis terkuras.
" kita bicara di luar!" Arina kembali menarik tangannya, saat Devan akan meraih nya kembali, wajah pria itu semakin tertekan. Ia berharap Arina bisa di ajak kerja sama meskipun itu sangat mustahil.
" tidak ada yang perlu di bicarakan!" Arina menyelendang tas nya, meraih ponsel nya lalu berniat pergi. Seperti dugaan nya, Devan mengejarnya lalu menghentikan nya ketika mereka berada di parkiran.
" tolong jangan salah paham, aku melakukan ini karena ada alasannya."
Arina tersenyum remeh. " Alasan orang selingkuh itu karena gatal saja, kamu selingkuh karena tidak bisa mendapatkan apa yang kamu mau dari aku kan?"
suaranya naik beberapa oktaf. Rasanya sakit sekali melihat pria yang di gadang-gadang akan menjadi suaminya berselingkuh di belakangnya. Bahkan, Devan tampak sangat bahagia, seakan ia tidak pernah ada dalam hidupnya.
Tak ada alasan lain yang terpikirkan oleh Arina, beberapa kali Devan mengajaknya berhubungan lebih dari sekedar make out. Meski kilatan matanya menunjukkan kekecewaan karena ia menolak nya, namun Devan tetap bersikap baik padanya.
Itulah mengapa ia masih mempertahankan Devan sejauh ini karena laki-laki itu tidak pernah memaksakan kehendak pada nya.
" bukan seperti itu, Rin___" Devan menghentikan ucapannya ketika ia mengangkat tangannya, memberikan gestur pada nya untuk diam.
" jadi karena ini kamu akhir-akhir ini menjauhiku dengan alibi sibuk? Hebat kamu Dev! Aku pikir kamu satu-satu nya pria tulus di tengah miris nya komitmen pada prinsip laki-laki "
Arina menggapai handle pintu mobil nya, mengabaikan Devan yang terus berusaha untuk mengatakan sesuatu padanya.
secepat kilat ia menggapai tissue untuk menyeka air matanya dan menyusut hidungnya, mengabaikan Devan yang terus mengetuk kaca mobil nya.
Setelah dirasa cukup kuat, ia menarik kalung yang melingkari leher nya lalu melepas jam tangannya sebelum membuka kaca film di sebelahnya. " aku kembaliin! Kita pu-tus !" setelah melemparkan kedua benda itu, Arina menancap gas nya untuk pergi dari sana.
Arina menggapai ponselnya ketika benda itu berbunyi, beruntung ia melihat sekilas pada ponselnya sebelum mematikan nya karena berpikir kalau yang menghubungi nya adalah Devan. Ternyata itu Salsabila, atasannya di kantor.
" halo mbak!" kalau sedang di luar jam kerja, Arina memang tidak terlalu formal pada Salsabila. Selain karena keinginan wanita itu sendiri, hubungan mereka di kantor maupun di luar terbilang cukup dekat.
"______"
" maaf mbak, bisa di lempar ke yang lain nggak? Aku lagi nggak bisa pergi jauh-jauh ini. Kamu tau sendiri kan masalah yang aku hadapi sekarang?"
Salsabila memang tau apa yang menimpanya saat ini, di tengah-tengah badai yang menghantam psikis Ayahnya, ia tak bisa berjauhan dari nya. Ia ingin melihat nya setiap hari, memantau kondisi nya yang semakin memprihatinkan.
"______" Arina lemas seketika, karir nya dipertaruhkan kalau ia menolak menangani proyek kali ini, Sedang ia butuh banyak biaya untuk memperjuangkan keadilan untuk ayah nya.
" baiklah mbak" lirih nya sebelum mengakhiri sambungan teleponnya. Bagaimana lagi, beginilah konsekuensi kerja ikut orang. Bagaimanapun keadaannya, ia di tuntut untuk tetap bersikap professional. Ia tak menyalahkan Salsabila karena wanita itu juga pekerja di sana, sama seperti dirinya.