Di dunia kultivasi yang dipenuhi ambisi dan pengkhianatan, Lin Feiyan terlahir tanpa emosi—sebuah “kekosongan hidup” yang seharusnya membuatnya lemah. Namun kekosongan itu berubah menjadi sumber kekuatan paling menakutkan: Dao Kehampaan, hukum yang dapat menghapus apa pun hingga tak tersisa.
Ketika Heartshatter Temple—tempat yang membesarkannya—menghancurkan tubuh dan jiwanya demi eksperimen, Feiyan bangkit kembali tanpa hati, tanpa rasa takut, dan tanpa batas.
Dengan teknik yang menelan cahaya, ingatan, dan keberadaan, ia melangkah di jalur kultivasi yang bahkan para dewa tidak berani sentuh.
Namun di balik kehampaannya, ada rahasia kelam tentang kelahirannya… rahasia yang bahkan Void sendiri tidak mampu sembunyikan.
Satu langkah demi satu pembantaian, Lin Feiyan naik melewati ranah mortal hingga immortal.
Bukan untuk balas dendam.
Bukan untuk kekuasaan.
Tapi karena kekosongan selalu lapar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cahaya yang Mengulurkan Tangan
Pagi di Sekte Awan Jernih selalu dimulai dengan suara angin yang membawa aroma dedaunan basah. Kabut tipis menggantung rendah di atas halaman pelatihan, menciptakan kilau lembut ketika matahari perlahan naik di balik tebing timur. Para murid baru biasanya berkumpul saat matahari sudah naik, tetapi Lin Feiyan datang lebih awal.
Ia berdiri di tengah halaman yang masih kosong, menarik napas perlahan mengikuti irama pengaturan napas dasar. Suasana masih sepi, hanya terdengar gemerisik daun dari pohon willow spiritual yang tumbuh di tepi halaman. Cabang-cabangnya menjuntai seperti selimut hijau yang melindungi tempat itu dari hiruk-pikuk dunia.
Feiyan membentuk lingkaran kecil dengan kedua tangannya, mencoba mengarahkan Qi lembah masuk melalui jalur napas. Meski alirannya tetap tersendat seperti kemarin, pagi yang jernih membuat perasaannya lebih ringan.
“Aku hanya harus mencoba sedikit demi sedikit,” gumamnya.
Langkah kaki terdengar pelan di belakang. Feiyan membuka mata.
Tiga murid senior berjalan mendekat. Jubah mereka lebih gelap, menandakan status yang lebih tinggi di sekte. Postur mereka santai, namun dari cara mereka memandang Feiyan, ada sesuatu yang tidak seimbang. Tatapan mereka seperti seseorang yang memandang barang baru yang ingin mereka mainkan sebentar.
“Ah, kau murid baru itu,” kata yang tertinggi, suaranya terdengar sopan tetapi dingin di ujungnya. “Datang pagi-pagi sekali, hm? Mungkin ingin mengejar ketertinggalan?”
Feiyan tersenyum kecil, menunduk sopan. “Selamat pagi, senior. Aku hanya ingin berlatih sedikit lebih awal.”
Senior kedua, yang tubuhnya agak lebih kekar, mengangguk sambil tersenyum tipis. “Kerja keras itu penting, tentu saja. Tapi dengan talenta… apa tadi? Kelas biasa? Kau perlu bekerja dua kali lipat, bukan?”
Nada itu terdengar seperti pujian di permukaan, tetapi jelas mengandung ejekan halus. Senior ketiga—yang paling muda di antara mereka—berdiri sambil menyilangkan tangan, memeriksa Feiyan dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Talenta biasa,” ulangnya, seolah rasa heran itu lucu. “Kalau begitu, untuk memulai hari, mungkin ada sesuatu yang bisa kau lakukan untuk kami.”
Feiyan mengangkat wajah. “Melakukan… sesuatu?”
Senior pertama tersenyum, menunjukkan gigi putihnya yang rapi. “Ya. Kau murid baru. Biasanya mereka membantu senior menyiapkan air minum sebelum latihan pagi dimulai. Ember-ember di sumur belakang sudah penuh. Bawakan ke sini.”
Nada itu sopan. Tidak ada teriakan. Tidak ada paksaan secara langsung.
Namun Feiyan mengerti. Tugas itu bukan bagian dari aturan sekte.
Ia tersenyum lembut. “Senior, maaf… aku ingin memulai latihanku hari ini. Kalau kalian butuh bantuan, aku bisa membantu setelah latihan selesai.”
Mata senior kedua menyipit sedikit. “Kau menolak?”
“Aku tidak menolak,” jawab Feiyan cepat, tetap tersenyum. “Aku hanya belum menyelesaikan latihanku.”
Senior ketiga melangkah maju. Tangannya terulur cepat dan menarik kerah jubah Feiyan, namun tidak sampai melukai—hanya cukup untuk mengejutkannya.
“Kau baru masuk, dan sudah bicara seperti itu?” bisiknya.
Feiyan tidak melawan. Ia hanya menahan napas, mencari cara agar situasi tidak memburuk. “Maaf… aku tidak bermaksud menyinggung.”
Senior pertama hendak menambahkan komentar ketika suara langkah ringan terdengar dari sisi halaman.
“Apa yang kalian lakukan?”
Suaranya lembut, tidak tinggi, tetapi cukup untuk membuat ketiga senior itu menoleh.
Gao Lian berjalan menghampiri mereka. Gaun biru pucatnya bergerak pelan mengikuti langkahnya. Rambut hitamnya tergerai rapi. Mata jernih itu memandang ketiga senior tanpa rasa takut, tetapi juga tanpa tanda marah. Hanya satu hal yang jelas: ia ingin tahu apa yang sedang mereka lakukan.
Senior kedua cepat-cepat melepaskan kerah Feiyan. “Ah, Lian-shimei. Tidak ada yang kami lakukan. Kami hanya berbicara dengan junior baru.”
Feiyan berdiri tegak, menyentuh bagian kerahnya yang kusut. Gao Lian berdiri sedikit di depannya—jarak yang kecil, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia tidak ingin Feiyan didorong atau disentuh lagi.
“Berbicara?” ulang Lian pelan.
Nada suaranya halus, tetapi tatapannya dingin seperti embun yang belum tersentuh matahari.
Senior pertama tersenyum sopan, tetapi senyum itu kaku. “Tentu. Kami hanya memberi saran agar dia bekerja keras. Bukankah talenta biasa membutuhkan arahan lebih banyak?”
Tatapan Lian tetap, tidak berubah. “Arahan? Atau perintah?”
Ketiganya saling pandang singkat. Senior ketiga mencoba tertawa kecil. “Shimei… kau salah paham. Kami tidak bermaksud buruk.”
Lian mengangkat alis tipisnya sedikit. “Kalau begitu, kalian tidak keberatan pergi.”
Senior kedua membuka mulut hendak membalas, tetapi senior pertama mengangkat tangan menahannya. Ia tersenyum kaku pada Lian.
“Tentu. Kalau itu permintaanmu.”
Sebelum pergi, mereka memberi Feiyan tatapan sekilas—tatapan yang tidak lagi meremehkan, tetapi menyimpan sesuatu yang lain. Rencana. Minat. Bukan pada Feiyan, tetapi pada seseorang yang berdiri di sampingnya.
Gao Lian.
Tatapan itu menghilang ketika mereka menjauh dari halaman.
Feiyan menghembuskan napas pelan, seolah ia baru menyadari bahwa udara pagi lebih bebas tanpa tiga senior itu di sekitarnya. Ia menunduk pada Lian.
“Terima kasih. Maaf kalau aku merepotkanmu.”
Lian menoleh padanya. “Mereka tidak seharusnya mengganggumu.”
Feiyan menggeleng pelan. “Tidak apa. Aku… baik-baik saja.”
“Tadi tidak terlihat begitu,” jawab Lian dengan nada datar.
Feiyan terdiam. Wajahnya memerah sedikit. “Aku hanya tidak ingin membuat masalah.”
“Kadang,” ucap Lian sambil memandang daun willow yang bergerak di atas kepala mereka, “berusaha terlalu baik justru membuatmu disakiti.”
Feiyan memandang ujung sepatunya. “Mungkin.”
Lian menatapnya lagi. Ada kehangatan samar di balik ketenangan datar itu. “Apa kau terluka?”
“Tadi tidak terlalu kuat,” jawab Feiyan jujur. “Aku lebih kaget daripada sakit.”
Lian mengangguk, pelan, hampir seperti mengonfirmasi sesuatu dalam pikirannya. “Baiklah.”
Ia membiarkan keheningan mengalun sejenak sebelum bertanya,
“Kau masih ingin berlatih?”
Feiyan mengangkat wajah, dan senyum kecil muncul di bibirnya—senyum penuh ketulusan yang tetap bertahan meski pagi itu memberinya luka kecil.
“Iya,” jawabnya. “Aku masih ingin mencoba.”
Untuk pertama kalinya sejak pagi itu, Lian terlihat sedikit tersenyum—senyum lembut yang hanya bertahan sekejap, seperti bayangan cahaya di permukaan danau. Namun cukup untuk membuat dada Feiyan terasa hangat.
Angin pagi berhembus lagi, membawa aroma bunga liar dari ujung halaman. Cahaya matahari mulai menembus kabut, memantulkan kilau pada daun willow spiritual. Di tengah pemandangan itu, Feiyan kembali duduk bersila, mencoba latihan pengaturan napas.
Kali ini, ketika ia menarik napas, ada sesuatu yang terasa sedikit lebih ringan di dadanya.
Dan di belakangnya, Gao Lian berdiri tenang, memandangnya seperti seseorang yang memerhatikan bunga kecil yang baru tumbuh di sela batu.
Angin lembut bergerak melewati halaman latihan ketika Feiyan kembali menutup mata. Ia mencoba menata aliran napas, mengingat langkah-langkah dasar yang diajarkan pada murid baru kemarin. Meski masih sulit, ia berusaha perlahan, mengikuti ritme yang menurutnya alami: masuk, turun, mengalir, keluar.
Gao Lian duduk beberapa langkah di belakang, tidak terlalu dekat tetapi cukup dekat untuk mengawasi. Ia tidak mengeluarkan suara. Kehadirannya tenang seperti pancaran cahaya bulan. Bahkan ketika ia tidak melakukan apa pun, hawa di sekitarnya terasa lebih stabil, seakan dunia menyesuaikan diri dengannya.
Feiyan perlahan melepaskan napas, berhasil mempertahankan aliran Qi selama beberapa detik lebih lama daripada sebelumnya. Tidak cukup kuat untuk disebut perkembangan besar, tetapi cukup membuat hatinya lega.
“Sudah membaik,” ucap Lian pelan.
Feiyan membuka mata. “Serius? Aku merasa masih banyak yang salah.”
“Itu wajar,” jawab Lian. “Kau baru mulai. Tapi aliranmu lebih stabil daripada tadi pagi.”
Feiyan menunduk sedikit, tersenyum canggung. “Terima kasih… karena mau menunggu.”
“Tidak ada yang perlu diucapkan,” sahut Lian, suaranya tetap datar, tetapi nadanya lunak. “Aku hanya tidak ingin mereka mengganggumu lagi.”
Feiyan terdiam. Kata-kata itu sederhana, tetapi ada ketulusan di dalamnya yang membuat dadanya hangat. Selama ini ia terbiasa melakukan banyak hal sendiri. Ketika seseorang menawarkan perlindungan tanpa mengharapkan balasan, ia tidak selalu tahu cara merespons.
Ia membenarkan duduknya, lalu mencoba lagi. “Aku akan berlatih satu kali lagi.”
“Silakan,” kata Lian.
Feiyan menarik napas, menutup mata, dan mencoba mengikuti jalur Qi sesuai yang ia pelajari. Kali ini lebih lancar. Ia mencoba tidak terlalu memaksakan diri. Hanya mengalirkan Qi seperti air kecil yang mencari celah di antara batu.
Setelah beberapa saat, napasnya kembali teratur.
“Cukup untuk hari ini,” kata Lian ketika ia membuka mata.
“Sudah cukup?” tanya Feiyan.
“Kalau kau memaksa diri, jalur Qi-mu bisa memar. Banyak murid baru tidak mengerti kapan harus berhenti.” Lian berdiri, debu tipis di ujung jubahnya bergerak ketika angin lewat. “Latihan yang benar bukan yang keras, tetapi yang konsisten.”
Feiyan mengangguk, menyimpan kalimat itu baik-baik. Ia bangkit perlahan, merapikan jubah putih polosnya yang sedikit kusut karena latihan.
Saat ia hendak berbicara, suara langkah beberapa murid baru terdengar dari arah gerbang halaman. Mereka melihat Feiyan dan Lian berdiri cukup dekat. Bisik-bisik kecil langsung muncul.
“Eh, itu benar Gao Lian?”
“Dia latihan bareng murid baru?”
“Kenapa dia dekat dengan anak itu?”
Feiyan mendengar semuanya, dan wajahnya sedikit memanas. Ia bukan tipe yang suka menjadi pusat perhatian, apalagi bila namanya terseret karena seseorang yang begitu dihormati di sekte.
Lian, sebaliknya, tampak tidak terganggu. Ia membiarkan bisikan-bisikan itu melewati telinganya tanpa perubahan ekspresi sedikit pun.
“Jangan pedulikan mereka,” katanya.
“Aku tidak apa-apa,” jawab Feiyan cepat, meski sebenarnya ia sedikit canggung.
“Kalau begitu, mari pergi dari sini. Kau butuh tempat yang lebih tenang.”
Lian berjalan lebih dulu. Feiyan mengikuti di belakangnya, menuruni anak tangga batu yang mengarah ke taman kecil di balik halaman latihan. Taman itu jarang dikunjungi murid baru karena letaknya tersembunyi di antara dua bangunan paviliun. Di tengahnya berdiri sebuah batu besar berlumut dengan tulisan tua yang hampir pudar. Di sekelilingnya tumbuh bunga spiritual kecil berwarna ungu pucat.
“Tempat ini…” Feiyan berhenti sesaat. “Cantik.”
“Ini tempat favoritku,” kata Lian. “Jarang ada yang datang ke sini.”
Feiyan menyentuh kelopak salah satu bunga ungu itu. Aromanya lembut, seperti embun pagi. “Kau sering ke sini sendiri?”
Lian menoleh sedikit. “Tempat tenang selalu lebih jujur daripada manusia.”
Feiyan tidak sepenuhnya mengerti maksudnya, tetapi ia tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya duduk di batu datar dekat kolam kecil, memandangi permukaan air yang memantulkan bayangan daun-daun.
Lian berdiri di dekatnya, memandangnya selama beberapa detik. Ada sesuatu di matanya—halus, tetapi sulit dibaca.
“Kau tidak menyerang balik,” katanya tiba-tiba.
Feiyan menoleh. “Saat apa?”
“Tadi pagi. Ketika mereka mendorong dan mengejekmu.”
Feiyan menunduk kecil. “Aku tidak ingin membuat masalah.”
“Itu bukan alasan,” jawab Lian, namun bukan dengan nada menghakimi. Nada itu seolah hanya ingin memahami. “Banyak murid baru takut. Tapi kau bukan takut. Kau… terlalu lembut.”
Feiyan mengusap tengkuknya dengan canggung. “Aku hanya tidak ingin menyakiti orang.”
Lian memiringkan kepala sedikit, menatapnya lebih dalam. “Walau mereka menyakitimu terlebih dahulu?”
Feiyan terdiam. Angin menggerakkan permukaan kolam. Ia menjawab pelan, “Mungkin… aku hanya berharap kalau aku tidak membalas buruk, mereka suatu hari berhenti.”
Lian tersenyum kecil—bukan senyum bahagia, tetapi seperti seseorang yang mendengar sesuatu yang terlalu polos untuk dunia ini. “Harapan seperti itu jarang bekerja.”
“Aku tahu.” Feiyan menatap permukaan air yang bergetar. “Tapi kalau aku mulai membalas dengan buruk… itu juga bukan aku.”
Jawaban itu membuat Lian menunduk sedikit, seolah menyembunyikan sesuatu. “Kau aneh.”
“Maaf?”
“Bukan buruk,” lanjutnya. “Hanya berbeda.”
Keheningan kembali turun. Namun bukan keheningan canggung—lebih seperti jeda lembut yang menenangkan.
Setelah beberapa saat, Feiyan berdiri. “Aku… ingin berterima kasih. Karena menolongku.”
Lian menatapnya, dan untuk pertama kalinya hari itu, ekspresinya sedikit melembut. “Kau tidak perlu berterima kasih.”
“Tetap saja,” kata Feiyan. “Kalau kau tidak datang… aku mungkin—”
“Feiyan,” potong Lian, langkahnya maju setengah tapak. “Kau tidak sendirian.”
Feiyan terdiam, kata-kata itu seperti menembus langsung ke dadanya. Bukan karena maknanya besar, tetapi karena ia jarang mendengarnya dari siapa pun.
“Mulai sekarang,” lanjut Lian, “kalau ada yang mengganggumu, kau bilang padaku.”
Feiyan mengangkat wajah. “Lian… aku tidak ingin membuatmu repot.”
“Kau tidak merepotkan,” kata Lian, lirih. “Aku hanya… tidak ingin melihatmu diperlakukan seperti itu.”
Ada sesuatu dalam sorot matanya—sesuatu yang sangat lembut, tetapi juga sangat dalam, seperti cahaya yang belum sepenuhnya tersingkap.
Feiyan tersenyum kecil, hangat dan tulus. “Terima kasih.”
Lian tetap menatapnya. “Bungkukkan sedikit kepalamu.”
“Hah?”
“Hanya sebentar. Percayalah.”
Feiyan memiringkan kepala bingung, tetapi ia patuh. Lian mengangkat tangan kanannya, jari-jarinya tipis dan putih seperti ukiran giok muda. Ia menyentuh pelipis kiri Feiyan dengan gerakan lembut, nyaris tidak menyentuh.
Feiyan merasakan sensasi hangat, seperti benang halus yang menyentuh lapisan dalam kesadarannya. Tidak perih. Tidak keras. Hanya lembut, menenangkan—seperti seseorang yang mengusap kepala anak kecil agar berhenti khawatir.
“Apa ini…?” bisik Feiyan, matanya setengah terpejam.
“Hanya penyembuhan kecil,” jawab Lian dengan suara lembut. “Untuk membuatmu merasa lebih baik.”
Sentuhan itu berlangsung sebentar, lalu Lian menarik tangannya kembali.
Feiyan membuka mata. “Aku… merasa tenang.”
“Bagus,” ucap Lian sambil menghela napas pelan. “Dengan begini, kau bisa tidur nyenyak malam ini.”
Feiyan tersenyum, tidak menyadari bahwa sesuatu yang kecil—nyaris tidak terlihat—menempel lembut di kedalaman aliran Qi-nya. Segel halus itu memancar perlahan sebelum menyatu dalam dirinya, tersembunyi sempurna.
Lian menatapnya sebentar, matanya tetap tenang.
Shackled Heart Seal.
Bukan segel berbahaya, bukan pula segel penuh paksaan. Hanya sebuah simpul kecil—simpul yang mengikat emosi paling lembut agar tidak padam.
“Feiyan,” panggil Lian. “Ayo kembali sebelum para murid lain memenuhi halaman.”
Feiyan mengangguk, tidak terpikir apa pun selain perasaan hangat yang masih menyelimuti dadanya.
Ia berjalan lebih dulu, dan Lian menyusul pelan. Tatapannya jatuh sebentar pada punggung Feiyan yang kurus namun teguh.
Satu simpul sudah terpasang.
Halus.
Diam.
Tidak menyakitkan.
Dan ia tahu, ini baru permulaan.