Gimana jadinya kalau kau harus menikah dengan muridmu sendiri secara rahasia?? Arghhh, tidak ini gak mungkin! Aku hamil! Pupus sudah harapanku, aku terjebak! Tapi kalau dipikir-pikir, dia manis juga dan sangat bertanggung-jawab. Eh? Apa aku mulai suka padanya??!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2 : Sesuatu yang tak terduga
Di ruangan itu Rio berdiri seperti seseorang yang sedang menanti hukuman. Kecemasan jelas tergambar pada wajahnya yang cukup tampan meski tampak agak lelah.
Kepalanya menunduk, sesekali ia mencoba melirik ke arah sang kepala sekolah mereka yang masih muda dan berparas cantik di hadapannya. Dirinya berharap dan berdoa dalam hati, semoga saja wanita di depannya ini tidak memberikan sanksi yang berat.
"Mario...," ucap wanita itu akhirnya mulai berbicara. "Saya mendengar banyaknya keluhan dari beberapa guru tentangmu," ungkapnya yang kini jelas menatap Mario dengan tajam. Pandangannya seolah sedang menyelidik. "Mereka bilang, kau sering sekali tertidur di jam pelajaran, ada apa? Padahal namamu tercatat sebagai murid yang cukup memiliki prestasi, apa ada sesuatu?" Dia terdengar cukup khawatir.
Mario masih diam. Ia kebingungan harus mengatakan apa. Jujur kah? Atau, anggap saja tidak terjadi apa-apa?
"Mario??" Sang kepala sekolah kembali memanggil nama Mario karena pemuda itu kelihatan bengong.
"Maaf, Bu. Akhir-akhir ini saya memang kecanduan main game, jadi tidur selalu larut," balas Rio mulai menjelaskan, meskipun apa yang baru saja keluar dari mulutnya hanya kebohongan.
"Hah, ini tahun ajaran terakhirmu, jangan gegabah Rio," wanita itu menghela napas sesaat dan membuka sebuah buku besar. "Aku dengar kau berusaha mengejar beasiswa untuk universitas, jadi fokuslah ke sana dan jangan memikirkan hal lain."
"Ya, Bu, saya paham, Uh, ta-tapi nama saya enggak masuk daftar hitam 'kan?"
Wanita berparas blasteran Korea-Sunda itu hanya melirik yang membuat Rio justru semakin cemas. Namun, setelah beberapa detik, sang kepala sekolah akhirnya membuka mulut, hendak mengatakan sesuatu, tapi suara dering ponsel menghentikannya.
"Halo, apakah ini dengan Nona Risa yang kemarin melaporkan kehilangan tas mahalnya di bar kami?"
"Ah, iya itu benar, bagaimana? Apa sudah ada hasil?"
"Ya, kami sudah menemukan pekerja yang bertugas saat itu, jadi apakah anda bisa datang kemari?"
"Benarkah? Tentu! Saya akan segera ke sana sekarang juga!"
"Kami tunggu kehadiran anda, terimakasih."
Suasana menjadi berubah, fokus wanita itu kini teralihkan akan sesuatu. Tanpa banyak bicara lagi, ia segera merapihkan buku-bukunya ke dalam lemari dokumen. Setelah mengambil tasnya di atas meja, ia pergi berlalu begitu saja meninggalkan ruangan, melewati Rio yang hanya terbengong-bengong di dalam ruangan.
"Lho? Terus, ini bagaimana???" Rio melongok melihat sang kepala sekolah yang sudah menghilang dari balik pintu.
Heran tapi bercampur lega, itulah yang dirasakan oleh Rio. Tapi, kelegaannya tidak berlangsung lama, karena ponsel miliknya pun tiba-tiba berdering.
"Hmm, eh, ini 'kan...??!" Rio kaget sekali saat menyadari nomor yang menghubunginya adalah milik sang atasan. "Gak biasa-biasanya, tumben...," gumamnya dan menekan tombol terima panggilan dengan gugup.
"Halo, selamat pagi, Pak...," ucap Rio berusaha seramah dan sesopan mungkin.
"Apa kamu bisa datang sekarang ke bar?"
"Eh? Sekarang? Bukannya saya shift malam ya, Pak? Kalau sekarang saya sedang ada di sekolah." Rio berusaha menolak secara halus.
"Ada seorang pelanggan yang ingin bertemu denganmu, ini penting."
'Hah? Siapa? Tapi kayaknya beneran darurat nih kalau sampai boss yang nelepon.'
"Baiklah, Pak. Saya akan segera ke sana."
"Kami tunggu ya, Rio. Jangan sampai tidak datang."
Rio masih tidak memahami situasinya dan beranggapan mungkin ada seorang pelanggan yang butuh bantuannya. Sepertinya dia benar-benar sudah lupa dengan kejadian satu bulan lalu....
...****************...
Rio bergegas menuju ruang kelas dan melihat kelas sedang kosong.
"Weh, jagoan kita udah balik dari kandang macan neh!" Seru seorang pemuda sambil senyum-senyum saat melihat Rio masuk ke kelas.
"Gimana, gimana? Diapain sama kepala sekolah kita yang cantik dan bohay itu?" Tanya yang lain penasaran.
"Gak diapa-apain juga, dia juga pergi tuh," jawab Rio dengan cuek dan berjalan menuju kursinya.
Rio mengambil tasnya yang masih tergeletak rapih dan belum terbuka di atas kursi.
"Lu mau pulang?" Tanya Dika saat melihat Rio malah mengambil tas ranselnya.
"Iya, ijin ya, bilangin nyokap sakit jadi gua pulang dulu," jawab Rio tersenyum melas. Ah, hari masih pagi tapi dia sudah bohong dua kali.
"Oh, gitu, ya udah pulang aja!" Dika menepuk pundak Rio yang sudah hendak beranjak pergi. "Salam buat nyokap lu, cepet sembuh," sambungnya.
Rio akhirnya pergi menuju bar tempat ia bekerja menggunakan motor. Sebenarnya bar itu cukup jauh dari posisi sekolahnya, bisa menempuh waktu kurang lebih 2 jam, tapi kalau jalanan mulus dia bisa memangkas waktu sampai satu jam.
...****************...
Rio tiba di bar yang bertuliskan IZONE itu setelah satu jam lebih. Dia langsung pergi ke area parkir tanpa menyadari saat itu seorang wanita yang pagi tadi ia temui juga baru saja turun dari mobil sedan mewah dan berjalan tergesa masuk menuju bar.
Rio masih sibuk memarkirkan motor, merapihkan pakaiannya, melepas helm dan meletakkan jaket putihnya di atas motor kesayangan peninggalan sang ayah. Tak lupa dia melepas seragam sekolah yang sedang ia pakai dan memperlihatkan kaos biru gelap polos dibalik seragam itu.
Setelah yakin semua rapih dan tidak ada yang tertinggal Rio langsung keluar area parkir. Ia sempat menyapa sebentar si penjaga parkir yang memang sudah cukup akrab dengannya karena seringnya ketemu.
"Lho mas, bukannya masih shift malam, ya?" Tanya si penjaga keheranan.
"Iya nih, disuruh sama bos kemari," jawab Rio yang juga gak ngerti kenapa dia dipanggil pagi-pagi begini.
"Waduh, sama si bos? Emangnya ada masalah apa, mas?" Mendadak mimik muka si penjaga parkir berubah cemas dan serius.
"Masalah? Kayaknya enggak deh, emangnya penting banget ya?" Rio jadi was-was dalam hati setelah melihat reaksi dari kang Aris si penjaga parkir.
"Ya penting atuh, mas. Si bos gak bakalan turun-tangan kalau gak ada apa-apa." Jawaban si kang Aris malah bikin Rio semakin khawatir.
"Waduh, semoga aja gak ada apa-apa, deh," balas Rio berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"Kalau gitu, saya masuk dulu ya, Kang," ucap Rio dengan sopan.
"Sok atuh, mas."
...****************...
Tadinya Rio gak memikirkan apapun, tapi setelah mendengar ucapan dari Kang Aris dia malah jadi kepikiran. Apa ada sesuatu yang terjadi ya? Tapi dia selama ini belum pernah melakukan kesalahan. Datang selalu tepat waktu, tidak pernah lalai menjalankan tugas, dan dia gak pernah ada singgungan dengan pelanggan yang datang, kecuali....
Aha! Rio mendadak teringat dengan kejadian satu bulan lalu saat dia berusaha menolong seorang wanita yang mabuk di bar malam itu.
Wajah Rio memerah saat mengingat peristiwa tersebut. Semuanya terjadi begitu cepat dan di luar dugaannya. Ia hanya mengantarkan wanita itu ke tempat parkir untuk membantu, tapi siapa yang menyangka dia malah ditarik masuk ke dalam mobil dan setelahnya itu benar-benar tidak dapat dia kendalikan.
"Masa sih gara-gara itu? Ah, tapi gak mungkin 'kan...."
Rio berusaha menepis kemungkinan itu. Pasalnya sejak kejadian tersebut, wanita itu tak pernah ada melaporkan atau mengkontak. Lagian Rio juga gak terlalu jelas juga mengingat wajah si wanita.
Tanpa disadari Rio yang terlalu larut dalam pikirannya sendiri sudah tiba di depan ruangan kantor sang bos.
Rio sempat menarik napasnya dulu dalam-dalam agar lebih tenang sebelum mengetuk pintu.
Tok
TOK
Tok
"Permisi Pak, saya Rio," ucapnya dari luar.
"Masuklah Mario," balas suara seorang pria yang berat dan berwibawa.
Rio menelan ludahnya sesaat sebelum membuka pintu ruangan tersebut.
Krieet....
Pintu itu akhirnya terbuka pelan....
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
.
.
.
BERSAMBUNG....