NovelToon NovelToon
Dark Chocolate

Dark Chocolate

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Perjodohan / Romantis / Cintamanis / Patahhati
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Chayahuda

Cinta yang tulus terkadang harus rela melepaskan, meski hati tak pernah benar- benar siap.
Tiga tahun menjalani pernikahan, Elma akhirnya menyadari jika Maxime tidak pernah tulus mencintainya. Perjodohan dua keluarga itu nyatanya harus hancur karena bedanya prinsip, kerasnya ego dan kesalahpahaman yang dipendam.
Akankah Elma sanggup bertahan atau justru memilih melepaskan pria tersebut. Lantas bagaimana dengan Maxime! Akankah pria itu menyadari perasaannya.

#cintabutuhperjuangan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chayahuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BERDAMAI

Ruang Rawat —

Beberapa Saat Kemudian, setelah menjalani pemeriksaan dan mendapatkan penanganan awal, Elma akhirnya dipindahkan ke ruang rawat.

Ruangan itu cukup luas dengan interior bernuansa krem dan putih. Sebuah sofa panjang terletak di dekat jendela, sementara meja kecil di samping ranjang telah disiapkan untuk kebutuhan pasien.

Maxime membantu Elma mengatur posisi bantal. "Nyaman?"

Elma mengangguk. "Sedikit."

Maxime mengambil selimut yang terlipat di ujung ranjang, kemudian membantunya menutupi tubuh.

"Kalau masih sakit, panggil aku."

"Iya."

"Jangan turun sendiri."

"Iya, Maxime."

"Jangan bekerja."

Elma langsung menoleh. "Yang terakhir itu sulit."

Maxime menatapnya datar. "Elma."

"Aku hanya bercanda."

"Bagus. Karena aku tidak sedang bercanda."

Elma menggeleng pelan.

Maxime mengambil ponselnya dan meletakkannya di meja samping ranjang.

"Ini ponselmu?"

Elma mengangguk.

"Berikan."

"Untuk apa?"Tanya Elma.

"Aku ingin memastikan kau tidak membuka dokumen pekerjaan."

"Maxime!"

Laki-laki itu menahan senyum. "Aku hanya bercanda."

Ia meletakkan ponsel tersebut kembali di tempatnya.

Elma memandangnya beberapa saat. "Aku tidak pernah menyangka akan melihatmu seperti ini."

"Seperti apa?"

"Seperti seorang suami yang cerewet."

Maxime menarik kursi dan duduk di samping ranjang. "Kalau kau lebih sering mendengarkan, mungkin aku tidak perlu cerewet."

Elma mendengus pelan, namun senyum kecil mulai terlihat di wajahnya.

Maxime memperhatikannya sejenak. "Lebih baik."

"Apa?"

"Wajahmu. Kau terlihat lebih baik ketika tersenyum."

Elma terdiam sesaat, kemudian memalingkan wajah, ia berusaha menyembunyikan perubahan ekspresinya. Maxime menyadarinya tetapi memilih tidak berkomentar. Beberapa saat kemudian, ia mengambil segelas air dan memastikan gelas itu berada dalam jangkauan Elma.

"Kau ingin sesuatu?" Tanyanya

"Tidak."

"Mau makan?"

"Tidak."

"Baik. Nanti kalau sudah boleh makan, kita minta perawat menyiapkannya."

Elma mengangguk.

Maxime kemudian bersandar pada kursinya. "Kau sebaiknya tidur."

"Kau?" Elma balik bertanya.

"Aku di sini."

"Aku tahu. Maksudku, kau tidak pulang?"

Maxime menatapnya seolah pertanyaan itu terdengar aneh. "Menurutmu, aku akan meninggalkanmu sendirian di sini?"

"Kau bisa pulang dan beristirahat. Besok masih banyak pekerjaan."

"Aku bisa mengurus pekerjaanku dari sini."

"Maxime, aku tidak ingin mengganggu jadwalmu."

Laki-laki itu menggeleng. "Kau tidak mengganggu."

Elma terdiam.

Maxime mengulurkan tangan, kemudian merapikan rambut yang jatuh di dekat pelipis istrinya. "Beristirahatlah. Untuk malam ini, biarkan aku yang mengurus semuanya."

Elma menatapnya cukup lama. "Baiklah."

Maxime mengangguk puas. Namun sebelum memejamkan mata, Elma kembali membuka suara.

"Maxime?"

"Hm?"

"Aku baru ingat sesuatu."

"Apa?"

"Acara ulang tahun pernikahan orang tuamu."

Maxime mengangkat wajah. "Ada apa dengan acara itu?"

Elma menghela napas kecil. "Kau tadi mengirimiku pesan tentang acara itu, bukan?"

Maxime mengangguk. "Ya. Akhir pekan ini."

Elma menatap langit-langit kamar sebentar. "Aku belum memberikan jawaban."

"Aku tahu."

"Kau masih ingin pergi bersamaku?"

Maxime mengernyit tipis. "Tentu saja. Kenapa kau bertanya seperti itu?"

Elma memandangnya. "Entahlah. Kupikir setelah beberapa hari terakhir, mungkin kau akan berubah pikiran."

Maxime tidak langsung menjawab, ia memahami maksud di balik pertanyaan itu.

Sejak pertengkaran mereka, hubungan keduanya memang belum sepenuhnya kembali seperti semula. Elma kembali menjaga jarak, sementara Maxime masih menyimpan penjelasan yang belum sanggup ia sampaikan. Namun malam ini ia tidak ingin kembali membiarkan jarak itu semakin lebar.

"Aku mengirim pesan karena memang ingin pergi bersamamu."

"Sebagai istrimu?"

Maxime menatapnya lekat. "Sebagai perempuan yang ingin kudampingi."

Elma terdiam.

Maxime melanjutkan dengan suara lebih rendah.

"Elma, aku tidak ingin datang ke acara ulang tahun pernikahan orang tuaku sendirian. Aku ingin kau berada di sampingku."

"Tapi hubungan kita sedang tidak terlalu baik."

"Aku tahu."

"Kita bahkan masih memiliki banyak hal yang belum dibicarakan."

"Aku juga tahu."

"Lalu kenapa kau masih ingin mengajakku?"

Maxime sedikit mencondongkan tubuh. "Karena aku tidak ingin membiarkan masalah di antara kita membuat kita berhenti mencoba."

Elma menatapnya dalam diam.

"Aku tidak memintamu melupakan apa yang terjadi," lanjut Maxime. "Aku juga tidak akan memaksamu bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja. Tapi, setidaknya izinkan aku memperbaiki sesuatu, sedikit demi sedikit."

Ada ketulusan yang sulit diabaikan dalam suara laki-laki itu.

Elma menarik napas perlahan. "Baiklah."

Maxime mengangkat alis. "Baiklah?"

"Aku akan pergi bersamamu."

Untuk sesaat, Maxime tidak memberikan respons. Namun, sorot matanya berubah lebih lembut. "Benarkah?"

Elma mengangguk. "Tapi ada satu syarat."

"Apa?"

"Kita datang sebagai suami istri. Bukan sebagai dua orang yang sedang berusaha mempertahankan sebuah kesepakatan bisnis."

Maxime terdiam, kalimat itu terasa lebih dalam dari yang Elma sadari. Ia tahu bagaimana kedua keluarga mereka memandang pernikahan tersebut. Ada kepentingan, harapan, dan berbagai tuntutan yang sejak awal membayangi hubungan mereka. Namun, kali ini Elma ingin sesuatu yang berbeda. Ia ingin kehadiran mereka di acara itu menjadi keputusan pribadi, bukan sekadar kewajiban keluarga.

Maxime mengulurkan tangan dan menggenggam jemarinya. "Baik."

Elma menatapnya.

"Jangan berjanji kalau kau tidak bisa menepatinya."

"Aku tidak akan berjanji untuk sesuatu yang tidak ingin kuusahakan."

Elma tersenyum tipis. "Kalau begitu, kita pergi bersama."

Maxime mengangguk. "Kita pergi bersama."

Ia kemudian mengangkat tangan Elma dan meletakkannya kembali dengan hati-hati di atas selimut.

"Dan sekarang, pasien yang keras kepala ini harus tidur."

Elma terkekeh pelan. "Baik, Tuan Sinclair."

Maxime tersenyum samar. "Selamat malam, Elma."

"Selamat malam."

Perlahan, Elma memejamkan mata. Maxime tetap duduk di samping ranjang, memperhatikan wajah istrinya yang mulai terlihat lebih tenang. Sesekali ia memeriksa cairan infus dan memastikan Elma berada dalam posisi nyaman.

Ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk dari sekretaris pribadinya mengenai jadwal rapat keesokan pagi. Maxime membacanya sekilas, lalu mengetik balasan singkat.

'Batalkan seluruh agenda pagi. Pindahkan rapat ke sore hari. Untuk sementara, jangan hubungi saya kecuali ada hal mendesak'.

setelah itu, ia meletakkan ponsel kembali. Malam itu, ada sesuatu yang terasa jauh lebih penting daripada urusan bisnis Sinclair. Di hadapannya, Elma tertidur dengan wajah yang masih menyisakan kelelahan. Maxime mengulurkan tangan, merapikan selimut istrinya, lalu berbisik pelan.

"Beristirahatlah. Kali ini, biarkan aku yang menjagamu."

Ia tidak tahu apakah Elma mendengarnya.

Namun, untuk pertama kalinya, Maxime benar-benar ingin membuktikan bahwa ia bukan hanya laki-laki yang mampu melindungi nama besar keluarganya. Tapi ia juga ingin menjadi laki-laki yang mampu menjaga hati perempuan yang telah menjadi istrinya. Dan mungkin, suatu hari nanti, ia akan memiliki cukup keberanian untuk menceritakan segala sesuatu yang selama ini ia sembunyikan darinya.

☆

1
Heni Utami
bagus , sayangnya ngegantung belum selesai,
Chayahuda: Makasi,,,
Ceritanya masih berlanjut kok,,,
Sabar ya,,,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!