Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.
Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.
Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.
Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Satu Tabrakan, Satu Pengecualian
Brak!
Pintu ruangan Ares Sudibyo terbuka. Suara kayu membentur dinding terdengar keras.
Bruk!
Seorang wanita terlempar keluar dari dalam ruangan. Ia tersungkur di lantai koridor. Rok kerjanya kusut, rambutnya berantakan, sementara wajahnya memerah menahan malu dan amarah.
Beberapa karyawan yang kebetulan melintas langsung berhenti. Mereka saling melirik sebelum berbisik.
“Lagi-lagi...”
“Udah berapa banyak, ya, bulan ini?”
Sudah menjadi rahasia umum di gedung itu bahwa Ares Sudibyo tidak tahan berada terlalu dekat dengan perempuan.
Beberapa menit kemudian, seorang pria bertubuh tegap keluar dari ruangan tersebut. Sorot matanya yang tajam membuat siapa pun enggan menatapnya terlalu lama.
Ares Sudibyo.
Begitu melihatnya, para karyawan yang berpapasan spontan menunduk dan menepi.
Reki, asistennya, segera mengikuti dari belakang sambil membawa beberapa dokumen.
Begitu pintu ruang rapat dibuka, Ares masuk.
Percakapan para manajer langsung terhenti. Mereka buru-buru duduk tegak.
Namun, baru beberapa langkah memasuki ruangan, Ares berhenti. Rahangnya mengeras. Aroma parfum wanita tadi masih melekat di kemejanya.
Tangannya mengepal di sisi tubuh. Aroma manis itu membuat rasa tidak nyaman kembali menjalar ke tubuhnya.
“Reki," katanya datar.
Reki maju selangkah. “Ya, Tuan?”
“Buka jendela di ruanganku.”
Reki segera bergerak mengambil ponselnya.
Ares menambahkan, “Dan matikan pendingin ruangannya. Setelah baunya hilang, ganti sam yang baru.”
"Baik, Tuan." Reki segera menghubungi seseorang.
Ares melanjutkan langkahnya menuju ujung meja.
Beberapa manajer saling melirik. Mereka tahu alasan Ares melakukan itu. Sebelum memasuki ruang rapat, mereka memang sempat mendengar keributan dari ruangan Ares. Rupanya ada seorang wanita yang mencoba merayu pria dingin itu. Sayangnya, wanita itu salah memilih sasaran.
Ares mengambil tempat di kursi utama. “Mulai presentasinya.”
Seorang manajer bangkit dengan wajah tegang. Ia menelan ludah sebelum mulai menjelaskan laporan di hadapannya.
Baru beberapa menit berjalan, Ares tiba-tiba mengangkat tangannya.
Plak!
Sebuah dokumen dibanting ke atas meja.
“Apa kalian bikin laporan sambil tidur?”
Tak seorang pun berani menjawab. Reki yang kini berdiri di sisi kursi Ares juga tak mengatakan apapun.
“Angka ini salah.” Telunjuk Ares mengetuk salah satu bagian laporan. “Satu kesalahan di sini bisa bikin kerugian miliaran rupiah. Apa bisa kalian ganti?”
Wajah para manajer semakin tegang.
“Revisi dalam satu jam.” Ares berdiri dari duduknya, tatapannya menyapu seluruh meja. “Kalo gak kelar, bonus bulan ini saya cancel. Dan kalo kesalahan ini terulang lagi, kita bicara soal potong gaji.”
Ia berbalik dan melangkah pergi tanpa menunggu jawaban. Reki buru-buru menyusulnya.
Begitu pintu di belakang Ares dan Reki tertutup, suasana ruang rapat langsung berubah.
“Kalo gajinya gak gede, aku gak mau kerja di sini,” gumam seorang manajer sambil mengembuskan napas panjang.
“Kata ‘rapat’ aja udah kedengeran kayak vonis hukuman mati,” sahut yang lain sambil mengusap dahinya yang berkeringat dingin.
Seorang direktur bersandar lemas di kursinya. “Ada gak sih, yang bisa jadi pawang Tuan Ares agar dia gak kayak malaikat maut terus?”
Tak ada yang menjawab. Sebab, sejujurnya, mereka juga ingin tahu jawabannya.
Sementara itu, Reki menekan tombol lift. Begitu pintunya terbuka, Ares masuk lebih dulu, disusul Reki yang kembali menekan tombol lantai tujuan.
“Apa jadwalku setelah ini?” tanya Ares datar tanpa menoleh.
Reki yang berdiri satu langkah di belakangnya segera menjawab, “Kita ke rumah sakit untuk pemeriksaan kesehatan. Habis itu balik ke kantor. Ada rapat daring sama klien dari luar negeri, kemudian beberapa dokumen yang harus diperiksa dan ditandatangani hari ini.”
Reki menjelaskan semuanya dengan ringkas, terperinci, dan langsung pada intinya, seolah sudah menghafal seluruh agenda atasannya.
Ares hanya mengangguk singkat.
Satu jam kemudian, Ares sudah duduk di depan meja praktik seorang dokter. Sedangkan Reki berdiri di sampingnya.
Dokter itu membaca beberapa lembar hasil pemeriksaan sebelum meletakkannya di atas meja.
“Secara fisik, kondisi Anda cukup baik. Dari hasil pemeriksaan ini, gak ada masalah serius.”
Ares mengangguk singkat. “Lalu kenapa saya mudah marah?”
Dokter menatapnya beberapa saat. “Karena tubuh dan pikiran Anda mungkin sudah terlalu lama berada dalam tekanan.”
Ares mengerutkan kening. “Tekanan?”
“Anda bekerja dengan beban tinggi, istirahat gak teratur, dan sudah lama menghindari hubungan romantis maupun kontak intim.”
Tatapan Ares mengeras. “Itu pilihan saya.”
“Saya menghormatinya.” Dokter menyandarkan tubuhnya. “Tapi pilihan bukan berarti tubuh Anda berhenti memiliki kebutuhan.”
Ares tidak menjawab.
“Kalau terus ditekan, stres dan frustrasi Anda bisa semakin buruk. Coba kelola dengan olahraga, istirahat, atau konsultasi psikologis. Mungkin ada pengalaman masa lalu yang membuat tubuh Anda memberikan respons seperti itu.”
Mata Ares berubah tajam. Ia tidak ingin membicarakan masa lalu. Terutama tentang ibunya. “Saya gak butuh psikolog.”
“Mungkin belum sekarang. Tapi kalau Anda terus kayak gini, jangan nunggu sampai tubuh Anda yang memaksa.”
Ares langsung berdiri. “Gak perlu.”
Reki hanya bisa menghela napas pelan. Ia sudah menduga reaksi ini.
Dokter menatapnya. “Pikirkan baik-baik, Tuan Ares. Menekan semuanya bukan berarti masalahnya hilang.”
Ares tidak menjawab. Ia berbalik dan berjalan menuju pintu yang langsung dibukakan oleh Reki.
Saat melangkah keluar, seorang perawat berjalan melewatinya. Aroma wanita itu langsung membuat perut Ares tak nyaman. Ares mempercepat langkah, rahangnya mengeras.
Setelah beberapa menit ia keluar dari ruang praktik, perkataan dokter masih berputar di kepalanya.
Di depannya, seorang perempuan berjalan beberapa langkah dari tempatnya. Tiba-tiba perempuan itu berhenti, lalu berbalik.
Dan—
Bruk!
Tubuhnya menabrak dada Ares.
Ares refleks hendak mundur. Namun, langkahnya berhenti. Tidak ada rasa mual. Tidak ada dorongan untuk menjauh. Bahkan aroma yang tertinggal di antara jarak mereka terasa... biasa.
Ares menunduk. Pandangannya tertahan pada perempuan yang berdiri tepat di hadapannya.
Ada sesuatu yang berbeda.
Tubuhnya tidak menolak perempuan ini.
.
...✨“Luka yang terus disembunyikan tidak selalu membuat seseorang menjadi lebih kuat. Kadang, justru membuatnya membangun tembok terlalu tinggi hingga ia lupa bahwa tidak semua orang datang untuk menghancurkannya.”...
...“Kita sering mengira sedang melindungi diri dari rasa sakit, padahal tanpa sadar kita juga sedang menutup pintu bagi sesuatu yang mungkin bisa menyembuhkan.”✨...
.
To be continued
Raka pengertian, kakaknya di suruh sering-sering tidur di rumah, tidak perlu nungguin dirinya.
Alisha jadi bisa punya waktu untuk suaminya, kalau tidak bisa nungguin Raka. Tidak harus cari alasan kalau Raka tanya-tanya.
Alisha setelah sarapan pergi ke rumah sakit.
Raka sudah dipindahkan ke ruang lain, masih di lantai yang sama.
Ares tetap memikirkan kenyamanan Raka dan Alisha dengan memindahkan ruang rawat serta ada sofa.
Pak Darto pengurus rumah memberikan sebuah kartu akses untuk masuk rumah kepada Alisha. Dan memberi tahu Alisha kalau pakaian sudah disiapkan di lemari, termasuk perlengkapan mandi, dan makeup atas perintah Ares.
Ares baik sekali. Alisha juga disediakan sopir untuk mengantarnya pergi. Tapi Alisha memilih naik ojek online.
Ares juga menuruti kemauan Alisha untuk tidak memindahkan adiknya ke kamar perawatan VIP.
Ares memberikan surat pernikahan mereka setelah mendengar penjelasan Alisha kenapa sampai minta surat itu.
Ares tak lupa mengelupas foto dirinya terlebih dahulu, sebelum memberikan surat itu kepada Alisha.
Sampai segitunya, biar Alisha benar-benar nggak mengenal wajahnya.
kalo iya, itu sangat berbahaya, dalam kondisi tertentu, dia bisa berbuat nekat....
semoga Alisa dan Raka masih dalam pengawasan orang-orangnya Ares
cukup mantan mu si Reni yg ribet
kamu jangan ikutan res
Semangat Kak Nana.. Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
kacau ini orang 🤣🤣
takut ga bisa tanggung jawab sama tatapan mu.
pengecut dia takut kalah sama rasa bersalah nya🫣😔