Demi uang Rp 2 miliar, Karina menceraikanku dan "meminjamkanku" untuk menikahi sahabatnya. Aku pikir hidupku hancur—ternyata pernikahan itu justru menyeretku pada wanita yang diam-diam mencintaiku selama 17 tahun.
Arya Wibowo, karyawan biasa yang baru kena PHK, tiga tahun jadi suami yang diperas habis-habisan. Ketika mantan istrinya, Karina, dengan enteng menukar pernikahan mereka demi uang, Arya memilih pergi tanpa menoleh. Yang tak ia duga, "istri kontrak"-nya, Anindya Kusuma, adalah pewaris tunggal Grup Kusuma—kerajaan asuransi bernilai puluhan triliun—dan gadis yang sudah memendam cinta padanya sejak umur sepuluh tahun.
>
Saat Karina akhirnya menyesal dan merengek minta rujuk, Arya cuma tersenyum: "Cerai kamu yang minta. Sekarang mau balik? Nggak akan pernah." Dari pria yang dulu dihina "nggak berguna", Arya bangkit dengan tangannya sendiri—sementara satu per satu kebohongan Karina terbongkar di depan umum, dan karma datang menjemput.
Vila mewah, mobil belasan miliar, cinta yang tulus, dan pembalasan yang manis. Tapi Karina belum menyerah—dua bulan lagi, katanya, ia akan membongkar semuanya ke internet…
Siapa sebenarnya yang akan menyesal seumur hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Aditama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26 — Sama-sama Pasangan, Kok Beda Banget
Malam itu, enam orang berkumpul di ruang privat sebuah restoran boga bahari.
Bayu dan Sinta duduk berdampingan. Tania mengambil kursi utama tanpa izin, sedangkan Reza sibuk memindahkan tas, mantel, dan ponsel milik pacarnya agar meja tidak penuh.
Arya datang terakhir bersama Anindya.
"Akhirnya pasangan pengantin rahasia muncul," seru Tania. "Duduk sini. Aku perlu memastikan sahabatku masih utuh."
Anindya menarik kursi untuk Arya lebih dulu. "Masih utuh. Bahkan sekarang lebih rajin olahraga."
Bayu menepuk bahu Arya. "Kelihatan. Dulu bahumu turun seperti orang menanggung cicilan seluruh kampung."
"Karena memang hampir begitu," jawab Arya.
Semua tertawa kecuali Tania, yang sedang menunjuk gelas kosong kepada Reza.
"Sayang, es tehnya."
Reza menuangkan minuman.
"Sedotannya."
Reza memasang sedotan.
"Terlalu banyak es."
Reza memindahkan beberapa es batu dengan sendok.
Sinta menatap mereka, lalu menatap Anindya yang sedang membukakan bungkus tisu basah untuk Arya. "Sama-sama pasangan, kok beda banget?"
"Beda di mana?" tanya Tania.
"Yang satu saling merawat. Yang satu memelihara asisten pribadi."
Reza mengangkat gelas. "Saya menerima kritik, tapi mohon gaji saya dinaikkan."
Tania mencubit lengannya. Suasana meja langsung dipenuhi tawa.
Hidangan datang satu demi satu. Udang bakar besar diletakkan di tengah meja. Arya mengambil satu, tetapi Anindya lebih dulu menarik piringnya.
"Biar aku kupas."
"Tanganku masih berfungsi."
"Aku tahu. Tadi Mas menyetir. Sekarang giliran tanganku bekerja."
Dengan teliti, Anindya memisahkan kepala dan kulit udang. Ia membersihkan bagian punggung, mencelupkannya sedikit ke saus, lalu meletakkan dagingnya di piring Arya.
Meja mendadak sunyi.
Anindya mengangkat kepala. "Kenapa?"
Bayu menunjuk piring. "Aku sudah mengenal Arya bertahun-tahun. Baru kali ini ada orang mengupas udang untuk dia."
"Karina tidak pernah?" tanya Tania.
Arya berdeham. "Kita tidak perlu membahasnya."
Namun, ingatannya sudah bergerak sendiri. Dulu di restoran, ia mengupas udang untuk Karina sampai makanannya sendiri dingin. Kalau tangannya berbau, Karina menyuruhnya mencuci sebelum menyentuh barang lain.
Anindya tidak hanya mengupas satu. Ia menaruh udang kedua di piring Arya, lalu baru mengupas miliknya sendiri.
"Makan," katanya. "Jangan melamun."
Arya menggigit udang itu. Rasanya biasa, tetapi tenggorokannya terasa hangat.
"Enak?" tanya Anindya.
"Enak."
"Udangnya atau yang mengupas?" goda Sinta.
Arya menatap Anindya. "Dua-duanya."
Pipi Anindya langsung merah. Tania memukul meja kegirangan.
"Nah! Akhirnya lelaki ini bisa bicara!"
Anindya menyembunyikan senyum dengan minum air. Arya mengambil udang lain dan mulai mengupasnya.
"Untuk siapa?" tanya Bayu.
"Untuk istriku."
Ia meletakkan daging udang di piring Anindya. Kali ini seluruh meja bersorak.
"Kalian norak," ujar Arya.
"Kami menunggu ini lebih lama daripada menunggu pesanan," balas Tania.
Percakapan berpindah ke pekerjaan. Arya menunjukkan versi singkat portofolionya kepada Bayu. Beberapa rancangan sistem dan pemecahan masalah lama membuat Reza ikut mendekat.
"Ini bagian yang dibilang gagal oleh kantor lamamu?" tanya Reza.
"Versi akhirnya diubah setelah aku dikeluarkan. Aku simpan riwayat revisi dan hasil uji sebelum perubahan."
Bayu mengangguk. "Bukti ini kuat. Aku kenal pemilik usaha logistik yang sedang butuh orang untuk membenahi alur operasional. Proyeknya kecil, tapi bisa jadi awal."
"Kenalkan saja. Jangan bilang soal keluarga Kusuma."
Anindya menatapnya bangga. "Dia memang keras kepala soal itu."
"Aku ingin dinilai dari pekerjaan, bukan nama istri."
"Dan aku mendukung," jawab Anindya. "Selama Mas tidak menolak makan malam dari nama istri."
"Itu negosiasi berbeda."
Bayu menggulir satu halaman lagi. "Arya, ini bukan pekerjaan orang gagal. Kenapa kamu diam ketika mantan atasanmu menyalahkanmu?"
"Waktu itu aku pikir melawan hanya membuat proses PHK lebih buruk. Aku butuh pesangon dan tidak punya orang yang bisa melindungiku."
"Sekarang punya," kata Anindya.
Arya menatapnya. "Karena itu aku berani menyusun bukti. Tapi aku tetap ingin maju dengan namaku sendiri."
Sinta menyandarkan dagu pada tangan. "Anindya, suamimu susah sekali dibeli."
"Aku tahu. Sudah kuberi mobil, kartu, jam tangan, vila, masih juga minta proyek kecil."
"Kalau aku jadi dia, besok aku pensiun," ujar Reza.
Tania menepuk kepalanya dengan tisu. "Makanya kamu bukan dia."
Reza memegangi dada. "Kejam sekali. Tadi minta es teh, sekarang menghancurkan harga diri."
Arya tertawa bersama yang lain. Namun, di balik lelucon itu, ia memikirkan ucapan Anindya. Perempuan itu memang mampu menyelesaikan masalah pekerjaannya dengan satu telepon. Justru karena tidak melakukannya, dukungan Anindya terasa tulus.
"Besok aku kirim profil usaha logistik itu," kata Bayu. "Pemiliknya, Pak Hendra, benci orang yang membawa nama besar tanpa hasil. Cocok untukmu."
"Terima kasih. Aku akan bicara langsung dengannya."
"Kalau proyeknya gagal, jangan salahkan kenalanku."
"Kalau gagal karena pekerjaanku, aku tanggung. Kalau gagal karena kopimu saat rapat, aku salahkan kamu."
"Nah, ini Arya yang dulu," ujar Bayu puas.
Anindya mendengar kalimat itu dengan mata lembut. Ia tidak ingin menciptakan Arya baru. Ia hanya ingin mengembalikan lelaki yang perlahan hilang selama pernikahan lamanya.
Pelayan membawa pencuci mulut. Tanpa bertanya, Arya menggeser piring rasa mangga ke depan Anindya dan mengambil rasa cokelat yang kurang disukainya.
"Kok tahu aku mau ini?" tanya Anindya.
"Tadi kamu melihatnya dua kali di menu."
Tania dan Sinta saling pandang.
Anindya menyendok pencuci mulut sambil menunduk. Rupanya bukan hanya dirinya yang memperhatikan hal-hal kecil.
Setelah hidangan utama selesai, Tania mengajak Anindya ke luar ruangan dengan alasan memperbaiki riasan. Begitu pintu toilet tertutup, ia langsung memegang kedua bahu sahabatnya.
"Progresmu lambat sekali."
"Dia sudah memanggilku istri di depan umum."
"Itu administrasi. Aku bicara romantis. Pegangan tangan, pelukan, ciuman. Ada?"
Anindya mengingat genggaman di ruang kebugaran. "Pegangan tangan ada."
"Pelukan?"
"Belum."
"Ciuman?"
Anindya menatapnya datar.
Tania menghela napas panjang. "Kalian menikah atau ikut program orientasi kantor?"
"Arya baru bercerai. Aku tidak mau memaksanya."
"Benar, jangan memaksa. Tapi kamu boleh menciptakan kesempatan."
"Kesempatan apa?"
Mata Tania bersinar nakal. "Nanti kita lanjut ke bar. Kamu pura-pura mabuk, lalu bersandar padanya. Sedikit saja. Biarkan dia sadar bahwa istrinya cantik dan lembut."
"Itu ide buruk."
"Ide buruk sering menghasilkan cerita bagus."
Anindya kembali ke meja sambil memikirkan rencana tersebut. Di sana, Arya sudah memindahkan makanan pedas dari piringnya karena tahu lambungnya sensitif.
Gerakan kecil itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Tania duduk dan mengumumkan, "Setelah ini kita minum sedikit. Tidak ada yang boleh pulang dulu."
Arya menatap Anindya. "Kamu mau?"
Anindya seharusnya menolak.
Sebaliknya, ia mengingat saran Tania dan mengangguk. "Sedikit saja."
Tania tersenyum puas.
Tidak seorang pun tahu bahwa Anindya yang hampir tidak pernah minum sama sekali tidak mengenal arti sedikit.
Rencana sederhana itu segera menuju kekacauan.