NovelToon NovelToon
THE STOICE HEROINE

THE STOICE HEROINE

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance
Popularitas:679
Nilai: 5
Nama Author: Putri Ayu Ningrum

Felicya adalah perempuan yang mempunya jiwa yang tenang. Ia memegang prinsip stoik; tidak semua hal harus dilawan, dan tidak semua luka harus dibalas.

Namun prinsip itu diuji ketika ia bertemu seorang laki-laki Machiavellian-cerdas, manipulatif, dan terbiasa memainkan manusia seperti bidak dalam permainan.

Di saat yang sama, Felicya harus berhadapan dengan perselingkuhan suaminya bersama seorang perempuan NPD.

Di antara kebohongan, manipulasi, dan permainan ego, Felicya perlahan menyadari bahwa membalas dengan elegan, bukan berarti jahat. karena mempertahankan boundariesnya dan tidak kehilangan jati dirinya, hanya perbuatan 2 orang yang mempunyai 2 sifat Dark Psichology.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Ayu Ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1. Hari Pertama Menikah

Cahaya pagi matahari menembus perlahan di balik tirai jendela. Membentuk garis bayangan di lantai kamar. Udara sejuk memasuki ruang kamar yang tidak terlihat kecil ataupun besar. Sementara suara kendaraan di luar sana terdengar pertanda aktivitas di pagi hari.

Felicya matanya mengedip beberapa kali.

Beberapa detik ia bangun dari tidur. matanya melirik ke samping suaminya masih terlelap dalam tidurnya. Ia menatap langit-langit kamar, membiarkan kesadarannya kembali sepenuhnya. Tidak ada mimpi yang ia ingat. Tidak pula firasat buruk.

Pagi ini terasa berbeda dari pagi-pagi sebelum dirinya berumah tangga.

Felicya bangkit dari ranjang. Lalu ia turun dan kakinya melangkah ke arah jendela. Lalu tangannya menyibakan tirai sedikit ke kanan. Cahaya matahari masuk ke dalam kamarnya dan memantulkan bias cahaya.

Di luar sana, seperti biasa manusia berlalu lalang mengerjakan aktivitasnya.

Orang-orang berolahraga dipagi hari dengan ke sibukan mereka ada yang berlari di lapangan dan ada yang berjalan santai. Sebuah motor melintas di depan rumah. Penjual sarapan mendorong gerobaknya perlahan. Sementara suara anak kecil terdengar samar dari rumah tetangga, semuanya tampak biasa.

Diraut wajahnya terlihat garis senyum manis di pipinya. ia menjalankan kehidupannya seperti biasa, mungkin begitulah kehidupan seharusnya berjalan.

Tidak selalu penuh ke bahagiaan, tetapi juga tidak selalu dipenuhi kesedihan.

Felicya kemudian melangkah kecil menuju ke meja rias. Lalu ia duduk di depan cermin rias. Perempuan di dalam pantulan cermin itu terlihat begitu sederhana. Rambut panjang hitam tebal yang terurai tertata. Wajah polos tanpa ada riasan di pipinya, dan sepasang mata yang masih menyimpan sisa kantuk.

Matanya menatap lurus ke arah cermin. Lalu ia tersenyum manis. Dan mengatakan semangat untuk dirinya "Felicya. Kamu harus semangat. Sekarang statusmu menjadi seorang istri. Kamu harus menjadi istri yang bisa membanggakan suamimu." ia mengucapkan afirmasi untuk dirinya sendiri.

Tangannya mengambil sisir di atas meja, Lalu jemari kecilnya mengambil beberapa helaian rambut. sementara tangan kanannya mulai menggerakan sisir dari pangkal rambut sampai ujung rambut. Sesekali ia memiringkan kepala untuk merapikan bagian rambut yang masih terlihat kusut. Pelan-pelan tangannya menyisir rambutnya yang panjang dan tebal.

Lalu matanya kembali menatap ke arah cermin.

Ia mengatakan. "Dilihat-lihat aku cantik juga, gak begitu jelek di pandang. Apalagi jika yang memandangi diriku Mas Galang yaitu Laki-laki yang sudah menjadi suamiku sekarang, hehe..." gumamnya terkekeh kecil, terlihat jelas matanya berbinar.

Di atas meja rias terdapat sebuah foto pernikahan yang sudah beberapa hari berada di sana. tangannya mengambil bingkai foto pernikahannya dan memandanginya sebentar. Felicya mengusap lembut di foto pernikahannya. Lalu ia tersenyum, terlihat garis senyum di bibirnya. Hatinya senang akhirnya ia bisa menjadi seorang istri. Seperti dibayangan waktu kecilnya mendambakan menjadi seorang perempuan sempurna yang mempunyai gelar bernama "ISTRI"

Dua orang berdiri berdampingan di dalam bingkai itu. Bahagia terlintas di dalam foto pernikahannya.

Setidaknya, begitulah yang terlihat dari sebuah foto.

Felicya meletakkan kembali bingkai tersebut di atas meja.

Felicya masih belum menyangka bahwa sebuah gambar bisa terlihat begitu sempurna. Sementara manusia di dalamnya menyimpan begitu banyak hal yang tidak pernah terlihat.

Namun pagi itu, ia belum memikirkannya.

Baginya, pernikahan adalah jalan kehidupan baru nya di mulai bersama suami tercintanya yaitu Galang Aksara.

Tentang dua kepala yang berbeda, masing-masing mempunya sifat yang berbeda. kemudian mencoba berjalan di jalan yang sama yaitu di ikatan pernikahan.

Tentang kesabaran.

Tentang menerima kekurangan satu sama lain.

Dan tentang percaya bahwa seseorang yang memilih untuk tinggal bersamanya tentu memiliki alasan untuk menjaga apa yang telah di bangun bersama.

Felicya masih mempercayai semua itu.

bahkan terlalu percaya untuk rumah tangga dengan seorang lelaki yang ia pilih sebagai Gelar suami.

Ia kembali menatap lurus ke arah cermin, meyakinkan dirinya bahwa awal hidup barunya ini akan bisa ia lewati dengan kesabarannya dan keberkahan.

"Ini awal jalan hidup baruku, semoga pernikahanku ini SAKINAH MAWADAH WARAHMA. Aamiin Yarabb" tangan Felicya mengusap kan wajahnya mengaminkan doa harapannya akan terkabul.

Ia tersenyum, lalu kakinya melangkah keluar kamar.

Rumah itu tidak besar, tetapi cukup nyaman untuk mereka berdua. tidak banyak perabotan, juga tidak terlalu ramai oleh hiasan. Semuanya tertata rapi, hampir seperti kehidupan yang mereka jalani.

Rapi.

Teratur.

Adam dan bersih.

Kaki jenjangnya melangkah turun ke tangga dengan pelan. Lalu ia melangkah kecil menuju dapur dan mulai menyiapkan sarapan selembar roti untuk dirinya dan suaminya.

Tangannya bergerak tanpa banyak suara. Ia mengambil dua piring, menyiapkan dua makanan, kemudian menuangkan dua minuman teh manis hangat ke dalam gelas.

Sesekali matanya melirik jam.

Pagi masih panjang.

Ia tidak sedang terburu-buru.

Ada sesuatu yang ia sukai dari pagi~keheningannya.

Tidak ada tuntutan.

Tidak ada pertengkaran.

Tidak ada pertanyaan yang harus dijawab.

Hanya diri dan suaminya di rumah yang sunyi, dan suara kecil dari aktivitas sehari-hari.

Felicya menyandarkan tubuhnya sebentar di meja dapur.

Untuk sesaat, ia merasa hidupnya baik-baik saja.

Tidak sempurna.

Tetapi cukup.

Ia belum tahu bahwa manusia terkadang baru menyadari sesuatu begitu semuanya terlambat.

Bahwa perubahan tidak selalu datang dengan suara keras.

Kadang-kadang, ia datang perlahan.

Lewat kebiasaan kecil.

Lewat kalimat yang terdengar biasa.

Lewat tatapan yang tidak kita pahami.

Dan tanpa disadari, sesuatu yang dahulu kita sebut rumah perlahan dapat berubah menjadi tempat yang membuat kita mempertanyakan diri sendiri.

Namun pagi itu...

Felicya belum tahu apa-apa.

Ia hanya berdiri di dapur, menunggu seseorang untuk sarapan pagi bersamanya.

Hari itu belum menjadi awal dari kehancuran.

Hari itu hanyalah hari biasa.

Hari terakhir sebelum segalanya tak lagi sama.

Galang mengedipkan matanya beberapa kali. arah matanya mencari sosok seorang wanita yang sudah menjadi istrinya. kakinya turun dari ranjang dan menyusuri kamar mandi. Tapi tidak ada istrinya. Lalu ia turun ke bawa menuju ruang tamu. Ia melihat ada seorang wanita sedang menyiapkan makan di meja ruang tamu. Saat ia mengusap matanya. Ternyata itu istrinya sudah menyiapkan sarapan pagi di sana.

Galang pun melangkah lebar agar cepat ke bawah.

Felicya yang sadar langkah kaki suaminya di tangga. Ia pun memberi senyuman di sana dan memanggil suaminya "Mas Galang... Ayo cepatan sini. Aku sudah siapkan sarapan bergizi untuk kita." Ajaknya begitu girang.

Galang yang tergiur dengan bau aromanya. kedua tangannya menggeserkan kursi. Ia mengucapkan pagi ke Felicya. "Pagi sayang, aroma masakanmu bikin perutku lapar." ucap galang. tangannya mengelus perutnya yang lapar.

Felicya sangat senang melihat Galang antusias dengan makanan yang sudah dia buat.

Tangan galak bergerak menyendoki nasi dan ikan nila goreng, kerang saos tiram dan udang saos padang ke dalam piring Felicya.

Felicya yang melihatnya tersenyum dan lagi-lagi ia merasa hangat hatinya. Galang sadar istrinya belum mengambil menyendok makanan di piringnyan. Ia sendoki juga untuk di piring istrinya.

Felicya langsung menyodorkan piringnya ke Galang.

Mereka berdua masing-masing menikmati sarapan pagi.

Setelah lima menit mereka menikmati hidangan makannya. ke dua tangan Felicya mengambil piring dan mangkuk kotor. Lalu Galang membantu menggeserkan kursi Felicya ia melihat istrinya sedikit kesusahan membawa piring dan mangkuk kotor di tangannya. Felicya tersenyum lalu mengatakan. "Terimakasih Mas Galang". Galang pun menjawabnya. "Sama-sama sayang", ucap Galang dengan bibir tersenyum. Galang pun berinisiatif mengambil Gelas dan botol kaca minum ia menggeserkan kursinya dengan ujung kakinya. Ia mengikuti Felicya dari belakang. Felicya menaruh piring dan mangkuk itu ke wastefel, tangannya mulai perlahan-lahan mencuci peralatan makan kotornya. Galang menaruh Gelas yang bekas dipakai minum di taruh di samping tangan Felicya, lalu tangan galang memeluk pinggang Felicya dari belakang. dan membisikinya. "Sayang, aku mau mandi. Bisa gak kita mandi bersama?" bisiknya pelan sembari meniup telinga istrinya. Ia sengaja menggoda Felicya. Baginya tak masalah merayu Felicya yang sudah menjadi seorang istri.

Felicya mendengar suaminya mengajak mandi bersama seketika pipi dan telinganya memerah. Karena tak ada jawaban dari istrinya. tangannya memutarkan tubuh Felicya menghadap wajahnya dan bertanya lagi. "Kamu mau atau gak Ay?" bisiknya sembari menghimpit tubuh istrinya. deru nafas Galang menerpa wajah putih mulusnya.

"emmm Mas. Aaa...ku Mau." Felicya menjawabnya gugup. Felicya menyembunyikan wajahnya yang merah merona di dada Galang yang bidang.

Galang yang melihat tersenyum menggoda. "Ayo sayang." ajaknya sambil menggenggam jemari kanan Felicya. Felicya pun menyambut tangan Galang dan Ia mengekori Galang dari belakang.

Genggaman tangannya tak dilepas oleh Galang.

Galang memang sengaja melakukannya karena itu bentuk respon dirinya pada istrinya.

Namun, tidak ada yang tahu sampai kapan perlakuan Galang akan terus lembut kepada Felicya yang sudah menjadi istrinya.

1
ayuma lovely
ceritanya bagus cuma kurang gimana gitu coba tambahin gerakan tubuhnya atau suasana tempatnya pasti lebih bagus 👍💪
Putri Ayu: Okey ka nanti aku coba yah pas di bab selanjutnya
total 1 replies
ayuma lovely
ceritanya bagus cuma kurang gimana gitu coba tambahin gerakan tubuhnya atau suasana tempatnya pasti lebih bagus 👍💪
tiwi12
suka ceritanya lnjut
Putri Ayu: Okey ka/Kiss/
total 1 replies
tiwi12
lanjut
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
ini cerita rumah tangga
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: 🤣🤣🤣haha
total 2 replies
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
emm menarik juga ni masalah percintaan🤣 Galang suka dia kah
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: wkwkwkwk
total 2 replies
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
kok masio blm update bab baru
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: wih keren udh sembuh
total 2 replies
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
🌹 jangan males nulis nya 🤣🤣 💪😄
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: kerennn 💪😍
total 2 replies
Putri Ayu
wa'alaikumsalam iya ka terimakasih banyak, sudah gift mawar /Kiss/ semangat juga buat jadi penulis terkenal semoga karya kaka dilirik penerbit aamiin🤲
Putri Ayu: aamiin semoga kita semua sebagai penulis bisa sukses 🤲🤲🤲🥺🥺🥺
total 2 replies
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
assalamualaikum ka semangat ya nulis nya aku dukung dua mawar untuk kak . maaf cumn bisa gift mawar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!