NovelToon NovelToon
Lord Of The Gods

Lord Of The Gods

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:53.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Setelah mengorbankan wujud fananya untuk menyelamatkan jiwa Su Qingyue, Lin Chen hancur oleh cakar Kaisar Langit dari Ras Naga Sejati.

Sisa jiwanya yang nyaris sirna diselamatkan oleh pengorbanan umur Tian Yu yang memanggil Esensi Phoenix Abadi, mengubahnya menjadi sebuah kepompong api. Atas kehendak Tuan Istana Ujung Takdir, kepompong itu dibuang ke dunia fana murni Kerajaan Chen tempat di mana hukum kultivasi, Qi spiritual, dan ancaman dewa tidak pernah ada.

Ratusan tahun berlalu dalam keheningan, menunggu sang Penantang Langit untuk menetas kembali. Tanpa kultivasi, tanpa tombak dewa di tangannya, namun membawa fondasi fisik gabungan dari Naga, Kekacauan, dan Phoenix Abadi, Lin Chen memulai kehidupan keduanya bukan sebagai monster kehancuran, melainkan sebagai seorang pangeran fana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Pangeran Ketiga

Ratusan tahun adalah waktu yang cukup bagi lautan untuk mengering dan gunung untuk runtuh di alam semesta. Namun, di Hutan Perburuan Kerajaan Chen, waktu hanyalah musim gugur yang berganti menjadi semi.

Kerajaan Chen adalah dunia fana. Langitnya biru jernih, udaranya bersih dari polusi Qi Kosmik, dan penduduknya hidup mengandalkan kekuatan otot serta pedang besi. Di sini, dewa hanyalah dongeng pengantar tidur, dan manusia bisa mati hanya karena tebasan pedang biasa.

Tepat di jantung Hutan Perburuan Kerajaan yang terlarang, di bawah akar pohon beringin raksasa yang usianya melampaui sejarah kerajaan itu sendiri, sebuah bongkahan batu hitam berurat merah berdenyut pelan. Itu bukanlah batu. Itu adalah kepompong api abadi yang telah menyerap esensi kehidupan dunia fana selama berabad-abad, menata ulang sebuah jiwa yang pernah menentang surga.

Hari ini, denyut itu tidak lagi pelan.

KRAAAK...

Retakan kecil muncul di permukaan kepompong tersebut. Udara di sekitarnya mendadak menjadi hangat.

Pada saat yang sama, derap langkah kuda dan suara panah yang membelah angin memecah kesunyian hutan. Permaisuri Lin Yue, penguasa pendamping Kerajaan Chen yang terkenal akan kecantikan dan ketangguhannya dalam berburu, sedang memacu kudanya menembus semak belukar. Di belakangnya, Pangeran Pertama Lin Feng yang baru berusia dua belas tahun berusaha mengimbangi laju ibunya, sementara Putri Lin Xue yang berusia sepuluh tahun berkuda dengan anggun di sisinya.

"Ibu! Rusa putih itu lari ke arah zona terlarang!" seru Lin Feng, busur di tangannya masih bergetar.

"Jangan biarkan buruan itu lepas, Feng'er! Hutan ini adalah milik keluarga kerajaan kita, tidak ada yang terlarang bagi seorang calon raja!" balas Permaisuri Lin Yue dengan tawa hangat, memacu kudanya semakin dalam.

Namun, saat mereka bertiga menerobos semak berduri raksasa, kuda mereka tiba-tiba meringkik panik dan menolak untuk melangkah maju. Rusa putih yang mereka kejar tidak terlihat di mana pun. Sebagai gantinya, mereka tiba di sebuah pembukaan hutan yang dipenuhi oleh cahaya merah redup.

Di bawah pohon beringin raksasa, akar-akar tebal perlahan terbakar menjadi abu oleh sebuah api yang tidak mengeluarkan asap. Di tengah abu tersebut, kepompong hitam itu terbelah menjadi dua.

Permaisuri Lin Yue turun dari kudanya, tangannya secara insting mencengkeram gagang pedang di pinggangnya. Lin Feng segera melangkah maju, melindungi adik perempuannya, Lin Xue, di belakang punggungnya.

"I-Ibu... benda apa itu? Meteor?" bisik Lin Feng, matanya membelalak.

Lin Yue tidak menjawab. Insting keibuannya tiba-tiba berdesir hebat, mengalahkan kewaspadaan seorang pejuang. Ia melangkah mendekati kawah kecil berdebu itu. Saat asap hangat menipis, pedang di tangan Lin Yue terjatuh ke tanah.

Di tengah pecahan cangkang kepompong yang mulai memudar menjadi serpihan cahaya, terbaring seorang bayi mungil. Bayi laki-laki itu tidak menangis. Ia bahkan tidak menggigil oleh angin hutan. Kulitnya seputih pualam terbaik, dan di tengah keningnya, terdapat sebuah tanda lahir berwarna merah keemasan yang membentuk siluet nyala api abadi.

Sepasang mata keemasan bayi itu terbuka, menatap langsung ke arah Permaisuri Lin Yue. Tatapan itu terlalu dalam dan terlalu tenang untuk seorang bayi, namun justru itulah yang membuat pertahanan hati sang Permaisuri runtuh seketika.

"Surga..." gumam Lin Yue. Ia berlutut, mengabaikan gaun sutra berburunya yang kotor oleh abu, lalu mengangkat bayi itu ke dalam pelukannya. Tubuh bayi itu luar biasa hangat, memancarkan rasa damai yang langsung meresap ke dalam jiwa Lin Yue.

Lin Feng dan Lin Xue berlari mendekat.

"Ibu! Itu... itu seorang bayi? Dari dalam batu?!" Lin Xue memekik kecil, matanya yang bulat berbinar takjub melihat wajah bayi yang luar biasa rupawan itu. "Dia sangat tampan, Ibu!"

Lin Feng mengerutkan kening, mencoba bersikap waspada. "Ibu, ini tidak wajar. Kita harus melaporkannya kepada ayahanda Raja dan memanggil Pendeta Istana. Benda yang lahir dari batu bisa jadi adalah pertanda iblis!"

"Diam, Feng'er," potong Lin Yue tegas, nadanya memancarkan otoritas kuat yang tidak bisa dibantah. Matanya tidak lepas dari wajah bayi di pelukannya. Bayi itu mengangkat tangan kecilnya, menyentuh pipi Lin Yue dengan sentuhan yang terasa seperti takdir yang telah tertulis.

"Dia bukan iblis. Dia adalah anugerah," ucap Lin Yue, suaranya melembut. Ia menoleh ke arah kedua anaknya, lalu menatap segelintir pengawal setia yang menunggu di kejauhan. "Mulai hari ini, bayi ini adalah darah dagingku. Dia adalah adik kalian. Siapa pun yang berani membocorkan kejadian di hutan ini hari ini... akan kuhukum mati dengan tanganku sendiri."

Lin Feng dan Lin Xue tertegun, namun melihat keteguhan di mata ibunya, mereka hanya bisa mengangguk patuh. Lin Xue dengan ragu menjulurkan jarinya, dan bayi itu menggenggam jari kakaknya dengan lembut. Senyum cerah langsung merekah di wajah Lin Xue.

"Namanya... adalah Lin Chen," bisik Permaisuri Lin Yue, mengecup tanda api di kening bayi tersebut.

Empat Tahun Kemudian. Musim Semi di Istana Kerajaan Chen.

Angin berhembus membawa kelopak bunga persik ke hamparan rumput halaman belakang istana. Di bawah sinar matahari sore, seorang anak laki-laki berusia empat tahun duduk bersila dengan punggung tegak layaknya seorang petapa kuno.

Anak itu memiliki wajah yang begitu mempesona hingga para pelayan istana sering kali lupa bernapas saat melihatnya. Rambut hitam pekatnya diikat rapi, dan tanda api di keningnya memancarkan pesona misterius. Namun yang paling menonjol dari Pangeran Ketiga Lin Chen adalah keheningannya. Ia jarang berbicara, tidak pernah menangis, dan mata keemasannya selalu menatap langit seolah mencari sesuatu di balik hamparan awan.

"Chen'er! Tangkap!"

Sebuah pedang kayu kecil melayang di udara, dilemparkan oleh Pangeran Pertama Lin Feng yang kini berusia enam belas tahun, bertubuh tegap dan penuh energi.

Lin Chen tidak bergerak panik. Tangan kecilnya terangkat dengan kecepatan yang sangat presisi, menangkap gagang pedang kayu itu bahkan tanpa menoleh.

"Kau selalu bisa menangkapnya! Bagaimana kau melakukannya padahal matamu melihat ke arah bunga-bunga itu?" Lin Feng tertawa bangga, berlari menghampiri adiknya dan mengacak-acak rambut Lin Chen. "Besok Kakak akan mulai mengajarimu teknik pedang dasar militer kerajaan! Kau harus menjadi jenderal yang tangguh untuk melindungi istana kelak!"

Dari koridor, Putri Lin Xue yang kini menjelma menjadi gadis remaja yang anggun berjalan mendekat, membawa nampan berisi kue teratai. Ia memukul pelan bahu kakaknya. "Kak Feng, jangan memaksa Chen'er! Dia masih empat tahun. Chen'er lebih suka membaca kaligrafi di perpustakaan bersamaku."

Lin Xue duduk di sebelah Lin Chen, menyodorkan sepotong kue. "Buka mulutmu, Adik kecil yang manis."

Lin Chen menatap kakak perempuan dan kakak laki-lakinya. Sebuah senyum tipis sangat tipis, namun memancarkan kehangatan yang tulus terukir di wajahnya. Ia memakan kue itu dalam diam.

Keluarga, batin Lin Chen.

Di dalam tubuh anak berusia empat tahun ini, bersemayam jiwa monster yang pernah merobek langit Sektor Primordial. Lin Chen tidak pernah kehilangan ingatannya. Ia mengingat Kuil Wajah Kosong. Ia mengingat Pengadilan Bintang Naga Sejati. Dan ia sangat mengingat botol giok biru es yang ia serahkan pada Tian Yu sebelum tubuhnya hancur.

Selama empat tahun ini, Lin Chen mencoba memutar Hawa Kekacauan atau memanggil Domain Keheningan-nya. Hasilnya nihil. Dunia ini menolak keberadaan Qi. Dantian-nya benar-benar kosong layaknya manusia biasa. Ia tidak bisa terbang, tidak bisa merapal teknik, dan tidak bisa memanggil Tombak Naga Petir.

Namun... sebagai gantinya, Lin Chen menyadari satu rahasia mengerikan yang tersembunyi di balik tubuh balitanya ini.

KRAAAK...

Saat Lin Xue dan Lin Feng sedang berdebat kecil tentang masa depannya, Lin Chen tanpa sadar mengencangkan genggamannya pada pedang kayu yang diberikan Lin Feng.

Pedang kayu yang terbuat dari kayu ulin terkeras di kerajaan itu hancur menjadi serbuk halus hanya dengan satu remasan lembut dari jari anak berusia empat tahun.

Lin Feng menoleh, matanya membelalak melihat serbuk kayu yang berjatuhan dari tangan adiknya. "Chen'er... apa pedang kayunya lapuk?"

Lin Chen perlahan membersihkan serbuk kayu di tangannya. Ia tahu pedang itu tidak lapuk. Di dunia yang tidak memiliki hukum qi ini, tubuh yang diciptakan ulang oleh Esensi Phoenix Abadi, Darah Naga Primordial, dan Hawa Kekacauan itu perlahan beradaptasi dengan cara yang berbeda. Karena tidak ada Qi di luar untuk diserap, fondasi tubuh ini mulai memakan esensi kehidupan alam secara pasif, menjadikan otot, tulang, dan darahnya setara dengan dewa perang murni.

Hanya di usia empat tahun, Lin Chen menyadari bahwa ia tidak membutuhkan kultivasi spiritual untuk membunuh di dunia ini. Fisiknya sendiri adalah kehancuran.

"Ya, Kak Feng," jawab Lin Chen pelan, suaranya sangat tenang, menyembunyikan kebrutalan di balik wajah malaikatnya. "Pedangnya... terlalu rapuh."

Namun, keheningan sore itu tiba-tiba dirobek oleh suara ledakan dari arah gerbang utama istana. Asap hitam mengepul ke udara, diikuti oleh jeritan para penjaga.

"Pemberontak! Pasukan pemberontak Kadipaten Utara telah menembus gerbang!" Teriakan histeris seorang jenderal terdengar menggema.

Lin Feng langsung menghunus pedang besi sungguhannya, wajahnya menegang pucat. Lin Xue memeluk Lin Chen erat-erat, tubuhnya gemetar ketakutan.

Lin Chen, yang berada di pelukan kakaknya, menyipitkan mata keemasannya menatap asap di kejauhan.

1
Indah Hidayat
kaisar naga beladirinya kok tiba2 dihapus ?
Raden
luar biasa mantap thor
Raden
mantap💪 lanjut kan 💪
Raden
mantap ratu💪
Raden
hajar bro, mulut kok ga dijaga💪
Raden
seru lagi, mantap💪
Rhaka Kelana
Dan akhirnya, yang diinginkan oleh seorang pria adalah rumah yang penuh dengan kehangatan....😍
Budi Wahyono
kaisar naga nya kok gak ada thor ?
Sang_Imajinasi: ada mas bud, ngulang lgi, karena hilang semua bab
total 1 replies
ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ
keren
Puragabaya
KOPLAK
Su Qingyue ikut Lin Chen dan Tua hitam ke alam Abadi.
Kenapa ana Qingyue lagi di alam Fana 🤣🤣
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
DIFAN2: Novel 'SULUNG' hadir dengan keseruan kisah petualangannya, yuk kak merapat.
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lanjut
Edy Amran. MM
Lanjut.. ceritanya bagus
Rinaldi Sigar
lanjut
EKO BUDI PRASETYO: lha bukannya qingyue di alam abadi SM Lincen, kok BS di alam fana
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Boo Ceng Li
🔥🔥🔥💪💪💪👌👌👌
Tosari Agung
sangat keren imajinasi thor🌹🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!